27 Feb 2014

Blues Merbabu by Gitanyali

Judul: Blues Merbabu
Penulis: Gitanyali
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, 2011
Tebal: vi + 186 hlm.
ISBN: 9789799103154
Sinopsis:

"Om merasa sial sebagai anak PKI?"
"Aku tidak pernah berefleksi merasa sial atau beruntung dengan hidupku. Aku menjalani apa yang bisa kujalani."
...
"Om komunis mall atau kapitalis?"
"Tak ada bedanya. Di bawah kapitalisme, orang mengeksploitasi orang. Komunisme, tinggal dibalik saja..."

Sebagai anak PKI, lebaran tidak lagi sama bagi Gitanyali diakhir 1965. Ia masih SD di kota kecil di kaki Gunung Merbabu ketika menyaksikan sang ayah diambil aparat, dan tak pernah ketahuan lagi rimbanya. Sang ibu menyusul ditahan tanpa tahu kapan akan dibebaskan karena dianggap terlibat Peristiwa G30S. Kehidupannya berubah, keluarganya tercerai-berai.

Diasuh oleh sang paman di Jakarta, dunia Gitanyali terbuka lebar. Ia menempa diri untuk tidak kalah pada sang nasib. Ia menikmati kehidupan sebagai anak kebanyakan yang penuh godaan, termasuk dalam kehidupan seksual, tanpa terbawa arus. Ia memilih bertahan tanpa harus “melawan”

Begitu membaca sinopsisnya yang mengungkit-ungkit PKI, saya langsung berpikir bahwa buku ini adalah salah satu novel yang bercerita tentang kepingan kisah tahun 1965 yang merupakan salah satu masa terkelam dalam sejarah bangsa Indonesia. Itulah mengapa saya memilih buku ini sebagai bacaan untuk event Baca dan Posting Bareng BBI kategori Historical Fiction Indonesia. Dalam benak saya, buku ini semacam buku 'nyastra' yang isinya lumayan berat. Er... ternyata nggak juga. Maksud saya, isinya tidak berat-berat amat. Yah, buku ini ternyata jauh di bawah ekspektasi saya.

Blues Merbabu berkisah tentang perjalanan hidup Gitanyali, anak dari salah seorang anggota PKI yang tinggal di sebuah kota kecil di kaki gunung Merbabu. Menilik nama tokohnya, saya pikir dia perempuan. Ternyata saya keliru, karena dia 100% laki-laki. Novel yang diceritakan secara kilas balik ini lebih banyak menyorot aktivitasnya mulai dari kanak-kanak, remaja, hingga dewasa. Awalnya Gitanyali kecil menjalani kehidupan seperti anak-anak lainnya. Ia tidak mengerti banyak tentang aktivitas ayahnya. Yang ia tahu bahwa ayahnya sering mengadakan rapat dan pertemuan-pertemuan di rumah keluarga mereka. Ia tak tahu dan tak mau ambil pusing dengan hal tersebut. Namun, kondisi hidupnya berubah setelah sang ayah dibawa pergi oleh tentara dan tak pernah kembali lagi. Ibunya dimasukkan ke hotel prodeo alias jeruji besi. Gitanyali kemudian dibawa oleh pamannya ke Jakarta, dan mulai menjalani kehidupan barunya di kota metropolitan.

Kisah hidup Gitanyali yang diceritakan dalam buku ini lebih sering menyerempet urusan (maaf) kelamin. Informasi tentang peristiwa-peristiwa penting yang berhubungan dengan PKI hanya disinggung sedikit sekali. Mungkin karena tokoh utamanya sendiri tak begitu ambil pusing dengan masalah tersebut, kecuali bahwa gara-gara berhubungan dengan PKI, keluarganya jadi tercerai-berai.

