28 Feb 2014

The Chocolate Kiss by Laura Florand

Judul: The Chocolate Kiss
Seri: Amour et Chocolat #2
Penulis: Laura Florand
Penerjemah: Veronica Sri Utami
Penerbit: Bentang Pustaka, 2013
Tebal: 456 hlm.
ISBN: 9786027888487

Sinopsis:
Selamat datang di La Maison des Sorcières. Kedai teh yang sangat terkenal di pulau Île Saint-Louis, Paris. Bersama kedua bibi tercinta, di sinilah aku–Magalie Chaudron, tinggal untuk membesarkan kedai yang sangat mengesankan ini.

Tapi semua kacau ketika Philippe Lyonnais–chef pastry terkenal di Paris, membuka toko cabangnya di dekat kedaiku. Dengan (sok) polosnya, ia tidak tahu bahwa ia telah melanggar teritori dan merebut pelanggan-pelangganku? Dan ditambah lagi lagaknya yang sombong, meremehkan semua resep menu spesial buatanku. Aarrgh .... Mungkin ini saatnya bendera perang kukibarkan.

Aroma harum chocolate chaud (cokelat hangat) dan lezatnya macaron membuat saya berkali-kali menelan ludah saat membaca The Chocolate Kiss. Macaron? Saya baru mengetahui nama penganan lezat tersebut setelah membaca novel ini. Dua kata untuk mendeskripsikan The Chocolate Kiss: lezat dan romantis.

“Betapa indahnya tempat ini,” suara emas itu semakin hidup dengan tambahan tawa, lalu berkata ke Bibi Aja, “La Maison des Sorcieres. The Witches’ House. Apakah kalian akan menyihir semua yang datang ke sini atau hanya menyihir anak-anak?”

Heroine kita adalah Magalie Chaudron. Bersama kedua bibinya, Magalie mengelola sebuah kedai teh kecil bernama La Maison des Sorcieres, bertempat di Pulau ile Saint-Louis, tepat di jantung kota Paris. Kedai teh bertema penyihir tersebut cukup terkenal dan memiliki banyak pelanggan setia. Hal menarik dari kedai teh ini, adalah baik Magalie maupun kedua bibinya selalu membaca ‘mantra’ saat membuat minuman bagi sang pelanggan. Tenang saja, mantra di sini tidak seperti yang ada di buku-buku cerita tentang penyihir jahat dan sejenisnya. Mantra yang diucapkan Magalie dan bibi-bibinya lebih seperti doa dan harapan positif bagi para pelanggan mereka. Misalnya, agar para pelanggan tersebut merasa bahagia, mampu mengambil keputusan yang tepat dan semacamnya, tergantung bagaimana Magalie dan para bibi menilai karakteristik pelanggan yang datang. Kelihatannya, mantra-matra mereka ternyata ampuh. :D

Masalah datang ketika Philippe Lyonnais, seorang pastry chef yang macaron buatannya dianggap terbaik di dunia, memutuskan untuk membuka toko cabang tak jauh dari La Maison des Sorcieres. Magalie menganggap hal tersebut sebagai ancaman bagi usaha kedai tehnya. Ditambah lagi, Philippe yang tampan itu lagaknya sombong dan terlalu percaya diri berkat ketenaran yang dimilikinya. Magalie terang-terangan menunjukkan sikap permusuhan terhadap Phillipe. Siapa yang tak mengenal Philippe? Hanya mendengar namanya saja seluruh jalan langsung gempar. Para blogger dan kritikus kuliner selalu menilai baik semua hidangannya. Para perempuan sangat tergila-gila terhadapnya, namun Magalie tidak. Di hari pertama pembukaan toko Phillipe, kedai Magalie langsung sepi. Semua orang lebih tertarik mengunjungi toko kue Phillipe, termasuk pelanggan-pelanggan setia Magalie.

Maka dimulailah perang antara penyihir dan pangeran. Magalie menawarkan chocolat chaud terbaiknya bagi Phillipe. Sementara Phillipe, mencurahkan segala hasrat dan emosinya untuk membuat macaron terlezat bagi Magalie. Namun demi menjaga gengsi, mereka tak mau saling mencicipi ‘senjata’ masing-masing. Phillipe, entah bagaimana, mengetahui bahwa cokelat hangat pemberian Magalie telah diberi ‘mantra’ sehingga ia berusaha keras menahan diri agar tak tergoda untuk meneguk cokelat hangat Malagie. Sementara Magalie, meski ingin sekali mencicipi macaron buatan Phillipe, namun ia dengan tegas menolak macaron tersebut, sehingga membuat harga diri Pillipe terluka. Belum ada satupun orang yang menolak macaron Phillipe.

Meski perang masih berlangsung, perlahan muncul gejolak asmara dalam diri keduanya (ecieee gejolak asmara). Dapatkah penyihir dan pangeran bersatu? Bukankah dalam dongeng-dongeng, penyihir dan pangeran selalu menjadi musuh abadi? Temukan jawabannya dalam The Chocolate Kiss karya Laura Florand.


