3 Jun 2016

Bacaan Mei 2016 (+Mini Reviews)


Halo.

Setelah beberapa waktu mengalami ‘penyakit’ reading slump, akhirnya dengan senang hati saya umumkan bahwa saya sudah terbebas sepenuhnya dari sindrom tersebut. Thanks to bacaan historical romance yang benar-benar me-refresh kembali semangat membaca saya yang dulu sempat meredup #haseeek. Adalah serial Bridgerton Family karya Julia Quinn yang membuat saya merasakan kembali kegembiraan membaca sebuah fiksi. Deym, ternyata saya memang penyuka kisah-kisah romance. Yang membuat serial Bridgerton Family terasa spesial, adalah karena kentalnya unsur humor di dalamnya. Julia Quinn berhasil membuat saya jatuh cinta pada tokoh-tokoh ciptaannya.

Total ada 7 buku yang saya baca di bulan Mei, yang terdiri dari 3 seri Bridgerton Family karya Julia Quinn, novel metropop jadul berjudul Pink Project karya Retni SB, Supernova 3: Akar karya Dee Lestari, novel amore berjudul Sicerely Yours karya Tia Widiana, dan ebook young adult berbahasa Inggirs dengan judul The Distance Between Us karya Kasie West. Buku terakhir itu menyita waktu membaca saya. Maklum, bahasa Inggris saya (masih) pas-pasan, sehingga membutuhkan kamus untuk membacanya (yaa, walau sudah tidak sesering dulu).

Akan tetapi (iya, ada tapinya), setelah keluar dari jerat reading slump, saya justru mengalami kemunduran dalam aktivitas ngeblog. Namun, saya tak terlalu risau akan hal tersebut. Bukan berarti saya mengabaikannya juga sih. Namun untuk saat ini, fokus utama saya adalah mengalami kembali kegembiraan saat membaca sebuah buku, khususnya fiksi. Yah, sekalian juga mengurangi timbunan. Hehe.

Berhubung buku-buku yang saya baca di bulan Mei kemarin semuanya belum saya buatkan review, maka pada kesempatan kali ini, saya akan memberikan gambaran ceritanya serta pendapat tentang buku-buku tersebut, sedikit saja. Istilah kerennya: mini review. #preet

Yuk, kita bahas satu per satu.

1. The Duke and I – Aku dan Sang Duke (Bridgerton Family #1) by Julian Quinn
Bagi yang belum tahu, serial historical romance ini berkisah tentang putra-putri bangsawan kaya-raya dari keluarga Bridgerton. Sang ibu, Violet Bridgerton, memiliki delapan anak (yup, DELAPAN) yang masing-masing bernama Anthony, Benedict, Colin, Dahpne, Eloise, Francesca, Gregory, dan Hyacinth. Nama mereka cukup unik, karena pemberian nama kepada mereka berdasarkan urutan abjad. Nah, setiap buku berfokus pada masing-masing keturan Bridgerton tersebut. Jadi, total ada 8 buku untuk seri ini (ditambah 1 buku lagi yang berisi kumpulan epilog tambahan dari masing-masing buku).

The Duke and I sendiri berkisah tentang Daphne Bridgerton (anak keempat, putri sulung). Untuk ukuran orang Inggris pada masa itu, usia Daphne sudah sangat cukup untuk menikah. Sang Ibu merasa desperado pada season cari jodoh tahun itu. Pembawaan Daphne yang sangat cerdas dan mudah bergaul malah membuatnya dianggap lebih cocok dijadikan sahabat ketimbang kekasih oleh pria-pria London. Di saat yang sama, seorang duke bernama Simon Basset yang karena suatu hal, memilih tidak ingin menikah. Namun statusnya sebagai duke membuatnya kerepotan menghindari kejaran para ibu ambisius yang ingin menikahkan anak-anak perempuan mereka. Pertemuan Dahpne dan Simon dalam sebuah insiden yang kocak membuat mereka saling mengenal satu sama lain. Keduanya memutuskan untuk saling membantu satu sama lain dengan cara: berpacaran (atau pada zaman itu disebut bertunangan—walau mereka tak saling mencintai). Keuntungannya adalah Simon akan terhindar dari kejaran para calon mertua, sementara status Daphne akan naik di mata para pria. Benar saja, setelah tersiar kabar bahwa Daphne bertunangan dengan sang duke, para pria mulai berlomba merebut gadis hati gadis itu. Tinggal Daphe sendiri yang akan memutuskan pria mana yang pantas untuknya. Namun, hati Daphne justru terpaut pada kekasih pura-puranya itu.