Saya sempat bingung dengan buku ini. Pada sampul bagian belakang, buku ini jelas-jelas disebut sebagai novel. Namun mengingat nama penulis dan tokoh utama sama persis, saya jadi menduga bahwa buku ini sebenarnya adalah memoar. Gaya tulisan dalam buku ini seperti seseorang yang menuangkan kisahnya ke dalam buku harian. Alur cerita dalam novel tipis ini cenderung datar dan membosankan. Saya malah sempat tergoda untuk tidak melanjutkan membaca buku ini, karena meski sudah lebih dari setengah buku, saya merasa tidak mendapat apa-apa selain sekadar menyimak kisah hidup seorang anak PKI yang ternyata biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa. Tidak ada konflik berarti. Memang diceritakan bahwa sang ayah 'dibawa tentara' dan sang ibu 'menginap di hotel prodeo'. Namun saya tak merasakan emosi apa-apa. Datar aja gitu.

Dari segi penulisan, jelas sekali sang penulis memang bisa menulis dan bisa bercerita. Tutur bahasanya mengalir dengan baik. Sayang, saya tak menemukan sesuatu yang menarik di dalamnya. Mungkin karena harapan saya sejak awal bahwa buku ini berisi banyak sekali konflik. Ternyata, sebagian besar buku ini lebih sering menonjolkan petualangan esek-esek sang penulis, eh, maksud saya, sang tokoh utama. Hmm, not really my cup of tea.

Jadi, tak banyak yang bisa saya ungkapkan selain rasa kecewa terhadap buku ini. Oh ya, buku ini memiliki sekuel berjudul 65. Apakah ceritanya akan lebih menarik? Saya harap demikian, karena sudah terlanjur beli bukunya. Saya memang berencana akan membacanya untuk Posting dan Baca Bareng bulan November kategori buku yang judulnya mengandung unsur angka. Haha. Ternyata saya memang suka menyakiti diri sendiri. Sudah tahu buku ini nggak sesuai harapan, tapi nekad membaca sekuelnya. :))


 Review ini untuk:

Baca dan Posting Bareng BBI Februari #1:
"Historical Fiction Indonesia"

dan

Lucky No. 14 Reading Challenge 2014:
"Not My Cup Of Tea"

***

16 komentar:

  1. covrnya nggak banget deh >.<
    salah sendiri seneng nyakitin diri sendiri, eh tapi lebih baik deng daripada nyakitin hati orang lain #eaaaaa *kaborrrrr* XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, Bu Peri. Bombom berusaha sebisa mungkin untuk nggak nyakitin orang lain. #salahfokus

      Hapus
  2. jadi... gitanyali itu laki-laki? *salah fokus *tertipu gambar cover

    BalasHapus
  3. covernya rada seksi begitu hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener. Harusnya saya bisa menebak isi bukunya dari cover. Banyak petualangan esek-esek.

      Hapus
  4. Kak, dari cover aja udah tercermin akan sedikit membahas PKI *kasih emot melotot ala susana*
    Tadi aku udah komen tapi sepertinya gagal :( Jadi, itu aja deh komennya xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Er... sumpah saya nggak mikir ke sana. T.T
      Ternyata saya ini polos sekali... atau bego.

      Hapus
  5. itu covernya...jelas gak lulus sensor buat masuk ke perpus sekolah x)

    @lucktygs
    http://luckty.wordpress.com/2014/02/27/review-the-jacatra-secret/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sebaiknya jangan dimasukin ke perpus sekolah. Baik covernya maupun isinya sangat tidak direkomendasikan utk pelajar. Soalnya banyak 'ajaran sesat'-nya. Hahaha.

      Hapus
  6. Sampulnya aja kelihatan si anu lagi pamer itu...anu.... Ih, mau2nya nyakitin diri, paaannnn... 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hiks. Maafkan aku. Rajam saja akuh! *sodorin pecut*

      Hapus
  7. LOL ini lucu bangeeet....masokis ya judulnya... btw sayang banget soalnya premisnya cukup menarik ya, jarang2 kan membahas kehidupan anak pki. tapi isinya kok ternyata kurang sesuai harapan..hihi

    BalasHapus

Back to top