29 Nov 2013

The Invention of Hugo Cabret by Brian Selznick

Judul: The Invention of Hugo Cabret
Penulis & Ilustrator: Brian Selznick
Penerjemah: Marcalais Fransisca
Penerbit: Mizan Fantasi, 2012
Tebal: 543 hlm.
ISBN: 9789794336816
Rating: 4/5

Sinopsis:
Kehadirannya bagaikan hantu. Hugo menyelinap dari satu bilik ke bilik lain, menyusuri lorong tak terlihat, dan mengendap-endap di bawah temaram lampu stasiun kota. Tak seorang pun tahu, Hugo menyembunyikan sebuah rahasia besar warisan almarhum ayahnya, satu-satunya pengikat dirinya dengan masa lalu sekaligus masa depan. Namun, semua berubah ketika dia berjumpa seorang pria tua berwajah muram yang selalu berusaha menguak rahasia besar Hugo. Apa hubungan antara pria tua itu dengan rahasia Hugo?

The Invention of Hugo Cabret, sebuah sajian unik yang bukan hanya memukau pembaca lewat jalinan kisah mengagumkan, tetapi juga menghibur lewat goresan ilustrasi yang matang dan kaya makna. Bertutur tentang rahasia yang hilang dan kekuatan mimpi, karya spektakular ini layak untuk disimak.

Berlatar Paris tahun 1931, The Invention of Hugo Cabret berkisah tentang Hugo Cabret, seorang anak lelaki yang sehari-hari bekerja merawat jam-jam di stasiun kereta api kota Paris agar tetap bekerja dengan baik. Sebenarnya pekerjaan tersebut adalah pekerjaan pamannya,  tapi sejak sang paman menghilang, Hugo-lah yang menggantikan pamannya. Oleh karena suatu hal, Hugo melakukan pekerjaannya secara diam-diam agar tidak diketahui orang lain, terutama oleh petugas keamanan stasiun.

Hugo & Automaton
Di sarang rahasianya, Hugo rupanya sedang memperbaiki sebuah automaton peninggalan ayahnya. Automaton mirip dengan mainan patung putar atau kotak musik yang dapat bergerak-gerak. Bentuknya menyerupai miniatur manusia yang sedang menulis. Konon, bila automaton tersebut dapat diperbaiki, maka ia akan menulis sesuatu di atas kertas. Hugo dan ayahnya penasaran atas apa yang akan ditulis oleh mesin itu. Sang ayah yang ahli memperbaiki jam memutuskan untuk memperbaiki mesin yang tadinya terabaikan di sebuah museum tersebut. Sayangnya, sebelum berhasil memperbaiki automaton, ayah Hugo meninggal dalam sebuah peristiwa kebakaran.  Hugo yang menemukan automaton di bekas bangunan yang terbakar memutuskan untuk mengambil benda itu dan berusaha memperbaikinya, berbekal buku catatan milik sang ayah, serta kemampuan memperbaiki mesin yang juga didapat dari sang ayah. Jelas sekali bahwa automaton tersebut telah menjadi benda yang sangat penting baginya. Selain itu, ia ingin sekali mengetahui pesan yang apa akan ditulis oleh automaton.

28 Nov 2013

Naked in Death (Telanjang dalam Kematian) by J.D. Robb

Judul: Naked in Death (Telanjang dalam Kematian)
Seri: In Death #1
Penulis: J.D. Robb
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utam, 2008
Tebal: 440 hlm.
ISBN: 9789792236040
Rating: 4/5

Sinopsis:
Eve Dallas adalah Letnan polisi New York yang memburu pembunuh berdarah dingin. Selama lebih dari sepuluh tahun di kepolisian, ia sudah melihat semuanya-dan tahu kemampuannya bertahan hidup tergantung pada nalurinya. Dan ia melawan semua peringatan yang melarangnya berhubungan dengan Roarke, miliarder Irlandia-dan salah satu tersangka dalam kasus pembunuhan yang ditangani Eve. Namun gairah dan rayuan mempunyai aturan tersendiri, dan tergantung pada Eve untuk mengambil kesempatan dalam pelukan pria yang sama sekali tidak dikenalnya-kecuali rasa lapar yang adiktif akan membutuhkan sentuhan pria itu.

Sebenarnya, rencana saya untuk posting baca bareng BBI bulan November kategori horror/thriller adalah buku berjudul Danur karya Risa Saraswati. Tapi saya malah kedistract sama buku lain dan akhirnya nggak baca sama sekali buku itu (salahkan Rantau 1 Muara dan Will Grayson, Will Grayson yang sukses mencuri perhatian saya). Beruntung di awal bulan saya sempat menuntaskan satu buku thriller romantis berjudul Naked in Death karya J.D. Robb—alias  Nora Roberts. Jadi, inilah buku yang akan saya reviu untuk kategori horror/thriller.

Oke lanjut.

Naked in Death adalah buku pertama dari rangkaian serial In Death yang lumayan masyur di kalangan pembaca. Tokoh utamanya adalah Eve Dallas yang berprofesi sebagai polisi berpangkat letnan. Di buku pertama ini Letnan Eve diceritakan menghadapi kasus pembunuhan seorang cucu senator Amerika. Korban ditemukan dalam posisi mengenaskan: telanjang, dengan tiga luka tembak masing-masing di kepala, dada, dan terakhir tepat di alat kelamin korban. Cucu senator yang menjadi korban tersebut ternyata berprofesi sebagai ‘pendamping berlisensi’ atau, kasarnya, pelacur. Memang di tahun 2058 (di mana kisah ini berlangsung), profesi pelacur dianggap resmi bila memiliki lisensi. Sang pembunuh meninggalkan pistol yang digunakan untuk membunuh korban, juga sebuah pesan yang ditulis tangan. Pesan tersebut berbunyi: “satu dari enam”. Artinya sudah jelas, bahwa pembunuh tak akan berhenti sebelum ia berhasil menambah lima korban lagi. Tampaknya, sang pembunuh ingin bermain-main dengan Eve. Ia tahu di mana Eve tinggal, sebab ia mengirimkan video rekaman pembunuhan yang dilakukannya.

Back to top