31 Mei 2012

The Good Earth (Bumi Yang Subur) by Pearl S. Buck

Judul Buku: The Good Earth (Bumi Yang Subur)
Trilogi: House Of Earth #1
Penulis: Pearl S. Buck
Penerjemah: Irina M. Susetyo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2008 (Oktober, Cetakan V)
Tebal: 512 Halaman
ISBN: 9789792241051
Harga: Rp. 53.000,-
Rating: 3/5

Momen yang pas bagi saya karena Baca Bareng Fiksi/Nonfiksi GRI kali ini adalah buku berlatar Asia. Saya jadi punya alasan untuk segera membaca The Good Earth setelah sekian lama ditinggalkan berdebu di lemari karena sering kedistract sama buku-buku lain. :)

The Good Earth atau Tanah yang Subur berkisah tentang Wang Lung, petani miskin yang menggantungkan hidupnya dari tanah pertanian yang digarapnya. Cerita berawal pada hari pernikahan Wang Lung. Hari itu ia berangkat ke kota, mendatangi rumah tuan tanah kaya untuk menjemput seorang budak perempuan yang tak lain adalah calon istrinya.

Wang Lung hanya bisa menikahi budak lantaran ia berasal dari keluarga miskin. O-Lan, budak perempuan keluarga Hwang yang kini telah menjadi istri Wang Lung memiliki paras yang jauh dari menarik, kulitnya hitam, serta kakinya besar-besar sebab tak pernah diikat. Namum O-Lan adalah istri yang patuh, tekun bekerja, tak banyak bicara, dan tak pernah menuntut apa-apa dari suaminya. Hati Wang Lung senang, karena ia hanyalah petani miskin yang tak sanggup membelikan barang-barang mewah seperti perhiasan, baju-baju bagus atau sepatu mahal buat istrinya. O-Lan sering membantu suaminya di sawah jika ia sudah membereskan semua pekerjaan di rumah seperti memasak dan membersihkan rumah mereka. Bersama-sama mereka membajak dan mencangkuli sawah, kemudian menanami tanah mereka dengan berbagai macam benih. Begitulah Wang Lung menjalani kehidupannya sehari-hari.

Petani itu mengelola tanahnya dengan tekun serta rajin menyisihkan uang dari penjualan hasil panennya sehingga di kemudian hari ia mampu membeli sebidang tanah milik keluarga Hwang tempat istrinya mengabdi dulu. Bencana kekeringan dan kelaparan melanda daerah tempat tinggal Wang Lung. Agar tidak mati kelaparan, Wang Lung dan keluarganya yang terdiri dari istrinya, ayahnya yang sudah tua, serta tiga anaknya pergi mengungsi ke Selatan, meninggalkan tanah yang sudah tak menghasilkan apa-apa lagi pada saat itu. Di kota di Selatan mereka menjalani hidup di bawah garis kemiskinan dan terpaksa tinggal jalanan, seperti yang juga dilakukan oleh pengungsi lainnya.

Setelah sekian waktu menjalani hidup susah di kota, Wang Lung mendapatkan keberuntungan yang tak diduga-duga. Ia akhirnya dapat kembali ke kampungnya, lagi pula ia sudah rindu pada tanahnya.

Cerita kemudian berlanjut hingga akhirnya Wang Lung sanggup membeli lebih banyak tanah berkat kerja kerasnya, dan juga berkat bantuan sang istri. Wang Lung pun mampu menikmati hidup berkecukupan, bahkan, bisa dibilang ia sudah jadi orang kaya. Namun menjadi kaya tak lantas membuat hidupnya tenang. Masalah datang silih berganti. Mulai dari serangan hama belalang yang menyerbu tanah pertaniannya, banjir besar, gangguan dari pamannya, masalah dari anak-anaknya, juga ketidakmampuannya membendung hawa nafsunya sehingga ia berbuat serong dengan perempuan lain.

Baca selengkapnya kisah keluarga Wang dalam The Good Earth.

Sudah lama saya mendengar kepopuleran buku ini dan kabarnya buku ini adalah salah satu buku favorit Oprah Winfrey. Saya cukup beruntung membeli buku ini sewaktu ada diskon besar-besaran di Gramedia Makassar setahun yang lalu (kebetulan waktu itu lagi dinas di sana).

Buku ini cukup kaya dalam menggambarkan kehidupan masyarakat Cina pada awal abad ke-20. Kita bisa mengetahui beberapa tradisi dan adat-istiadat Cina pada masa itu, misalnya tentang anak perempuan yang harus diikat kakinya agar dipandang cantik dan agar mudah mendapatkan suami walau sebenarnya tradisi mengikat kaki tersebut sangat menyiksa, juga tentang betapa pentingnya anak lelaki dalam sebuah keluarga. Pada masa itu tak hanya kaisar saja yang boleh memiliki gundik. Rakyat yang punya cukup uang atau dengan kata lain, kaya, dianggap wajar untuk memiliki gundik. Anak perempuan dianggap tak terlalu penting, bahkan menyusahkan, sehingga keluarga-keluarga miskin lebih suka menjual anak perempuannya pada keluarga-keluarga kaya untuk dijadikan pelayan atau budak.

Tokoh yang saya sukai di buku ini adalah O-Lan, sang istri. Wanita ini sangat tegar dan kuat. Dalam buku ini dikisahkan bahwa perempuan itu mengurus sendiri kelahiran anak-anaknya tanpa dibantu oleh tabib sama sekali. Sesudah melahirkan, ia langsung turun lagi ke sawah untuk membantu sang suami mengolah tanah. Tak hanya kekuatan fisiknya, ketegarannya pun pantut dikagumi. Hal tersebut terlihat pada suatu peristiwa ketika keluarga Wang Lung diserang oleh tetangga-tetangga mereka yang mengira Wang Lung menimbun bahan makanan dan mencoba merampok keluarganya. Pada masa-masa sulit, O-Lanlah yang selalu paling tegar dibanding suaminya sendiri. Perempuan itu tidak banyak bicara namun tangannya begitu cekatan. Ia sebetulnya boleh berbangga hati saat suaminya sudah menjadi orang kaya, namun karena sudah menjadi sifatnya, O-Lan tetap rendah hati, tak pernah meminta apa-apa pada suami, dan masih melakukan pekerjaannya dengan tekun tanpa banyak omong.

