Tampilkan postingan dengan label Nonfiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nonfiction. Tampilkan semua postingan

16 Mei 2015

Weird Things Customers Say in Bookshops - Jen Campbell

Judul: Weird Things Customers Say in Bookshops
Penulis: Jen Campbell
Penerbit: Constable and Robinson, 2012
Format: Ebook, 93 hlm

Sinopsis:
This Sunday Times Bestseller is a miscellany of hilarious and peculiar bookshop moments:
“Can books conduct electricity?”
“My children are just climbing your bookshelves—that's ok... isn't it?”

A John Cleese Twitter question ['What is your pet peeve?'], first sparked the 'Weird Things Customers Say in Bookshops' blog, which grew over three years into one bookseller's collection of ridiculous conversations on the shop floor.

From 'Did Beatrix Potter ever write a book about dinosaurs?' to the hunt for a paperback which could forecast the next year's weather; and from 'I've forgotten my glasses, please read me the first chapter' to'Excuse me... is this book edible?'

This full-length collection illustrated by the Brothers McLeod also includes top 'Weird Things' from bookshops around the world.

Miris. Itulah yang saya rasakan setelah membaca buku ini. Seharusnya ini adalah buku humor, tapi saya tak bisa menepis rasa prihatin yang melekat di benak saya. Saya sampai bertanya-tanya dalam hati, “Ini buku beneran berdasarkan kisah nyata?” Sebab… masa iya gitu lho, ada segitu banyaknya hal-hal aneh (tepatnya, bodoh) yang dikatakan para customer di toko buku? Kalau memang isi buku ini sesuai kenyataan dan nggak ada bagian yang dikarang-karang, maka lebih baik Abang buang saja Hayati di rawa-rawa, Bang. Hayati sudah nggak kuwat~ T.T

10 Mei 2015

The Naked Traveler #1 - Trinity

Judul: The Naked Traveler #1
Penulis: Trinity
Penerbit: C | publishing (PT Bentang Pustaka)
Cetakan: XVI, Oktober 2010
Tebal: 278 hlm
ISBN13: 9789792439366

Sinopsis:
Ada banyak kisah menarik yang dituturkan dengan gaya bahasa yang santai dan ringan oleh Trinity dalam buku ini. Lucu, sedih, mendebarkan, bahkan menyebalkan. Semua itu menjadi bumbu sedap dalam pengalamannya menjadi " Backpacker " yang melanglang buana ke berbagai tempat, baik di dalam maupun diluar negeri.

Membaca buku ini, kita akan memperoleh bermacam informasi tentang kebudayaan berbagai bangsa yang unik, tempat-tempat yang "harus" dikunjungi atau dihindari, serta tips dan trik saat travelling ke sebuah negeri. Pada akhirnya, setelah menutup buku ini, bisa jadi kita semakin mencintai negeri sendiri.

Happy Traveling!

Beberapa tahun lalu, saat pertama kali membaca buku ini, saya dibuat terkejut sekaligus kagum dengan buku ini. Dari pemilihan judulnya saja sudah sukses membuat saya melongo. Naked? Really? Teman sekantor ketika saya bertugas di Lombok dulu, Godwin, adalah penyuka aktifitas luar ruangan. Ia gemar jalan-jalan, naik gunung, dan berbagai aktifitas avonturir lainnya. Dialah yang meminjami saya buku ini, mengompori saya untuk lebih sering jalan-jalan ketimbang mengurung diri kamar saja. Saya memang jarang jalan-jalan, apalagi sendirian—saya lebih suka pergi berwisata dalam rombongan, itu pun kalau sedang mood.

14 Feb 2014

The Magical Worlds of The Lord of the Rings by David Colbert

Judul: The Magical Worlds of The Lord of the Rings (Dunia Ajaib The Lord of The Rings)
Penulis: David Colbert
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2006
Tebal: 193 hlm.
ISBN: 9789792219296
Sinopsis:
Siapa atau apakah sebenarnya Gandalf?
Apa yang paling disukai Tolkien dari Frodo?
Mengapa para Elf Tolkien begitu jangkung?
Mengapa Cermin Galadriel tak bisa dipercaya?

Karya-karya epik J.R.R. Tolkien telah memukau para pembaca selama lebih dari setengah abad. Middle-earth dan segala isinya merupakan dunia rekaan yang paling lengkap dan utuh dalam literatur, namun mitologi yang menjadi dasar penciptaannya masih tetap merupakan misteri bagi sebagian besar pembaca.

The Magical Worlds of The Lord of the Rings menjelaskan folklor serta legenda-legenda zaman dahulu kala yang menjadi inspirasi bagi karya-karya Tolkien. Mulai dari saga Finlandia, Kalevala, Shakespeare, Beowulf, dan lain-lainnya, buku ini merupakan panduan ringkas untuk memasuki dunia fantasi ciptaan Tolkien.