Yang menarik dari buku ini adalah karakter Dahpne yang teguh dan pemberani, tapi juga anggun di saat yang bersamaan. Ia gadis yang mandiri. Sayangnya, ia memiliki tiga kakak laki-laki yang bisa dibilang sangat protektif. Barangkali itu pula penyebab dirinya tak kunjung menikah—cowok-cowok London sudah keder duluan melihat kakak-kakaknya. Sementara itu, tokoh Simon yang nyaris sempurna membuat saya jatuh sayang. Bukan pada kenyaris-sempurnaannya, namun justru pada kekurangannya. Interaksi Daphne dan Simon cukup manis, walau ada saja adegan di mana Daphne mendaratkan tonjokan maut ke mata cowok itu. Hahaha.

Sebagai penutup, yang membuat saya semakin menyukai Dahpne, adalah pada bagaimana cara gadis itu berjuang mencegah pertumpahan darah antara Anthony (kakak sulung) dan Simon. Seru! (Rating: 5/5)


2. The Viscount Who Loved Me – Cinta Sang Vicount (Bridgerton Family #2) by Julia Quinn
Fokus utama buku kedua ini ialah Anthony Bridgerton. Sebagai putra sulung keluarga Bridgerton, Anthony memikul tanggung jawab yang sangat besar. Mencari istri barangkali adalah prioritasnya yang kesekian. Namun karena sang Ibu berkali-kali mengingatkannya untuk segera menikah, maka pada season kali ini, Anthony bertekad mencari istr, kalau bisa yang sempurna. Ia berjanji akan bersikap baik pada istrinya kelak, memberikan apapun yang ia mau, serta mencurahkan segala perhatiannya. Kecuali satu hal: Anthony tak akan pernah mencintai istrinya. Mengapa begitu? Nah, cari tahu sendiri di bukunya ya. ^^

Pilihan Anthony jatuh pada gadis jelita yang baru saja memulai debutnya pada season tersebut, Edwina Sheffield. Satu-satunya penghalang bagi Anthony adalah calon kakak iparnya: Kate Sheffield, wanita yang menurutnya terlalu suka ikut campur. Kate memiliki alasannya sendiri. Wanita itu ingin adiknya menikah dengan pria yang pantas, dan jelas bukan Anthony, sebab pria itu terkenal sebagai playboy kelas kakap. Anthony kerap dibuat naik darah oleh Kate yang selalu mengahalang-halanginya mendekati Edwina. Namun, dari hari ke hari, mengapa justru Kate-lah yang ada di benak Anthony dan bukannya sang adik?

Buku kedua ini menurut saya jauh lebih kocak dari buku pertama. Ada-ada saja ulah Kate dan Anthony yang membuat perut saya sakit menahan tawa. Yah... tak selamanya saya berhasil menahan tawa, karena ada adegan melibatkan ‘lebah’ yang membuat saya sukses ngakak guling-guling, sampai-sampai saya tak tahan untuk menceritakannya ke di grup WhatsApp BBI Joglosemar.

Karakter Kate sebenarnya mirip dengan Anthony, yaitu sama-sama miliki keinginan untuk melindungi adik mereka. Pernak-pernik love-hate di antara keduanya sangat menarik untuk disimak dan tak membuat saya merasa bosan (karena jujur saja, cerita benci jadi cinta merupakan sesuatu yang sangat mainstream dalam dunia fiksi pecintaan). Namun gaya bercerita Julia Quinn membuat saya tetap betah. Meski sudah tahu cerita akan berakhir seperti apa, tetap saja banyak kejutan menyenangkan yang akan kita temui di buku ini. (Rating: 5/5)


