Tampilkan postingan dengan label Meg Cabot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Meg Cabot. Tampilkan semua postingan

30 Sep 2013

Lady of Skye (Romansa di Pulau Skye) by Patricia Cabot

Judul Buku: Lady of Skye (Romansa di Pulau Skye)
Penulis: Patricia Cabot
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2010
Tebal: 504 halaman
ISBN-13:  9789792264494
Rating: 5/5


Novel historical romance kedua yang saya baca. Lady of Skye berkisah tentang Dr. Reilly Stanton yang datang ke Lyming, sebuah desa di pulau Skye, untuk bekerja sebagai dokter di sana untuk menjawab iklan dari Lord Glendenning. Reilly rela jauh-jauh dari London dan meninggalkan kehidupannya yang nyaman untuk membuktikan kepada mantan tunangannya bahwa ia bisa menjadi dokter yang baik, dan bukannya seorang pemabuk tidak berguna. Reilly berharap apa yang dilakukannya mampu meluluhkan hati sang mantan sehingga mau menerimanya kembali.

Begitu tiba di Lyming, Reilly langsung memperoleh kesempatan untuk membuktikan keahliannya, yaitu mencoba menyelamatkan nyawa tukang perahu mabuk yang tercebur ke laut yang sangat dingin. Akan tetapi usaha Reilly sia-sia, dan dengan berat hati ia memvonis bahwa tukang perahu tersebut telah meninggal. Namun kedatangan Miss Brenna, wanita yang selama ini dianggap dokter desa Lyming mengejutkan Reilly. Bagaimana tidak, hanya dengan pukulan super-keras dari Miss Brenna, tubuh tukang perahu yang tadinya telah dianggap mati oleh Reilly ternyata bisa bangun lagi, setelah terbatuk-batuk cukup parah. Dalam hati Reilly menjuluki Miss Brenna sebagai “Wanita Amazon” karena sikapnya yang bar-bar.

Sebenarnya, tujuan Lord Glendenning (tuan tanah setempat) memasang iklan adalah agar siapapun dokter yang  menjawab iklannya akan menempati pondok tempat Miss Brenna tinggal, sehingga mau tidak mau Miss Brenna harus keluar dari pondok dan pindah ke kastil sang Lord. Ya, Lord Glendenning menyukai Miss Brenna, dan itu satu-satunya cara agar Brenna mau tinggal bersama dengannya. Di sisi lain, Reilly awalnya mengalami kesulitan sebab penduduk setempat lebih mempercayai Miss Brenna sebagai dokter. Reilly harus berusaha untuk memperoleh kepercayaan masyarakat. Untungnya, hal tersebut tak terlalu berat bagi Reilly, oleh karena pembawaannya yang ceria, mudah bergaul, dan tidak menganggap Miss Brenna sebagai saingan, tapi justru sebagai rekan kerja.

Bisa ditebak ke mana arah jalan cerita. Dr. Reilly Stanton diam-diam mulai menyukai “Wanita Amazon” tersebut. Meski sikap Brenna cenderung kasar dan suka mengenakan celana panjang layaknya laki-laki, Miss Brenna sebenarnya cantik dan berhati lembut. Hal tersebut terlihat dari bagaimana wanita itu dengan tulus dan penuh perhatian menangani setiap pasien yang datang kepadanya. Perlahan-lahan Reilly mampu menghapus ingatan tentang mantan tunangannya. Akan tetapi, Miss Brenna sendiri penuh dengan misteri. Reilly dilema, sebab sebagai seorang Marquis, ia tak boleh sembarangan memilih pasangan hidup. Lagi pula, Lord Glendenning pasti akan membunuhnya bila tahu dirinya menyukai Brenna.

Sebenarnya misteri apa yang menyelimuti Miss Brenna? Mengapa wanita itu kerap terlihat mondar-mandir di pemakaman saat malam tiba? Mampukah Dr. Reilly Stanton dan Miss Brenna menangani wabah kolera yang mulai menghantui Lyming—wabah yang pernah membunuh hampir sepertiga populasi desa itu? Bagaimana akhir kisah cinta terlarang mereka?

Lagi-lagi saya harus mengakui bahwa novel historical romance memang bukan sekadar cerita romance semata. Setidaknya untuk novel ini. Novel yang ditulis oleh Patricia Cabot a.k.a Meg Cabot ini benar-benar membuat saya kagum. Begitu banyak hal positif dari novel ini yang membuat saya larut di dalamnya. Ceritanya menarik, karena mengangkat profesi dokter dan wabah kolera yang konon benar-benar terjadi di pada masa itu. Dibutuhkan riset yang baik untuk mengangkat tema wabah kolera dan profesi seorang dokter pada tahun 1800-an ke dalam kisah romance. Dialog dan adegan dalam novel ini penuh dengan humor yang mampu mengundang tawa—benar-benar ciri khas Meg Cabot.