Kenikmatan membaca saya agak terganggu sebab terjemahannya sepertinya masih menggunakaan kalimat-kalimat lama. Misalnya, kalimat "dalam pada itu" terus-terusan muncul di buku ini. Ada baiknya jika buku ini hendak dicetak ulang, terjemahannya harap diperbaiki lagi, meski pada dasarnya terjemahan buku ini sudah baik. Beberapa typo masih ditemukan di buku ini, di antaranya:
*Ijul mode on*
(hlm. 148) bsia = bisa
(hlm. 339) samapi = sampai
(hlm. 347) danWang = dan Wang (spasi)
(hlm. 383) hari.Di = hari. Di (spasi)
(hlm. 414) berangkat tua = beranjak tua
(hlm. 434) ruangan-ruanganitu = ruangan-ruangan itu (spasi)
(hlm. 460) disuakinya = disukainya
(hlm. 485) sesunggguhnya = sesungguhnya
*Ijul mode off*

Segitu saja typo-nya. Mungkin ada yang terlewat, karena saya nggak seteliti Ijul, Sang Polisi Typo. :P

By the way, The Good Earth adalah buku pertama dari trilogi House Of Earth, dan semuanya sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh PT Gramedia Pustaka Utama:

28 Mei 2012

Eclipse (Gerhana) by Stephenie Meyer

Judul Buku: Eclipse (Gerhana)
Seri: Twilight Saga #3
Penulis: Stephenie Meyer
Penerjemah: Monica Dwi Chresnayani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2010 (Februari, Cetakan XIV)
Tebal: 688 Halaman
ISBN: 9789792240528
Harga: Rp. 73.500,-
Rating: 3/5

Victoria yang patah hati sejak sekasihnya dihancurkan oleh keluarga Cullen masih menyimpan dendam pada Isabella Swan. Vampir berambut merah itu mulai membentuk pasukan vampir baru yang kuat, lapar, dan berbahaya, untuk mengincar Bella yang selama ini dalam lindungan keluarga Cullen. Demi menyelamatkan Bella, keluarga Cullen akhirnya bekerja sama dengan para werewolf dari La Push untuk bersiap menghadapi serangan. Dengan demikian, inilah kali pertama vampir dan werewolf melakukan genjatan senjata dan mulai bekerja sama setelah beratus-ratus tahun bermusuhan.

Sementara itu, hati Bella masih bimbang karena ia harus memilih antara cintanya kepada Edward atau persahabatannya dengan Jacob. Apalagi Jacob memutuskan tak akan menyerah begitu saja. Lelaki itu begitu menginginkan Bella, dan ia ingin membuktikan pada Bella bahwa gadis itu sebenarnya mencintainya lebih dari sekadar sahabat.

Di tengah pertarungan sengit antara keluarga Cullen+kawanan werewolf melawan pasukan vampir ciptaan Victoria, Bella harus menetapkan pilihannya: Edward atau Jacob?

---o---

Seri Twilight ke-3 ini lumayan membuat saya jengkel setengah mati. Jika dua buku sebelumnya sangat saya sukai, maka tidak dengan buku ini (cukup sebatas ‘suka’ saja, nggak pake ‘banget’). Sikap Bella yang plin-plan membuat saya ingin melemparinya dengan kulit durian. Bagaimana tidak? Ia ingin memiliki Edward, tapi di sisi lain ia juga tak mau jauh-jauh dari Jacob. Serakah banget kan? Dan novel setebal ini sebagian besar membahas kebimbangan Bella tersebut. Gawd, membosankan! Mungkin inilah yang membuat saya butuh waktu lebih dari seminggu untuk membaca buku ini.

Untungnya ada beberapa bagian menarik yang menyelamatkan buku ini—yang mencegah saya melemparnya ke kolong tempat tidur (yeah, nggak sampai segitunya sih, hehe).

Bagian-bagian yang (menurut saya) menarik itu adalah:

1. Kisah masa lalu Jesper Cullen. Ada alasan mengapa Jesper ditunjuk keluarga Cullen untuk mengajari mereka cara bertarung. Di masa lalu, Jesper adalah prajurit yang handal. Sayangnya ia dijadikan vampir oleh sosok vampir perempuan yang saat itu sedang membentuk pasukan, persis dengan kondisi saat ini di mana Victoria juga sedang membuat pasukan.

2. Kisah masa lalu Rosalie Cullen. Rosalie yang cantik jelita itu ternyata memiliki masa lalu yang suram. Dan ternyata ia tidak membenci Bella seperti yang disangka Bella selama ini. Rosalie justru iri pada kehidupan Bella sebagai manusia. Ia berharap Bella mempertimbangkan kembali keinginannya untuk menjadi vampir, karena seburuk apapun, sesakit apapun hidup yang dijalani Bella, menurut Rosalie hidup sebagai manusia adalah sesuatu yang indah, sesuatu yang sangat dirindukan vampir rupawan itu.

3. Sejarah para werewolf. Kisah tersebut dituturkan ayah Jacob pada semacam inisiasi werewolf-werewolf baru yang juga dihadiri Bella. Beliau menceritakan bagaimana leluhur mereka akhirnya bisa memiliki kemampuan berubah wujud (shapeshifter) menjadi serigala. Memang benar kata Jacob di buku pertama dan kedua, bahwa kemunculan werewolf berkaitan erat kaitannya vampir, dan lewat kisah tersebut kita akhirnya tahu sejarahnya. Menurut saya bagian ini benar-benar menarik. Bahkan mungkin bisa dibuat novel sendiri. :)

4. Adegan latihan bertarung keluarga Cullen di hutan. Keren!

5. Adegan pertarungan Edward vs Victoria bersamaan dengan pertarungan Seth vs Riley. Untuk ukuran novel romance, adengan pertarungan ini lumayan oke. Sayang sekali adegan pertarungan keluarga Cullen+para werewolf melawan pasukan Victoria tidak ditampilkan di buku (biggest thanks buat kru film Eclipse yang mewujudkan adegan tersebut di film).

Overall, saya cuma memberi rating 3/5 bintang untuk buku Eplisdeh ini berkat Bella yang sukses membuat saya muak. Sorry banget, Bells.


