Penulis: Gitanyali
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, 2011
Tebal: vi + 186 hlm.
ISBN: 9789799103154
Sinopsis:"Om merasa sial sebagai anak PKI?""Aku tidak pernah berefleksi merasa sial atau beruntung dengan hidupku. Aku menjalani apa yang bisa kujalani."..."Om komunis mall atau kapitalis?""Tak ada bedanya. Di bawah kapitalisme, orang mengeksploitasi orang. Komunisme, tinggal dibalik saja..."Sebagai anak PKI, lebaran tidak lagi sama bagi Gitanyali diakhir 1965. Ia masih SD di kota kecil di kaki Gunung Merbabu ketika menyaksikan sang ayah diambil aparat, dan tak pernah ketahuan lagi rimbanya. Sang ibu menyusul ditahan tanpa tahu kapan akan dibebaskan karena dianggap terlibat Peristiwa G30S. Kehidupannya berubah, keluarganya tercerai-berai.Diasuh oleh sang paman di Jakarta, dunia Gitanyali terbuka lebar. Ia menempa diri untuk tidak kalah pada sang nasib. Ia menikmati kehidupan sebagai anak kebanyakan yang penuh godaan, termasuk dalam kehidupan seksual, tanpa terbawa arus. Ia memilih bertahan tanpa harus “melawan”
Begitu membaca sinopsisnya yang mengungkit-ungkit PKI, saya langsung berpikir bahwa buku ini adalah salah satu novel yang bercerita tentang kepingan kisah tahun 1965 yang merupakan salah satu masa terkelam dalam sejarah bangsa Indonesia. Itulah mengapa saya memilih buku ini sebagai bacaan untuk event Baca dan Posting Bareng BBI kategori Historical Fiction Indonesia. Dalam benak saya, buku ini semacam buku 'nyastra' yang isinya lumayan berat. Er... ternyata nggak juga. Maksud saya, isinya tidak berat-berat amat. Yah, buku ini ternyata jauh di bawah ekspektasi saya.
Blues Merbabu berkisah tentang perjalanan hidup Gitanyali, anak dari salah seorang anggota PKI yang tinggal di sebuah kota kecil di kaki gunung Merbabu. Menilik nama tokohnya, saya pikir dia perempuan. Ternyata saya keliru, karena dia 100% laki-laki. Novel yang diceritakan secara kilas balik ini lebih banyak menyorot aktivitasnya mulai dari kanak-kanak, remaja, hingga dewasa. Awalnya Gitanyali kecil menjalani kehidupan seperti anak-anak lainnya. Ia tidak mengerti banyak tentang aktivitas ayahnya. Yang ia tahu bahwa ayahnya sering mengadakan rapat dan pertemuan-pertemuan di rumah keluarga mereka. Ia tak tahu dan tak mau ambil pusing dengan hal tersebut. Namun, kondisi hidupnya berubah setelah sang ayah dibawa pergi oleh tentara dan tak pernah kembali lagi. Ibunya dimasukkan ke hotel prodeo alias jeruji besi. Gitanyali kemudian dibawa oleh pamannya ke Jakarta, dan mulai menjalani kehidupan barunya di kota metropolitan.
Blues Merbabu berkisah tentang perjalanan hidup Gitanyali, anak dari salah seorang anggota PKI yang tinggal di sebuah kota kecil di kaki gunung Merbabu. Menilik nama tokohnya, saya pikir dia perempuan. Ternyata saya keliru, karena dia 100% laki-laki. Novel yang diceritakan secara kilas balik ini lebih banyak menyorot aktivitasnya mulai dari kanak-kanak, remaja, hingga dewasa. Awalnya Gitanyali kecil menjalani kehidupan seperti anak-anak lainnya. Ia tidak mengerti banyak tentang aktivitas ayahnya. Yang ia tahu bahwa ayahnya sering mengadakan rapat dan pertemuan-pertemuan di rumah keluarga mereka. Ia tak tahu dan tak mau ambil pusing dengan hal tersebut. Namun, kondisi hidupnya berubah setelah sang ayah dibawa pergi oleh tentara dan tak pernah kembali lagi. Ibunya dimasukkan ke hotel prodeo alias jeruji besi. Gitanyali kemudian dibawa oleh pamannya ke Jakarta, dan mulai menjalani kehidupan barunya di kota metropolitan.
Kisah hidup Gitanyali yang diceritakan dalam buku ini lebih sering menyerempet urusan (maaf) kelamin. Informasi tentang peristiwa-peristiwa penting yang berhubungan dengan PKI hanya disinggung sedikit sekali. Mungkin karena tokoh utamanya sendiri tak begitu ambil pusing dengan masalah tersebut, kecuali bahwa gara-gara berhubungan dengan PKI, keluarganya jadi tercerai-berai.
