28 Agt 2013

The Guy Next Door (Pria Impian di Sebelah Rumah) by Meg Cabot

Judul Buku: The Guy Next Door (Pria Impian di Sebelah Rumah), juga dikenal dengan judul The Boy Next Door
Seri: Boy #1
Penulis: Meggin "Meg" Cabot
Penerjemah: Indah S. Pratidina
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2003 (Juli, Cetakan III)
Tebal: 560 halaman
ISBN-13: 9789792203288
Rating: 5/5


Melissa Fuller yang bekerja sebagai kolumnis gosip New York Journal belakangan ini sering datang terlambat. Itulah mengapa ia diberi email peringatan dari kantornya. Beberapa waktu yang lalu Mel mendapati Mrs. Friedlander, tetangga apartemennya, tak sadarkan diri. Ternyata wanita tua itu diserang oleh seseorang, dan kini ia terbaring koma di rumah sakit. Mrs. Friedlander memiliki seekor anjing Great Dane dan dua ekor kucing yang perlu diberi makan dan diajak jalan-jalan, dan sebagai tetangga yang baik, Mel merasa dirinya wajib menggantikan Mrs. Friedlander mengurus ketiga mahkluk itu untuk sementara. Itulah mengapa ia sering terlambat.

Sebenarnya Mrs. Friendlander masih memiliki satu kerabat yang masih hidup, yaitu seorang keponakan laki-laki bernama Max Friedlander. Max adalah fotografer terkenal yang sayangnya tidak bisa diandalkan. Max adalah sosok yang egois dan juga playboy. Ia tengah berlibur di Florida bersama pacar modelnya, Vivica, sewaktu mendapatkan kabar tentang bibinya. Max beranggapan bahwa kewajiban menjenguk bibinya yang sedang koma serta merawat bintang peliharaan beliau hanya akan membuang waktunya yang berharga. Akan tetapi, Mrs. Friedlander sebenarnya memiliki tabungan yang lumayan besar. Dan Max-lah yang akan mendapatkan warisan tersebut bila sesuatu terjadi kepada bibinya. Karena malas memenuhi kewajibannya sebagai keponakan yang baik, tapi di satu sisi tak ingin namanya dicoret dari daftar ahli waris, Max meminta John Trent, sahabat baiknya yang berutang budi sangat besar kepadanya, untuk berpura-pura menjadi dirinya. Tugas John sederhana saja: Mengaku sebagai Max, sesekali menjenguk Mrs. Friedlander di rumah sakut, dan tentu saja, merawat binatang peliharaan Mrs. Friedlander.

Melissa Fuller yang sudah mendengar reputasi buruk Max agak terkejut mendapati bahwa Max ternyata tak seperti yang digunjingkan orang, terutama Dolly, rekan sejawatnya yang tampaknya punya daftar ‘dosa’ Max. Mel merasa orang-orang terlalu berlebihan dalam menilai Max, karena cowok yang kini menempati ruang apartemen Mrs. Friedlandar adalah sosok yang menyenangkan, asyik diajak mengobrol, dan yang paling penting, ia menyayangi binatang peliharaan Mrs. Friedlandter. Tentu Mel beranggapan demikian karena gadis itu tidak tahu bahwa pria tampan yang baru dikenalnya itu bukanlah Max Friedlander asli.

John Trent tadinya berpikir bahwa tak akan sulit berpura-pura menjadi Max. Kalau saja tidak untuk membalas budi Max, John tidak akan mau repot-repot menjalani perannya saat ini. Masalahnya, Max tak pernah bercerita pada John bahwa gadis tetangga bibinya sangat menarik. Tidak butuh waktu lama untuk membuat mereka (John dan Mel) menjadi dekat. Diam-diam, John mulai menyukai Mel. Vice versa, Mel tampaknya menunjukkan perasaan yang sama terhadap dirinya. Kini John mengalami dilema. Apakah ia akan tetap berpura-pura menjadi Max demi bisa tetap dekat dengan Mel, ataukah ia harus mengungkapkan jati dirinya kepada Mel, dengan resiko akan dijauhi oleh Mel? Kekhawatiran John adalah, pertama, ia sudah membohongi Mel sejak awal. John yakin Mel tidak akan menyukai hal itu. Kedua, John sebenarnya berasal dari keluarga Trent yang kaya-raya tapi punya reputasi tak terlalu baik di mata masyarakat, tak terkecuali Mel. Dan ketiga, demi menghindari bayang-bayang keluarganya dan mengejar impiannya, John bekerja sebagai wartawan di surat kabar yang menjadi pesaing utama NY Journal (kantor tempat Mel bekerja), yang kebetulan juga sangat dibenci oleh Mel. Nah, sepertinya John tak punya pilihan selain tetap berpura-pura sebagai Max, bukan?

Tapi sampai kapan ia harus menyembunyikan identitasnya? Karena Max yang asli tampaknya tak mau ambil pusing terhadap apa yang harus dihadapi John. Dan yang paling penting, John semakin hari semakin mencintai Mel.

Baca kisah selengkapnya dalam The Guy Next Door karya Meggin “Meg” Cabot yang menggemaskan ini.

***

Nah, tampaknya saya sudah meringkas hampir separuh isi novel ini. Beginilah saya, terkadang tak mengerti bagian yang mana yang perlu diceritakan dan bagian mana yang seharusnya disimpan. Tapi menurut saya, apa yang saya ceritakan di atas sebenarnya tidak seluruhnya. Kisah sebenarnya jauh lebih kompleks.