My reviews for this series:
1. Twilight
2. New Moon
3. Eclipse

27 Mei 2012

The Journeys 2: Cerita dari Tanah Air Beta by Windy Ariestanty, dkk

Judul Buku: The Journeys 2: Cerita dari Tanah Air Beta
Penulis: Alanda Kariza, Rahne Putri, Richard Miles, Riyanni Djangkaru, Ve Handojo, Travel Junkie Indonesia, Windy Ariestanty, Trinzi Mulamawitri, Fajar Nugros, Farid Gaban, JFlow, Matatita
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2012
Tebal: 264 Halaman
ISBN: 9799797805500
Harga: Rp. 48.500,-
Rating: 3/5



The Journeys 2: Cerita dari Tanah Air Beta. Sesuai tagline-nya buku kedua ini berisi cerita-cerita dari para penulis yang melakukan perjalanan atau travelling, khusus di wilayah Indonesia. Sama seperti buku pertama, buku kedua ini juga berisi 12 cerita dari 12 penulis berbeda. Dua penulis buku pertama turut ambil bagian di buku ini, mereka adalah Ve Handojo dan Windy Ariestanty.

Kisah pertama, yang sangat saya sukai, berjudul "Berburu Gajah, Garuda, dan Naga ke Trusmin". Judul yang unik, bukan? Ternyata yang dimaksud Gajah, Garuda, dan Naga di sini adalah motif batik. Yep, Ve Handojo berkisah tentang kunjungannya ke Kampung Trusmin, Cirebon untuk berburu batik. Dari kisah yang singkat ini, kita bisa memperoleh banyak informasi menarik soal batik yang mungkin belum kita ketahui sebelumnya. Dan saya baru tahu (hiks, telat banget) bahwa batik ternyata bukan punya Indonesia saja. Karena secara harafiah "batik" adalah teknik menghias permukaan kain dengan menggunakan metode menahan pewarna (dye resist). Yang membedakan batik Indonesia dengan batik-batik dari negara di Eropa, Cina, bahkan Malaysia, adalah penggunaan canting. Jadi, kita jangan keburu emosi dulu sewaktu Malaysia berkata bahwa mereka juga punya batik. Bisa jadi mereka memang benar-benar punya. Nah, kalau metode penggunaan canting yang mereka claim, barulah kita boleh marah, karena canting memangs asli milik kita, milik Indonesia. Sebetulnya tak perlu marah juga sih, soalnya dunia sudah mengakuinya kok. :)

Cerita-cerita selanjut juga tak kalah menarik. Misalnya, cerita dari Matatita tentang pengalaman menegangkan saat naik pesawat Twin Otter dari Timika menuju Ewer (Asmat); Cerita dari Riyanni Djangkaru saat melihat ikan Mola-Mola dari jarak sangat dekat sewaktu melakukan diving di Sanur, Bali; Cerita dari Alanda Kariza dan Tinzi Mulamawitri yang sama-sama membagi pengalaman mereka ketika mengunjungi Lombok (kamu pasti bakal kepingin menunjungi Lombok setelah membaca kisah mereka *promosi.com*); Cerita dari JFlow saat pulang kampung ke Ambon; Cerita dari Richard Miles Si Bule Ngehe, saat menjalani praktik mengajar di Salatiga; Cerita dari Fajar Nugros saat mengunjungi raja Ampat dan menyempatkan diri bermain bola dengan anak-anak di sana; dan cerita-cerita lainnya.



Saya pribadi lebih menyukai buku ini dibanding buku pertama. Mungkin karena tempat yang diceritakan masih di wilayah negara kita sendiri, sehingga kemungkinannya lebih besar bagi saya untuk mengunjunginya, hehehe. Meski begitu, harapan untuk melakukan travelling ke luar negeri masih besar juga sih. Ingat Lucerne yang diceritakan Mbak Windy di buku pertama? Ya, saya masih menyimpan angan untuk mengunjunginya suatu saat nanti. *pray*

Seperti buku pertama, adaaaa saja cerita yang kurang begitu menarik (menurut saya). Mungkin lebih karena gaya bahasanya. Misalnya cerita Farid Gaban berjudul "Berziarah ke Digul, Penjara Tak Bertepi" yang menurut saya agak membosankan karena saya jadi seperti membaca buku sejarah. Hehe, penilaian saya ini memang sangat subjektif

Soal typo, justru di buku kedua ini malah lebih banyak typo ketimbang buku pertama. Sayang sekali, menurut saya. Kalau nanti ada The Journeys 3, saya sangat berharap tidak ada typo lagi. Amin.

26 Mei 2012

The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita by Windy Ariestanty, dkk

Judul: The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita
Penulis: Adhitya Mulya, Okke 'Sepatumerah', Raditya Dika, Trinity, Windy Ariestanty, Valiant Budi, Winna Efendi, Ve Handojo, Alexander Thian, Farida Susanty, Ferdiriva Hamzah, Gama Harjono
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2011
Tebal: 254 Halaman
ISBN: 9789797804817
Harga: Rp. 48.500,-
Rating: 3/5


Bela-belain membaca ulang buku ini sambil menunggu pesanan buku kedua datang. :)

Seingat saya, alasan membeli buku ini nggak melulu karena saya suka jalan-jalan (walau itu salah satunya), tapi karena saya membaca nama Windy Ariestanty dan Raditya Dika pada deretan nama para penulisnya.

