Tampilkan postingan dengan label Rons Imawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rons Imawan. Tampilkan semua postingan

4 Feb 2014

Truth or Dare by Rons Imawan, dkk.

Judul: Truth or Dare
Penulis: Rons Imawan, dkk
Penerbit: Bentang Belia, 2013
Tebal: 272 hlm.
ISBN: 9786027975668
Sinopsis:
Truth or Dare mengubah segalanya dalam satu kedipan mata.

Aku penderita aleksitimia. Sindrom ini membuatku kesulitan mengungkapkan emosi. Sekalipun bibirmu di jahit, aku yakin, kamu bakal tetap unggul menyampaikan isi kepalamu.

Namun, jelas tak pernah terbayangkan olehku kelainan psikologis itu menyeretku pada tragedi paling gulita di usia remajaku.

Saat manusia lain mengejar cinta, aku menyulamnya menjadi obsesi. Saat insan lain mengungkapkan isi hati, aku mengolahnya menjadi ambisi.

Dalam permainan konyol yang menguji nyaliku, emosi yang memberangusku bertahun-tahun pada puncaknya sanggup kumuntahkan di hadapan semua orang.

Di pesta perpisahan kelas itu, kusuguhkan pertunjukan paling mengejutkanyang bakal menjadi kenangan terburuk sepanjang hidup mereka.

Namaku Lentera.

Jangan membenciku sebelum kalian usai menyelami kisahku.

Kalau hanya membaca sinopsisnya, kebanyakan orang mungkin akan menduga kalau buku ini adalah novel thriller. Tapi saya juga penasaran. Apa maksud tagline: “16 Rahasia 16 Tantangan 16 Kejutan”? Jangan-jangan isinya 16 cerita? Hihi, tebakan bego saya ternyata tepat (yaelah gitu doang bangga). Buku ini memang sebuah kumpulan cerita pendek. Jujur saja, alasan nomor satu mengapa kepingin beli buku ini, adalah karena saya tertarik sama covernya. Desain covernya memiliki nuansa thriller yang kental: sebuah foto perempuan yang hancur layaknya cermin, dengan tulisan Truth or Dare berwarna merah menembus wajahnya. Si cewek di cover juga terlihat seperti tengah menjerit, lengkap dengan air mata yang mulai menetes. Keren! Selain cover yang menark, saya juga penasaran, bisakah seorang Rons Imawan menulis cerita thriller? Soalnya sepanjang pengetahuan saya (yang terbatas ini), si Rons ini sukanya ngebanyol. Salah satu bukunya pernah saya baca dan review, yaitu Wow Konyol! dan memang cukup lucu. Jadi, bagaimana dengan Truth or Dare ini?

Buku ini berisi 16 cerita pendek yang ditulis oleh Rons Imawan, dkk. “Dkk” di sini maksudnya adalah penulis-penulis lain yang karyanya terpilih untuk ditampilkan dalam buku ini. Sesuai judulnya, semua cerita dalam buku ini memiliki unsur permainan “Truth or Dare” yang lumayan populer di luar negeri sana. Meski saya sendiri tidak pernah memainkan permainan tersebut, saya cukup sering melihatnya di film-film (biasanya horror/thriller). Menilik kemasan buku ini, saya berpikir semua ceritanya akan cenderung gelap dan menegangkan. Ternyata tidak juga. Cerita-cerita dalam buku ini mengusung banyak ‘rasa’, mulai dari romance, misteri, fantasi, persahabatan, hingga action. Secara umum, buku kumpulan cerpen dengan target pembaca remaja ini ditulis cukup baik, walau memang masih kurang memuaskan harapan saya. Saya rasa hal ini wajar, mengingat dalam setiap buku kumpulan cerita, pasti ada cerita yang bagus, ada juga yang biasa-biasa saja (tergantung selera pembaca juga). Hampir setiap cerita memiliki plot twits yang cukup menarik.

1 Jul 2012

Wow Konyol! by Rons Imawan

Judul Buku: Wow Konyol!
Penulis: Rons "Onyol" Imawan
Penerbit: Penerbit Bentang Belia
Tahun Terbit: 2012 (Mei, Cetakan II)
Tebal: 320 Halaman
ISBN: 9786029397239
Harga: Rp. 49.000,-
Rating: 4/5

Jika kamu bertanya buku apa yang menghibur saya selama mengikuti diklat, maka buku inilah salah satunya. Buku yang telah mengalihkan dunia saya dari modul-modul diklat yang bikin pusing tujuh keliling itu!