3. An Offer From A Gentleman – Tawaran dari Sang Gentleman (Bridgerton Family #3) by Julia Quinn
Menjadi anak kedua bukan perkara mudah bagi Benedict Bridgerton. Ia bukannya tak bersyukur hidup di keluarga kaya-raya, bersama Ibu dan saudara-saudari yang sangat menyayanginya. Tak sedikit pula wanita cantik yang mengejarnya, entah karena statusnya sebagai seorang Bridgerton (yang identik dengan kata ‘kaya’), atau karena wajahnya yang tampan. Namun selamanya ia hanya akan menjadi Si Nomor Dua. Itulah mengapa Benedict sangat mendambakan seseorang yang mampu melihat dirinya apa adanya, bukan karena dirinya adalah seorang Bridgerton. Maka ketika Benedict bertemu dengan gadis misterius pada pesta topeng yang diselenggarakan Ibunya, Benedict jatuh cinta. Tak hanya kepada pembawaan gadis itu, tapi juga karena gadis itu sama sekali tak tahu-menahu tentang dirinya. Ia adalah orang pertama yang melihat Benedict sebagai sosok yang apa adanya. Namun sebelum sang Bridgerton mengetahui identitas si gadis, gadis itu menghilang. Tepat ketika jam berdentang pada pukul 12 malam, meninggalkan Benedict dalam tanda tanya dan hati yang patah.

Merasa familiar dengan kisah di atas? Yap, seri Bridgerton Familiy yang ketiga ini adalah retelling dari dongeng terkenal sepanjang masa: Cinderella. Perkenalkan jagoan wanita kita kali ini: Sophie Becket. Gadis malang ini tinggal bersama ibu tiri dan kedua saudari tirinya. Alih-alih dianggap sebagai anak, Sophie diperlakukan seperti budak oleh keluarganya (oh, kecuali salah satu saudari tiri yang sesungguhnya baik hati, namun kerap mendapat kecaman dari sang ibu).

Berbeda dengan Cinderella yang aslinya terkesan lemah dan tak berdaya, Cinderella versi Julia Quinn ini justru tegar dan gemar merutuk dalam hati bila ibu tirinya mulai bertingkah. Komentar-komentarnya ‘sadisnya’ tentang sang ibu tiri kerap membuat saya nyengir bahagia. Haha.

Berkat bantuan dari ‘peri’ baik hati, Sophie pun akhirnya melihat dunia untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup terkekang. Takdir mempertemukannya dengan seorang pria di pesta topeng yang ia hadiri diam-diam. Sayang, ia tak bisa mengungkapkan jati dirinya. Tidak boleh. Lagipula, lelaki itu mana mau pada seorang budak?

Buku ketiga ini masih sukses membut saya tertawa, tapi tak seheboh ketika membaca buku kedua. Namun, bila disuruh memilih di antara ketiga seri Bridgerton Family yang telah saya baca sejauh ini, maka pilihan saya jatuh pada An Offer From A Gentleman. Rasa gemas dan penasaran pada jalan ceritanya membuat saya nyaris tak bisa melepas buku ini. Begitu tiba pada bagian di mana ‘rahasia’ itu terbongkar, IT WAS SUCH AN AMAZING EXPERIENCE! Gilaaaaaa. Saya lupa kapan terakhir kali membaca buku yang membuat saya nyaris salto saking hebohnya. WOW! Barangkali ini adalah salah satu buku romance terbaik yang pernah saya baca. (Rating: 5/5)

Trivia:
Tokoh utama dalam buku ini adalan Benedict dan Sophie. Nah, kamu penggemar Benedict Cumberbatch, atau paling tidak, tahu tentang aktor itu? Tahu nggak siapa nama istrinya? *kedip-kedip*


4. Pink Project by Retni SB
Ketika ulasannya tentang seni lukis menulai kritik, bahkan hinaan di sebuah media massa, Puti Ranin berang. Ia memang bukan orang yang ahli menilai lukisan, namun ia sangat menikmati karya pelukis idolanya. Adalah Sangga Luzuardi, seorang penilai seni lukis terkenal, yang menyerang Puti melalui koran. Tak terima dengan arogansi Sangga, Puti memutuskan untuk memusuhi laki-laki itu meski tak mengenalnya secara pribadi.