The Journeys: Kisah Perjalanan Para Pencerita, berisi 12 cerita dari 12 orang yang kebetulan sudah malang melintang di dunia tulis-menulis, baik fiksi maupun nonfiksi. Sebelum membaca kisah perjalanan para penulis, kita akan menemukan kata pengantar dari Gagasmedia yang diwakili oleh Windy Ariestanty. Kalimat pembukanya sungguh manis, "Hal paling menarik dari melakukan perjalanan adalah menemukan." Di lembar berikutnya adalah daftar isi. Yang menarik, alih-alih membuat daftar isi biasa, buku ini menampilkan peta dunia dengan titik-titik lokasi yang nantinya akan diceritakan para penulis, diberi keterangan judul cerita, nama penulis, kemudian halaman—kecuali satu penulis, tak memiliki titik di bagian peta mana pun, karena ternyata ia tidak bercerita tentang lokasi yang dikunjunginya tapi tentang pengalamannya melakukan travelling gratis bersama berbagai orang dari berbagai media, dengan tingkah pola mereka yang terkadang (ralat, sering!) bikin malu. :D

25 Mei 2012

Books I Want To Read / Wish-List




AuthorBook Title
A.A. MilneWinnie the Pooh
Alexandre DumasThe Three Musketeers
Alice SeboldThe Lovely Bones
Anne RiceInterview With The Vampire
Anthony BurgessA Clockwok Orange
Antoine De Saint-ExuperyThe Little Prince
Arthur GoldenMemoirs of a Geisha
Audrey NiffeneggerThe Time Traveler’s Wife
Bram StokerDracula
Bret Easton EllisAmerican Psycho
C.S. LewisThe Chronicles of Narnia (original publication order):
1. The Lion, the Witch and the Wardrobe
Prince Caspian
2. The Voyage of the Dawn Treader
3. The Silver Chair
4. The Horse and His Boy
5. The Magician's Nephew
6. The Last Battle
Celia AhernP.S. I Love You
Charles DickensA Christmas Carol
Charles DickensA Tale Of Two Cities
Charles DickensBleak House
Charles DickensDavid Copperfield
Charles DickensGreat Expectations
Charles DickensOliver Twist
Charlotte BronteJane Eyre
Christopher PaoliniInheritance Cycles:
1. Eragon
2. Eldest
3. Brisingr
4. Inheritance
Colleen McCulloughThe Thorn Birds
Cormac McCarthyThe Road
Dan BrownDigital Fortress (1998)
Angels & Demons (2000)
Deception Point (2001)
The Da Vinci Code (2003)
The Lost Symbol (2009)
DanteThe Inferno
David MitchellCloud Atlas
David PelzarA Child Called It
Douglas AdamsThe Hitch Hiker’s Guide to the Galaxy
E.B. WhiteCharlotte’s Web
Elizabeth GilbertEat Pray Love
Emily BronteWuthering Heights
Evelyn WaughBrideshead Revisited
F. Scott FitzgeraldThe Great Gatsby
Frances Hodgson BurnettThe Secret Garden
Gabriel Garcia MarquezOne Hundred Years of Solitude
George Orwell1984
Harper LeeTo Kill a Mockingbird
Helen FieldingBridget Jones’s Diary
Ian McEwanAtonement
J.D. SalingerThe Catcher in the Rye
J.K. Rowling1. Harry Potter and the Philosopher's Stone
2. Harry Potter and the Chamber of Secrets
3. Harry Potter and the Prisoner of Azkaban
4. Harry Potter and the Goblet of Fire
5. Harry Potter and the Order of the Phoenix
6. Harry Potter and the Half-Blood Prince
7. Harry Potter and the Deathly Hallows
J.R.R. TolkienThe Hobbit
J.R.R. TolkienThe Lord of the Rings Trilogy:
The Fellowship of the Ring
The Two Towers
The Return of the King
Jane AustenEmma
Jane AustenPersuasion
Jane AustenPride and Prejudice
Jane AustenSense and Sensibility
Joanne HarrisChocolat
John GrishamA Time to Kill (1989)
The Firm (1991)
The Pelican Brief (1992)
The Client (1993)
The Chamber (1994)
The Rainmaker (1995)
The Runaway Jury (1996)
The Partner (1997)
The Street Lawyer (1998)
The Testament (1999)
The Brethren (2000)
A Painted House (2001)
Skipping Christmas (2001)
The Summons (2002)
The King of Torts (2003)
Bleacher (2003)
The Last Juror (2004)
The Broker (2005)
Playing for Pizza (2007)
The Appeal (2008)
The Associate (2009)
Theodore Boone: Kid Lawyer (2010)
The Confession (2010)
Theodore Boone: The Abduction (June, 2011)
The Litigators (October, 2011)
John SteinbeckGrapes of Wrath
Joseph HellerCatch 22
Jung ChangWild Swans
Ken FolletPillars Of The Earth
Kenneth GrahameThe Wind in the Willows
Khaled HosseinThe Kite Runner
Khaled HosseiniA Thousand Splendid Suns
Leo TolstoyAnna Karenina
Leo TolstoyWar and Peace
Lewis CarrollAlice in Wonderland
Lewiss CarrolThrough The Looking Glass
Louisa M. AlcottLittle Women
Lucy M. MontgomeryAnne of Green Gables
Margaret MitchellGone With The Wind
Mario PuzoThe Godfather
Mark HaddonThe Curious Incident of the Dog in the Night
Mark TwainThe Adventures of Huckleberry Finn
Markus ZusakThe Book Thief
Mitch AlbomTuesdays with Morrie (1997)
The Five People You Meet in Heaven (2003)
For One More Day (2006)
Have a Little Faith: A True Story (2009)
The Time Keeper (2012)
Neil GaimanAmerican Gods
Patrick SuskindPerfume: The Story Of A Murderer
Paulo CoelhoThe Alchemist
By the River Piedra I Sat Down and Wept
Brida
The Zahir
The Devil and Miss Prym
Eleven Minutes
Veronika Decides to Die
The Winner Stands Alone
The Witch Of Portobello
Philip PullmanHis Dark Materials:
1. Northern Lights (or The Golden Compass)
2. The Subtle Knife
3. The Amber Spyglass
Rick RiordanCamp Half-Blood series
Series One: Percy Jackson and the Olympians
1. The Lightning Thief
2. The Sea of Monster
3. The Titan's Curse
4. The Battle of the Labyrinth
5. The Demigod Files
6. The Last Olympian
7. The Ultimate Guide
8. The Lightning Thief: The Graphic Novel
9. The Sea of Monsters: The Graphic Novel
Series Two: The Heroes of Olympus
1. The Lost Hero
2. The Son of Neptune
3. The Demigod Diaries
4. The Mark of Athena
5. The House of Hades
Roald Dahl1. Si Buaya Raksasa
2. Aruk-Aruk
3. Jari Ajaib
4. Si Jerapah dan Si Pelly dan Aku
5. Mr. Fox yang Fantastis
6. The Twits
7. James dan Persik Raksasa
8. Raksasa Besar yang Baik (The BFG)
9. Charlie dan Pabrik Cokelat Ajaib
10. Charlie dan Elevator Kaca Luar Biasa
11. Boy: Kisah Masa Kecil
12. Ratu Penyihir
13. Danny Juara Dunia
14. Matilda
Sir Arthur Conan DoyleAdventures of Sherlock Holmes
Steig LarrsonMillennium Trilogy:
1. The Girl with the Dragon Tattoo
2. The Girl Who Played with Fire
3. The Girl Who Kicked the Hornets' Nest
Stephanie MeyerTwilight Saga:
1. Twilight
2. New Moon
3. Eclipse
4. Breaking Dawn
Stephen HawkingA Brief History Of Time
Stephen KingThe Stand (1978)
The Dead Zone (1979)
Salem's Lot (1975)
Hearts in Atlantis (1999)
The Shining (1977)
The Green Mile" (1996)
Carrie (1974)
Pet Sematary (1983)
Misery (1987)
Needful Things (1991)
Terry Pratchett & Neil GaimanGood Omens
Victor HugoLes Miserables
Vladimir NabokovLolita
William Makepeace ThackerayVanity Fair
William ShakespeareHamlet
Yann MartelLife of Pi