Tiga tokoh penting dalam novel ini juga menarik. Reilly digambarkan sebagai sosok bangsawan yang tak ingin profesi dokternya hanya sebagai gelar semata, tapi juga ingin agar gelarnya itu benar-benar dapat bermanfaat bagi orang lain. Kepribadiannya pun hangat dan ceria. Ia juga digambarkan sebagai sosok yang penyayang. Hal ini terlihat pada adegan di mana ia selalu memikirkan dua sahabatnya di London. Saya sebagai membaca pun ikut penasaran tentang dua tokoh sahabat hanya selalu hadir dalam benak Reilly tersebut. Untungnya, kedua orang itu akhirnya muncul juga. Yeah! Tokoh Brenna cukup unik. Ia adalah wanita yang keras kepala dan pantang menyerah. Meski awalnya tidak menyukai kehadiran Reilly yang dianggapnya sebagai ancaman, tapi akhirnya ia menyerah juga sebab ada kasus di mana ia membutuhkan Reilly sebagai rekan kerja sesama dokter. Interaksi antara Brenna-Reilly dan Brenna-Lord Glendenning kerap mengundang tawa. Bahkan, ada adegan di mana Brenna menonjok Lord Glendenning yang playboy itu. Benar-benar lucu dan di luar dugaan! Sementara Lord Glendenning sendiri sebenarnya tidak sepenuhnya antagonis. Di luar sikapnya yang playboy dan suka menggoda gadis-gadis di Lyming, Glendenning sebenarnya sangat perhatian terhadap warga desa. Pada akhirnya, sifatnya yang penyayang benar-benar muncul saat wanita yang sebenarnya ia cintai terbaring tak berdaya oleh wabah kolera. Siapakah wanita itu? Temukan sendiri jawabannya di novel ini ya. :)

Bila ada yang membuat saya kurang puas terdahap novel ini, hal tersebut adalah ending-nya. Novel ini memang berakhir bahagia (seperti yang diharapkan dari novel romance pada umumnya). Hanya saja, saya merasa bahwa novel ini ditutup dengan tergesa-gesa, sehingga tidak menyisakan ruang bagi pembaca untuk lebih menikmati akhir novel ini. Meskipun demikian, adegan penutup yang singkat tadi dibumbui dengan twist manis yang menghangatkan hati. Itulah sebabnya saya tetap memberikan 5 bintang untuk Lady of Skye karya Patricia “Meg” Cabot ini.

28 Agu 2013

The Guy Next Door (Pria Impian di Sebelah Rumah) by Meg Cabot

Judul Buku: The Guy Next Door (Pria Impian di Sebelah Rumah), juga dikenal dengan judul The Boy Next Door
Seri: Boy #1
Penulis: Meggin "Meg" Cabot
Penerjemah: Indah S. Pratidina
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2003 (Juli, Cetakan III)
Tebal: 560 halaman
ISBN-13: 9789792203288
Rating: 5/5


Melissa Fuller yang bekerja sebagai kolumnis gosip New York Journal belakangan ini sering datang terlambat. Itulah mengapa ia diberi email peringatan dari kantornya. Beberapa waktu yang lalu Mel mendapati Mrs. Friedlander, tetangga apartemennya, tak sadarkan diri. Ternyata wanita tua itu diserang oleh seseorang, dan kini ia terbaring koma di rumah sakit. Mrs. Friedlander memiliki seekor anjing Great Dane dan dua ekor kucing yang perlu diberi makan dan diajak jalan-jalan, dan sebagai tetangga yang baik, Mel merasa dirinya wajib menggantikan Mrs. Friedlander mengurus ketiga mahkluk itu untuk sementara. Itulah mengapa ia sering terlambat.