Tahun ini saya berencana membaca ulang seluruh karya Tolkien yang telah diterjemahkan di Indonesia, mulai dari The Hobbit hingga trilogi The Lord of The Rings (mungkin juga menonton ulang filmnya). Nah, untuk mempersiapkan perjalanan saya memasuki kembali dunia rekaan Tolkien (cieeh), saya memutuskan untuk membaca buku ini sebagai pengantar.

The Magical Worlds of The Lord of The Rings (Dunia Ajaib The Lord of The Rings) karya David Colbert ini berisi macam-macam pertanyaan (dan jawaban, tentunya) yang berhubungan dengan karya-karya Tolkien, misalnya: Apakah Bangsa Hobbit Percaya Tuhan? Berapa Banyakkah Bahasa Ciptaan Tolkien? Mengapa Umur Elf Begitu Panjang? Mengapa Frodo yang Menjadi Pembawa Cincin? dan pertanyaan-pertanyaan menarik lainnya yang berhubungan dengan The Hobbit maupun The Lord of The Rings.

26 Des 2013

Korea A to Z by Nancy Dinar

Korea A to Z by Nancy Dinar
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 188 hlm.
Sinopsis:
Kunci Anda mengenal Korea, luar dalam
Buku ini memuat segala sesuatu yang ingin Anda ketahui tentang Korea, baik untuk sekadar menambah pengetahuan, panduan memahami K-Drama, traveling, kuliah, bekerja, maupun bermigrasi.

Berbagai topik menarik seperti sejarah, tradisi, budaya, dan hal-hal mengejutkan yang tidak diketahui orang asing dibeberkan secara lugas di sini, antara lain:
- mengapa banyak orang Korea bunuh diri,
- merebaknya klinik operasi plastik di seluruh negeri,
- naik daunnya perekonomian dan K-wave,
- perlakuan orang Korea terhadap orang asing, dan
- nasib Tenaga Kerja Indonesia serta wanita Indonesia yang menikah dengan penduduk lokal lewat agen perjodohan internasional.

Sebagai orang yang menetap di Korea, Penulis bisa memberikan sontekan seru mengenai kehidupan sehari-hari berikut tantangan utamanya, seperti:
- cara jitu mengatasi musim dingin yang panjang dan parah,
- melahirkan tanpa kehadiran keluarga,
- mencari sekolah untuk anak-anak, serta
- cara mendidik anak-anak multikultur.

Jangan lewatkan info mengenai tempat yang menarik dan unik termasuk objek keajaiban alam, baik yang sudah diketahui secara luas maupun yang umumnya hanya diketahui penduduk lokal, juga referensi tempat shopping, perguruan tinggi dan universitas terkenal lengkap dengan persyaratan umum dan tawaran beasiswa, serta pembahasan mengenai kemungkinan bekerja dengan gaji tinggi atau menetap di Korea sebagai imigran.

Saya rasa deskripsi di atas udah cukup menjelaskan tentang buku ini. Tak banyak yang bisa saya komentari dari buku ini, sebab sebagian besar informasi dalam buku ini telah saya baca di internet maupun buku-buku lain yang sejenis. Yang membedakan buku ini dengan yang lain, adalah karena buku ini ditulis oleh orang Indonesia yang telah tinggal lama di Korea. Ada sentuhan personal di dalamnya, sebab diceritakan berdasarkan pengalaman pribadi penulis yang telah mengenal Korea luar-dalam, bahkan telah membina keluarga di Negeri Ginseng tersebut.

Beberapa bagian yang paling menarik perhatian saya adalah informasi tentang melahirkan tanpa kehadiran keluarga, cara mendidik anak multikultur, serta informasi tentang mencari sekolah yang cocok untuk anak. Begitu banyak aspek yang perlu dipertimbangkan untuk menyekolahkan anak (pastinya). Tapi khusus di Korea, ada beberapa informasi tambahan yang belum saya ketahui sebelumnya. Yang juga menarik untuk disimak adalah cara para guru menangani konflik antar murid agar tidak merembet menjadi konflik antar orang tua. Ya, bully-membully yang kerap muncul di film atau serial tv Korea memang sering terjadi lho.

Buku ini menarik, karena penulis pengajak membaca untuk melihat Korea dari sudut pandang masyarakatnya. Saya jadi paham bagaimana cara orang Korea memperlakukan orang asing. Beberapa informasi yang pernah saya baca di internet menyebutkan bahwa orang Korea memandang remeh para pendatang, terutama yang berasal dari Indonesia. Saya pikir pernyataan tersebut terlalu menuduh. Setelah membaca buku ini, saya jadi paham. Mereka, warga Korea, bukannya memandang remeh para pendatang, tapi lebih sebagai bentuk membentengi diri. Ada sejarah masa lalu yang teramat menyakitkan di balik itu semua. Sejarah apakah itu? Bacalah buku ini, dan rasa penasaranmu akan terjawab. :D

Hmm. Jadi semakin ingin jalan-jalan ke Korea.

