7 Jun 2012

My Sister's Keeper (Penyelamat Kakakku) by Jodi Picoult

Judul: My Sister's Keeper (Penyelamat Kakakku)
Penulis: Jodi Picoult
Penerjemah: Hetih Rusli
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007
Tebal: 528 hlm.
ISBN: 9789792233995
Rating: 3/5

Sinopsis:
Beberapa jam setelah Anna lahir, ia sudah menyumbangkan sel darah tali pusat untuk kakaknya, Kate. Setelah itu Anna menjalani puluhan operasi, transfusi darah, dan suntikan agar Kate bisa melawan leukemia yang sudah dideritanya sejak kanak-kanak. Memang, untuk tujuan menyelamatkan hidup Kate-lah, Anna dilahirkan. Dan saat ini, ibunya meminta Anna menyumbangkan ginjalnya untuk Kate yang nyaris sekarat.

Menginjak usia remaja, Anna kini mulai berani mempertanyakan tujuan hidupnya.... Sampai kapan dia harus terus menjadi penyuplai kebutuhan kakaknya? Hingga akhirnya dia mengambil keputusan untuk menggugat orangtuanya agar memperoleh hak atas tubuhnya sendiri. Keputusan yang membuat keluarganya terpecah dan mungkin berakibat fatal untuk kakak yang teramat disayanginya....

Jika kau menggunakan cara yang salah secara moral untuk menyelamatkan hidup anakmu, apakah itu menjadikanmu ibu yang buruk?

Anna Fitzgerald, 13 tahun, menggugat orang tuanya atas hak medis terhadap tubuhnya sendiri. Selama bertahun-tahun Anna menjadi pendonor tunggal bagi Kate, kakaknya perempuannya yang menderita sejenis leukemia langka sejak masih kanak-kanak.

Kate pertama kali didiagnosis menderita leukemia APL pada umur dua tahun. Untuk menjaga Kate tetap hidup, dibutuhkan pendonor (darah dan sumsum tulang belakang) yang memiliki kesamaan genetik sempurna dengan Kate. Sayangnya baik orang tua maupun kakak laki-laki Kate tidak bisa menjadi pendonor sebab tidak memiliki tingkat kecocokan yang tinggi. Berkat kemajuan ilmu kedokteran, maka ‘dibuatlah’ Anna, anak ketiga yang bakal menjadi pendonor sempurna bagi Kate. Seberapa jam setelah lahir, Anna sudah mendonorkan tali pusarnya untuk Kate. Setelah itu Anna menjadi pendonor tetap bagi kate, menjalani puluhan suntikan untuk pengambilan sumsum tulang belakang, dan juga menjalani berkali-kali transfusi darah.

Kini, darah dan sumsum tulang belakang Anna saja tidak cukup, sebab berbagai pengobatan yang dijalani Kate akhirnya membuat ginjalnya tak lagi berfungsi dengan baik. Seperti yang sudah-sudah, kali ini Anna diminta untuk menyerahkan ginjalnya. Di luar dugaan, gadis itu menolak. Anna yang sudah beranjak remaja mulai mempertanyakan eksistensinya di dunia. Sampai kapan ia harus hidup seperti ini? Sampai kapan ia harus menjadi penyelamat kakaknya? Jika Kate tidak pernah sakit, apakah ia takkan pernah ada di dunia ini? Dan kalau kate meninggal, apakah itu berarti ia sudah tidak dibutuhkan lagi?

3 Jun 2012

Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela by Tetsuko Kuroyanagi


Penulis: Tetsuko Kuroyanagi
Penerjemah: Widya Kirana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2007 (Juni, Cetakan XIII)
Tebal: 272 Halaman
ISBN: 9789792236552
Harga: Rp. 50.000,-
Rating: 5/5

Ia lari ke tempat Mama menunggu sambil berteriak, “Aku ingin jadi penjual karcis!”

Mama tidak kaget. Dia hanya berkata, “Kukira kau ingin jadi mata-mata.”