21 Mei 2012

New Moon (Dua Cinta) by Stephenie Meyer

Judul Buku: New Moon (Dua Cinta)
Seri: Twilight Saga #2
Penulis: Stephenie Meyer
Penerjemah: Monica Dwi Chresnayani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2009 (Agustus, Cetakan XIV)
Tebal: 600 Halaman
ISBN: 9789792238303
Harga: Rp. 68.500,-
Rating: 4/5

Isabella Swan berulang tahun ke-18 namun ia merasa gelisah, karena berarti ia bertambah tua setahun, sementara Edward Cullen, kekasih vampir-nya tetap berusia 17 tahun, dan tak bertambah tua sedikipun—ingat kan, setelah menjadi vampir, tubuh manusia para vampir tak akan lagi bertambah tua?

Kegelisahan tersebut membuat Bella tak ingin menerima kado apapun baik dari Edward dan keluarga Cullen, maupun dari ayahnya sendiri. Namun Bella tak kuasa menolak saat keluarga Cullen memaksanya untuk merayakan pesta ulang tahun di rumah mereka. Saat akan membuka kado, tangan Bella terluka. Tiba-tiba Jesper Cullen, yang belum bisa sepenuhnya mengendalikan dahaga vampirnya berusaha menyerang Bella. Dalam usahanya menolong Bella, Edward Cullen mendorong gadis itu hingga mengantam meja, membuat lengan Bella terluka makin parah dan mengucurkan banyak darah akibat terkena pecahan kristal. Di luar dugaan, keluarga Cullen yang lain menatap Bella dengan ekspresi lapar. Untung saja mereka masih bisa mengendalikan diri, sementara Jesper sendiri sudah diamankan. Carlisle, ayah Edward yang berprofesi sebagai dokter kemudian mengobati Bella. Pesta ulang tahun yang harusnya bahagia itu berakhir tak sesuai harapan.

Untuk melindungi Bella agar kejadian tersebut tak terulang lagi, Edward dan keluarganya memutuskan untuk pindah dari Forks. Perpisahan Bella dengan Edward membuat gadis itu syok berat. Selama berbulan-bulan Bella menghabiskan waktu layaknya mayat hidup, sebab cahaya hidupnya telah padam bersama dengan kepergian Edward.

Berbulan-bulan kemudian, Bella akhirnya memutuskan untuk bangkit dan menjalani hidup mulai dari awal lagi demi Charlie, sang ayah. Bella kemudian pergi ke La Push, menemui Jacob, teman masa kecilnya. Di luar dugaan, Jacob ternyata sanggup membuat hari-hari Bella menjadi lebih cerah. Ayah Bella bisa melihat perubahan itu dan mendukung Bella bergaul dengan Jacob.

Saat hiking sendirian di hutan, muncullah Laurent, vampir yang pernah menjadi anggota James (di buku pertama, James hampir saja membunuh Bella, tapi digagalkan oleh Edward dan saudaranya). Ada rasa senang dalam hati Bella saat pertemuan tersebut, menandakan bahwa apa yang pernah terjadi pada dirinya, tentang vampir dan segala macam, juga tentang Edward, bukanlah mimpi. Namun rasa senang itu tak berlangsung lama, karena Laurent ternyata diperintahkan oleh Victoria, kekasih James untuk mengawasi apakah Bella masih dalam lindungan keluarga Cullen atau tidak. Victoria yang dendam kekasihnya dibunuh oleh Edward bermaksud mengincar Bella. Laurent yang sedang kehausan mengambil inisatif untuk menghabisi Bella tanpa menunggu Victioria sendiri yang melakukannya. Saat itulah muncul lima serigala besar, menggagalkan tindakan Laurent. Laurent kemudian kabur sambil terus dikejar kelima serigala tadi. (Wah, Bella selalu beruntung ya?)

Cerita kemudian bergulir hingga kemunculan Alice, adik perempuan Edward. Dalam ‘penglihatan’ Alice, ia melihat Bella bunuh diri, tapi ternyata penglihatannya kurang tepat. Bella baik-baik saja. Namun Edward terlanjur mempercayai penghilatan Alice, dan memutuskan untuk menemui keluarga Volturi—keluarga vampir besar di Italia, meminta mereka mengakhiri hidupnya.

Bagaimanakah nasib Edward selanjutnya? Lalu bagaimana dengan Jacob, sosok yang telah membuat Bella kembali berbahagia sejak ia patah hati? Apakah Bella akan pergi begitu saja ke Italia dan meninggalkan Jacob yang memohon padanya untuk tidak pergi?

Baca kisah lengkapnya di New Moon.

***

Wah, tampaknya saya malah meringkas bukunya kelewat detail ya? Uhm, tapi nggak juga ding. Saya nggak menceritakan tentang apa atau siapa sebenarnya serigala besar yang menyelamatkan Bella di hutan kan? (Walau saya yakin kamu pasti sudah mengetahuinya, hehe).

Sekali lagi, mohon diingat, bahwa novel ini adalah novel romance. Bumbu-bumbu tentang vampir dan, ehem, manusia serigala hanya sekadar tambahan. Jadi jangan terlalu berharap di dalamnya terdapat banyak adegan pertarungan yang berdarah-darah.