28 Jun 2013

Shocking Korea: Sisi Lain Korea yang Mengejutkan by Junanto Herdiawan

Judul: Shocking Korea: Sisi Lain Korea yang Mengejutkan
Penulis: Junanto Herdiawan
Penerbit: B first, Maret 2013
Tebal: x + 166 hlm.
ISBN: 9786028864749
Rating: 3,5/5

Sinopsis:
Demam Korea benar-benar mewabah. Tapi jangan salah, di Korea, Anda tidak hanya bisa menjumpai kimchi yang membangkitkan selera, tetapi juga lokasi syuting drama Korea yang menguras air mata, bahkan salon kecantikan yang bisa menyulap para perempuan seperti barbie Asia.

Korea mampu mengajak Anda untuk terkaget-kaget tanpa henti. Cuma Korea yang bisa membuat Anda merasakan:

• Makan ayam yang hitam hingga ke tulang
• Ditangkap patroli gara-gara belajar lewat dari jam 10 malam
• Blusukan ala Gangnam Style
• Ikut tur yang mengancam nyawa
• Bertemu dengan putri duyung di Jeju

Penasaran kan? Selamat datang di dunia penuh kejutan ala Korea.

Judul bukunya provokatif ya? Saya pikir isinya akan benar-benar bikin syok. Ternyata tidak juga. Tadinya tulisan-tulisan dalam buku ini hanya berupa catatan-catatan harian penulis saat mengunjungi Korea untuk urusan pekerjaan. Hal-hal yang dianggapnya menarik atau unik, selain ditulis pada catatan harian, juga di-posting di blog publik seperti Kompasiana. Bagi yang awam tentang hal-hal yang berbau Korea Selatan (seperti saya), cerita-cerita dalam buku ini saya pikir cukup bermanfaat. Siapa tahu saya dikasih rezeki sehingga dapat mengunjungi negara itu suatu saat nanti. Hehe.

Buku ini dibagi menjadi empat bagian sesuai dengan tema yang ingin disampaikan penulis, di mana setiap tema terdiri dari beberapa cerita. Bagian pertama, Yummy... Yummy..., membahas kuliner Korea. Penulis membagi hal-hal yang ditemuinya terkait kuliner di Korea. Salah satu jenis makanan yang dibahas adalah Kimchi, menu wajib bagi masyarakat Korea. Bagi yang belum tahu apa itu Kimchi, Kimchi terbuat dari sawi putih yang difermentasi, kemudian diberi bubuk cabe merah. Deskripsinya sih begitu doang, saya tidak mengerti enaknya di bagian mana. Belum pernah nyoba soalnya, hehe. Yang jelas Kimchi ini wajib banget ada di meja makan. Orang Korea tidak bisa makan kalo tidak ada Kimchi. Bahkan, Kimchi memegang peranan penting dalam perekonomian Korea Selatan. Krisis Kimchi bisa berdampak pada krisi ekonomi loh. Selain Kimchi, penulis juga membahas tentang  Banchan, lalu jajanan kaki lima di Korea, budaya minum kopi di kalangan orang muda Korea, juga tentang ayam hitam, atau di Indonesia khususnya pulau Jawa disebut ayam cemani, lantaran warnanya hitam sebadan-badan. Di Indonesia sih, ayam kayak gini biasanya dipake buat sesajen. Tapi ternyata di Korea justru dijadikan hidangan yang sangat lezat. Ayam hitam juga bagus untuk kesehatan loh. Jadi pengen nyobain. :P

21 Mei 2012

Liaison Officer Forever by Melanie Subono

Penulis: Melanie Subono
Penerbit: Kaifa
Tahun Terbit: 2011
Tebal: 133 halaman
ISBN: 9786028994743
Harga: Rp. 50.000,-
Rating: 3/5

Liaison Officer Forever adalah sequel dari buku pertama Melanie Subono berjudul OUCH! Tak jauh berbeda dengan buku pertama, buku kedua ini masih berkisah tentang suka-duka (alias curhat) penulis tentang pekerjaannya sebagai Liaison Officer atau biasa disingkat LO, serta (masih) ditulis dengan gaya yang mengundang tawa.

Sekadar info bagi yang belum tahu atau yang belum membaca OUCH!: di setiap event (khusus dalam buku ini, konser musik artis mancanegara), LO-lah yang bertanggung jawab terhadap segala kebutuhan artis yang akan tampil dalam konser tersebut. Dimulai dari menjemput artis di bandara, mengantarnya ke hotel, serta memenuhi semua permintaan artis yang sebelumnya sudah dicatat dalam ‘kitab suci’ bernama Rider. Pokoknya tanggung jawab LO adalah sebisa mungkin membuat si artis merasa nyaman selama berada di Indonesia sampai dia pulang lagi ke negaranya. Singkat kata, LO adalah babu sekaligus babysitter sang artis. Seru? Iya. Menyenangkan? Tidak selalu.