Saat mendapati buku ini terpajang dengan manis di salah satu rak Gramedia Ekalokasari, Bogor, saya nggak bisa berhenti nyengir sambil bergumam, “Wah, covernya ngajak beratem banget!” Gimana nggak? Monalisa yang aslinya begitu anggun di-photoshop sedemikian rupa sehingga jadi kayak rocker galau begitu! *ngakak guling-guling* Kalau Mbah Leonardo Da Vinci masih hidup, dia pasti bakalan kiss the wall with forehead (jedut-jedutin kepala ke tembok) gara-gara karya masterpiece-nya diutak-atik begitu. Piss ah, Mbah Leonardo, rest in peace yah, di alam sana.

Cukup soal cover, sekarang kita bahas isinya. Mungkin kalian (apalagi yang punya twitter) sudah akrab dengan akun @WOWKonyol yang timeline-nya selalu dipenuli twit-twit “bangkai” yang bisa mengocok perut. Nah, buku ini sebagian besar isinya diambil dari akun twitternya tersebut. Saya bilang ‘sebagian besar’, karena terdapat beberapa twit konyol yang bukan milik si Onyol, sang penulis, melainkan milik teman-temannya yang sengaja di-mention ke dia untuk dimasukkan ke dalam buku ini. Twit mereka nggak kalah kocak, lho.

Rupanya cinta, gombal, jomblo (entah mengapa di buku ini ditulis ‘jomlo’), galau, dan 4L4Y adalah amunisi utama buku ini. Hal-hal tersebut disajikan dengan penuh kekonyolan oleh si penulis, baik dalam bentuk percakapan pendek maupun kalimat-kalimat wejangan yang busuknya minta ampun. Nggak hanya itu, Onyol juga terkadang memasukkan twit-twit yang menyindir pemerintah dan politik di negara ini. Kita diajak untuk berpikir kritis sambil tertawa bersama. Salut deh, buat si Onyol.

Ada satu bab yang bukan berisi twit-twit pendek, tapi semacam artikel yang judulnya Pesek Itu Indah. Lewat tulisan itu, Onyol memberikan pendapat dan argumennya terkait hidung pesek. Bahwa pemilik hidung pesek nggak perlu merasa minder dan harus mensyukuri kepesekannya, karena bagaimanapun, itu adalah pemberian Tuhan. Dijamin, kalian (dan saya) yang punya hidung pesek bakal merasa tersanjung, deh… atau nggak juga. Yah, baca sendiri ya, dan simpulkan sendiri. Haha. *peresensi yang minta dihajar pembacanya*

Nggak semua isi buku ini bikin ketawa. Bukan dalam arti nggak lucu, ya. Misalnya pada bagian Wejangan Magrib. Di situ Onyol membagi twit-twit seru yang selain mengajak pembaca Muslim untuk selalu ingat sholat, juga kalimat-kalimat yang mengajak kita untuk mengingat Tuhan, tanpa kesan menggurui sama sekali. Mungkin pembaca non-Muslim bisa men-skip bagian ini. Tapi saya pribadi (non-Muslim) memilih untuk membacanya. Dan, wow, nggak nyangka twit-twit si Onyol bisa begitu mengena. Beberapa kalimatnya begitu universal, jadi bisa berlaku juga untuk pembaca non-Muslim.

Nah, bab terakhir buku ini justru melenyapkan semua senyum dan tawa saya. Mengapa? Jeng jeng jeng!!! (halah…) Bab terakhir berisi CERMIS alias Cerita Misteri! Sialnya, saya membaca bagian ini pada malam hari. Dan cermis-nya sendiri benar-benar bikin buku kuduk saya merinding. Asem banget dah! Saya sarankan pada bagian ini kamu jangan membacanya seorang diri, apalagi pada malam hari. Kalaupun kamu sedang bersama seseorang, pastikan dulu bahwa orang itu benar-benar “orang”, karena bisa jadi dia bukan… Ah, malah merinding sendiri.

Secara keseluruhan buku ini sanggup membuat saya tertawa, bahkan sampai ngakak. Terdapat ilustrasi konyol dalam bentuk komik di buku ini, sayangnya porsinya sedikit. Ada sih jokes yang terkesan garing karena sudah sering kita baca/dengar, namun itu nggak mengurangi rasa suka saya pada buku ini.