19 Mei 2013

Harry Potter and the Goblet of Fire (Harry Potter dan Piala Api) by J.K. Rowling

Judul: Harry Potter and the Goblet of Fire (Harry Potter dan Piala Api)
Seri: Harry Potter #4
Penulis: J.K. Rowling
Penerjemah: Listiana Srisanti
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008 (Cetakan XX)
Tebal: 896 hlm.
ISBN: 9789796558537
Rating: 5/5

Sinopsis:
TAHUN ini akan berlangsung Piala Dunia Quidditch. Harry ingin sekali menontonnya, tetapi akankah keluarga Dursley menginzinkannya? Tahun ini Hogwarts juga akan menjadi tuan rumah turnamen sihir yang sudah lebih dari seratus tahun tak pernah diadakan. Tahun ini, Harry yang beranjak remaja, juga mulai naksir cewek. Siapakah cewek beruntung yang kejatuhan cinta penyihir dan Seeker beken ini? Tapi tak semua yang dialami Harry peristiwa hura-hura. Karena mendadak bekas luka di keningnya terasa sakit sekali. Dan di langit malam, muncul Tanda Kegelapan, tanda yang menyatakan bangkitnya Lord Voldemort. Dan itu baru permulaan.

Wujud Lord Voldemort akan kembali sempurna bila dia berhasil mendapatkan darah musuh besarnya, Harry Potter. Dan dengan bantuan abdinya yang setia, Lord Voldemort menculik Harry.

Akhirnya, untuk pertama kalinya selama tiga belas tahun. Harry berhadapan langsung dengan musuh besarya. Dan tak terhindarkan lagi, keduanya berduel...

Tahun ini dunia sihir sedang bersuka-ria atas diselenggarakannya Piala Dunia Quidditch: Bulgaria versus Irlandia! Harry Potter pastinya ingin sekali menonton pertandingan akbar tersebut. Sayangnya kegembiraan pasca Piala Dunia Quidditch tak berlangsung lama, sebab para Pelahap Maut, yaitu geng abdi setia Lord Voldemort datang mengacau. Apalagi tak lama kemudian muncul Tanda Kegelapan di langit malam, sebuah tanda milik Lord Voldemor. Benarkah penyihir kegelapan itu akan segera bangkit? Ataukah itu hanya ancaman kosong?

Di tahun keempat ini di Hogwarts pun tak kalah hebohnya. Sekolah sihir tersebut akan menjadi tuan rumah turnamen sihir Triwizard yang sudah lebih dari seratus tahun tidak pernah diadakan. Turnamen tersebut akan diikuti oleh perwakilan dari tiga sekolah sihir, yaitu Beauxbatons, Durmstrang, dan Hogwarts sendiri. Para peserta turnamen dipilih dengan menggunakan Piala Api. Hanya murid yang berusia tujuh belas tahun ke atas yang boleh memasukkan nama mereka untuk menjadi peserta. Akhirnya, Piala Api memilih Fleur Delacour dari Beauxbatons, Viktor Krum dari Durmstrang, dan Edward Cullen Cedric Diggory dari Hogwarts. Seharusnya Piala Api hanya memilih satu peserta dari masing-masing sekolah. Akan tetapi, ternyata sang piala memilih seorang lagi: Harry Potter.

Orang-orang curiga Harry telah memasukkan namanya sendiri (atau menyuruh orang lain melakukannya). Setelah dikonfirmasi, Harry membantah hal tersebut. Dia jelas tidak ingin ikut serta dalam turnamen berbahaya itu. Siapapun yang memasukkan nama Harry, jelas ingin agar Harry Potter ikut terlibat dalam turnamen tersebut, sebab peraturan turnamen Triwizard mengharuskan semua peserta yang sudah dipilih oleh Piala Api wajib berpartisipasi, karena mereka telah terikat kontrak secara sihir. Maka mau tak mau, Harry Potter terpaksa ikut serta.


Maka dimulailah pertandingan adu ketangkasan dan kecakapan sihir di antara para perserta turnamen. Mulai dari mengambil telur emas yang dijaga naga-naga ganas, menyelamatkan teman yang ditawan oleh para penghuni bawah air, hingga melewati maze yang dipenuhi rintangan sihir dan makhluk-makhluk berbahaya untuk menemukan Piala Triwizard.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Hogwarts kedatangan guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang baru, Profesor Mad-Eye Moody. Guru pertampang nyentrik ini dulunya adalah seorang Auror (Auror dibentuk oleh Kementerian Sihir untuk menangkap para Pelahap Maut maupun para penyihir hitam yang berbuat kejahatan terhadap sesama penyihir atau pun Muggle). Moody memiliki bola mata yang bisa melihat ke segala arah, dapat melihat menembus dinding, bahkan menembus jubah gaib! Meski bertampang nyentrik dan berperangai kasar, Moody sedikit-banyak membantu Harry Potter untuk mempersiapkan diri menjalani tugas turnamen Triwizard.