Buku ini dibuka dengan bab berjudul SEDIKIT TENTANG BUKU OUCH! DULU, yang berisi beberapa tanggapan pembaca tentang buku tersebut. Ada yang bilang buku itu lucu, ada yang meragukan kebenaran ceritanya, juga ada yang menginspirasi pembaca untuk menjalani profesi LO seperti Melanie. Di bab berikutnya Melanie membahas lebih lanjut mengenai Rider, yang berisi daftar panjang permintaan artis. Ada yang wajar, ada pula yang tidak masuk akal, namun sepanjang masih bisa dipenuhi, pihak LO akan berusaha menyanggupinya.

Beberapa permintaan ‘unik’ sang artis dibahas di bab yang lain. Seunik apa? Nih, saya kutip langsung dari bukunya (hlm 13-14):
• Andrea Corrs (The Corrs)
PERMINTAAN: Semua bantal kamarnya jangan menggunakan bulu angsa, padahal itu justru jenis yang umumnya dipakai oleh hotel berbintang di mana pun.
ALASANNYA: Ternyata dia alergi.
HASILNYA: Kita kabulkanlah yaaaaaa, karena gue juga gak mau ngeliat artis gue cakep-cakep, tapi mendadak bengek karena alergi pas mau manggung.
• Forever The Sickest Kids
PERMINTAAN: Menu (makanan) spesifik pada Rider mereka.
ALASANNYA: Ternyata, sebagaian besar dari mereka adalah vegetarian murni, sehingga tidak misa memakan daging sama sekali.
HASILNYA: Dikabulkan.
KALAU DITANYA: Apakah itu gado-gado? (baca: geido geido), kita jawab saja: It’s Indonesian Salad, you know…
• Mariah Carey (Lageee) <-- (tambahan dari saya sendiri: 'lagi', karena Mariah Carey-lah yang menjadi bintang utama di buku OUCH!, artis dengan permintaan aneh-aneh)
PERMINTAAN: Disiapkan segerombolan orang di tempat-tempat yang akan dilewatinya, berdiri sambil membawa spanduk yang ada nama dia, untuk mengelu-elukan dia.
ALASANNYA: Penyakit Psikologis Mariahis Kronis. (asli, Melanie ngarang abis, tapi saya cuma bisa ngakak)
HASILNYA: Ya kaleee, mau dilawan????
Tidak hanya artisnya yang punya kelakuan aneh. Manajer artisnya pun ada yang kelakuannya bikin jengkel. Saat membaca bagian tersebut, saya jadi ikut-ikutan jengkel.

Membaca buku ini membuka mata kita tentang bagaimana rempongnya jadi seorang LO yang harus mengurusi semua kebutuhan sang artis. Namun, terlepas dari kelakuan para artis yang terkadang aneh-aneh, kemampuan bermusik mereka memang luar biasa, mereka memang penghibur sejati. Buat kamu yang suka tantangan dan mungkin berminat jadi LO, Melanie membagai cukup banyak pengalaman lewat bukunya ini, harus kamu baca deh. Isinya tidak melulu menceritakan ‘keburukan’ sang artis kok. Kamu akan menemukan beberapa istilah teknis yang wajib diketahui oleh para LO, dimana Melanie memberi penjelasannya pada bab sendiri.

Yang menjadi nilai minus dari buku ini adalah typo yang banyak. Tak sekadar banyak, tapi banyaaaak banget. Layoutnya juga berantakan. Seperti komentar banyak orang, buku ini kayak draft, masih perlu dipoles sana-sini. Apa mungkin buku ini dikerjakan secara terburu-buru? Penggunaan background warna pada halaman-halaman buku ini juga terkadang bikin mata saya sakit. Terakhir, untuk ukuran buku yang hanya setebal 130 halaman, harganya kelewat mahal! Rp 50.000,- untuk buku tipis begini? Haduh… *mendesah sambil elus-elus dompet*

Meski banyak kekurangan, buku ini membuat saya terhibur, terutama oleh cara Melanie bercerita. Dan ternyata, artis-artis yang kita elu-elukan itu cuma manusia biasa. Kelakuan mereka ya kayak kita-kita juga, kadang malah lebih parah. Fakta ini agak mengecilkan jarak antara kita dengan mereka. :)

3/5 bintang.

Sekarang giliran saya yang curhat:
1. Hiks, gara-gara sibuk ujian, banyak buku yang telat direview.
2. Buku ini saya baca di sela-sela menikmati New Moon. Tapi karena tipisnya, buku ini malah kelar duluan. :P