10 Agt 2012

20, 30, 40 (Club Camilan 2) by Jaqueline Brahms, Rara Pramesti, Cenila Krena

Judul Buku: 20, 30, 40 (Club Camilan 2)
Penulis: Jaqueline Brahms, Rara Pramesti, Cenila Krena
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2012
Tebal: 376 halaman
ISBN: 9789792282306
Rate: 4/5


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
20, 30, 40. Angka tersebut tercetak besar-besar pada sampul depan novel metropop ini. Mungkin ada pembaca yang bertanya apa makna dari angka-angka itu? Jika kita membalik buku ini dan membaca sinopsis pada sampul belakang, jawabannya ada di sana. Angka-angka itu adalah umur, yang mewakili usia dari masing-masing penulis yang juga tokoh utama dalam buku ini. Wait… WHAT? Penulis sekaligus tokoh utama?

Yep, kamu tidak salah baca kok. Jika kamu pernah membaca Club Camilan yang pertama, maka kamu pasti tahu bahwa buku tersebut ditulis berdasarkan kisah nyata para penulisnya, yang tentu saja ditambahi bumbu-bumbu. Bisa jadi bumbunya banyak. Mungkin juga ending setiap kisahnya tak sama dengan dunia nyata. Kita hanya diminta untuk mendengar mereka bercerita tentang dunia mereka. Dunia yang tak semua orang mampu menerima dengan lapang dada. Sebuah dunia bernama lesbian.

20, 30, 40 terdiri tiga novela yang ditulis oleh tiga perempuan beda usia. Perempuan pertama adalah Jaqs, mahasiswi berusia 20-an yang santai dalam menjalani hidup. Sebagai seorang lesbian, Jaqs cukup gampang jatuh cinta. Dan bila sudah jatuh cinta, ia akan melakukan berbagai cara yang paling wajar untuk mendapatkan perhatian perempuan yang ia taksir, seolah kehidupan cintanya tak berbeda dengan manusia hetero lainnya. Ada cinta yang datang, ada cinta yang harus rela dilepas. Jaqs menyikapi semuanya dengan santai. Hingga akhirnya ia bertemu dengan cinta sejatinya. Siapakah perempuan beruntung itu? :)

Perempuan kedua adalah Rara. Berusia 30-an, seorang psikolog yang bekerja di sebuah LSM yang berjuang membela hak-hak perempuan. Memiliki masa lalu yang suram di mana ia nyaris menjadi korban perkosaan ketika masih remaja, juga harus menyaksikan orang yang dikasihinya diperlakukan secara biadab. Namun bukan itu yang membuatnya menjadi lesbian. Rara tahu dirinya lesbi sejak bertemu dengan cinta pertamanya, seorang perempuan bernama Eki. Tapi takdir memisahkan mereka. Rara akhirnya menjalani hidupnya tanpa Eki, sambil berusaha menjadi perempuan yang mencintai lelaki. Raffa, pria yang begitu tulus mencintainya akhirnya melamarnya. Di saat yang sama takdir kembali mempertemukan Rara dengan Eki. Apakah Rara akan menerima lamaran Raffa? Ataukah ia lebih memilih satu-satunya perempuan yang pernah mengisi hatinya?

Pencerita ketiga adalah Cenila, perempuan berusia 40 tahun, wanita karir yang cukup sukses. Setelah bercerai dengan suaminya, ia menjalani hidup bersama Ferro, didampingi kedua anaknya yang sangat ia cintai. Namun Ferro kemudian berselingkuh, membuat Cenila terluka amat dalam. Mesti mengaku khilaf dan terus berusaha memberbaiki hubungannya dengan Cenila, Ferro rupanya terlanjur membuat hati Cenila beku, sehingga kata maaf rasanya sulit diberikan. Di waktu yang lain, seseorang menawarkan cinta yang baru kepada Cenila. Cinta yang sama besarnya dengan yang pernah Ferro berikan. Cenila menerimanya. Namun, hal itu justru membuat Cenila teringat pada Ferro, perempuan yang pernah mengisi hatinya. Yang pernah ia cintai, yang begitu ia benci.

Sekali lagi Club Camilan menyapa para pembaca lewat kisah para perempuan yang mencintai perempuan. Sama seperti pendahulunya, dalam buku ini kita akan menemukan kalimat-kalimat yang ditulis dengan begitu kuat dan memikat. Membaca buku ini menjadi pengalaman baru yang tak hanya menambah wawasan, tapi juga memperkaya kita dengan referensi cinta yang berbeda.

Ditulis oleh tiga orang yang berbeda usia hingga tahapan dekade, pembaca akan merasakan dengan jelas perbedaan gaya bercerita, serta suasana cerita yang berbeda pula. Jaqs, yang paling muda, berkisah dengan gaya yang santai dan mengalir, terkadang diselingi humor-humor segar yang mengajak pembaca tertawa bersama. Bersama Jaqs, kita seperti mendengar seorang teman bercita dengan akrab. Sesekali saya rasanya ingin menjitak jidat perempuan ini karena celutukannya yang bikin gemas.

Lain lagi dengan Rara. Kita akan menemukan drama yang membikin sesak dada. Mendengar (atau tepatnya, membaca) jeritan hati Rara, saya jadi ingin merangkul perempuan ini. Tak perlu kata-kata manis demi maksud menghibur. Hanya merangkul, dan bertahan bersamanya sampai segala kesedihannya lenyap, atau setidaknya, berkurang.

Sementara Cenila, saya dibuat kagum oleh wanita ini. Ia sangat tegar dalam menghadapi semua masalahnya. Menjaga dan melindungi anak-anaknya, menata hatinya yang jungkir balik karena pengkhianatan orang yang ia cintai, berhati-hati dalam menerima cinta yang baru, sambil tetap mengurusi segala bisnisnya. Untuk Cenila,  saya cuma bisa bilang: WOW!

Yang membedakan buku ini dengan buku pertama, pada buku pertama kita menyaksikan para pencerita bertemu. Mereka duduk bersama, membahas cerita yang sedang dan mereka bagi pada pembaca, sambil menikmati camilan dengan ditemani sepoci kopi. Di buku kedua ini saya sebenarnya berharap ada adegan yang sama, atau setidaknya, ada benang merah yang mempertemukan/mengaitkan ketiga penulis buku ini. Tapi ternyata tidak ada. Buku ini seperti ditulis oleh tiga orang yang tak mengenal satu sama lain. Jadi apa makna dari kata ‘Club Camilan’ yang bertengger pada sampul buku ini? Saya tak tahu. Mungkinkah perbedaan usia yang menyentuh dekade membuat ketiganya tak ingin terlihat karib di mata pembaca? Saya rasa tidak juga. Pada akhirnya, walau buku ini masih memajang judul ‘Club Camilan’, saya tidak merasa adanya suasana club/perkumpulan/persaudaraan/geng/grup atau apalah itu namanya, di buku ini.

Secara keseluruhan novel metropop ini sangat menarik kok, terutama karena ditulis dengan bahasa yang baik. Rangkaian kalimat dalam novel metropop ini bisa dijadikan referensi bagi teman-teman yang sedang belajar menulis fiksi (juga nonfiksi). Dan meski saya tak tahu persis apakah kisah dalam buku ini adalah nyata, nyata yang dibumbui, atau bukan kisah nyata sama sekali, saya tetap menyukainya. 4/5 bintang untuk kisah cinta yang tidak biasa ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Back to top