Padahal Totto-chan baru kelas satu sekolah dasar, namun ia sudah dikeluarkan. Ibu Guru bilang pada Mama bahwa ia adalah anak nakal. Benarkah Totto-chan anak yang nakal? Sebenarnya tidak begitu. Totto-chan hanyalah anak yang punya rasa ingin tahu yang besar. Dan itulah sebabnya ia suka berdiri di dekat jendela selama pelajaran berlangsung, menanti pemusik jalanan lewat, kemudian memanggil mereka dan meminta mereka bernyanyi karena Totto-chan sangat suka mendengarkan musik. Kadang gadis cilik itu terlihat bercakap-cakap seorang diri di jendela. Karena penasaran, Ibu Guru mendatangi Totto-chan untuk melihat kepada siapa gadis cilik itu bicara. Sungguh mengherankan, sebab yang diajak bicara olehnya adalah sepasang burung walet yang sedang membuat sarang di bawah atap! Totto-chan juga suka membuka dan menutup mejanya berulang-ulang, memasukkan dan mengeluarkan alat-alat tulisnya dari meja terus-menerus sampai Ibu Guru merasa jengkel. Dan masih banyak hal lain yang dilakukan oleh Totto-chan yang membuat Ibu Guru kehabisan akal, karena beliau tak biasa menghadapi anak kecil yang kelewat aktif seperti Totto-chan. Akhirnya gadis kecil itu pun dikeluarkan dari sekolah, dan Mama hanya bisa memaklumi keputusan tersebut.

Mama pun mendaftarkan Totto-chan ke Tomoe Gakuen. Karena tak ingin melukai perasaan Totto-chan, maka Mama tidak bilang padanya bahwa ia dikeluarkan. Mama hanya bilang bahwa ia akan pindah sekolah. Kelak saat Totto-chan dewasa, Mama akan memberi tahu alasan yang sebenarnya.

Totto-chan senang sekali begitu melihat sekolah barunya. Sekolah itu unik, karena kelasnya terdiri dari gerbong-gerbong kereta yang sudah tidak dipakai lagi dan halamannya dipenuhi bunga-bunga yang indah. Pintu gerbang sekolahnya adalah dua batang kayu yang ditumbuhi daun dan ranting! Tadinya Mama sempat khawatir kalau-kalau sekolah itu tidak akan menerima Totto-chan yang dicap “nakal” di sekolah lamanya. Tapi ternyata Kepala Sekolah adalah orang yang ramah dan ia memahami anak-anak seperti Totto-chan. Totto-chan dipanggil ke ruang Kepala Sekolah, sementara Mama disuruh pulang saja. Totto-chan diminta oleh Kepala Sekolah untuk bercerita apa saja yang ia mau. Mendengar hal itu, Totto-chan merasa heran sekaligus senang, sebab ia belum pernah disuruh bercerita tentang apa saja yang ia mau, terlebih lagi ada orang yang mau mendengarkannya, selama empat jam penuh! Begitulah, Totto-chan akhirnya diterima di sekolah itu.

Sistem pendidikan di Tomoe Gakuen sangat berbeda dengan sekolah konvensional lainnya. Di sana, murid-murid boleh mengubah urutan pelajaran sesuai dengan minat mereka. Ada yang memulai dengan belajar fisika, ada yang memilih menggambar, ada yang ingin belajar bahasa dulu, pokoknya bebas. Tak jarang pula kepala sekolah mengajak jalan-jalan para murid sambil menjelaskan apa saja yang mereka lihat saat jalan-jalan. Tanpa disadari oleh para murid, mereka telah belajar banyak hal, dengan cara yang sangat menyenangkan. Belum pernah Totto-chan merasa segirang ini saat bersekolah. Ia merasa kerasan di Tomoe Gakuen. Selain karena cara belajarnya menyenangkan, ia juga punya banyak teman dan Kepala Sekolah yang sayang pada semua murid. Totto-chan yang tadinya dianggap nakal ternyata adalah anak yang baik. Hal ini terlihat dari betapa ia sangat menyayangi teman-temannya, yang beberapa di mereka memiliki cacat fisik.

