31 Okt 2014

October Book Haul | 2014

Halah, typo!
Halo, halo.

Akhirnya bisa posting book-haul setelah bulan September kemarin absen bikin. Sebenarnya buku-buku yang saya posting di sini beberapa di antaranya adalah hasil belanja di Scoop via Mbak Vina. Hehe. Makasih ya, Mbak Vina, sudah mau direpotin. Buku-buku tersebut dikirim oleh Mbak Vina bersamaan dengan kado ulang tahun dari BBI Joglosemar, yang tiba kurang lebih seminggu sebelum ultah akyu. Uww.

Sesuai peraturan dari teman-teman Joglo, kado ultah baru boleh dibuka pada saat hari H. Jadilah paket yang saya terima tersebut saya simpan rapat-rapat di lemari arsip kantor (dengan harapan saya bakalan nggak mikirin itu barang). Sehari-dua hari sih masih penasaran, tapi akhirnya saya bisa lupa juga... bersamaan dengan saya lupa ultah saya sendiri. Hadoh. Faktor U kayaknya deh. Masa ya, saya lupa hari ultah saya sendiri. Kalau nggak baca notif di Fb yang berisi ucapan selamat dari teman-teman, saya mungkin nggak bakalan ingat seharian itu. #maafcurhat

28 Okt 2014

Taylor Swift Book Tag

image source here, edited by me.
Setelah berkali-kali lupa mengerjakan meme ini, akhirnya kelar juga bikinnya. Saya di-tag oleh Sulis @ Kubikel Romance. Trims ya, Ibu Peri, sudah nge-tag saya. Sori baru dikerjain. Hehe.

Meme ini awalnya digagas oleh The Book Life di channel yutub: Taylor Swift Booktube. Hmmm. Bicara soal Taylor Swift, siapa yang nggak kenal dengan penyanyi country cantik tersebut? Saya yakin sebagian besar dari kamu pasti mengenal penyanyi ini. Saya juga demikian. Hanya saja, ternyata saya nggak banyak tahu lagu-lagunya Taylor Swift *malu*. Hanya segelintir dari lagu-lagu di bawah yang saya rasa pernah saya dengar.

Oke, tanpa berlama-lama, ini dia: Taylor Swift Book Tag!

27 Okt 2014

I'd Tell You I Love You, But Then I'd Have to Kill You (Aku Mau Saja Bilang Cinta, Tapi Setelah Itu Aku Harus Membunuhmu) by Ally Carter

Judul: I'd Tell You I Love You, But Then I'd Have to Kill You (Aku Mau Saja Bilang Cinta, Tapi Setelah Itu Aku Harus Membunuhmu)
Seri: Gallagher Girls #1
Penulis: Ally Carter
Penerjemah: Alexandra Karina
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2013 (Cetakan III)
Tebal: 320 hlm.
ISBN: 9789792248708

Sinopsis:
Cammie Morgan mungkin cewek genius, menguasai empat belas bahasa, jago mengurai kode rahasia tingkat tinggi, dan merupakan "harta" berharga CIA. Kadang ia bahkan merasa dirinya bisa menghilang. Untungnya, di Akademi Gallagher hal itu dianggap keren. Jelas saja, karena Akademi Gallagher sebenarnya sekolah mata-mata top secret.

Tapi soal cowok, Cammie benar-benar idiot. Ia nggak berkutik waktu Josh yang superkeren terang-terangan menatapnya di karnaval kota Roseville. Padahal saat itu Cammie sedang menjalankan misi Operasi Rahasia-nya yang pertama, padahal teman-teman sekelasnya pun nggak bisa melihat keberadaannya.

Siapa cowok itu? Haruskah ia memeriksa sidik jari Josh, mengintai dan menyamar, mengerahkan kemampuan mata-matanya untuk menyelidiki cowok itu? Meskipun tahu Gallagher Girls nggak boleh berhubungan dengan cowok-cowok lokal di Roseville, Cammie sepertinya nggak bisa menolak daya tarik Josh, karena satu fakta penting ini: Josh melihatnya saat nggak seorang pun bisa melihatnya.

Cameron “Cammie” Morgan bersekolah di Akademi Gallagher, sekolah asrama khusus anak-anak perempuan kaya yang membosankan... atau begitulah anggapan orang-orang Roseville, Virginia, tentang sekolah itu. Padahal semua itu hanyalah samaran. Akademi Gallagher sesungguhnya adalah sekolah mata-mata top secret khusus anak-anak perempuan. Dan tentu saja sekolah itu jauh dari kata membosankan. Para siswinya menguasai paling sedikit 14 bahasa (yang mereka praktekkan setiap hari saat makan siang).  Untuk bisa bersekolah di sana, kamu harus punya orang tua atau kerabat yang berprofesi sebagai mata-mata. Kalau tidak punya kerabat mata-mata, paling tidak kamu harus genius luar biasa untuk bisa direkrut.