Saya pribadi menyukai buku kedua ini berkat hadirnya manusia serigala atau werewolf. Sekali lagi, Stephenie Meyer melanggar ‘aturan’ yang berlaku tentang werewolf, sebagaimana ia melanggar aturan tentang vampir yang selama ini kita kenal dari film maupun buku-buku. Misalnya, pertama, wujud werewolf ternyata tidak seperti manusia yang berdiri tegak. Werewolf tetap berwujud seperti serigala biasa, namun ukuran tubuhnya jauh lebih besar, menyerupai beruang dewasa, dan jauh lebih kuat serta memiliki kecepatan luar biasa. Kedua, proses transormasi werewolf tidak lama dan menyakitkan, melainkan sangat cepat—hanya dalam sekali kedipan mata. Ketiga (tambahan dari Lila) nggak harus menunggu bulan purnama untuk bisa bertransformasi. :)

Mengenai karakter Bella di buku ini, banyak yang tidak suka karena dia terlalu apa ya… er… yah, terlalu lembek gitu deh (maaf, saya memang nggak pandai mendeskipsikan dengan lebih baik). Tapi saya justru kagum pada Bella. Coba pikir, berapa banyak gadis di luar sana yang mengalami patah hati sedemikian parah namun tetap berprestasi di sekolah, rajin mengerjakan PR, bahkan tetap telaten menurus rumah? Yep, karena meski dalam kondisi patah hati parah, Bella tetap menjalani hidupnya dengan baik dan tetap cemerlang di sekolah. Memang sih, terkadang Bella terlalu cengeng. Tapi… aduh gimana ya, mungkin karena saya cowok, jadi saya justru memaklumi sifat Bella tersebut. Kalau bisa sih, saya mau menjadikannya istri... tapi sayang saingan saya terlalu berat: vampir dan manusia serigala gitu loh. Nope. Saya mending mundur teratur.

Yak, daripada makin melantur, mari kita akhiri saja (semacam) review ini. Terlepas dari berbagai ‘aturan’ yang dilanggar oleh Stephenie Meyer sang penulis, saya menyukai konsep baru tentang werewolf di buku ini (dan konsep vampirnya). 4/5 bintang? Yah, namanya juga guilty pleasure. :P


My reviews for this series:
1. Twilight
2. New Moon
3. Eclipse

Liaison Officer Forever by Melanie Subono

Penulis: Melanie Subono
Penerbit: Kaifa
Tahun Terbit: 2011
Tebal: 133 halaman
ISBN: 9786028994743
Harga: Rp. 50.000,-
Rating: 3/5

Liaison Officer Forever adalah sequel dari buku pertama Melanie Subono berjudul OUCH! Tak jauh berbeda dengan buku pertama, buku kedua ini masih berkisah tentang suka-duka (alias curhat) penulis tentang pekerjaannya sebagai Liaison Officer atau biasa disingkat LO, serta (masih) ditulis dengan gaya yang mengundang tawa.

Sekadar info bagi yang belum tahu atau yang belum membaca OUCH!: di setiap event (khusus dalam buku ini, konser musik artis mancanegara), LO-lah yang bertanggung jawab terhadap segala kebutuhan artis yang akan tampil dalam konser tersebut. Dimulai dari menjemput artis di bandara, mengantarnya ke hotel, serta memenuhi semua permintaan artis yang sebelumnya sudah dicatat dalam ‘kitab suci’ bernama Rider. Pokoknya tanggung jawab LO adalah sebisa mungkin membuat si artis merasa nyaman selama berada di Indonesia sampai dia pulang lagi ke negaranya. Singkat kata, LO adalah babu sekaligus babysitter sang artis. Seru? Iya. Menyenangkan? Tidak selalu.

Buku ini dibuka dengan bab berjudul SEDIKIT TENTANG BUKU OUCH! DULU, yang berisi beberapa tanggapan pembaca tentang buku tersebut. Ada yang bilang buku itu lucu, ada yang meragukan kebenaran ceritanya, juga ada yang menginspirasi pembaca untuk menjalani profesi LO seperti Melanie. Di bab berikutnya Melanie membahas lebih lanjut mengenai Rider, yang berisi daftar panjang permintaan artis. Ada yang wajar, ada pula yang tidak masuk akal, namun sepanjang masih bisa dipenuhi, pihak LO akan berusaha menyanggupinya.

Beberapa permintaan ‘unik’ sang artis dibahas di bab yang lain. Seunik apa? Nih, saya kutip langsung dari bukunya (hlm 13-14):
• Andrea Corrs (The Corrs)
PERMINTAAN: Semua bantal kamarnya jangan menggunakan bulu angsa, padahal itu justru jenis yang umumnya dipakai oleh hotel berbintang di mana pun.
ALASANNYA: Ternyata dia alergi.
HASILNYA: Kita kabulkanlah yaaaaaa, karena gue juga gak mau ngeliat artis gue cakep-cakep, tapi mendadak bengek karena alergi pas mau manggung.
• Forever The Sickest Kids
PERMINTAAN: Menu (makanan) spesifik pada Rider mereka.
ALASANNYA: Ternyata, sebagaian besar dari mereka adalah vegetarian murni, sehingga tidak misa memakan daging sama sekali.
HASILNYA: Dikabulkan.
KALAU DITANYA: Apakah itu gado-gado? (baca: geido geido), kita jawab saja: It’s Indonesian Salad, you know…
• Mariah Carey (Lageee) <-- (tambahan dari saya sendiri: 'lagi', karena Mariah Carey-lah yang menjadi bintang utama di buku OUCH!, artis dengan permintaan aneh-aneh)
PERMINTAAN: Disiapkan segerombolan orang di tempat-tempat yang akan dilewatinya, berdiri sambil membawa spanduk yang ada nama dia, untuk mengelu-elukan dia.
ALASANNYA: Penyakit Psikologis Mariahis Kronis. (asli, Melanie ngarang abis, tapi saya cuma bisa ngakak)
HASILNYA: Ya kaleee, mau dilawan????
Tidak hanya artisnya yang punya kelakuan aneh. Manajer artisnya pun ada yang kelakuannya bikin jengkel. Saat membaca bagian tersebut, saya jadi ikut-ikutan jengkel.

