11 Jan 2018

Typo - Christian Simamora

Judul: TYPO
Seri: #jboyfriend (buku ke-9)
Penulis: Christian Simamora
Penerbit: Twigora
Cetakan: Pertama, Juli 2016
Tebal: 476 halaman

Sinopsis:
KETIKA TUHAN TAK MERENCANAKANLAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK BERJODOH,PARA ORANGTUA AKAN TURUN TANGANUNTUK MENYATUKAN MEREKA.

Di usianya yang keempat belas tahun, Maisie Varma dijodohkan dengan Josh Mallick oleh kedua ayah mereka. Meskipun sama-sama tak suka dengan keputusan sepihak itu, Mai dan Josh memilih untuk belajar beradaptasi dengan satu sama lain ketimbang membangun nyali untuk menentangnya.

Tapi kemudian, di malam pergantian tahun, Oma Josh yang baru mendengar tentang perjodohan itu langsung protes keras. Bukan itu saja, beliau memaksa para ayah untuk membatalkan pertunangan malam itu juga. Semuanya pun kembali seperti semula—kecuali bagi Mai. Dia sungguh-sungguh tak menyangka, status tunangan Josh selama beberapa hari membuatnya jatuh cinta untuk kali pertama.

Novel #jboyfriend kali ini merupakan kronologis cinta putri satu-satunya keluarga Varma. Tentang gelenyar yang membungkus perasaan Mai dalam bahagia, juga tentang hal-hal manis yang membuat pipinya sering merona merah.

Novel ini juga akan bercerita banyak tentang anak bungsu keluarga Mallick. Si mantan tunangan yang bertanggung jawab membuat Mai jatuh hati sekali lagi, juga yang mengingatkannya bahwa perasaan itu tak lebih dari sekadar typo. Kesalahan hati yang harus Mai koreksi.

Selamat jatuh cinta,

CHRISTIAN SIMAMORA

Perjodohan barangkali sesuatu yang mulai jarang ditemui di lingkungan masyarakat modern. Namun itu tak berlaku bagi kedua ayah Josh dan Mai. Dikarenakan hubungan para ayah yang kental layaknya saudara kandung, ditambah harapan besar untuk menggabungkan bisnis keluarga, Ronan dan Jagapati memutuskan untuk saling menjodohkan anak-anak mereka. Josh yang kala itu masih berusia 13 tahun dan Mai 14 tahun awalnya merasa berat dengan perjodohan tersebut, namun perlahan-lahan mulai melunak setelah saling mengenal satu sama lain. Hal tak terduga justru datang dari Oma Josh. Beliau menentang keras rencana perjodohan itu dan memaksa para ayah untuk membatalkannya. Bagi Oma, perjodohan di usia teramat belia justru membatasi masa depan dan pilihan-pilihan hidup Josh dan Mai. Sayangnya, yang tak diketahui Oma, ialah bahwa niat baiknya justru telah membuat beberapa pihak patah hati.

Bertahun-tahun kemudian, Josh dan Mai dipertemukan kembali dalam sebuah proyek bisnis keluarga. Mai telah tumbuh menjadi wanita karir yang cukup sukses. Ia cantik, namun kerap menyembunyikannya di balik pakaian kerja dan penampilan kutu buku. Ya, Mai memang penyuka novel historical romance garis keras (hmm, mirip blogger buku terkenal itu XD). Sementara itu, Josh yang memiliki kemampuan yang mumpuni di bidang legal dan finance, telah tumbuh menjadi pria tampan yang—cukup disayangkan, sebenarnya—tidak ingin terikat komitmen. Playboy adalah julukan yang cocok baginya. Mereka berdua dipercaya oleh ayah masing-masing untuk mengerjakan sebuah proyek kolaborasi di Bali. Awalnya sih saya cukup yakin bahwa proyek kolaborasi tersebut adalah modus para ayah untuk mempersatukan kembali anak-anak mereka. Ternyata...

