30 Agt 2014

Serdadu Pantai by Laode M. Insan

Judul: Serdadu Pantai
Penulis: Laode M. Insan
Penerbit: Noura Books, 2013
Tebal: 392 hlm.
ISBN: 9786027816633

Sinopsis:
Memburu ikan di dekat terumbu karang, mengumpulkan bulu babi dan kerang, sampai kejar-kejaran dan berebut makanan dengan para monyet di hutan. Itu adalah semua daftar kegiatan yang tak mungkin luput dalam keseharian para serdadu pantai—Dayan, Surman, Poci dan Odi. Empat sahabat ini tak pernah melewati hari mereka tanpa tawa.

Dayan selalu siap menghibur dengan alunan nada gembira dari gesekan biolanya, Odi dengan keluguannya, Poci yang selalu bersikap konyol, dan Surman yang selalu bisa bersikap mandiri.

Namun, petualangan ceria mereka harus berakhir. Perpisahan menghantui empat sahabat ini dan mulai membayangi kehidupan mereka, mengembalikan mereka pada realita. Ironi kehidupan masyarakat Buton yang jauh dari sederhana di atas tanah mereka yang kaya hasil bumi.

Karena tiap kisah persahabatan akan bertemu akhir. Akankah kisah mereka berujung pada akhir bahagia?

Endorsement:
“Kisah tentang persahabatan empat kanak-kanak ini dalam berbagai interaksinya, dengan nilai-nilai kemandirian, pantang menyerah, tanggung jawab, dan kejujuran disampaikan secara menarik. Novel trilogi ini adalah kontribusi sangat berarti dalam membangun karakter anak bangsa kita, menuju terbentuknya akhlak mulia sejak usia dini.” —Taufiq Ismail

Serdadu Pantai mengajak pembaca menyaksikan keseharian anak-anak pantai yang hidup di pesisir pulau Buton. Mereka adalah Dayan, Surman, Poci, dan Odi. Keempatnya bersahabat karib dan kerap melakukan segala sesuatu bersama-sama; bermain di laut, berenang di antara ikan-ikan dan terumbu karang yang indah, membantu memetik jambu monyet dengan bayaran sekantung plastik jambu monyet yang manis, dan sebagainya. Pulau Buton terkenal sebagai daerah penghasil aspal terbesar di Indonesia. Sayangnya, kekayaan alam yang dihasilkan tanah mereka tak membuat hidup masyarakat yang hidup di atasnya lebih sejahtera. Sebagian besar dari mereka masih hidup dengan amat sangat sederhana. Infrastruktur seperti jalan raya pun hanya dibangun seadanya.

Meski hidup dalam kesederhanaan, keempat sahabat tersebut menjalani hari-hari mereka dengan penuh keceriaan. Bahkan, mereka masih bersemangat menimba ilmu, meski sekolah SD tempat mereka belajar hanya berupa bangunan ala kadarnya. Baju yang mereka pakai ke sekolah pun sederhana—sebagian besar hanya mengenakan baju rumah. Peralatan tulis-menulis yang digunakan hanya berupa satu buah buku tulis untuk semua mata pelajaran, serta sebatang pensil.

Tak selamanya para Serdadu Pantai hidup dalam keceriaan. Ada masa di mana masing-masing dari mereka harus menghadapi berbagai persoalan yang menguji mental dan kepribadian mereka. Dayan misalnya, ia dirampok oleh anak-anak berandal saat hendak mengantarkan uang cicilan untuk kambing kurban milik ayahnya. Surman mengalami kemalangan yang luar biasa yang membuatnya harus menjadi tulang punggung keluarga di usia yang masih kanak-kanak. Menyaksikan para sahabat ini berjuang mengatasi persoalan hidupnya sungguh menggugah hati.

Novel ini mengingatkan saya pada novel fenomenal karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi. Malah, saya merasa kalau Serdadu Pantai adalah Laskar Pelangi versi Buton. Penggunaan kata Laskar dan Serdadu juga mengandung makna yang kurang lebih sama. Maka jangan salahkan saya apabila sepanjang membaca buku ini, saya sering membandingkannya dengan Laskar Pelangi. Jujur saja, saya lebih menyukai Laskar Pelangi dibanding Serdadu Pantai. Cara berceritanya memang tidak menggunakan kalimat-kalimat indah seperti dalam novel Andrea Hirata tersebut, yang ini cenderung sederhana. Penyampaiannya apa adanya, membuat novel Serdadu Pantai sangat mudah untuk dinikmati. Hanya saja, penggunaan kalimat yang terlalu sederhana justru membuat novel ini kurang meninggalkan kesan bagi saya.

Saya mengerti bahwa penulis ingin sekali menyampaikan banyak pesan moral dalam bukunya ini. Tapi terkadang pesan yang disampaikan terlalu terang-terangan. Alih-alih membiarkan pembaca memetik sendiri pesan moral melalui setiap adegan dalam cerita, penulis malah menyimpulkan sendiri kepada para pembaca, yang pada akhirnya membuat saya merasa dikuliahi. Mungkin penulis tidak bermaksud demikian, tapi itulah yang saya rasakan.

Konflik dalam novel ini hanya 'diserahkan' kepada Dayan dan Surman, membuat peran Odi dan Poci jadi sekadar tempelan. Konflik Dayan tidak terlalu menarik, meski sempat membuat penasaran. Surman-lah yang menjadi bintang di novel ini. Emosi saya benar-benar tergugah saat mengikuti kisah Surman—yang mengingatkan saya pada tokoh Lintang dalam Laskar Pelangi.

Endorsement dalam novel ini terlalu banyak, jadinya saya menaruh ekspektasi yang tinggi terhadap novel ini. Hasilnya, saya jadi sedikit kecewa. Meski ditulis dengan baik, nyatanya apa yang disajikan dalam novel ini tidak mampu menepis rasa kecewa saya. Kabarnya novel ini akan dijadikan trilogi. Saya berharap buku selanjutnya akan lebih baik lagi. Oh ya, keindahan alam yang disajikan dalam novel ini membuat saya ingin berkunjung ke Buton, khususnya daerah Wakatobi yang terkenal itu. :)

Rating:

Baca dan Posting Bareng BBI Agustus #1:
"Tema Lokal/Nusantara"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back to top