23 Okt 2014

The Perks of Being a Wallflower by Stephen Chbosky

Judul: The Perks of Being a Wallflower
Penulis: Stephen Chbosky
Penerbit: MTV Books, 1999
Format: Ebook, 138 hlm

Sinopsis:
Charlie is a freshman.

And while he's not the biggest geek in the school, he is by no means popular. Shy, introspective, intelligent beyond his years yet socially awkward, he is a wallflower, caught between trying to live his life and trying to run from it.

Charlie is attempting to navigate his way through uncharted territory: the world of first dates and mix tapes, family dramas and new friends; the world of sex, drugs, and The Rocky Horror Picture Show, when all one requires is that perfect song on that perfect drive to feel infinite. But he can't stay on the sideline forever. Standing on the fringes of life offers a unique perspective. But there comes a time to see what it looks like from the dance floor.

The Perks of Being a Wallflower is a deeply affecting coming-of-age story that will spirit you back to those wild and poignant roller-coaster days known as growing up.

Sejujurnya saya bingung bagaimana menulis review tentang buku ini tanpa merasa mengkhianati Charlie. #apasih

Secara garis besar, The Perks of Being a Wallflower berkisah tentang Charlie. Ia adalah seorang wallflower. Ia pendiam dan pasif. Tidak punya banyak teman, meski memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Satu-satunya sahabat yang ia miliki baru saja bunuh diri. Teman-teman yang ia kenal semasa middle school telah berubah total sejak memasuki high school. Bisa dibilang, Charlie memulai tahun pertamanya sebagai freshman dalam kesendirian. Sebagai seorang wallflower, yang dapat ia lakukan ialah mengamati orang lain, mencoba memahami isi kepala mereka, mencoba untuk mengerti.

“I walk around the school hallways and look at the people. I look at the teachers and wonder why they're here. If they like their jobs. Or us. And I wonder how smart they were when they were fifteen. Not in a mean way. In a curious way. It's like looking at all the students and wondering who's had their heart broken that day, and how they are able to cope with having three quizzes and a book report due on top of that. Or wondering who did the heart breaking. And wondering why.”

13 Okt 2014

Grey & Jingga: The Twilight by Sweta Kartika

Judul: Grey & Jingga: The Twilight
Pengarang: Sweta Kartika
Penerbit: m&c, 2014
Tebal: 200 hlm.
ISBN: 9786022665991

Sinopsis Goodreads:
"Jika cinta itu mudah terucap, maka takkan ada kisah cinta yang berliku. Grey dan Jingga adalah bukti bahwa cinta adalah rasa yang sulit tersamar."

Bagi para pembaca yang punya akun Facebook mungkin sudah pernah mendengar tentang komik ini. Komik ini sangat terkenal di jejaring sosial tersebut. Sang komikus, Sweta Kartika, mengunggahnya secara rutin di akun Facebook-nya dan bisa dibaca secara gratis oleh siapa saja. Mengingat popularitas komik strip ini yang luar biasa, maka tidak mengherankan apabila komik online tersebut kemudian dihadirkan dalam bentuk cetak—hal yang sangat saya syukuri karena sebelumnya saya kurang mengikuti perkembangan kisah Grey & Jingga di Facebook. :p

Sesuai judulnya, komik ini bercerita tentang Grey dan Jingga. Grey dulunya adalah teman masa kecil Jingga. Persahabatan mereka terputus ketika Grey pindah tempat tinggal menigkuti orang tuanya. Kini, mereka dipertemukan kembali di sebuah kampus. Yup, Grey akhirnya kembali dan kini keduanya kuliah di kampus yang sama. Kehadiran Grey membuat memori masa lalu menari-nari dalam benak Jingga. Ternyata ia sangat merindukan sahabatnya tersebut. Kini penampilan Grey sudah berubah. Ia terlihat sangat dewasa. Dan... pembaca mungkin sudah bisa menebak kalau diam-diam Jingga mulai naksir Grey. Sebenarnya Grey (terlihat) memiliki perasaan yang sama terhadap Jingga. Hanya saja, Jingga jual mahal. Ia nggak mau terang-terangan menunjukkan perasaannya terhadap cowok itu. Hubungan tarik-ulur mereka terus berlanjut, terutama dari pihak Jingga. Hingga kemudian sosok Nina hadir dalam kehidupan mereka. Nina yang kabarnya adalah pacar Grey (WHAT???). Di lain pihak, ada sosok Martin yang mencoba merebut hati Jingga...

Back to top