Tampilkan postingan dengan label Paranormal Fantasy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Paranormal Fantasy. Tampilkan semua postingan

22 Apr 2013

City of Glass - Cassandra Clare

Judul: City of Glass
Seri: The Mortal Instruments #3
Penulis: Cassandra Clare
Penerjemah: Melody Violine
Penerbit: Ufuk Press, 2011
Tebal: 752 hlm.
ISBN: 9786028801478

Sinopsis:
Untuk menyelamatkan ibunya, Clary harus pergi ke Kota Kaca, kota leluhur Pemburu Bayangan. Tapi dia memasukinya tanpa izin, yang berarti melanggar Hukum dan terancam dihukum mati. Lebih parah lagi, Simon dipenjara selama dia tidak mau bersaksi mengambinghitamkan keluarga Lightwood. Ketika ternyata Jace tidak menginginkan Clary di sana, Sebastian yang misterius membantu Clary menyingkap rahasia keluarganya.

Sementara itu, Valentine hendak memanggil Malaikat dan semua iblis. Dia siap menghancurkan ras Pemburu Bayangan kalau mereka tidak mau tunduk kepadanya. Kini satu-satunya harapan mereka untuk bertahan adalah dengan meminta bantuan Penghuni Dunia Bawah. Tapi bisakah kedua pihak tersebut mengesampingkan kebencian mereka demi bekerja sama? Dalam kegentingan ini, apakah Jace rela mengorbankan nyawanya demi Clary? Bisakah Clary menggunakan kekuatan barunya untuk menyelamatkan Kota Kaca, apa pun akibatnya?

Cinta adalah dosa kehidupan. Rahasia masa lalu terbukti mematikan ketika Clary dan Jace menghadapi Valentine dalam jilid ketiga The Mortal Instruments.

Perhatian: Review ini mungkin mengandung spoiler.

Clary akhirnya memutuskan pergi ke Idris, negara asal para Pemburu Bayangan, untuk bertemu dengan Ragnor Fell, warlock yang mengetahui cara untuk membangunkan ibu Clary yang masih tak sadarkan diri. Namun Jace menentang keras rencana Clary dan diam-diam berencana untuk pergi ke Idris tanpa gadis itu. Saat hendak menuju Idris melalui portal yang dibuat oleh Magnus Bane, Jace dan keluarga Lightwood diserang oleh pasukan iblis. Simon yang saat itu tengah menemui Jace ikut terlibat pertempuran. Dalam kondisi terdesak, Jace membawa serta Simon ke Idris. Clary yang menyadari ditinggal oleh Jace dan keluarga Lightwood, membuat portal sendiri untuk pergi ke Idris, diikuti oleh Luke. Sayangnya portal yang dibuat Clary tak mampu menembus Idris, atau tepatnya Alicante (ibu kota Idris), sehingga ia dan Luke mendarat di danau Lyn, sebuah danau yang terkutuk bagi para Pemburu Bayangan, termasuk Clary.

Di Alicante, Simon yang sejak di buku kedua telah menjadi vampir ternyata tidak diinginkan di kota Pemburu Bayangan itu. Maka setelah sembuh dari luka bekas pertempuran melawan iblis, Kunci meminta Simon untuk pulang ke New York melalui portal yang disediakan oleh mereka. Namun, alih-alih dipulangkan, sang Inkuisitor dari pihak Kunci malah memenjarakan Simon di ruang yang dilindungi berbagai rune dan mulai menginterogasi si vampir yang secara misterius tidak terbakar oleh sinar matahari itu. Baik Jace maupun keluarga Lightwood tidak mengetahui perihal penjeblosan Simon ke penjara. Sementara itu, baik Luke maupun Clary (yang terkena kutukan danau Lyn) terpaksa harus bersembunyi di rumah Amatis, adik perempuan Luke, karena kedatangan mereka di Alicante adalah ilegal, terutama bagi Luke yang posisinya sebagai Penghuni Dunia Bawah, tepatnya, sebagai manusia serigala.