Chocolate Chaud & Macarons. image source here and here. edited by me

The Cocolate Kiss adalah buku kedua dari seri Amour et Chocolat. Saya baru mengetahuinya setelah membaca separuh buku ini. Namun pembaca tak harus membaca seri ini secara berurutan kok, karena ceritanya setiap bukunya berdiri sendiri. Dalam buku ini dua tokoh utama di buku pertama (The Chocolate Thief) muncul sebagai cameo. Di Indonesia, Bentang Pustaka sejauh ini telah menerjemahkan tiga buku Amour et Chocolat.

Oke, balik ke review. Banyak hal yang saya sukai dari buku ini. Pertama adalah setting. Penulis sangat detail dalam mendeskripsikan setiap tempat buku ini. Saya bisa merasakan seolah-olah berada di Paris, menyeberangi jembatan sungai Seine, bahkan saya bisa merasakan diri saya berada di kedai teh Magalie dan mencicipi chocolat chaud-nya yang kental, harum, dan hangat. Demikian pula dengan deskripsi segala jenis hidangan dalam buku ini. Saya berkali-kali berusaha menahan iler (iiiih) yang selalu terbit. Tambahan Info nggak penting nih: selama membaca novel ini, saya menyiapkan camilan berupa biskuit dan susu cokelat. Tujuannya? Biar saya nggak ngiler-ngiler banget selama membaca. Serius. ^^

Ile-Saint-Louis. image source here and here. edited by me.
Kedua, saya menyukai metafora-metafora yang bertebaran dalam buku ini, terutama mengenai Magalie dan Phillipe yang digambarkan sebagai penyihir dan kesatria. Konfrontasi kedua pihak membuat jatung saya berdebar-debar, karena penulis sukses membuat saya membayangkan bahwa Magalie adalah penyihir sungguhan yang berperang melawan Phillipe, sang pangeran sungguhan. Persiapan-persiapan  yang mereka lakukan (dalam hal ini, menyiapkan chocolat chaud dan macaron) terasa seperti persiapan untuk terjun ke dalam medan perang. Di lain waktu, penulis menggambarkan interaksi Phillipe dan Magalie seperti dongeng-dongeng populer, mulai dari Beauty and The Beast, Sleeping Beauty, hinggaRapunzel. Sangat menarik bukan?

Ketiga adalah para tokoh dalam buku ini. Latar belakang kedua tokoh utama diceritakan dengan detail, membuat pembaca dapat menyelami para tokoh meski novel ini ditulis dari sudut pandang orang ketiga. Saya suka karakter Magalie yang tangguh dan berani, tapi juga penuh cinta dan kasih sayang—kecuali kepada Phillipe... awalnya. Sedangkan Phillipe, saya mengagumi sifatnya yang pantang menyerah dan punya kesabaran yang tinggi. Tak hanya para tokoh utama, saya juga penyukai tokoh-tokoh pendukung: kedua bibi Magalie, kedua tokoh dari buku pertama (meski porsi mereka sangat sedikit), para pengunjung kedai teh Magalie, hingga para chef di toko kue milik Phillipe.

Meski banyak hal yang saya sukai dari novel ini, sayangnya ada juga yang kurang saya sukai. Satu: menurut saya alur novel ini cenderung lambat. Terkadang saya merasa gemas, karena hubungan Magalie dan Phillipe bergerak lambat. Namun, kesabaran saya akhirnya terbayar setelah keduanya akhirnya... you know lah. Hehe. Dua: Terjemahan. Saya merasa terjemahan novel ini kurang luwes. Saya sampai harus berkonsentrasi penuh supaya dapat menikmati novel ini. Padahal cerita novel ini sebenarnya ringan, konfliknya pun sederhana. Tapi saya merasa lelah selama proses membaca. Bayangkan, saya harus berkonsentrasi penuh sepanjang 456 halaman novel ini. Belum lagi banyaknya istilah-istilah kuliner yang belum pernah saya dengar sebelumnya (umumnya dalam bahasa Perancis). Untungnya pembaca terbantu dengan adanya catatan-catatan kaki di novel ini.

Secara keseluruhan, saya menyukai The Chocolate Kiss. Seperti yang saya ungkapkan di awal, novel ini lezat dan romantis. Membaca novel ini benar-benar membuat saya ingin segera membeli tiket ke Paris, dan mencari kedai yang menyediakan hidangan chocolate chaud dan macaron yang lezat. Tapi apa daya paspor belum punya. Visa juga. Duit juga (ini yang paling penting, haha). #curcol.