Sebenarnya Mrs. Friendlander masih memiliki satu kerabat yang masih hidup, yaitu seorang keponakan laki-laki bernama Max Friedlander. Max adalah fotografer terkenal yang sayangnya tidak bisa diandalkan. Max adalah sosok yang egois dan juga playboy. Ia tengah berlibur di Florida bersama pacar modelnya, Vivica, sewaktu mendapatkan kabar tentang bibinya. Max beranggapan bahwa kewajiban menjenguk bibinya yang sedang koma serta merawat bintang peliharaan beliau hanya akan membuang waktunya yang berharga. Akan tetapi, Mrs. Friedlander sebenarnya memiliki tabungan yang lumayan besar. Dan Max-lah yang akan mendapatkan warisan tersebut bila sesuatu terjadi kepada bibinya. Karena malas memenuhi kewajibannya sebagai keponakan yang baik, tapi di satu sisi tak ingin namanya dicoret dari daftar ahli waris, Max meminta John Trent, sahabat baiknya yang berutang budi sangat besar kepadanya, untuk berpura-pura menjadi dirinya. Tugas John sederhana saja: Mengaku sebagai Max, sesekali menjenguk Mrs. Friedlander di rumah sakut, dan tentu saja, merawat binatang peliharaan Mrs. Friedlander.

Melissa Fuller yang sudah mendengar reputasi buruk Max agak terkejut mendapati bahwa Max ternyata tak seperti yang digunjingkan orang, terutama Dolly, rekan sejawatnya yang tampaknya punya daftar ‘dosa’ Max. Mel merasa orang-orang terlalu berlebihan dalam menilai Max, karena cowok yang kini menempati ruang apartemen Mrs. Friedlandar adalah sosok yang menyenangkan, asyik diajak mengobrol, dan yang paling penting, ia menyayangi binatang peliharaan Mrs. Friedlandter. Tentu Mel beranggapan demikian karena gadis itu tidak tahu bahwa pria tampan yang baru dikenalnya itu bukanlah Max Friedlander asli.

John Trent tadinya berpikir bahwa tak akan sulit berpura-pura menjadi Max. Kalau saja tidak untuk membalas budi Max, John tidak akan mau repot-repot menjalani perannya saat ini. Masalahnya, Max tak pernah bercerita pada John bahwa gadis tetangga bibinya sangat menarik. Tidak butuh waktu lama untuk membuat mereka (John dan Mel) menjadi dekat. Diam-diam, John mulai menyukai Mel. Vice versa, Mel tampaknya menunjukkan perasaan yang sama terhadap dirinya. Kini John mengalami dilema. Apakah ia akan tetap berpura-pura menjadi Max demi bisa tetap dekat dengan Mel, ataukah ia harus mengungkapkan jati dirinya kepada Mel, dengan resiko akan dijauhi oleh Mel? Kekhawatiran John adalah, pertama, ia sudah membohongi Mel sejak awal. John yakin Mel tidak akan menyukai hal itu. Kedua, John sebenarnya berasal dari keluarga Trent yang kaya-raya tapi punya reputasi tak terlalu baik di mata masyarakat, tak terkecuali Mel. Dan ketiga, demi menghindari bayang-bayang keluarganya dan mengejar impiannya, John bekerja sebagai wartawan di surat kabar yang menjadi pesaing utama NY Journal (kantor tempat Mel bekerja), yang kebetulan juga sangat dibenci oleh Mel. Nah, sepertinya John tak punya pilihan selain tetap berpura-pura sebagai Max, bukan?

Tapi sampai kapan ia harus menyembunyikan identitasnya? Karena Max yang asli tampaknya tak mau ambil pusing terhadap apa yang harus dihadapi John. Dan yang paling penting, John semakin hari semakin mencintai Mel.

Baca kisah selengkapnya dalam The Guy Next Door karya Meggin “Meg” Cabot yang menggemaskan ini.

***

Nah, tampaknya saya sudah meringkas hampir separuh isi novel ini. Beginilah saya, terkadang tak mengerti bagian yang mana yang perlu diceritakan dan bagian mana yang seharusnya disimpan. Tapi menurut saya, apa yang saya ceritakan di atas sebenarnya tidak seluruhnya. Kisah sebenarnya jauh lebih kompleks.

Oh ya, sebelum membahas lebih jauh tentang buku ini, saya ingin memberi tahu tentang format novel ini. Novel ini unik, karena seluruh isinya ditulis dalam bentuk email. Ya, anda tidak salah dengar (atau baca, hehe). Pembaca akan disuguhkan begitu banyak email dalam novel setebal 560 halaman ini. Mulai dari email peringatan bagian HRD tempat Mel bekerja karena seringnya ia terlambat, email sahabat dekat Mel, email rekan-rekan sekerja Mel, email dari mantan pacar Mel, email antara John dan Max, John dan kakak laki-lakinya, John dan kakak iparnya, John dan neneknya, John dan Mel (ehem), Mel dan orang tuanya, Mel dan kakak ipar John... oke, saya rasa saya harus berhenti sekarang juga.