Hingga suatu saat, mereka secara tak sengaja bertemu di sebuah pameran lukisan. Pertemuan itu semakin memperkuat perasaan benci Puti pada Sangga. Namun yang Puti tak tahu, Sangga sesungguhnya sedang merencanakan sesuatu. Sebuah proyek rahasia yang rela Sangga lakukan demi menolong seseorang. Apa sih, yang Sangga inginkan dari Puti? Mengapa pria itu seolah selalu selalu muncul di manapun Puti berada?

Pink Project adalah buku kedua Retni SB yang saya baca setelah Dimi is Married. Saya menyukai buku tersebut, seperti halnya buku ini. Gaya bercerita penulis tetap mudah untuk dinikmati, apalagi penulis gemar menyelipkan humor dalam dialog. Sekali lagi, unsur love-hate bisa kita temui dalam novel ini. Dan penulis berhasil menyajikannya dengan baik. Saya jadi ingin membaca buku-buku Retni SB yang lain, seperti His Weeding Organizer dan My Partner. Keduanya adalah buku-buku metropop terbitan lama dan sepertinya saat ini sulit ditemui di toko buku. Berharap banget ada yang mau menghibahkan buku-buku tersebut ke saya. Hehe. #ups


5. Akar (Supernova #2) by Dee Lestari
Setelah cukup lama menimbun buku ini, saya akhirnya membacanya juga. Pada buku Supernova kedua ini, Dee mengenalkan tokoh baru yang bernama Bodhi. Bisa dikatakan, cerita di buku kedua ini tak memiliki keterkaitan langsung dengan buku pertama. Nama Diva (tokoh sentral di buku pertama) hanya disebut sekilas saja, bahwa ia menghilang dalam sebuah ekspedisi di pedalaman Amazon.

Bodhi merupakan bagian dari komunitas punk dengan perannya sebagai seniman tato. Di buku ini, kita akan mengikuti petualangan Bodhi yang berliku di berbagai negara, yang diceritakan secara kilas balik. Siapakah Bodhi sebenarnya? Mengapa saya mendapat firasat bahwa Bodhi bukanlah manusia biasa? Pertanyaan itu terus-menerus menggerogoti benak saya.

Setelah dibuat pusing dengan Supervova 1: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, saya merasa rangkaian kalimat dalam Akar lebih ringan, namun tetap terasa puitis dan jernih. Meski disodori berbagai macam informasi tentang berbagai lokasi, adegan, maupun filsafat (dan mungkin agama?), pembaca, setidaknya saya, dapat mencernanya dengan baik. Ini yang saya sukai dari gaya menulis Dee.


6. Sincerely Yours by Tia Widiana
Novel amore ini berkisah tentang gadis penulis novel thriller bernama Inge. Sebagai penulis thriller, orang-orang mungkin berpendapat bahwa jalan pikirannya gelap dan penuh dengan imajinasi adegan-adegan sadis. Tidak juga. Bagi Alan, Inge sangat manis dan jauh dari kesan seram sebagaimana novel-novel yang ditulisnya. Tak bisa dipungkiri, kehadiran Alan membuat Inge merasa nyaman. Hanya saja, gadis itu tak ingin menjadi orang ketiga yang menghancurkan kebahagiaan Alan dan Ruby. Inge tak ingin menjadi seperti ibunya.

Namun sekuat apapun usaha Inge mengingkari perasaannya, hanya Alan-lah yang kerap muncul dalam pikirannya. Apakah Inge akhirnya luluh manakala Alan mengungkapkan perasaannya, bahwa yang ia cintai adalah Inge dan bukan Ruby?

Jujur saja, saya merasa sedikit kecewa dengan novel ini. Diksi yang digunakan penulis sangat baik dan patut dicontoh oleh penulis-penulis Indonesia yang ingin menulis sesuai dengan EYD dan tetap terasa luwes di saat yang bersamaan. Hanya saya, saya kurang menyukai plotnya. Chemistry antara Inge dan Alan kurang kuat, sehingga saat timbul konflik di antara mereka, perasaan saya datar-datar saja. Saya nyaris tak peduli pada apa yang bakal terjadi pada tokoh. Barangkali karena saya terlalu membanding-bandingkan buku ini dengan buku pertama penulis berjudul Mahogany Hills yang sukses merebut perhatian saya.

