31 Okt 2013

Aku Tahu Kamu Hantu by Eve Shi

Judul: Aku Tahu Kamu Hantu
Penulis: Eve Shi
Penerbit: GagasMedia, 2013
Tebal: 268 hlm.
ISBN: 9789797806521
Rating: 3/5

Sinopsis:
Aku di sini.
Kamu bisa melihatku,
tetapi kamu tidak bisa mendengarku.
Aku tahu kamu bingung,tetapi yakinlah...
aku tidak pernah bermaksud jahat.
Aku hanya ingin meminta tolong,
karena kamulah satu-satunya orang yang bisa memecahkan teka-teki ini.
Jika kamu melihatku lagi,
tolong jangan berpaling.
Semoga kamu mengerti isyaratku.

Biasanya, ulang tahun ke-17 sangat dinantikan oleh para remaja. Sebab di usia inilah mereka dianggap dewasa. Ulang tahun ke-17 atau sweet seventeen umumnya dirayakan lebih meriah dari biasanya. Olivia (Liv), tokoh utama cerita ini, adalah salah satu gadis yang beruntung bisa mencapai usia tersebut dalam kondisi yang sehat lahir bathin. Amin. Makasih. Hanya saja, ulang tahunnya tidak dirayakan dengan heboh. Ia berasal dari keluarga broken home. Mama kabur dari rumah gara-gara Papa kurang perhatian. Papa adalah dosen yang lebih memerhatikan pekerjaannya dibanding keluarga. Interaksi antara Liv dan Papa pun dingin-dingin saja. Nah, perubahan besar apakah yang terjadi setelah seventeen her age? #terVickyPrasetyo. Jadi sodara-sodara, pada usia inilah Liv mendapatkan kemampuan super. Memang nggak super-super benget kayak di film X-Men atau Superman. Bila Superman mampu melihat menembus dinding, maka Liv mampu melihat menembus dunia lain. Yak, tebakan Anda benar: Liv dikasih kemampuan melihat SETAN. Duh, amit-amit jabang bayi.

Awalnya hantu yang dilihat oleh Liv adalah cewek pake baju putih dengan rambut awut-awutan di toilet sekolah. Kemudian, Liv melihat Chandra, bocah 6 tahun yang kabarnya meninggal kecelakaan saat jalan-jalan sama... uhm... om-nya kalo nggak salah (saya reviewer berotak telfon). Si hantu Chandra ini parah banget. Awalnya cuma menampakkan diri di jalan depan rumah Liv. Naik level, si Chandra mulai ngetuk-ngetuk jendela kamar Liv yang berada di lantai dua! Dan Chandra tidak berhenti sampai di situ. DIA MENGGEDOR-GEDOR PINTU KAMAR LIV SAMBIL MEMOHON-MOHON MINTA DIBUKAIN PINTU! Asem banget. Siapa sih yang nggak takut pintu kamarnya digedor-gedor sama setan anak kecil?

Liv stres dengan apa yang dialaminya. Ia sudah mencoba membicarakan hal tersebut dengan Papa, tapi yah... gitu deh. Papa dosen, dan biasanya dosen berpikir logis. Dan pikiran logis Papa berkata bahwa semua yang dialami Liv tidak nyata. Alias mimpi. Alias ngigo. Frustrasi dong yah. Liv merasa sebagai anak yang tidak dianggap. Nggak dianggap bisa melihat hantu maksudnya. Belakangan, Liv akhirnya tahu kalo kemampuan melihat hantu ternyata sudah diwariskan secara turun-temurun dalam garis keluarga perempuan Mama. Ternyata, Mama juga punya kemampuan yang sama dengan Liv. Ibunya Mama alias nenek Liv pun memiliki kemampuan yang sama. Karena kemampuan ini tidak bisa dihilangkan, Liv hanya pasrah menerima keadaan dan mencoba membiasakan diri dengan ‘anugerah’nya itu. #kipaskipas #mendadakgerah

The White Tiger by Aravind Adiga

Judul: The White Tiger
Penulis: Aravind Adiga
Penerbit: Penerbit ANDI, 2010
Tebal: 360 hlm.
ISBN: 9789792912869

Sinopsis:
Fakta yang aneh: bunuhlah seorang pria dan kau akan merasa bertanggung jawab atas hidupnya---bahkan posesif. Kau jauh lebih mengenalnya daripada ayah-ibunya; mereka mengenal janinnya, tapi kau mengenal mayatnya. Kaulah yang membuat kisah hidupnya komplit; hanya kau yang tahu kenapa tubuhnya harus dikirim ke api sebelum waktunya, dan kenapa jari-jari kakinya berkerut dan berjuang untuk memperoleh satu jam lagi di bumi.