Meski dalam bentuk kumpulan email, novel ini sama sekali tidak membosankan. Bahkan saya selalu tak sabar untuk membaca halaman selanjutnya. Awalnya memang butuh penyesuaian. Tapi setelah beberapa halaman, segalanya mengalir dengan lancar. Saya sempat merasa seperti stalker yang secara kurang ajar membaca email orang lain tanpa izin. Tapi itulah serunya. Rasanya asyik sekali mengintip email dari berbagai tokoh dalam novel ini, mencari tau apa sebenarnya yang terjadi. Bahkan, saya dapat merasakan emosi dalam novel ini meski ditulis dalam bentuk email. Lagi-lagi saya mengakui kehebatan Meg Cabot dalam bercerita. Ia pandai berperan menjadi beberapa tokoh sekaligus. Pembaca akan dapat menemukan kekhasan masing-masing tokoh dalam setiap tulisan email mereka. Terkadang, tanpa perlu membaca alamat email si pengirim, pembaca dapat menebak siapa yang menulis email tersebut.

Saya sangat mengagumi ide brilian Meg Cabot untuk menulis novel dalam format email. Saya pikir ini tidak mudah. Apalagi karena novel tidak memiliki dialog atau percakapan langsung antar tokoh, tapi tetap saja, penulis mampu memberi ‘nyawa’ dalam setiap email yang ditulis para tokoh. Perkembangan hubungan Mel dan John (alias Max gadungan) terasa mengalir. Istilahnya chemistry-nya dapetlah #eaah. Tokoh-tokoh dalam novel ini semuanya menarik dan tak ada yang membosankan, sekalipun sifat tokoh tersebut menyebalkan atau bodoh. Vivica, misalnya. Meg Cabot jelas sekali menggambarkan sosok Vivica yang cantik namun kurang cerdas dari gaya menulis emailnya. Tapi saya tak menyangka bahwa saya malah jatuh hati pada tokoh Vivica. Haha.

Membaca novel ini mengingatkan saya pada novel Twivortiare karya Ika Natassa yang tak kalah unik, sebab ditulis dalam format twitter. Berbeda dengan kebanyakan buku yang berisi kutipan-kutipan dari twitter, Twivortiare justru merangkum tweet-tweet dari para tokoh menjadi sebuah cerita yang utuh. Sama halnya dengan The Guy Next Door. Yang membedakan adalah media yang digunakan, yaitu email.

Sebagai penutup, saya puas membaca novel ini. Novel ini ditulis dengan cerdas, penuh humor, serta berisi kisah cinta yang manis dan menghangatkan hati. Belum lagi twist-nya yang cukup mengejutkan, serta karakter-karakternya yang lovable. Rasanya tidak berlebihan bila saya memberi 5 bintang untuk novel yang menggemaskan ini.

27 Mei 2013

Runaway (Kabur) by Meg Cabot

Judul Buku: Runaway (Kabur)
Seri: Airhead #3
Penulis: Meg Cabot
Penerjemah: Tanti Susilawati
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2012 (Mei, Cetakan I)
Tebal: 328 halaman
ISBN: 9789792284454
Harga: Rp. 45.000,-
Rate: 4/5

My reviews for Airhead Trilogy by Meg Cabot:
1. Airhead (Otak Udang)
2. Being Nikki (Menjadi Nikki)
3. Runaway (Kabur)
~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~
Terperangkap dalam tubuh supermodel sukses dan terkenal bisa jadi adalah impian banyak gadis. Dengan profesi bergengsi seperti itu, ditambah gaji besar plus tinggal di apartemen mewah serta berbagai fasilitas ‘wah’ lainnya, siapa sih yang nggak kepingin? Tapi seandainya bisa memilih, Em ingin kembali ke tubuh lamanya dan hidup sebagaimana Em yang dulu: yang suka bermain video game bersama sahabat kesayangannya, Christopher. Habis, selama menjadi Nikki Howard, ada saja hal-hal tak mengenakkan yang menimpanya. Baru-baru ini saja ia harus mengadakan pemotretan di batu karang sampai jari-jarinya lecet—dan hampir jadi santapan ikan hiu!

