Penulis: Laode M. Insan
Penerbit: Noura Books, 2013
Tebal: 392 hlm.
ISBN: 9786027816633
Sinopsis:
Memburu ikan di dekat terumbu karang, mengumpulkan bulu babi dan kerang, sampai kejar-kejaran dan berebut makanan dengan para monyet di hutan. Itu adalah semua daftar kegiatan yang tak mungkin luput dalam keseharian para serdadu pantai—Dayan, Surman, Poci dan Odi. Empat sahabat ini tak pernah melewati hari mereka tanpa tawa.
Dayan selalu siap menghibur dengan alunan nada gembira dari gesekan biolanya, Odi dengan keluguannya, Poci yang selalu bersikap konyol, dan Surman yang selalu bisa bersikap mandiri.
Namun, petualangan ceria mereka harus berakhir. Perpisahan menghantui empat sahabat ini dan mulai membayangi kehidupan mereka, mengembalikan mereka pada realita. Ironi kehidupan masyarakat Buton yang jauh dari sederhana di atas tanah mereka yang kaya hasil bumi.
Karena tiap kisah persahabatan akan bertemu akhir. Akankah kisah mereka berujung pada akhir bahagia?
Endorsement:
“Kisah tentang persahabatan empat kanak-kanak ini dalam berbagai interaksinya, dengan nilai-nilai kemandirian, pantang menyerah, tanggung jawab, dan kejujuran disampaikan secara menarik. Novel trilogi ini adalah kontribusi sangat berarti dalam membangun karakter anak bangsa kita, menuju terbentuknya akhlak mulia sejak usia dini.” —Taufiq Ismail
Serdadu Pantai mengajak pembaca menyaksikan keseharian anak-anak pantai yang hidup di pesisir pulau Buton. Mereka adalah Dayan, Surman, Poci, dan Odi. Keempatnya bersahabat karib dan kerap melakukan segala sesuatu bersama-sama; bermain di laut, berenang di antara ikan-ikan dan terumbu karang yang indah, membantu memetik jambu monyet dengan bayaran sekantung plastik jambu monyet yang manis, dan sebagainya. Pulau Buton terkenal sebagai daerah penghasil aspal terbesar di Indonesia. Sayangnya, kekayaan alam yang dihasilkan tanah mereka tak membuat hidup masyarakat yang hidup di atasnya lebih sejahtera. Sebagian besar dari mereka masih hidup dengan amat sangat sederhana. Infrastruktur seperti jalan raya pun hanya dibangun seadanya.
Meski hidup dalam kesederhanaan, keempat sahabat tersebut menjalani hari-hari mereka dengan penuh keceriaan. Bahkan, mereka masih bersemangat menimba ilmu, meski sekolah SD tempat mereka belajar hanya berupa bangunan ala kadarnya. Baju yang mereka pakai ke sekolah pun sederhana—sebagian besar hanya mengenakan baju rumah. Peralatan tulis-menulis yang digunakan hanya berupa satu buah buku tulis untuk semua mata pelajaran, serta sebatang pensil.