24 Mar 2013

City of Ashes - Cassandra Clare

Judul: City of Ashes
Seri: The Mortal Instruments #2
Penulis: Cassandra Clare
Penerjemah: Melody Violine
Penerbit: Ufuk Press, 2010
Tebal: 610 hlm.
ISBN: 9786028801300

Sinopsis:
Clary hanya ingin hidup normal kembali, tapi ia telanjur terlibat dengan para Pemburu Bayangan yang bertugas membantai iblis. Masalah semakin menjadi-jadi karena ibunya tidak bisa dibangunkan dan Clary tidak bisa berhenti mencintai Jace. Tentu saja ini menyakiti hati Simon, yang mendadak pergi ke sarang vampir seorang diri. Valentine pun datang lagi, kali ini untuk mengambil Pedang Mortal. Lagi-lagi dia menawari Jace untuk ikut dengannya. Ketika Jace diketahui telah pergi untuk menemui Valentine, akankah Clary tetap memercayainya?

Dalam sekuel City of Bones ini, ketegangan menanjak dan konflik semakin tajam!

Lebih seru! Buku kedua serial The Mortal Instruments ini menyajikan konflik yang lebih tajam dari buku pertama. Valentine, yang kabur melewati cermin portal para buku pertama, tengah menyiapkan rencana untuk menyerang Idris, kampung halaman para Pemburu Bayangan. Ia mencuri Instrumen Mortal kedua, yaitu Pedang Jiwa, dari Persaudaraan Hening. Pedang yang aslinya digunakan malaikat untuk membasmi iblis itu akan diubah oleh Valentine menjadi alat untuk memanggil pasukan iblis dari dimensi lain untuk membantunya menyerang Idris. Mampukah Clary dan kawan-kawan menghentikan Valentine?

Membaca buku kedua ini, persaaan saya campur aduk. Kehadiran sang Inkuisitor dari Idris untuk menginterogasi Jace yang dicurigai sebagai mata-mata Valentine mampu memancing emosi saya. Bagaimana tidak, sosok wanita yang keras dan kejam ini mengingatkan saya kepada Profesor Umbridge dalam Harry Potter dan Orde Phoenix. Tidak hanya menolak memercayai Jace, sang Inkuisitor tak segan-segan menyiksa Jace secara mental maupun fisik, termasuk mengirim cowok itu ke penjara di bawah pengawasan Persaudaraan Hening, yaitu sebuah penjara yang biasanya digunakan mengurung para penjahat berbahaya. Tak heran sang Ikuisitor bertindak di luar batas, karena hal tersebut dilatarbelakangi dendam pribadinya terhadap ayah Jace.

18 Mar 2013

City of Bones - Cassandra Clare

Judul: City of Bones
Seri: The Mortal Instruments #1
Penulis: Cassandra Clare
Penerjemah: Melody Violine
Penerbit: Ufuk Press, 2010
Tebal: 664 hlm.
ISBN: 9786028224802

Sinopsis:
Selama ini Clary yang hampir berusia 16 tahun, mengira dirinya hanyalah anak seorang pelukis biasa. Tapi sejak ibunya diculik dan Clary sendiri hampir mati oleh serangan iblis, ia terpaksa masuk ke dalam dunia baru yang gelap sekaligus menawan, yaitu Dunia Bayangan.

Ternyata sejak ribuan tahun yang lalu, hanya kaum Nephilim (manusia keturunan malaikat) yang membasmi iblis demi melindungi manusia. Mereka disebut Pemburu Kegelapan. Salah satunya adalah Jace yang kasar, sombong, dan luar biasa menyebalkan. Tapi justru itulah yang membuat cowok berambut keemasan itu lebih menggemaskan. Lagipula, bagaimana Clary bisa tahan kalau ada cowok yang selalu siap menerjang iblis, vampir, bahkan manusia serigala demi melindunginya?

Lalu mengapa iblis mengincar seorang gadis biasa seperti Clary? Bagaimanakah tiba-tiba Clary mendapatkan “penglihatan”, sehingga kini ia bisa melihat peri, warlock, dan nephilim? Para Pemburu Kegelapan pun benar-benar ingin mengetahuinya…

City of Bones adalah novel Young Adult bergenre Paranormal Fantasy di mana yang ditonjolkan dalam buku ini adalah Nephilim (berhubungan dengan malaikat atau keturunan malaikat). Bila sebelumnya novel-novel YA diawali dengan tren vampir modern (Twilight Saga, Vampire Academy, Black Dagger Brotherhood, Sookie Stakhouse series [yang kemudian diadaptasi menjadi serial TV terkenal berjudul ‘True Blood’], dsb), kini genre Paranormal Fantasy lebih beragam, tidak melulu tentang vampir. Dan salah satu ‘makhluk gaib’ yang menjadi primadona dunia Paranormal Fantasy setelah vampir, adalah Nephilim. Beberapa novel tentang nephilim yang terkenal antara lain Hush, Hush series, Fallen series, dan tentu saja, The Mortal Instruments series yang buku pertamanya sedang saya review ini.