Review ini untuk:

Baca dan Posting Bareng BBI Februari #2:
"Kuliner"

dan

Lucky No. 14 Reading Challenge 2014:
"Visit The Country"

19 komentar:

  1. Hmm.. udah punya yg versi inggris tapi masih mikir mau baca atau enggak.
    Macaroon aku udah lama pengen makan karena suka liat di kompetisi masak di TV. Jadi laper, huikss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba baca buku pertamanya dulu. Mungkin alur ceritanya lebih cepat di buku pertama.
      Di Indonesia yg jual macaron di mana ya? :D

      Hapus
  2. aku punya ini tapi masih di timbunan... x)

    @lucktygs
    http://luckty.wordpress.com/2014/02/27/review-macaroon-love/

    BalasHapus
  3. aku ngikutin dari yang The Chocolate Thief sampai yang baru kemarin terbit The Chocolate Touch, seru memang tentang kisah para chocolatier, patissier yang jatuh cinta. Uniknya settng Paris dan bertaburannya segala yang berhubungan dengan cokelat. Memang untuk buku kedua ini alurnya lambat. Bikin gemes sama Magalie dan Philippe yang main tarik ulur,.. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan saya jadi penasaran sama buku pertama. Ntar kalau ada duit beli deh. Atau nunggu pinjaman/hibahan. #eh

      Hapus
  4. ahhh jadi ngiler pingin macaron!!! btw ceritanya klasik ya, jadi inget model2 film you've got mail yg meg ryan saingan sama tom hanks dan akhirnya malah saling suka XD menarik juga nih seri ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip. *masukin You've Got Mail ke daftar nontonan* Trims ya.

      Hapus
  5. Laura Florand emang deskripsinya keren yah kalau menyangkut setting dan penganan-penganan itu, rasanya kecium wangi-wangi ala bakery atau toko yang biasa jual cokelat dan semacamnya :)
    Biasanya baca yg versi asli, sekarang lg baca terjemahan Chocolate Touch, setuju terjemahannya kurang luwes, sering nemu diksi yg rada aneh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi mikir, apa mungkin text aslinya memang 'berat' ya?

      Hapus
  6. Baca review ini bukan sembari makan coklat tapi lemper en arem arem. Tetep aja pengen chocolate chaudnyaaaa.... #ngecesss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha! Bagi sini arem-aremnya. :D

      Hapus
  7. selesai baca Chocolate Kiss lanjut ke Chocolate Thief - besokannya langsung ke Indomart beli Cocoa Powder yang biasa dibuat Hot Chocolate dan sampe sekarang masih suka nyeduh sendiri (yaeyalah, sapa juga yang mau buatin) sambil bayangin Sylvain ^_^ - maap Sylvain lebih menggoda ketimbang Phillipe #dilemparkeSeine

    eniwe, setujuh-pake-banget, terjemahannya ADAUW..bikin mijit kening, aku nggak suka, titik
    padahal di Chocolate Thief, masih bisa dipahami lho terjemahannya, kenapa yang ini-tidak-?

    aku belum baca yg Chocolate Touch, masih mikir, klo terjemahannya gitu-gitu lagi, mending nunggu hibahan or obralan aja.. ^_^

    thank you review-nya KEREN banget, aku suka cara kamu nulis review, not too spoiler, nor too serious, pokoknya suka* sebelas dua belas-lah sama aku #ditendang

    *kaya uda nulis reviewnya aja*

    BalasHapus
    Balasan
    1. oia lupa, Hot Chocolate sama Chocolate Chaud beda tipis ya teman, hot chocolate biasanya pakai bubuk coklat, klo choc. chaud pakai coklat kepingan jadi hasilnya lebih kental ^_^

      kayanya enak yah..

      Hapus
  8. hi, aku udah koleksi 3 buku laura florand chocolate series, wow cool! tapi yg paling bgt aku suka adalah kisah cade corey di buku pertama hehe

    BalasHapus
  9. Iya setuju banget. Konfliknya baru berasa di halaman 200-an gt, lamaaaa bangeeett. Aku pikir aku doang yang ngerasa terjemahannya kaku trus jd mesti konsentrasi bgt bacanya. Tapi di 200 halaman terakhir ya terbayarkan lah ya. Lumayan bikin senyum-senyum sendiri hihi

    BalasHapus
  10. Mungkin seperti itu ciri khas Florand. Saya barusan selesai baca The Chocolate Rose. Di sini review-ku https://rumahboekoe.wordpress.com/2016/01/07/resensi-novel-the-chocolate-rose/

    BalasHapus
  11. Novel ini bagus aku suka. Penulisannya luwes ngalir aja kaya air. Emang si kebanyakan narasi, tapi penyampaian perasaan antar tokoh itu ngena banget. mulai dari skinship, sweet moment, kita pembaca dibuat greget sama kelakuan cowonya yang garang dan cewenya yang polos. Sumpah melted abis. Kudu wajib baca deeeh. Ini tuh novel seris ada banyak the chocolate yang lainnya

    BalasHapus
  12. Novel ini bagus aku suka. Penulisannya luwes ngalir aja kaya air. Emang si kebanyakan narasi, tapi penyampaian perasaan antar tokoh itu ngena banget. mulai dari skinship, sweet moment, kita pembaca dibuat greget sama kelakuan cowonya yang garang dan cewenya yang polos. Sumpah melted abis. Kudu wajib baca deeeh. Ini tuh novel seris ada banyak the chocolate yang lainnya

    BalasHapus

Back to top