Namun persistiwa yang dialami Harry Potter selama di Hogwarts tidak melulu tentang mengejarkan tugas sekolah dan memikirkan cara melewati tantangan di turnamen Triwizard, sebab kini bekas luka berbentuk sambaran petir di keningnya makin sering sakit. Wajarkah bekas luka sihir kembali terasa nyeri padahal sudah sembuh setelah sekian lama? Ataukah hal tersebut ada hubungannya dengan kebangkitan Lord Voldemort, yang dulu memberi bekas luka tersebut pada Harry? Bisa jadi demikian. Sebab selain bekas lukanya yang mendadak sakit lagi, ia juga dihantui mimpi buruk… yang Harry sendiri ragu apakah itu benar hanya mimpi ataukah kejadian nyata.

Sangat wajar bila Harry Potter dan Piala Api disebut-sebut sebagai buku terbaik dari keseluruhan saga Harry Potter. Dalam buku setebal hampir sembilan ratus halaman ini, J.K. Rowling memasukkan banyak unsur yang menjadikan buku ini begitu kaya. Dalam Piala Dunia Quidditch, misalnya, pembaca dapat ikut merasakan kegaiarahan saat menjelang piala dunia. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh para penyihir untuk menonton pertandingan tersebut amat menarik untuk disimak. Salah satu contoh adalah saat hendak menuju lokasi pertandingan, Mr. Weasley dan rombongannya menggunakan portkey. Portkey adalah benda biasa (apa saja, yang tidak menarik perhatian para Muggle—warga non-sihir) yang sudah disihir sehingga bisa men-teleportasi para penyihir dari satu tempat ke tempat yang lain. Sepintas hal ini hanyalah salah satu dari imajinasi Rowling untuk menyenangkan pembaca. Siapa yang menyangka bahwa portkey ternyata berperan sangat besar saat mendekati klimaks cerita? #okenospoiler

Event turnamen Triwizard sendiri memberi banyak informasi menarik bagi para penggemar dunia rekaan J.K. Rowling ini. Bahwa ternyata Hogwarts bukan satu-satunya sekolah sihir di Eropa. Ada banyak sekolah sihir lain di luar sana, dan di antaranya adalah Durmstrang dari (kemungkinan besar sih) Bulgaria, yang khusus mendidik penyihir laki-laki, dan Beauxbatons dari Perancis, yang adalah sekolah sihir khusus penyihir perempuan. Deskripsi mengenai kedatangan Durmstrang dan Beauxbantons ke Hogwarts pun menginformasikan bahwa transportasi sihir tak hanya dilakukan melalui sapu terbang, bubuk floo, portkey, mobil terbang (Harry Potter 2), ataupun Bus Ksatria (Harry Potter 3) tetapi juga bisa melalui kapal bawah air (bukan selam lho), dan kereta terbang yang ditarik oleh kuda-kuda bersayap. Wow!

Dalam buku ini juga banyak ditemui mantera-mantera dan kutukan-kutukan baru. Di antaranya adalah tiga jenis Kutukan Tak Termaafkan, yang bila digunakan kepada manusia, dapat membuat penggunanya langsung dikirim ke penjara sihir Azkaban. Tiga jenis Kutukan Tak Termaafkan tersebut adalah Crucio (untuk menyiksa), Imperio (mengendalikan seseorang), dan yang paling populer, yaitu Avada Kedavra. Kutukan terkahir tersebut dapat langsung membunuh seseorang, bahkan sebelum orang tersebut jatuh menyentuh tanah. Dalam sejarah dunia sihir, hanya satu orang yang diketahui selamat dari kutukan maut tersebut, yang tidak lain Harry Potter sendiri. Quick info, orang tua Neville disiksa sampai gila dengan mantera Crucio, itulah mengapa selama ini Neville tinggal bersama neneknya. Dari sekian banyak mantera ajaib hasil imajinasi J.K. Rowling, saya sangat tertarik pada satu mantera yang menurut saya akan sangat berguna bila memang benar-benar bisa dilakukan di dunia nyata: Mantera Pemanggil. Menurut saya mantera tersebut berguna sekali bagi orang pelupa macam saya, hehe. Bagaimana tidak, hanya dengan menerikkan “Accio dompet!” atau “Accio hape!” maka dompet maupun hape saya yang ketinggalan di rumah bisa datang sendiri ke saya. Asyiknya… :))