Kisah City of Bones bermula saat Clarissa Fray (Clary), menyaksikan pembunuhan yang dilakukan oleh sekelompok anak muda di sebuah club malam. Anehnya, korban pembunuhan lenyap tak lama setelah tewas. Saat teman Clary, Simon, datang bersama security club malam, Clary menyadari bahwa selain dirinya, orang lain tidak dapat melihat para pelaku pembunuhan, seolah para pembunuh itu adalah makhluk tak kasatmata. Di lain pihak, ketiga remaja yang bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut merasa heran, mengapa Clary bisa melihat mereka?

28 Mei 2012

Eclipse (Gerhana) by Stephenie Meyer

Judul Buku: Eclipse (Gerhana)
Seri: Twilight Saga #3
Penulis: Stephenie Meyer
Penerjemah: Monica Dwi Chresnayani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2010 (Februari, Cetakan XIV)
Tebal: 688 Halaman
ISBN: 9789792240528
Harga: Rp. 73.500,-
Rating: 3/5

Victoria yang patah hati sejak sekasihnya dihancurkan oleh keluarga Cullen masih menyimpan dendam pada Isabella Swan. Vampir berambut merah itu mulai membentuk pasukan vampir baru yang kuat, lapar, dan berbahaya, untuk mengincar Bella yang selama ini dalam lindungan keluarga Cullen. Demi menyelamatkan Bella, keluarga Cullen akhirnya bekerja sama dengan para werewolf dari La Push untuk bersiap menghadapi serangan. Dengan demikian, inilah kali pertama vampir dan werewolf melakukan genjatan senjata dan mulai bekerja sama setelah beratus-ratus tahun bermusuhan.

Sementara itu, hati Bella masih bimbang karena ia harus memilih antara cintanya kepada Edward atau persahabatannya dengan Jacob. Apalagi Jacob memutuskan tak akan menyerah begitu saja. Lelaki itu begitu menginginkan Bella, dan ia ingin membuktikan pada Bella bahwa gadis itu sebenarnya mencintainya lebih dari sekadar sahabat.

Di tengah pertarungan sengit antara keluarga Cullen+kawanan werewolf melawan pasukan vampir ciptaan Victoria, Bella harus menetapkan pilihannya: Edward atau Jacob?

---o---

Seri Twilight ke-3 ini lumayan membuat saya jengkel setengah mati. Jika dua buku sebelumnya sangat saya sukai, maka tidak dengan buku ini (cukup sebatas ‘suka’ saja, nggak pake ‘banget’). Sikap Bella yang plin-plan membuat saya ingin melemparinya dengan kulit durian. Bagaimana tidak? Ia ingin memiliki Edward, tapi di sisi lain ia juga tak mau jauh-jauh dari Jacob. Serakah banget kan? Dan novel setebal ini sebagian besar membahas kebimbangan Bella tersebut. Gawd, membosankan! Mungkin inilah yang membuat saya butuh waktu lebih dari seminggu untuk membaca buku ini.

Untungnya ada beberapa bagian menarik yang menyelamatkan buku ini—yang mencegah saya melemparnya ke kolong tempat tidur (yeah, nggak sampai segitunya sih, hehe).

Bagian-bagian yang (menurut saya) menarik itu adalah:

1. Kisah masa lalu Jesper Cullen. Ada alasan mengapa Jesper ditunjuk keluarga Cullen untuk mengajari mereka cara bertarung. Di masa lalu, Jesper adalah prajurit yang handal. Sayangnya ia dijadikan vampir oleh sosok vampir perempuan yang saat itu sedang membentuk pasukan, persis dengan kondisi saat ini di mana Victoria juga sedang membuat pasukan.