Kini, Em ‘diculik’ oleh Brandon Stark, yang sudah tahu kebenaran tentang transplantasi otak antara Em dan Nikki, dan memaksa Em untuk ikut ‘liburan’ bersamanya, bila tidak ingin nyawa Nikki dan keluarganya dalam bahaya. Tujuan utama Brandon yaitu mengorek informasi dari Nikki tentang rahasia Robert Stark, yang tidak lain ialah ayah Brandon sendiri, dan akan digunakannya untuk merebut kepemilikan Stark Enterprise dari tangan ayahnya. Rahasia apa yang diketahui Nikki sampai-sampai Robert Stark harus membunuh supermodel itu? Pada akhirnya, Em harus berhadapan langsung dengan Robert Stark. Karena kalau tidak, maka gadis itu akan terus melarikan diri, entah sampai kapan.

22 Mei 2013

Being Nikki (Menjadi Nikki) by Meg Cabot

Judul Buku: Being Nikki (Menjadi Nikki)
Seri: Airhead #2
Penulis: Meg Cabot
Penerjemah: Maharani Aulia
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2011
Tebal: 304 halaman
ISBN: 9789792266542
Harga: Rp. 40.000,-
Rate: 4/5

My reviews for Airhead Trilogy by Meg Cabot:
1. Airhead (Otak Udang)
2. Being Nikki (Menjadi Nikki)
3. Runaway (Kabur)

~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~
Peringatan: Review ini mengandung spoiler buku sebelumnya.

Sang supermodel Nikki Howard telah kembali. Kepada pers dan para penggemar, pihak manajemen Nikki mengatakan bahwa Nikki mengalami amnesia, sebagai alasan mengapa Nikki tak ingat orang-orang yang bekerja bersamanya selama ini. Bahkan, Nikki harus belajar lagi hal-hal yang berhubungan dengan profesinya sebagai model. Tapi, bagi yang sudah baca buku pertama tentu tahu bahwa Nikki Howard tidak mengalami amnesia. Meski dari luar ia tampak seperti Nikki Howard, tapi isi kepalanya adalah Emerson Watts. Beberapa minggu sebelumnya Em mengalami kecelakaan, dan sungguh kebetulan yang aneh, karena pada saat yang sama, Nikki Howard juga menghilang dari publik. Pihak Stark Enterprise kemudian membuat kesepakatan dengan orang tua Em, bahwa mereka dapat menyelamatkan nyawa Em dengan cara mentransplantasi otak Em ke dalam kepala Nikki yang saat itu sudah mengalami mati otak (brain death). Akan tetapi, kesepakatan tersebut tidak mudah bagi Em, sebab ia harus meneruskan kontrak kerja yang tengah dijalani oleh Nikki Howard. Kini, Em harus menjalani hidup sebagai Nikki Howard, berpura-pura bahwa ia mengalami amnesia, dan tidak boleh membertahukan peristiwa yang ia alami kepada siapapun, termasuk kepada cowok yang dicintainya, Christopher. Memang sih, tak pernah ada yang bilang menjadi Nikki itu mudah.

20 Mei 2013

Airhead (Otak Udang) by Meg Cabot

Judul Buku: Airhead (Otak Udang)
Seri: Airhead #1
Penulis: Meg Cabot
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2010
Tebal: 352 halaman
ISBN: 9789792264340
Harga: Rp. 45.000,-
Rate: 4/5

My reviews for Airhead Trilogy by Meg Cabot:
1. Airhead (Otak Udang)
2. Being Nikki (Menjadi Nikki)
3. Runaway (Kabur)
~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~
Airhead berkisah tentang Emerson Watts, seorang gamer perempuan, geeky, berotak cerdas, dan seorang feminis sejati. Baginya penampilan tidaklah penting. Ia dan sobatnya, Christopher, suka menertawakan murid-murid populer berotak kosong di sekolahnya yang hanya mementingkan penampilan dan popularitas (Em dan Christopher menyebut mereka golongan Mayat Hidup). Em dan Christopher sudah bersahabat cukup lama, sering main Journeyquest bareng, nonton film bareng, dan segala hal yang dilakukan sahabat pada umumnya. Hanya saja, Chirstopher tidak tahu kalau Em diam-diam menyukai Christopher lebih dari sekadar sahabat.

Suatu hari, Frida, adik Em (yang bertolak belakang dengan Em, bila Em tidak peduli dengan penampilan dan popularitas, maka Frida justru mati-matian ingin selalu tampil cantik) memohon-mohon kepada ibu mereka agar diizinkan pergi ke acara pembukaan Stark Megastore, sebab di sana ada Gabriel Luna, seorang penyanyi dan penulis lagu beken dari Inggris yang tengah digandrungi cewek-cewek. Ibu mereka hanya akan mengizinkan Frida pergi bila dalam pengawasan kakaknya, Em. Frida yang malu bila terlihat bersama-sama dengan Em yang “culun” hanya bisa merengut dan membiarkan kakaknya mengawasinya, demi diizinkan pergi melihat Gabriel Luna. Christopher juga ikut menemani Em dan Frida.