Namun demikian, beberapa teman tetap menyukai novel ini, bahkan tak sedikit yang memberi rating 4 bahkan 5. Saya harap di buku selanjutnya, saya akan lebih menyukainya sebagaimana saya telah dibuat jatuh cinta pada Mahogany Hills. (Rating: 2/5)


7. The Distance Between Us by Kasie West
Satu-satunya buku young adult yang saya baca bulan ini. Mengambil tema klasik tentang si kaya dan si miskin yang saling jatuh cinta tapi terhalang perbedaan status bla bla bla. Kira-kira seperti itu.

Melalui pengamatan selama bertahun-tahun tentang perilaku orang kaya yang datang ke toko boneka porselen yang dikelola oleh Caymen dan Ibunya—tokonya teracam bangkrut, btw—Caymen menarik kesimpulan bahwa orang kaya memiliki kecenderungan mengambur-hamburkan uang untuk barang-barang tak berguna. Sikap sinis Caymen pada orang kaya tak lepas dari pengalaman pribadinya, di mana ayahnya (yang kaya-raya) meninggalkan ibunya setelah mengetahui ibunya tengah mengandung Caymen. Maka ketika Xander Spence (yang tajirnya nggak ketulungan) menaruh perhatian pada Caymen, gadis itu hanya menganggapnya angin lalu. Namun Xander adalah anomali. Cowok itu tak memperlihatkan gerak-gerik sebagaimana orang kaya yang Caymen temui selama ini. Dan ketika Xander tak pernah berhenti mencurahkan perhatiannya kepada Caymen, gadis itu toh akhrnya luluh juga. Tapi bagaimanapun, masih ada jarak yang membentang di antara mereka.

The Distance Between Us adalah kisah klasik tentang cinta beda strata sosial. Yang saya sukai dari novel ini adalah ceritanya yang manis dengan konflik yang tak terlalu berat. Saya menyukai tokoh Caymen yang sarkastis tapi juga memiliki segudang jokes-jokes garing. Tokoh Xander pun tak kalah memikat. Sebenarnya buku ini memiliki potensi konflik bisa dipertajam lagi. Tapi tampaknya penulis memilih untuk tidak ingin terlalu memberatkan pembaca dalam karyanya ini. (Rating: 3,5/5)


Itulah buku-buku yang saya baca di bulan Mei. Mungkin (mungkin loh ya), saya akan menuliskan review lebih lengkap lagi untuk masing-masing buku di atas. Kita lihat saja nanti, hehe. Walau hanya 7 buku yang dibaca, saya merasa sangat puas, terutama karena tiga buku Bridgerton Family yang sukses membuat hati saya berbunga-bunga (heyaaak). Jadi menyesal mengapa tidak tadi dulu-dulu membaca seri tersebut.

Bagaimana denganmu? Buku apa saja yang dibaca bulan Mei kemarin? Apakah kamu menemukan buku bagus yang bikin kamu pengen salto saking sukanya? :D

11 komentar:

  1. Ehm, ehm, ini aku lagi uas malah baca-baca blog orang dan.... ya Tuhan. Ngiler pengen ikutan baca novel romance :( Udah lama nggak baca. DUh, duh. Bang :" GImana ini...? Masih UAS tapi pengen ikutan baca. Apalagi yang Julia Quinn. E

    BalasHapus
  2. Kang, itu ngedit cover2nya itu pake apa, kang? #salahfokus

    BalasHapus
  3. The Distance Between Us ini kok ngingetin saya sama suatu film gitu ya? Tapi lupa nama filmnya apaan :/

    BalasHapus
  4. nungguin kango update blog :D kapan yaa

    BalasHapus
  5. cobain dong dengerin buku di aplikasi audiobuku, http://audiobuku.com

    BalasHapus

Back to top