2. Kisah masa lalu Rosalie Cullen. Rosalie yang cantik jelita itu ternyata memiliki masa lalu yang suram. Dan ternyata ia tidak membenci Bella seperti yang disangka Bella selama ini. Rosalie justru iri pada kehidupan Bella sebagai manusia. Ia berharap Bella mempertimbangkan kembali keinginannya untuk menjadi vampir, karena seburuk apapun, sesakit apapun hidup yang dijalani Bella, menurut Rosalie hidup sebagai manusia adalah sesuatu yang indah, sesuatu yang sangat dirindukan vampir rupawan itu.

3. Sejarah para werewolf. Kisah tersebut dituturkan ayah Jacob pada semacam inisiasi werewolf-werewolf baru yang juga dihadiri Bella. Beliau menceritakan bagaimana leluhur mereka akhirnya bisa memiliki kemampuan berubah wujud (shapeshifter) menjadi serigala. Memang benar kata Jacob di buku pertama dan kedua, bahwa kemunculan werewolf berkaitan erat kaitannya vampir, dan lewat kisah tersebut kita akhirnya tahu sejarahnya. Menurut saya bagian ini benar-benar menarik. Bahkan mungkin bisa dibuat novel sendiri. :)

4. Adegan latihan bertarung keluarga Cullen di hutan. Keren!

5. Adegan pertarungan Edward vs Victoria bersamaan dengan pertarungan Seth vs Riley. Untuk ukuran novel romance, adengan pertarungan ini lumayan oke. Sayang sekali adegan pertarungan keluarga Cullen+para werewolf melawan pasukan Victoria tidak ditampilkan di buku (biggest thanks buat kru film Eclipse yang mewujudkan adegan tersebut di film).

Overall, saya cuma memberi rating 3/5 bintang untuk buku Eplisdeh ini berkat Bella yang sukses membuat saya muak. Sorry banget, Bells.


My reviews for this series:
1. Twilight
2. New Moon
3. Eclipse

21 Mei 2012

New Moon (Dua Cinta) by Stephenie Meyer

Judul Buku: New Moon (Dua Cinta)
Seri: Twilight Saga #2
Penulis: Stephenie Meyer
Penerjemah: Monica Dwi Chresnayani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2009 (Agustus, Cetakan XIV)
Tebal: 600 Halaman
ISBN: 9789792238303
Harga: Rp. 68.500,-
Rating: 4/5

Isabella Swan berulang tahun ke-18 namun ia merasa gelisah, karena berarti ia bertambah tua setahun, sementara Edward Cullen, kekasih vampir-nya tetap berusia 17 tahun, dan tak bertambah tua sedikipun—ingat kan, setelah menjadi vampir, tubuh manusia para vampir tak akan lagi bertambah tua?

Kegelisahan tersebut membuat Bella tak ingin menerima kado apapun baik dari Edward dan keluarga Cullen, maupun dari ayahnya sendiri. Namun Bella tak kuasa menolak saat keluarga Cullen memaksanya untuk merayakan pesta ulang tahun di rumah mereka. Saat akan membuka kado, tangan Bella terluka. Tiba-tiba Jesper Cullen, yang belum bisa sepenuhnya mengendalikan dahaga vampirnya berusaha menyerang Bella. Dalam usahanya menolong Bella, Edward Cullen mendorong gadis itu hingga mengantam meja, membuat lengan Bella terluka makin parah dan mengucurkan banyak darah akibat terkena pecahan kristal. Di luar dugaan, keluarga Cullen yang lain menatap Bella dengan ekspresi lapar. Untung saja mereka masih bisa mengendalikan diri, sementara Jesper sendiri sudah diamankan. Carlisle, ayah Edward yang berprofesi sebagai dokter kemudian mengobati Bella. Pesta ulang tahun yang harusnya bahagia itu berakhir tak sesuai harapan.

Untuk melindungi Bella agar kejadian tersebut tak terulang lagi, Edward dan keluarganya memutuskan untuk pindah dari Forks. Perpisahan Bella dengan Edward membuat gadis itu syok berat. Selama berbulan-bulan Bella menghabiskan waktu layaknya mayat hidup, sebab cahaya hidupnya telah padam bersama dengan kepergian Edward.

Berbulan-bulan kemudian, Bella akhirnya memutuskan untuk bangkit dan menjalani hidup mulai dari awal lagi demi Charlie, sang ayah. Bella kemudian pergi ke La Push, menemui Jacob, teman masa kecilnya. Di luar dugaan, Jacob ternyata sanggup membuat hari-hari Bella menjadi lebih cerah. Ayah Bella bisa melihat perubahan itu dan mendukung Bella bergaul dengan Jacob.