Hal menarik apa saja yang dialami Totto-can selama bersekolah di Tomoe Gakuen? Baca selengkapnya dalam Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela.

---o---

Jika baca bareng GRI yang saya review sebelumnya adalah fiksi berlatar Asia, maka review kali ini adalah nonfiksi berlatar Asia, dan bacaan yang saya pilih adalah Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela. Ya, Totto-chan adalah sebuah buku nonfiksi. :)

Buku ini adalah kisah nyata sang penulis sendiri, Tetsuko Kuroyanagi yang semasa kecil dipanggil dengan nama Totto-chan. Sekolah Tomoe Gakuen, Kepala Sekolah Sosaku Kobayashi, dan semua peristiwa yang diceritakan dalam buku ini adalah nyata (yeah, termasuk kisah konyol saat Totto-chan jatuh ke lubang kakus! Hehehe). Lewat buku ini, penulis ingin membagi pengalaman masa kecilnya saat menjalani sistem pendidikan yang berbeda dari sekolah-sekolah lain, yang dirancang sendiri oleh Kepala Sekolah. Meski saat itu tak sedikit orang tua yang tak menyukai sistem pendidikan di Tomoe Gakuen, tapi Tetsuko Kuroyanagi bisa membuktikan pada seluruh warga Jepang bahwa sistem tersebut berhasil menjadikannya pribadi yang jauh lebih baik. Mungkin, seandainya saat itu Mama tidak menyekolahkannya di Tomoe Gakuen, Totto-chan kecil akan tumbuh sebagai anak yang terus dianggap nakal dan menjadi pribadi yang rendah diri. Di Jepang, buku ini dibaca sebagai buku wajib pendidikan.

Salah satu kisah favorit saya di buku ini adalah ketika Totto-chan pergi mewakili sekolahnya untuk bergabung bersama murid dari sekolah-sekolah lain untuk mengunjungi rumah sakit tempat para prajurit korban perang dirawat (saat itu Perang Pasifik sudah pecah). Di sebuah bangsal, murid-murid diminta bernyanyi bersama untuk menghibur para serdadu yang terluka. Saat anak-anak mulai bernyanyi, Totto-chan hanya bisa diam karena ia tidak kenal lagu itu, sebab lagu itu tak pernah diajarkan di Tomoe Gakuen. Para prajurit bertepuk tangan gembira begitu anak-anak selesai menyanyi. Ketika Guru Pendamping menyuruh anak-anak menyanyikan lagu berikutnya, Totto-chan lagi-lagi hanya bisa diam. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menghibur para prajurit yang terluka. Ia pun memutuskan untuk bernyanyi sendiri lagu yang ia tahu, lagu yang paling terkenal di Tomoe Gakuen, yaitu lagu yang biasa mereka nyanyikan sebelum makan!
“Yuk kunyah baik-baik,
Semua makananmu…”


Anak-anak menertawakan Totto-chan, tapi gadis kecil itu tidak peduli. Ia terus bernyanyi.

“Yuk kunyah baik-baik,
Nasi, ikan, sayur!”
Selesai menyanyikan lagu pendek itu, Totto-chan membungkuk memberi hormat. Saat mengangkat kepalanya, ia heran melihat seorang serdadu meneteskan air mata. Totto-chan mengira ia telah melakukan sesuatu yang buruk, tapi kemudian serdadu itu menepuk lembut kepalanya dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Totto-chan tidak mengerti, tapi ia lega karena ia tahu ia tidak melakukan hal buruk.

Sungguh menyenangkan membaca buku ini. Buku yang indah, konyol, menyentuh, tapi juga inspiratif.

5/5 bintang untuk Totto-chan yang polos, untuk Kepala Sekolah yang baik hati, untuk Tomoe Gakuen yang menyenangkan!
Back to top