***

Balram, supir pribadi Ashok yang polos, sabar, patuh, dan memuja tuannya setengah mati. Siapa yang menyangka ia akan tega menggorok leher sang majikan yang sudah dianggapnya serupa dewa itu? Bagaimana bisa seorang bodoh berubah menjadi kriminal berdarah dingin? Apakah hanya karena fakta aneh di atas? Cerita Balram akan membuka mata Anda lebar-lebar tentang India yang sama sekali belum merdeka, kebohongan Sungai Ganga sebagai simbol emansipasi, kebobrokan politik demokrasi, dan mengapa ia sampai dijuluki sebagai si Harimau Putih. Keadaan yang tidak jauh berbeda dengan negara kita ini berhasil dituliskan Aravind Adiga, peraih The Man Book Prize 2008, ini dengan apik. Kisah luar biasa yang akan menyadarkan Anda dari kebohongan dunia.

The White Tiger adalah salah satu novel yang awalnya sulit saya nikmati. Mungkin inilah novel terberat yang saya baca tahun ini. Berhasil menyesaikan buku ini merupakan prestasi tersendiri buat saya. Biasanya saya akan berhenti membaca sebuah buku bila buku tersebut benar-benar tidak sesuai dengan selera saya. So, thanks buat komunitas Blogger Buku Indonesia (BBI),  karena berkat event baca bareng BBI, selain saya diajak untuk membaca buku (fiksi) di luar zona nyaman saya, dengan ikut posting bareng mau tidak mau saya harus membaca sebuah buku sampai selesai. Mungkin awalnya memang menyiksa, terutama karena gaya bercerita dalam buku ini sangat sinis dan sarkastis, di mana bacaan model begini biasanya saya hindari. Namun, setelah selesai membaca buku ini, saya merasa cukup puas, selain karena bisa menyelesaikan bacaan saya, buku ini juga telah memberi pengetahuan baru bagi saya yang tadinya tak begitu memahami kondisi negara India. Dan, buku ini membuat saya semakin mencintai negara saya sendiri.

Kisah The White Tiger (judulnya tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia) adalah tentang Balram yang mengirim surat kepada perdana menteri China, Mr. Jiabao, yang akan datang ke India untuk menemui intrepreneur hebat di negara tersebut. Balram merasa dirinyalah intrepreneur yang paling tepat untuk ditemui oleh perdana menteri. Untuk itu, lewat suratnya, Balram mulai menceritakan kisah hidupnya sejak dirinya kecil hingga sukses seperti sekarang ini. Uniknya, lompatan besar dalam hidup Balram merupakan sesuatu yang tidak biasa, yaitu ketika ia memutuskan untuk membunuh majikannya sendiri: Mr. Ashok. Percayalah, ini bukan spoiler, karena pada sinopsis di sampul belakang buku, hal tersebut telah diungkapkan dengan gamblang. Ini menggelitik rasa ingin tahu saya. Mengapa Balram sampai membunuh Mr. Ashok?

28 Okt 2013

Ranah 3 Warna by A. Fuadi

Judul Buku: Ranah 3 Warna
Seri: Trilogi Negeri 5 Menara #2
Penulis: A. Fuadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2012 (April, Cetakan VI)
Tebal: xiii + 473 hlm
ISBN: 978-979-22-6325-1
Rating: 4,5/5


"Man Shabara Zhafira."

Ranah 3 Warna melanjutkan kisah perjuangan Alif dalam mewujudkan harapan dan cita-citanya. Keinginan Alif untuk menjadi Habibie, serta impiannya untuk menjejakkan kaki di benua Amerika belumlah padam. Kendalanya, untuk bisa melanjutkan ke perguruan tinggi, Alif harus punya ijazah SMA, padahal Pondok Madani (PM) tempat Alif menimba ilmu, tidak mengeluarkan ijazah. Untuk itu, Alif harus mengikuti ujian persamaan SMA untuk mendapatkan ijazah dan agar bisa mengikuti UMPTN. Setelah perjuangan yang tak ringan, Alif berhasil mendapatkan ijazah dan sukses dalam UMPTN. Ia akhirnya diterima di Universitas Padjajaran Bandung, jurusan Hubungan Internasional. Memang agak melenceng dari cita-citanya semula, yaitu Teknik Penerbangan ITB. Bagaimanapun, Alif tetap bersyukur atas hasil yang diperolehnya. Alif pun memulai kehidupannya sebagai mahasiswa di Bandung.