Membaca buku ini membuka mata kita tentang bagaimana rempongnya jadi seorang LO yang harus mengurusi semua kebutuhan sang artis. Namun, terlepas dari kelakuan para artis yang terkadang aneh-aneh, kemampuan bermusik mereka memang luar biasa, mereka memang penghibur sejati. Buat kamu yang suka tantangan dan mungkin berminat jadi LO, Melanie membagai cukup banyak pengalaman lewat bukunya ini, harus kamu baca deh. Isinya tidak melulu menceritakan ‘keburukan’ sang artis kok. Kamu akan menemukan beberapa istilah teknis yang wajib diketahui oleh para LO, dimana Melanie memberi penjelasannya pada bab sendiri.

Yang menjadi nilai minus dari buku ini adalah typo yang banyak. Tak sekadar banyak, tapi banyaaaak banget. Layoutnya juga berantakan. Seperti komentar banyak orang, buku ini kayak draft, masih perlu dipoles sana-sini. Apa mungkin buku ini dikerjakan secara terburu-buru? Penggunaan background warna pada halaman-halaman buku ini juga terkadang bikin mata saya sakit. Terakhir, untuk ukuran buku yang hanya setebal 130 halaman, harganya kelewat mahal! Rp 50.000,- untuk buku tipis begini? Haduh… *mendesah sambil elus-elus dompet*

Meski banyak kekurangan, buku ini membuat saya terhibur, terutama oleh cara Melanie bercerita. Dan ternyata, artis-artis yang kita elu-elukan itu cuma manusia biasa. Kelakuan mereka ya kayak kita-kita juga, kadang malah lebih parah. Fakta ini agak mengecilkan jarak antara kita dengan mereka. :)

3/5 bintang.

Sekarang giliran saya yang curhat:
1. Hiks, gara-gara sibuk ujian, banyak buku yang telat direview.
2. Buku ini saya baca di sela-sela menikmati New Moon. Tapi karena tipisnya, buku ini malah kelar duluan. :P

18 Mei 2012

Twilight by Stephenie Meyer

Judul Buku: Twilight
Seri: Twilight Saga #1
Penulis: Stephenie Meyer
Penerjemah: Lily Devita Sari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2009 (Februari, Cetakan X)
Tebal: 520 halaman
ISBN: 9792236023
Harga: Rp. 60.000,-
Rating: 4/5


What, baru baca? Hihi, iyah! Sudah, nanti saya cerita mengapa saya baru membaca Twilight. Atau yang lebih penting, KOK MAU-MAUNYA SIH, BACA TWILIGHT? Sabar… Kita bahas ceritanya dulu. Singkat saja, karena saya yakin sebagian besar pembaca sudah tahu kisahnya. Oh ya, mungkin agak mengandung spoiler juga. Tak apa, kan? :)

Isabella Swan, 17 tahun, memulai hidup baru di Forks. Sebelumnya ia tinggal di Phoenix bersama ibunya. Kini, di Forks, tinggal bersama ayahnya yang bekerja sebagai kepala polisi Forks. Bella awalnya tidak menyukai kota kelahirannya itu; kota yang muram, selalu mendung, dan sering hujan. Namun keadaan mulai berubah sejak ia bertemu dengan anak-anak keluarga Cullen di sekolah. Remaja-remaja yang tampan dan cantik, terutama yang paling bungsu, Edward Cullen.

Warga Forks sepertinya menjaga jarak dengan keluarga Cullen. Mungkin karena mereka pendatang, punya tampang kelewat memesona, dan luar biasa kaya. Bagi Bella, ketampanan Edward-lah yang membuatnya tak bisa mengalihkan pikirannya dari pemuda itu. Sayangnya Edward justru bersikap kurang bersahabat. Ia terkesan menghindari Bella, bahkan menunjukkan tampang jijik (membuang muka, menutup hidung, dsb) padahal Bella yakin ia tak berbuat kesalahan apapun, bahkan Bella sampai mengendus rambutnya sendiri untuk memastikan dirinya tidak bau.*saya senyum-senyum geje pada bagian ini*

Peristiwa kecelakaan di parkiran sekolah nyaris merenggut nyawa Bella kalau saja saat itu Edward tidak menyelamatkannya. Bella hampir tak mempercayai penglihatannya sendiri: bagaimana mungkin Edward yang tadinya berada di jauh di seberangnya sedetik kemudian berada di sampingnya, melindunginya dan hantaman mobil, dan alih-alih remuk, justru yang mobil yang menabrak merekalah yang penyok-penyok?  Saat Bella mengkonfirmasi hal tersebut, Edward mati-matian menyangkalnya, sementara Bella yakin dirinya tidak berhalusinasi.

Bella dibuat penasaran oleh Edward Cullen. Apakah manusia super benar-benar ada? Seolah paras Edward yang tampan—berkulit seputih porselen dengan warna mata yang sering berubah-ubah— itu tidak cukup saja! Kecurigaan Bella makin bertambah sejak ia diceritakan ‘kisah-kisah seram’ oleh seorang teman masa kecilnya, Jacob, saat berkunjung ke La Push. Bella pun melakukan sedikit ‘riset’ yang membawanya pada satu kesimpulan: Edward Cullen dan keluarganya adalah vampir.

Kenyataan tersebut tak membuat Bella gentar. Ia terlanjur suka, bahkan cinta pada Edward Cullen. Kenyataannya, Edward pun memiliki perasaan yang sama pada Bella. Alasan ia menghindari Bella selama ini karena aroma Bella yang begitu menggoda. Sebagai vampir, Edward berusaha sekuat tenaga menahan diri agar tak sampai membunuh gadis yang disukainya itu.
Ada tiga hal yang kuyakini kebenarannya. Pertama, Edward adalah vampir. Kedua, ada sebagaian dari dirinya—dan aku tak tahu seberapa kuat bagian itu—yang haus akan darku. Dan ketiga, aku jatuh cinta padanya, tanpa syarat, selamanya.
---o---

Welcome to the first of the insanely-popular-series: TWILIGHT!!! *jerit-jerit histeris* (Diteriakin: "Sudah lewat kaleee masanya!"). Hal yang menahan saya nggak membaca buku ini di awal-awal kemunculannya Indonesia karena genre-nya romance, genre yang kurang saya minati saat itu.