Saat hiking sendirian di hutan, muncullah Laurent, vampir yang pernah menjadi anggota James (di buku pertama, James hampir saja membunuh Bella, tapi digagalkan oleh Edward dan saudaranya). Ada rasa senang dalam hati Bella saat pertemuan tersebut, menandakan bahwa apa yang pernah terjadi pada dirinya, tentang vampir dan segala macam, juga tentang Edward, bukanlah mimpi. Namun rasa senang itu tak berlangsung lama, karena Laurent ternyata diperintahkan oleh Victoria, kekasih James untuk mengawasi apakah Bella masih dalam lindungan keluarga Cullen atau tidak. Victoria yang dendam kekasihnya dibunuh oleh Edward bermaksud mengincar Bella. Laurent yang sedang kehausan mengambil inisatif untuk menghabisi Bella tanpa menunggu Victioria sendiri yang melakukannya. Saat itulah muncul lima serigala besar, menggagalkan tindakan Laurent. Laurent kemudian kabur sambil terus dikejar kelima serigala tadi. (Wah, Bella selalu beruntung ya?)

Cerita kemudian bergulir hingga kemunculan Alice, adik perempuan Edward. Dalam ‘penglihatan’ Alice, ia melihat Bella bunuh diri, tapi ternyata penglihatannya kurang tepat. Bella baik-baik saja. Namun Edward terlanjur mempercayai penghilatan Alice, dan memutuskan untuk menemui keluarga Volturi—keluarga vampir besar di Italia, meminta mereka mengakhiri hidupnya.

Bagaimanakah nasib Edward selanjutnya? Lalu bagaimana dengan Jacob, sosok yang telah membuat Bella kembali berbahagia sejak ia patah hati? Apakah Bella akan pergi begitu saja ke Italia dan meninggalkan Jacob yang memohon padanya untuk tidak pergi?

Baca kisah lengkapnya di New Moon.

***

Wah, tampaknya saya malah meringkas bukunya kelewat detail ya? Uhm, tapi nggak juga ding. Saya nggak menceritakan tentang apa atau siapa sebenarnya serigala besar yang menyelamatkan Bella di hutan kan? (Walau saya yakin kamu pasti sudah mengetahuinya, hehe).

Sekali lagi, mohon diingat, bahwa novel ini adalah novel romance. Bumbu-bumbu tentang vampir dan, ehem, manusia serigala hanya sekadar tambahan. Jadi jangan terlalu berharap di dalamnya terdapat banyak adegan pertarungan yang berdarah-darah.

Saya pribadi menyukai buku kedua ini berkat hadirnya manusia serigala atau werewolf. Sekali lagi, Stephenie Meyer melanggar ‘aturan’ yang berlaku tentang werewolf, sebagaimana ia melanggar aturan tentang vampir yang selama ini kita kenal dari film maupun buku-buku. Misalnya, pertama, wujud werewolf ternyata tidak seperti manusia yang berdiri tegak. Werewolf tetap berwujud seperti serigala biasa, namun ukuran tubuhnya jauh lebih besar, menyerupai beruang dewasa, dan jauh lebih kuat serta memiliki kecepatan luar biasa. Kedua, proses transormasi werewolf tidak lama dan menyakitkan, melainkan sangat cepat—hanya dalam sekali kedipan mata. Ketiga (tambahan dari Lila) nggak harus menunggu bulan purnama untuk bisa bertransformasi. :)

Mengenai karakter Bella di buku ini, banyak yang tidak suka karena dia terlalu apa ya… er… yah, terlalu lembek gitu deh (maaf, saya memang nggak pandai mendeskipsikan dengan lebih baik). Tapi saya justru kagum pada Bella. Coba pikir, berapa banyak gadis di luar sana yang mengalami patah hati sedemikian parah namun tetap berprestasi di sekolah, rajin mengerjakan PR, bahkan tetap telaten menurus rumah? Yep, karena meski dalam kondisi patah hati parah, Bella tetap menjalani hidupnya dengan baik dan tetap cemerlang di sekolah. Memang sih, terkadang Bella terlalu cengeng. Tapi… aduh gimana ya, mungkin karena saya cowok, jadi saya justru memaklumi sifat Bella tersebut. Kalau bisa sih, saya mau menjadikannya istri... tapi sayang saingan saya terlalu berat: vampir dan manusia serigala gitu loh. Nope. Saya mending mundur teratur.

