15 Okt 2015

Above the Stars - D. Wijaya

Judul: Above the Stars
Penulis: D. Wijaya
Penerbit: Ice Cube, KPG
Cetakan: I, Juni 2015
Tebal: 248 hlm.
ISBN: 9789799108845

Sinopsis:
“Kau tidak takut jatuh?” tanya Mia.

Danny menggeleng.

“Aku takut jatuh,” aku Mia dengan polos. “Kalau kau takut apa?”

Danny tidak langsung menjawab. Ia juga tidak menolakkan kaki ke tanah lagi untuk menambah kecepatan ayunan. Senyuman di wajahnya perlahan-lahan memudar. “Aku takut tidak bisa melihat selamanya.”


Menurut Danny Jameson, hidupnya tidak pernah mudah. Ia punya orangtua yang protektif, mesin tik Braille yang tidak dimiliki teman-temannya, dan semacam magnet yang menarik John Schueller untuk terus mengganggunya. Namun, yang paling buruk adalah ia punya sepasang mata biru yang tidak bisa melihat. Ketika Danny berpikir Mia Berry akan menjadi satu-satunya teman yang ia punya, Will Anderson datang dan mengubah hidupnya. Will memperlihatkan kepadanya dunia yang ingin ia lihat. Will juga membuat Danny mempertanyakan sesuatu tentang dirinya. Tapi, sebelum Danny sempat menemukan jawabannya, Will menghilang.

Danny Jameson memiliki sepasang mata biru yang indah. Sayang, mata indah itu tak dapat ia gunakan. Korneanya telah rusak sejak lahir. Kondisi itu membuat hidupnya tak pernah mudah. Ia kerap menjadi objek bully-an beberapa anak brengsek di sekolah, salah satunya si John Schueller. Beruntung ia memiliki Mia, tetangga yang sudah seperti saudari kandung, yang selalu melindunginya. Bukan berarti Danny tidak mandiri. Ia mampu kok melakukan banyak aktivitas seorang diri, namun segalanya terasa lebih mudah bila Mia ada di sampingnya.

Hidup Danny yang gelap dan monoton mendadak berubah sejak kehadiran Will Anderson di Magnolia High School. Di sekolah lamanya, Will dikenal tukang bikin onar. Tapi dari sudut pandang Will, apa yang ia lakukan selama ini adalah semata-mata karena ingin menikmati hidup. Hari pertama di sekolah baru, Will mengeluarkan komentar tentang kondisi Danny yang sukses membuat Mia murka. Di sisi lain, Danny justru merasa nyaman dengan sifat periang Will. Sejak mengenal Danny, Will merasa wajib melindungi sahabat barunya itu. Danny, Will, dan Mia pun menjadi sahabat baik, walau antara Mia dan Will sering muncul pertengkaran-pertengkaran kecil yang kerap memancing senyum di wajah Danny. Maklum, Mia memang protektif terhadap laki-laki yang sudah dianggap seperti adik sendiri itu, walau usia Mia hanya beberapa bulan lebih tua dari Danny.

“Yang Schueller lakukan itu tidak ada apa-apanya, Will. Yang aku maksud dengan ‘tidak pernah mudah’ adalah benar-benar tidak pernah mudah. Begini, coba pejamkan matamu.”

Will menurut.

“Apa yang kaulihat?”

“Tidak ada. Hanya gelap.”

“Itulah yang aku lihat,” gumam Danny. “Itu yang aku lihat pertama kali di pagi hari, yang aku lihat sepanjang siang hari, dan yang aku lihat sebelum tidur di malam hari. Seperti punya bekas luka permanen, kau tahu. Bedanya, kalau bakas luka sungguhan, aku mungkin bisa melupakannya sewaktu-waktu. Kalau bekas luka yang ini, tidak bisa dilupakan. Bagaimana aku bisa melupakannya kalau semua yang aku lihat sepanjang waktu cuma kegelapan?”

Suatu ketika, Will dengan spontan meminta Danny mengajukan permintaan yang akan ia (usahakan) kabulkan. Danny yang kelagapan dengan tawaran mendadak dari Will hanya mampu mengajukan 3 permintaan, di mana salah satunya adalah agar Will, entah bagaimana caranya, dapat membuat dirinya terlihat normal di mata orang-orang. Will dengan caranya yang kreatif berhasil mengabulkan keinginan tersebut (yaah, spoiler deh, abang). Bersama Will, Danny merasa lebih hidup. Namun di suatu pagi, Will menghilang. Tak ada ada yang tahu ke mana raibnya sosok periang tersebut.

Di manakah Will? Bagaimana keadaannya? Mengapa ia pergi setelah menjanjikan begitu banyak hal kepada Danny? Temukan jawabannya dalam Above the Stars karya D. Wijaya.

Sudah lama saya mengetahui tentang serial YARN (Young Adult Relistic Novel) yang diterbitkan oleh Ice Cube. Saya sering melihat novel-novel YARN bertengger dengan indah di rak toko buku Gramedia Gorontalo. Namun tak ada satu pun yang berhasil menarik minat saya untuk membeli. Hingga suatu hari, grup WhatsApp BBI Joglosemar membahas novel YARN yang saat itu tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan pencinta buku, terutama karena tema novelnya yang secara umum masih dianggap tabu bagi masyarakat Indonesia. Novel yang diperbincangkan tersebut tak lain adalah Above the Stars. Rasa penasaran saya pun tergelitik sehingga memutuskan untuk membeli dan membacanya. Jadi, inilah novel YARN pertama yang saya baca. Yay! #pentingbanget

Bicara soal cerita, menurut saya tak ada yang baru dalam novel ini. Kalian tahu kan, kisah-kisah tentang good girl meets bad boy—atau dalam novel ini, good boy meets bad boy? (Yep, novel ini mengandung unsur LGBT). Atau kisah-kisah tentang si sakit bertemu si sehat? Nah, Above the Stars adalah novel semacam itu. Tapi apa yang membuat novel ini berbeda?