Terlepas dari masa lalu yang kurang menyenangkan di antara Josh dan Mai, keduanya menjalin kerjasama yang baik dan hubungan yang profesional. (Well, tadinya profesional. *senyum polos*). Proyek bisnis yang mereka kerjakan, walaupun terkadang menemui kendala, tapi secara keseluruhan berjalan dengan lancar berkat kerjasama dan komunikasi yang baik di antara mereka. Dan tak dapat dipungkiri, melalui kebersamaan yang terjalin tersebut pastilah ada sesuatu yang tumbuh (((TUMBUH))). Keduanya yakin dan sepakat bahwa mereka memiliki ketertarikan fisik dan uhukseksualuhuk terhadap satu sama lain. Josh dan Mai pun memutuskan untuk bermain api. Mereka menjalaninya dengan perjanjian bahwa tak boleh melibatkan perasaan sama sekali. Bila kelak salah satu di antara mereka jatuh cinta, maka itu adalah TYPO perasaan yang wajib dikoreksi. Tak boleh ada perasaan. Tak boleh ada cinta. Mampukah keduanya bertahan pada prinsip tersebut? (Spoiler: “Hmph!” *muka skeptis*)

Setelah cukup lama tak membaca karya Christian Simamora, saya dibuat kaget dengan banyaknya adegan panas di novel ini (dan saaangat detail thankyouverymuch). Yap, Typo adalah buku terpanas dari Christian Simamora yang saya baca sejauh ini. Mengapa saya membahas ini duluan? Sebab saya ingin menyampaikan kepada pembaca sekalian bahwa buku ini memang ditujukan untuk pembaca dewasa. Jadi, bila merasa belum cukup umur, tolong... tolong, abaikan buku ini. Tapi kalau pembaca sekalian merasa membaca novel semi porno di usia yang masih perlu bimbingan orang tua bukanlah masalah besar, yo wes monggo dibaca, saya ndak akan ngelarang juga. Hehehe.

Secar keseluruhan, membaca Typo adalah pengalaman yang mengasyikkan. Bukan karena adegan gulat ranjang dan kuda-kudaan yah, karena jujur saja saya men-skip banyak adegan panas di buku ini (makanya kelarnya cepet, LOL). Bukan karena nggak suka, tapi takut ujung-ujungnya malah nyari tisu. Kan dosa. #WOY #AkuAnakAlim #TolongPercayaSaja

Seperti biasa, saya menyukai gaya bercerita penulis yang blak-blakan, plus percakapan para tokoh yang berisi campuran bahasa Inggris dan Indonesia. Entah selera saya yang aneh atau gimana. Di buku sih, entah kenapa saya enjoy-enjoy saja dengan gaya bahasa gado-gado. Padahal kalau di dunia nyata, rasanya pengen nabok kalau ada orang ngomong kayak gitu. Kecuali Cinta Laura yes. Eke emang syuka gaya ngomong dese, terutama kalau dese lagi ngomong The Legendary U.B.O. (Ujyan Beycek Oyjek). Selain karena dese emang blasteran, dese juga cantik sih. Tuh gaes, orang cantik mah bebas ya, mau ngomong kumur-kumur kek, mau ngomong EYD kek, bebaaas. (Mulai ga fokus.)

Balik ke Typo. Seperti yang dikemukakan penulis di bagian awal novel, Typo mengambil pakem novel-novel historical romance. Yang berarti, kita akan berurusan dengan kisah cinta muter-muter, tarik-ulur, serta para tokoh yang sok ga butuh padahal pengen nyipok dan menganu lawan jenisnya. Membosankan? Surprisingly, no. Penulis sukses meracik aspek-aspek tadi dengan apik. Saya suka bagaimana penulis menyisipkan kisah masa lalu Josh dan Mai melalui berbagai adegan flashback yang berjalan paralel dengan kejadian di masa kini, membuat pembaca lebih memahami perasaan masing-masing tokoh dan berharap yang terbaik bagi mereka. Sudah tahu sih, ending-nya pasti mereka bakal jadian, tapi perjalanan menuju ke sana selalu menjadi kenikmatan tersendiri, terutama bila sajikan dengan baik.

Interaksi antara Josh dan Mai adalah bagian paling menarik di buku ini. Banyak adegan percakapan dan saling-goda yang sukses membuat saya tersenyum simpul. Mai yang kutu buku ternyata bisa juga menjadi nakal dan liar berkat daya tarik seksual yang menguar (tsah) dari diri Josh. Sementara Josh, untuk ukuran tokoh playboy, penampilannya di sini kok agak kurang nakal ya, mengingat nggak banyak diceritakan mengenai sepak terjangnya di dunia itu (itu apa hayo?) saat tidak sedang bersama Mai. Hmm, playboy alim. #eh

Novel ini diceritakan secara bergantian dari sudut pandang Mai dan Josh, sehingga pembaca dapat menyaksikan perkembangan karakter keduanya. Namun saya pribadi merasa penulis lebih menonjolkan karakter Mai. Ini membuat saya berpikir penulis agak pilih kasih. Mai adalah semacam tokoh utama nomor 1, sementara Josh adalah tokoh utama nomor 2. Padahal, saya mengharapkan karakter Josh sama menonjolnya dengan Mai. Atau... barangkali penulis sengaja membuat karakter Josh terkesan misterius, khususnya bagi pembaca perempuan? Mungkin.