Yak, daripada makin melantur, mari kita akhiri saja (semacam) review ini. Terlepas dari berbagai ‘aturan’ yang dilanggar oleh Stephenie Meyer sang penulis, saya menyukai konsep baru tentang werewolf di buku ini (dan konsep vampirnya). 4/5 bintang? Yah, namanya juga guilty pleasure. :P


My reviews for this series:
1. Twilight
2. New Moon
3. Eclipse

18 Mei 2012

Twilight by Stephenie Meyer

Judul Buku: Twilight
Seri: Twilight Saga #1
Penulis: Stephenie Meyer
Penerjemah: Lily Devita Sari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2009 (Februari, Cetakan X)
Tebal: 520 halaman
ISBN: 9792236023
Harga: Rp. 60.000,-
Rating: 4/5


What, baru baca? Hihi, iyah! Sudah, nanti saya cerita mengapa saya baru membaca Twilight. Atau yang lebih penting, KOK MAU-MAUNYA SIH, BACA TWILIGHT? Sabar… Kita bahas ceritanya dulu. Singkat saja, karena saya yakin sebagian besar pembaca sudah tahu kisahnya. Oh ya, mungkin agak mengandung spoiler juga. Tak apa, kan? :)

Isabella Swan, 17 tahun, memulai hidup baru di Forks. Sebelumnya ia tinggal di Phoenix bersama ibunya. Kini, di Forks, tinggal bersama ayahnya yang bekerja sebagai kepala polisi Forks. Bella awalnya tidak menyukai kota kelahirannya itu; kota yang muram, selalu mendung, dan sering hujan. Namun keadaan mulai berubah sejak ia bertemu dengan anak-anak keluarga Cullen di sekolah. Remaja-remaja yang tampan dan cantik, terutama yang paling bungsu, Edward Cullen.

Warga Forks sepertinya menjaga jarak dengan keluarga Cullen. Mungkin karena mereka pendatang, punya tampang kelewat memesona, dan luar biasa kaya. Bagi Bella, ketampanan Edward-lah yang membuatnya tak bisa mengalihkan pikirannya dari pemuda itu. Sayangnya Edward justru bersikap kurang bersahabat. Ia terkesan menghindari Bella, bahkan menunjukkan tampang jijik (membuang muka, menutup hidung, dsb) padahal Bella yakin ia tak berbuat kesalahan apapun, bahkan Bella sampai mengendus rambutnya sendiri untuk memastikan dirinya tidak bau.*saya senyum-senyum geje pada bagian ini*

Peristiwa kecelakaan di parkiran sekolah nyaris merenggut nyawa Bella kalau saja saat itu Edward tidak menyelamatkannya. Bella hampir tak mempercayai penglihatannya sendiri: bagaimana mungkin Edward yang tadinya berada di jauh di seberangnya sedetik kemudian berada di sampingnya, melindunginya dan hantaman mobil, dan alih-alih remuk, justru yang mobil yang menabrak merekalah yang penyok-penyok?  Saat Bella mengkonfirmasi hal tersebut, Edward mati-matian menyangkalnya, sementara Bella yakin dirinya tidak berhalusinasi.

Bella dibuat penasaran oleh Edward Cullen. Apakah manusia super benar-benar ada? Seolah paras Edward yang tampan—berkulit seputih porselen dengan warna mata yang sering berubah-ubah— itu tidak cukup saja! Kecurigaan Bella makin bertambah sejak ia diceritakan ‘kisah-kisah seram’ oleh seorang teman masa kecilnya, Jacob, saat berkunjung ke La Push. Bella pun melakukan sedikit ‘riset’ yang membawanya pada satu kesimpulan: Edward Cullen dan keluarganya adalah vampir.