Jadi, apa yang membuat saya berubah pikiran? Adalah situs 9gag.com, sebuah situs yang saya kunjungi di sela-sela jam kantor, situs yang mampu membuat wajah sumpek-gara-gara-kerjaan saya berganti menjadi senyum manis nan unyu (halah). Intinya, film Twilight (dan seri-seri selanjutnya) amat dibenci oleh sebagian besar member di situs tersebut, terbukti dengan banyaknya parodi dan photoshop yang menjelek-jelekkan film Twilight. Yang ada saya justru jadi penasaran dan berpikir, "Sejelek apa sih, Twilight?" Maksud saya, jika ingin ikut-ikutan menertawakan kejelekan Twilight, setidaknya saya harus nonton filmnya atau baca bukunya dulu, kan? Nggak adil dong, ikut-ikutan tertawa tapi nggak pernah baca atau nonton filmnya sama sekali, hehehe. (Ketahuan deh, niat jelek saya. Pingin baca bukunya biar bisa ikut-ikutan ngehina. Hadeh….)

Di luar dugaan, SAYA MALAH JATUH CINTA SAMA BUKU INI. Ya, silakan tertawakan saya. Saya sudah siapin kemoceng untuk menutup wajah malu saya, tapi saya nggak akan mengubah pendapat saya. Well, ketertarikan saya pada buku ini bukan hanya karena genre romance-nya, tapi juga pada konsep baru tentang vampir yang dikenalkan oleh Shepenie Meyer, sang penulis. Siapa sih, yang nggak ingin kayak Edward, muda selamanya, bebas dari rasa sakit, punya kecepatan dan tenaga luar biasa? Cuma..., kalo ingat jadi vampir harus minum darah ya, agak mikir-mikir juga sih, hehe. Btw, keluarga Cullen adalah vampir baik, artinya, mereka tidak minum darah manusia, tapi minum darah hewan. Anggota keluarga yang lain membuat lelucon tentang hal tersebut, menyebut diri mereka sebagai vampir vegetarian. Ada-ada saja. :D

Novel ini sebetulnya bisa dibuat lebih singkat lagi. Apalagi sebagian besar novel ini cuma berisi pujian-pujian Bella terhadap Edward. Doh, bosen juga lama-lama. Apalagi Bella terkadang kelewat berlebihan dalam menggambarkan ketampanan Edward. Misalnya nih, di halaman 255: Aku tak bisa membayangkan malaikat bisa lebih indah daripada dia. Tak ada yang bisa menandinginya dalam hal apapun. Pengen muntah? Sama.

Karakter Bella kelewat lembek untuk ukuran tokoh utama perempuan dalam buku cerita. Mau tak mau saya membandingkannya dengan Katniss (tokoh utama The Hunger Games) yang jauh lebih kuat. Saya pernah membaca suatu artikel yang menyebutkan bahwa novel ini sifatnya sangat personal bagi Stephenie Meyer. Mungkin karakter Bella mirip dengan beliau? Entahlah.

Sejujurnya, novel ini secara isi/bobot masih kalah dibanding, Harry Potter dan The Hunger Games (sorry, beda genre, tapi cuma dua judul itu yang muncul di kepala saya saat ini). Ketegangan justru baru terasa saat mendekati bab-bab terakhir. Harusnya novel ini cuma dapat 2/5  bintang. Tapi… mungkin ini yang namanya guilty pleasure kali ya, karena saya suka sekali buku ini meski saya tahu ceritanya kurang berbobot. Jadi, akhirnya saya memberinya 4/5 bintang. Silakan rajam saja dirikuuuu.


My reviews for this series:
1. Twilight
2. New Moon
3. Eclipse 

16 Mei 2012

Dimsum Terakhir by Clara Ng

Judul: Dimsum Terakhir
Penulis: Clara Ng
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2006
Tebal: 361 hlm.
ISBN: 9792220690
Rating: 3/5

Sinopsis:
Empat perempuan kembar yang mempunyai empat kehidupan berbeda. Empat masa depan yang membingungkan. Empat rahasia masa lalu yang menghantui. Dan satu usia biologis yang terus-menerus berdetik.

Siska Yuanita, Indah Pratidina, Rosi Liliani, dan Novera Kresnawati terpaksa harus pulang untuk mendampingi ayah yang diprediksi tidak punya harapan hidup lagi. Mereka tidak pernah menyangka bahwa kesempatan berkumpul kembali ternyata mengubah segalanya. Pertanyaan-pertanyaan penting tentang kehidupan bermunculan, termasuk ketakutan, kecemasan, dan keangkuhan mengakui bahwa kehidupan dan kematian hanyalah sekadar garis tipis.

Dimsum Terakhir adalah drama penuh harum memikat, cerdas, dan dituturkan dengan amat indah oleh novelis bestseller Indonesia, Clara Ng. Kisah ditulis modis dengan gaya lembut tapi kuat ini menyuarakan keberanian serta kekuatan yang (selalu) ada di setiap hati kita semua.

The (Un)Reality Show adalah novel pertama Clara Ng yang saya baca. Sayangnya novel tersebut membuat saya kecewa, bahkan menyesal telah membelinya (plus, cuma dapat 2/5 bintang dari saya). Sejak saat itu saya berjanji nggak akan pernah lagi membaca novel-novel Clara Ng. Stupid me? Yeah, I admit it.

Tapi… saya akhirnya melanggar janji itu. Saya pikir, rasanya nggak adil menilai Clara Ng segitu buruknya. Secara penulis best seller gitu lho. Harusnya beliau punya karya-karya yang lain yang lebih oke. Maka saya pun beranggapan bahwa saya hanya sial saja karena membaca karyanya yang kebetulan tidak cocok dengan selera saya. Setelah cari info sana-sini, banyak yang merekomendasikan Dimsum Terakhir, yang katanya salah satu novel terbaik Clara Ng.

Saya pun memutuskan mencari novelnya. Untungnya ketemu di… tempat penyewaan! Hahaha. Saya belum mau mengambil resiko membeli novel Clara Ng sebab masih trauma dengan The (Un)Reality Show (duileee sampe segitunyaaa).

Let’s see… sebagus apa sih, Dimsum Terakhir ini?

Back to top