Bicara soal tokoh, selain Josh dan Mai, ada banyak tokoh pendukung yang tak kalah menarik di novel ini. Terkhusus pembaca setia buku-buku karya Christian Simamora, dalam novelnya ini cukup banyak cameo dari buku-buku sebelumnya, mulai dari tokoh yang berinteraksi langsung dengan tokoh utama, maupun yang hanya disebutkan sambil lalu dalam narasi. Produk majalah, produk kecantikan, produk makanan, merk mobil mewah, yang seluruhnya adalah ciptaan penulis yang sebelumnya ada di serial yang lain, muncul juga di sini. Dipikir-pikir, universe yang dibangun penulis cukup besar juga ya. Tapi saya sih sudah lupa para cameo itu persisnya dari novel mana saja. Hehe. (Baca ulang ah). Tokoh pendukung yang paling menarik perhatian saya adalah Duchess, sahabat baik Mai yang seorang fashion blogger nyentrik. Ia memiliki karakter yang ajaib (seajaib apa, silakan baca sendiri bukunya), di mana sangat bertolak belakang dengan karakter Mai. Namun penulis berhasil membangun kemistri yang baik diantara keduanya sehingga membuat pembaca percaya bahwa mereka memang benar-benar sahabat. Pengen punya sahabat kayak Duchess. Mwahahahaha.

Rekues saya untuk penulis: Bang, tolong bikinkan cerita sendiri untuk Duchess dong. Karakter ini terlalu sayang jika hanya tampil sebagai tokoh pendukung di kisah cinta orang lain. T.T

Hal lain yang patut diapresiasi dari novel ini yaitu riset, khususnya mengenai cokelat dan manajemen perhotelan; dua hal yang tak terpisahkan dan menjadi bagian penting dalam novel ini. Tuh gaes, catet, novel ini tak hanya berisi adegan mesum ya. Hamparan cokelat dan produk olahannya yang bertebaran di novel ini berhasil membuat saya kepingin buru-buru ke indomaret untuk beli silverkuin saking pengennya makan cokelat (abaikan asam urat). Bagi pembaca awam, saya memperoleh cukup banyak pengetahuan baru seputar cokelat dan tetek bengek di bidang perhotelan.

Berlatar di Bali, penulis pengajak pembaca (melalui Josh dan Mai) mengunjungi beberapa lokasi eksotis di Pulau Dewata tersebut. Bagian jalan-jalan ini, walau tak memakan banyak halaman, namun memberi kesan tersediri bagi saya. Memang ini sangat subjektif terutama karena lokasi yang dikunjungi Josh dan Mai mengingatkan saya pada kunjungan saya ke Bali tertahun-tahun silam. Ah, novel ini membuat saya ingin kembali berkunjung ke sana, entah kapan dan bersama siapa. Siapapun, ajak eke ke Bali dong. XD

Bicara soal kekurangan, rasanya tak banyak yang bisa saya komplain dari novel ini, mengingat sebagian besar waktu yang saya habiskan bersama novel ini terasa menyenangkan—senyum terus broh. Absennya tokoh antagonis memang membuat konflik dalam novel ini terasa kurang greget. Dan bila kamu adalah pembaca novel-novel Christian Simamora, kamu akan mendapati bahwa gaya menulisnya ‘ya gitu-gitu aja’. Bagi sebagian orang mungkin akan terasa monoton. Kembali ke selera masing-masing ya, gaes. Kalau aku sih, syuka. Bila kamu pembaca dewasa yang ingin bacaan ringan yang bikin senyum-senyum sendiri (dan kipas-kipas kegerahan berkat adengan-adegan panasnya), Typo sangat saya rekomendasikan.


PS: Buat Abang, rikues eke yang tadi, Bang. Bikinin cerita sendiri buat Duchess, please. *puppy eyes*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back to top