Kenyataan tersebut tak membuat Bella gentar. Ia terlanjur suka, bahkan cinta pada Edward Cullen. Kenyataannya, Edward pun memiliki perasaan yang sama pada Bella. Alasan ia menghindari Bella selama ini karena aroma Bella yang begitu menggoda. Sebagai vampir, Edward berusaha sekuat tenaga menahan diri agar tak sampai membunuh gadis yang disukainya itu.
Ada tiga hal yang kuyakini kebenarannya. Pertama, Edward adalah vampir. Kedua, ada sebagaian dari dirinya—dan aku tak tahu seberapa kuat bagian itu—yang haus akan darku. Dan ketiga, aku jatuh cinta padanya, tanpa syarat, selamanya.
---o---

Welcome to the first of the insanely-popular-series: TWILIGHT!!! *jerit-jerit histeris* (Diteriakin: "Sudah lewat kaleee masanya!"). Hal yang menahan saya nggak membaca buku ini di awal-awal kemunculannya Indonesia karena genre-nya romance, genre yang kurang saya minati saat itu.

Jadi, apa yang membuat saya berubah pikiran? Adalah situs 9gag.com, sebuah situs yang saya kunjungi di sela-sela jam kantor, situs yang mampu membuat wajah sumpek-gara-gara-kerjaan saya berganti menjadi senyum manis nan unyu (halah). Intinya, film Twilight (dan seri-seri selanjutnya) amat dibenci oleh sebagian besar member di situs tersebut, terbukti dengan banyaknya parodi dan photoshop yang menjelek-jelekkan film Twilight. Yang ada saya justru jadi penasaran dan berpikir, "Sejelek apa sih, Twilight?" Maksud saya, jika ingin ikut-ikutan menertawakan kejelekan Twilight, setidaknya saya harus nonton filmnya atau baca bukunya dulu, kan? Nggak adil dong, ikut-ikutan tertawa tapi nggak pernah baca atau nonton filmnya sama sekali, hehehe. (Ketahuan deh, niat jelek saya. Pingin baca bukunya biar bisa ikut-ikutan ngehina. Hadeh….)

Di luar dugaan, SAYA MALAH JATUH CINTA SAMA BUKU INI. Ya, silakan tertawakan saya. Saya sudah siapin kemoceng untuk menutup wajah malu saya, tapi saya nggak akan mengubah pendapat saya. Well, ketertarikan saya pada buku ini bukan hanya karena genre romance-nya, tapi juga pada konsep baru tentang vampir yang dikenalkan oleh Shepenie Meyer, sang penulis. Siapa sih, yang nggak ingin kayak Edward, muda selamanya, bebas dari rasa sakit, punya kecepatan dan tenaga luar biasa? Cuma..., kalo ingat jadi vampir harus minum darah ya, agak mikir-mikir juga sih, hehe. Btw, keluarga Cullen adalah vampir baik, artinya, mereka tidak minum darah manusia, tapi minum darah hewan. Anggota keluarga yang lain membuat lelucon tentang hal tersebut, menyebut diri mereka sebagai vampir vegetarian. Ada-ada saja. :D

Novel ini sebetulnya bisa dibuat lebih singkat lagi. Apalagi sebagian besar novel ini cuma berisi pujian-pujian Bella terhadap Edward. Doh, bosen juga lama-lama. Apalagi Bella terkadang kelewat berlebihan dalam menggambarkan ketampanan Edward. Misalnya nih, di halaman 255: Aku tak bisa membayangkan malaikat bisa lebih indah daripada dia. Tak ada yang bisa menandinginya dalam hal apapun. Pengen muntah? Sama.

Karakter Bella kelewat lembek untuk ukuran tokoh utama perempuan dalam buku cerita. Mau tak mau saya membandingkannya dengan Katniss (tokoh utama The Hunger Games) yang jauh lebih kuat. Saya pernah membaca suatu artikel yang menyebutkan bahwa novel ini sifatnya sangat personal bagi Stephenie Meyer. Mungkin karakter Bella mirip dengan beliau? Entahlah.

Sejujurnya, novel ini secara isi/bobot masih kalah dibanding, Harry Potter dan The Hunger Games (sorry, beda genre, tapi cuma dua judul itu yang muncul di kepala saya saat ini). Ketegangan justru baru terasa saat mendekati bab-bab terakhir. Harusnya novel ini cuma dapat 2/5  bintang. Tapi… mungkin ini yang namanya guilty pleasure kali ya, karena saya suka sekali buku ini meski saya tahu ceritanya kurang berbobot. Jadi, akhirnya saya memberinya 4/5 bintang. Silakan rajam saja dirikuuuu.


My reviews for this series:
1. Twilight
2. New Moon
3. Eclipse