Oh ya, sebelum membahas lebih jauh tentang buku ini, saya ingin memberi tahu tentang format novel ini. Novel ini unik, karena seluruh isinya ditulis dalam bentuk email. Ya, anda tidak salah dengar (atau baca, hehe). Pembaca akan disuguhkan begitu banyak email dalam novel setebal 560 halaman ini. Mulai dari email peringatan bagian HRD tempat Mel bekerja karena seringnya ia terlambat, email sahabat dekat Mel, email rekan-rekan sekerja Mel, email dari mantan pacar Mel, email antara John dan Max, John dan kakak laki-lakinya, John dan kakak iparnya, John dan neneknya, John dan Mel (ehem), Mel dan orang tuanya, Mel dan kakak ipar John... oke, saya rasa saya harus berhenti sekarang juga.

Meski dalam bentuk kumpulan email, novel ini sama sekali tidak membosankan. Bahkan saya selalu tak sabar untuk membaca halaman selanjutnya. Awalnya memang butuh penyesuaian. Tapi setelah beberapa halaman, segalanya mengalir dengan lancar. Saya sempat merasa seperti stalker yang secara kurang ajar membaca email orang lain tanpa izin. Tapi itulah serunya. Rasanya asyik sekali mengintip email dari berbagai tokoh dalam novel ini, mencari tau apa sebenarnya yang terjadi. Bahkan, saya dapat merasakan emosi dalam novel ini meski ditulis dalam bentuk email. Lagi-lagi saya mengakui kehebatan Meg Cabot dalam bercerita. Ia pandai berperan menjadi beberapa tokoh sekaligus. Pembaca akan dapat menemukan kekhasan masing-masing tokoh dalam setiap tulisan email mereka. Terkadang, tanpa perlu membaca alamat email si pengirim, pembaca dapat menebak siapa yang menulis email tersebut.

Saya sangat mengagumi ide brilian Meg Cabot untuk menulis novel dalam format email. Saya pikir ini tidak mudah. Apalagi karena novel tidak memiliki dialog atau percakapan langsung antar tokoh, tapi tetap saja, penulis mampu memberi ‘nyawa’ dalam setiap email yang ditulis para tokoh. Perkembangan hubungan Mel dan John (alias Max gadungan) terasa mengalir. Istilahnya chemistry-nya dapetlah #eaah. Tokoh-tokoh dalam novel ini semuanya menarik dan tak ada yang membosankan, sekalipun sifat tokoh tersebut menyebalkan atau bodoh. Vivica, misalnya. Meg Cabot jelas sekali menggambarkan sosok Vivica yang cantik namun kurang cerdas dari gaya menulis emailnya. Tapi saya tak menyangka bahwa saya malah jatuh hati pada tokoh Vivica. Haha.

Membaca novel ini mengingatkan saya pada novel Twivortiare karya Ika Natassa yang tak kalah unik, sebab ditulis dalam format twitter. Berbeda dengan kebanyakan buku yang berisi kutipan-kutipan dari twitter, Twivortiare justru merangkum tweet-tweet dari para tokoh menjadi sebuah cerita yang utuh. Sama halnya dengan The Guy Next Door. Yang membedakan adalah media yang digunakan, yaitu email.

Sebagai penutup, saya puas membaca novel ini. Novel ini ditulis dengan cerdas, penuh humor, serta berisi kisah cinta yang manis dan menghangatkan hati. Belum lagi twist-nya yang cukup mengejutkan, serta karakter-karakternya yang lovable. Rasanya tidak berlebihan bila saya memberi 5 bintang untuk novel yang menggemaskan ini.

14 komentar:

  1. aku dulu banget baca buku inii, wktu SMP ato SMA kayaknya xD suka bangettt, lucu, kocak ;D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kocak. Aku ngakak baca emailnya Vivica yang isinya huruf besar semua. :))

      Hapus
  2. hyahahaaa...kang opan, ak juga baru nulis review novel ini gr2 re-read XD

    BalasHapus
  3. Wow..masuk buku bantal juga nih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Padahal sepintas terlihat tipis. Ternyata nembus 560 halaman juga. T-T

      Hapus
  4. Hlo, 500an halaman toh? Wah, masuk Read Big neh... mayan, bisa nmbah deretan Read Big tahun ini #tapikapanbacanyaaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lupa diikutkan ke challenge. Sayang banget. 560 halaman lho. *nangis guling-guling*

      Hapus
  5. Haha satu-satunya chicklit yang nyambung sama aku dulu, pas chicklit baru bermunculan. Dulu baca Bridget Jones' Diary, In Her Shoes, dll aku ngerasa ga nyambung cuma ini yang nyambung. Mungkin karena pas baca masih SMA-awal kuliah. Seru, unik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samaaaa. Aku gak selesai baca Bridget Jones' Diary sama In Her Shoes. Tapi filmnya suka. :D

      Hapus
  6. Aku mo koleksi novel meg cabot. Tlng email aku di windakhairul13@gmail.com. aku udh nyari dimn2 gk nemu. Thnks before ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rekues Mbak Winda sudah saya sampaikan via Twitter. Semoga ada yg mau jual koleksinya. Good luck. :)

      Hapus
  7. Teman-teman, adakah yang bisa membantu saudari Winda Khairul?

    BalasHapus

Back to top