Kehidupan di Bandung tidak mudah. Berbagai ujian dan tantangan hidup harus Alif jalani, terutama kebutuhan akan keuangan. Sebagai mahasiswa, Alif butuh uang, selain untuk membiayai kuliahnya, juga untuk membeli buku-buku tambahan. Karena tak ingin menambah beban orang tua di kampung, Alif berusaha mencari uang tambahan dengan cara bekerja sambil kuliah. Berbagai jenis pekerjaan dicoba olehnya. Mulai dari mengajar privat hingga menjadi sales yang membuatnya mengalami pengalaman pahit. Sakit tifus selama sebulan yang diderita olehnya membuat Alif semakin terpuruk. Belum lagi peristiwa malang yang menimpa salah satu anggota keluarga (bagian ini membuat mata saya basah). Sempat terpikir oleh Alif untuk berhenti kuliah dan kembali ke kampung untuk membantu para anggota keluarga yang masih tersisa. Namun, mengingat segala perjuangannya mulai dari ikut ujian persamaan SMA hingga UMPTN, rasanya sangat disayangkan bila ia harus pulang kampung. Dalam keputusasaannya, Alif teringat satu lagi ajaran emas selama di PM. Alif berpikir, ternyata mantera man jadda wajada saja tidak cukup. Satu lagi mantera yang perlu diingat: man shabara zhafira, yang secara harafiah berarti: siapa yang bersabar akan beruntung (dengan kata lain, siapa yang bersabar akan memperoleh hasil yang lebih baik). Alif pun mencoba untuk bersabar menghadapi setiap cobaan yang dialaminya.

21 Okt 2013

Negeri 5 Menara by A. Fuadi

Judul Buku: Negeri 5 Menara
Seri: Trilogi Negeri 5 Menara #1
Penulis: A. Fuadi
Penerbit: Gramedia Pusataka Utama
Tahun Terbit: 2009 (Oktober, Cetakan II)
Tebal: xiii + 420 hlm
ISBN-13: 9789792248616
Rating: 5/5


"Man Jadda Wajada."

Buku ini termasuk salah satu buku yang cukup lama bertengger di daftar ‘to-read’ saya. Tak lama setelah mulai membaca buku ini, saya segera menyesali diri sebab telah menunda-nunda membacamya. Novel yang sarat motivasi. Setiap lembarnya ibarat suntikan penyemangat, setidaknya bagi saya. Pada akhirnya, Negeri 5 Menara sukses membuat saya berangan-angan—walau sangat tidak mungkin—untuk mencicipi dunia pendidikan di pondok pesantren seperti yang digambarkan dalam buku ini. Terus terang, saya merasa iri pada mereka yang mengalami masa-masa pendidikan di Pondok Madani.

Buku pertama dari rangkaian trilogi ini berkisah tentang Alif Fikri yang berasal dari Maninjau, Sumatera Barat. Alif adalah anak yang cerdas serta memiliki cita-cita yang tinggi. Setelah lulus dari sekolah madrasah, ia ingin melanjutkan pendidikan ke SMU negeri di Padang, lalu meneruskan kuliah di ITB agar bisa seperti B.J. Habibie, tokoh panutannya. Sayang sekali mimpinya untuk bersekolah di SMU negeri harus kandas, sebab Amak menginginkan dirinya masuk sekolah agama. Amak sangat berharap agar Alif dapat mengikuti jejak Buya Hamka, seorang pemuka agama tersohor. Amak ingin sekali menepis anggapan bahwa sekolah madrasah atau pesantren hanya diperuntukkan bagi anak-anak yang tidak diterima di sekolah negeri (atau kasarnya, anak-anak yang bersekolah di pesantren dinilai tidak cakap untuk berskolah di sekolah negeri). Alif sangat marah dan kecewa atas keputusan sepihak dari Amak. Namun, setelah mendapat dukungan moral dari sang paman yang sedang melanjutkan studi di Kairo, Mesir, akhirnya Alif melunakkan hati dan menuruti kemauan Amak.

Back to top