Seperti buku-buku sebelumnya, salah satu aspek menarik dalam seri Harry Potter adalah karakter-karakternya. Ada BANYAK SEKALI karakter baru dalam buku ini. Dan semuanya menarik. Sebut saja Bill dan Charlie Weasley (akhirnya muncul juga dua kakak Ron ini); Edward Cullen Cedric Diggory yang berkilau ramah dan rendah hati (Hufflepuff banget) dan Amos Diggory (ayah Cedric yang kelewat bangga pada anaknya); si nyentrik Mad-Eye Moody; Mr. Bagman dan Mr. Crouch (orang penting dari Kementerian Sihir yang ternyata punya motivasi terselubung); Winky si peri rumah yang galau di sepanjang buku gara-gara dibebaskan oleh tuannya (padahal Dobby asyik-asyik aja tuh dibebaskan—secara tak sengaja—oleh ayah Draco Malfoy); Madame Maxime (wanita setengah raksasa yang juga kepala sekolah Beauxbatons. Hagrid tergila-gila padanya. Untungnya Hagrid nggak bertepuk sebelah tangan, yey!) dan Igor Karkaroff (kepala sekolah Durmstrang yang punya masa lalu kelam); Fleur Delacour yang anggun idaman para lelaki <3 <3 <3 ; Viktor Krum yang macho bin gagah perkasa idaman para wanita (siapa sih dia? Cuma murid Durmstrang yang kebetulan juga seorang seeker beken dari tim quidditch Bulgaria yang baru-baru ini ikut bertanding di piala dunia kok. Bisa-bisanya Hermione naksir dia. Huh! #siriktandatakmampu); juga Rita Skeeter. Wah, karakter ini bisa jadi adalah karakter paling dibenci nomor satu di buku keempat. Kemunculannya membuat saya jadi nggak terlalu sebal pada keluarga Dursley, atau Snape. Rita Skeeter adalah wartawati dari harian Daily Prophet yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan informasi. Tulisannya pedas, kejam, dan penuh sindiran. Bahkan Profesor Dumbledore pun tak luput dari kritik pedas wartawati ini. Momen paling nyesek adalah ketika ia mewawancarai Harry, sampai-sampai saya jadi kepingin meng-Crucio perempuan ini.

Secara keseluruhan, saya sangat puas membaca (ulang) Harry Potter dan Piala Api. Ceritanya seru, menegangkan, lucu, namun terkadang memilukan. Dan saya setuju bila orang-orang berpendapat Harry Potter dan Piala Api adalah buku Harry Potter terbaik. Tapi buat saya, buku ini terbaik nomor dua, terbaik nomor satu adalah Harry Potter dan Tawanan Azkaban. Alasannya memang subjektif ya (saya menceritakannya di sini). Namun sangat wajar bila Harry Potter dan Piala Api disebut sebagai seri terbaik, karena selain berisi hal-hal yang saya bahas sebelumnya di atas (itu belum semuanya lho), buku ini juga memuat informasi penting mulai buku pertama hingga buku ketiga, juga berisi clue-clue untuk buku-buku selanjutnya. Saya pikir, turnamen Triwizard berperan besar dalam meningkatkan kecakapan sihir Harry, terutama karena akhirnya ia berhadapan langsung dengan Lord Voldemort. Yang belum baca buku ini, buruan baca. Seru banget!

Oh ya, saya punya satu pertanyaan sebelum mengakhiri review ini. Bagi yang sudah baca, saya minta pendapatnya dong. Pada tugas pertama Triwizard, yaitu mengambil telur emas yang dijaga naga ganas, kenapa Harry nggak langsung meng-accio telur emas, justru malah meng-accio Firebolt? Apakah yang melewatkan penjelasan mengeni hal ini?


Image source:
Fleur, Harry, Viktor, Edward Cullen, edited by me.

Postingan ini untuk reading event dan reading challenge berikut:

2 komentar:

  1. Itu kenapa ada Edward Cullen si lampu disko?? Hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha. itu buat lucu-lucuan aja, kakak... :D

      Hapus

Back to top