22 Apr 2013

How To Be Popular (Panduan Meraih Popularitas) by Meg Cabot

Judul Buku: How To Be Popular (Panduan Meraih Popularitas)
Penulis: Meg Cabot
Penerjemah: Maharani Aulia
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2010 (Cetakan I)
Tebal: 312 halaman
ISBN: 9789792264975
Harga: Rp. 40.000,-
Rate: 4/5

~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~

Buku ini lucu sekali! Sewaktu membaca buku ini, bukan cuma sekali-dua kali saya menegur diri sendiri: “Mengapa kamu nggak dari dulu-dulu baca buku-bukunya tante Meg?”

Sebenarnya, formula yang dipakai Meg Cabot dalam buku-buku remajanya cukup umum ya, bahkan mungkin sudah basi. How To Be Popular mengingatkan saya pada buku All-American Girl dan film Princess Diaries (saat menulis review ini, saya belum membaca satupun seri Princess Diaries, baru nonton filmnya), yaitu tentang "gadis yang tadinya nggak populer lalu mendadak jadi populer", atau tentang "gadis yang nggak populer tapi ngarep banget jadi populer". Sebaiknya saya menceritakan sedikit tentang buku ini.

Selama lima tahun Steph Landry menjadi bahan olok-olok teman-temannya. Semuanya bermula saat Steph tersandung dan tak sengaja menumpahkan minumannya sehingga menodai rok cewek paling populer di sekolah, Lauren Moffat. Lauren jadi begitu membenci Steph dan mulai menciptakan idiom kayak, “Jangan bertindak konyol kayak Steph Landry dong!” atau “Ih, kamu kayak Steph Landry deh!” dan sejenisnya, yang kemudian mulai ditiru oleh semua orang. Sehingga ketika ada teman yang berbuat konyol, maka idiom “jangan-kayak-Steph-Landry” pasti bakal terucap. Dan itu telah berlangsung selama lima tahun.

22 Feb 2013

All-American Girl (Pahlawan Amerika) by Meg Cabot

Judul Buku: All-American Girl (Pahlawan Amerika)
Seri: All-American Girl #1
Penulis: Meg Cabot
Penerjemah: Monica Dwi Chresnayani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2004 (Cetakan I)
Tebal: 328 hlm
ISBN: 9792209824
My Rating: 5/5

~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~-~
Samantha Madison yang tinggal di Washington DC, bukanlah anak yang populer. Ia tidak seperti Lucy kakaknya, seorang anggota pemandu sorak yang beken di sekolah. Sam juga tidak sepintar adiknya, Rebecca, yang saking jeniusnya sampai bersekolah di sekolah khusus anak-anak berotak encer. Sam hanyalah si tengah yang suka sekali menggambar selebritis (satu-satunya keahliannya), memiliki rambut merah berantakan dan berwajah penuh bintik-bintik. Dan, teman makan siangnya adalah anak-anak yang tidak populer di sekolah. Tapi baginya semua itu bukan masalah. Satu-satunya hal yang membuatnya galau adalah ia cinta setengah mati pada Jack, pacar kakaknya, yang menurutnya adalah cinta sejatinya, hanya saja Jack belum menyadarinya.

Suatu hari Lucy mengadukan Sam yang memungut bayaran dari teman-temannya yang ingin digambarkan bersama seleb favorit mereka oleh Sam. Orang tua Sam menganggap nilai bahasa Jerman Sam yang cuma dapat C minus adalah akibat dari hobi menggambar Sam tersebut. Akibatnya mereka 'menghukumnya' dengan cara mendaftarkannya ke tempat les menggambar, dengan harapan agar Sam memiliki wadah yang tepat untuk menyalurkan ‘energi kreatifnya’. Sam jelas-jelas tidak senang dengan hal ini, karena menurutnya ikut les hanya akan mematikan kreatifitasnya. Benar saja, karena di hari pertamanya saja, ia sudah mendapat kritik pedas dari guru lesnya, padahal menurut Sam, lukisannyalah yang paling bagus di antara seluruh peserta les. Maka Sam bertekad, pada les selanjutnya ia akan membolos sebagai bentuk protes.