Pertama, tema yang tak biasa untuk sebuah novel young adult karya penulis dalam negeri. Meski di luar sana novel-novel young adult bertema LGBT bukan lagi sesuatu yang tabu (Will Grayson, Will Grayson, Every Day, Aristotle and Dante, dll), namun lain halnya di negara kita. Saya rasa keberanian penulis untuk mengangkat tema semacam ini bagi pembaca muda patut diacungi jempol. Kedua, setting. Penulis sengaja mengambil setting luar negeri (Seattle, AS) dengan tokoh-tokoh yang juga orang bule untuk mengakomodir isu sensitif yang diangkatnya dalam novel ini. Ketiga, gaya bahasa. Karena penulis menggunakan setting luar negeri di mana para tokohnya adalah orang asing, otomatis gaya bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia baku ala novel terjemahan. Namun meski menggunakan bahasa baku, gaya bercerita D tetap asyik untuk diikuti. Alur ceritanya juga berjalan dengan mulus.

Bagi yang merasa risih dengan novel bertema LGBT, saya pikir tak perlu khawatir bila ingin membaca novel ini. Hubungan antara Will dan Danny memang spesial, namun yang lebih diutamakan penulis adalah unsur persahabatannya. Tak ada adegan mesra berlebihan ala novel romance M/M. Saya menyukai cara penulis menggambarkan hubungan persahabatan antara Danny, Mia, dan Will. Bagaimana cara Will memperlakukan Danny, entah mengapa terasa wajar. Sementara itu, Mia yang selalu jutek kepada Will, mengingatkan saya ketika Hermione sedang jengkel pada Ron. Tak jarang saya tersenyum bila Mia dan Will mulai saling adu argumen.

Salah satu adegan yang saya sukai adalah ketika Will menantang Danny (dalam rangka memenuhi permintaan pertama Danny yang ingin terlihat normal) untuk  membeli kopi di Starbucks tanpa bantuan tongkat, melainkan melalui arahan Will dari ponsel dan headset bluetooth. Awalnya saya pikir adegan ini agak berlebihan dan mustahil terjadi di dunia nyata. Tapi ketika mengetahui persiapan rahasia yang sudah dilakukan Will, mau tak mau saya terharu juga—sekaligus nyengir, sebab yang dilakukan Will sebenarnya cukup konyol...

...dan ia rela melakukan semua itu demi Danny. Wah.

Selain mengangkat tema persahabatan (dengan bumbu LGBT), Above the Stars juga menonjolkan hubungan keluarga. Saya suka detail-detail yang disajikan penulis mengenai para tokoh pendukung: tentang hubungan Will dan ayahnya yang kurang begitu harmonis (belakangan, adegan antara ayah dan anak ini menjadi salah satu adegan paling berkesan dalam novel ini), tentang hubungan Danny dan kedua orang tuanya—bagaimana ibu Danny mati-matian melindungi anaknya dari dunia luar yang penuh bahaya. #ahsik

Ah. Ternyata selain memiliki unsur humor, novel ini juga sarat adegan emosional. Saya bisa mengerti prinsip hidup Will, harapan-harapan Danny, sikap protektif  Mia, kekhawatiran ibu Danny, hingga rasa kesepian ayah Will. Sungguh sebuah bacaan yang membuat emosi jungkir balik. Sebenarnya novel ini layak mendapatkan lima bintang, tapi saya sengaja hanya memberinya empat bintang untuk sebuah alasan yang saya rasa D sendiri bakalan memakluminya. (LOL. Alasan yang sama yang menyebabkan buku ini sempat berakhir lantai karena saya buang saking kesalnya—sesuatu yang seumur hidup baru kali ini saya lakukan pada sebuah buku. *puk puk Above the Stars*)

Saya sangat merekomendasikan novel ini bagi penggemar novel-novel young adult. Buku ini bercerita banyak. Tentang persahabatan, tentang menemukan jati diri, tentang penerimaan, tentang kehilangan, dan tentang mensyukuri hidup.

I have to say, you did a good job, D.

"Danny, kau tahu kenapa aku menyukai daun?" tanya Will.

Danny mengedikkan bahu.

"Karena mereka gugur, seperti setiap detik dalam kehidupan kita, seperti kita semua pada akhirnya."

11 komentar:

  1. Hihihi, seneng karena suka juga dan yang terpenting nggak terpengaruh sama isu itu XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Isu apa ya, Lis? Hehehe. *pura-pura amnesia*

      Hapus
  2. Ulasan ini membuat aku melihat sesuatu yang tadinya tidak aku lihat di "Above the Stars". Trims, Yovano. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, bagian yang mana ya? PM penulisnya ah... :D

      Hapus
  3. Hah!!! Kenapa bukunya di 'smack down ', pan???


    Eciyeee... Penulisnya ikut komeng dimariiii... 😃

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengen ngasih tau tapi nanti jadi sop iler Mbak Lil. :))
      Iya penulisnya baik nih, mau meluangkan waktu untuk membaca dan meninggalkan jejak.

      Hapus
  4. untuk menciptakan lantai indah dan artistik dengan metode lantai 3D gambar akan terlihat nyata http://www.ahlibeton.co.id/p/lantai-3-dimensi.html

    BalasHapus

Back to top