31 Okt 2013

The White Tiger by Aravind Adiga

Judul: The White Tiger
Penulis: Aravind Adiga
Penerbit: Penerbit ANDI, 2010
Tebal: 360 hlm.
ISBN: 9789792912869

Sinopsis:
Fakta yang aneh: bunuhlah seorang pria dan kau akan merasa bertanggung jawab atas hidupnya---bahkan posesif. Kau jauh lebih mengenalnya daripada ayah-ibunya; mereka mengenal janinnya, tapi kau mengenal mayatnya. Kaulah yang membuat kisah hidupnya komplit; hanya kau yang tahu kenapa tubuhnya harus dikirim ke api sebelum waktunya, dan kenapa jari-jari kakinya berkerut dan berjuang untuk memperoleh satu jam lagi di bumi.

***

Balram, supir pribadi Ashok yang polos, sabar, patuh, dan memuja tuannya setengah mati. Siapa yang menyangka ia akan tega menggorok leher sang majikan yang sudah dianggapnya serupa dewa itu? Bagaimana bisa seorang bodoh berubah menjadi kriminal berdarah dingin? Apakah hanya karena fakta aneh di atas? Cerita Balram akan membuka mata Anda lebar-lebar tentang India yang sama sekali belum merdeka, kebohongan Sungai Ganga sebagai simbol emansipasi, kebobrokan politik demokrasi, dan mengapa ia sampai dijuluki sebagai si Harimau Putih. Keadaan yang tidak jauh berbeda dengan negara kita ini berhasil dituliskan Aravind Adiga, peraih The Man Book Prize 2008, ini dengan apik. Kisah luar biasa yang akan menyadarkan Anda dari kebohongan dunia.

The White Tiger adalah salah satu novel yang awalnya sulit saya nikmati. Mungkin inilah novel terberat yang saya baca tahun ini. Berhasil menyesaikan buku ini merupakan prestasi tersendiri buat saya. Biasanya saya akan berhenti membaca sebuah buku bila buku tersebut benar-benar tidak sesuai dengan selera saya. So, thanks buat komunitas Blogger Buku Indonesia (BBI),  karena berkat event baca bareng BBI, selain saya diajak untuk membaca buku (fiksi) di luar zona nyaman saya, dengan ikut posting bareng mau tidak mau saya harus membaca sebuah buku sampai selesai. Mungkin awalnya memang menyiksa, terutama karena gaya bercerita dalam buku ini sangat sinis dan sarkastis, di mana bacaan model begini biasanya saya hindari. Namun, setelah selesai membaca buku ini, saya merasa cukup puas, selain karena bisa menyelesaikan bacaan saya, buku ini juga telah memberi pengetahuan baru bagi saya yang tadinya tak begitu memahami kondisi negara India. Dan, buku ini membuat saya semakin mencintai negara saya sendiri.

Kisah The White Tiger (judulnya tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia) adalah tentang Balram yang mengirim surat kepada perdana menteri China, Mr. Jiabao, yang akan datang ke India untuk menemui intrepreneur hebat di negara tersebut. Balram merasa dirinyalah intrepreneur yang paling tepat untuk ditemui oleh perdana menteri. Untuk itu, lewat suratnya, Balram mulai menceritakan kisah hidupnya sejak dirinya kecil hingga sukses seperti sekarang ini. Uniknya, lompatan besar dalam hidup Balram merupakan sesuatu yang tidak biasa, yaitu ketika ia memutuskan untuk membunuh majikannya sendiri: Mr. Ashok. Percayalah, ini bukan spoiler, karena pada sinopsis di sampul belakang buku, hal tersebut telah diungkapkan dengan gamblang. Ini menggelitik rasa ingin tahu saya. Mengapa Balram sampai membunuh Mr. Ashok?

Dengan sarkastis, Balram menceritakan kehidupan pahitnya yang penuh dengan kerja keras. Balram kecil adalah bocah yang jujur dan penurut. Ia tinggal di wilayah ‘Kegelapan’ di India, dekat sungai Ganga yang hitam dan kotor. Bagi turis asing, sungai Ganga dikenal sebagai sungai suci, namun Balram menggambarkan sungai tersebut dengan apa adanya, sehingga siapapun yang mendengar ceritanya, pasti akan langsung merasa mual dan jijik untuk berada dekat-dekat sungai tersebut. Lewat suratnya, Balram mengungkapkan segala hal yang selama ini sering digembar-gemborkan pejabat India kepada masyarakatnya dan pihak luar India, yang umumnya terdengar manis tapi pada kenyataannya tidaklah demikian. ''Satu fakta tentang India adalah: putarbalikkan pernyataan apapun yang Anda dengar dari perdana menteri kami tentang negara ini dan Anda akan mendapatkan informasi sebenarnya.” (hlm 16). Kesenjangan sosial benar-benar terasa sekali di India. Perbedaan kasta, hubungan antara majikan-pembantu, hingga lingkungan tempat tinggal antara orang kaya dan miskin benar-benar seperti langit dan bumi. Ditambah lagi dengan korupsi yang begitu merajalela di seluruh penjuru negeri. Praktek suap-menyuap dianggap biasa, bahwa wajib. Tragisnya, hampir semua orang (India) memaklumi hal tersebut, bahkan berpikir akan melakukan hal yang sama (korupsi dan menyuap) bila berada di posisi yang sama.

Pada suatu ketika, Balram menjadi supir seorang majikan yang bernama Mr. Ashok. Karena dibesarkan di Amerika, Mr. Ashok memiliki pemikiran yang jauh berbeda dengan kebanyakan orang India. Mr. Ashok adalah pria yang tampan dan juga punya hati nurani. Ashok memperlakukan Balram dengan baik. Inilah yang membuat Balram menyanyangi dan menghormati majikannya. Namun, seiring berjalannya waktu, Mr. Ashok mulai berubah. Kondisi dan lingkungan telah mengubah Ashok dari seorang yang jujur, menjadi tukang suap seperti ayah dan kakaknya—hal ini sangat ditakutkan Balram. Namun demikian, hal yang sama juga terjadi terhadap Balram.  Dalam buku ini kita akan mengikuti perkembangan karakter Balram yang awalnya setia dan jujur, hingga menjadi orang tidak sama lagi. Pada akhirnya, ia memang membunuh majikannya. Dan ia tidak menyesali perbuatannya itu. Berkat uang ‘pinjaman’ dari mantan majikannya, Balram sukses menata hidupnya. Kini, ia adalah salah satu intrepreneur yang sukses, meski tidak dikenal secara luas. Apakah Balram melakukan hal yang sama dengan orang-orang kebanyakan? Jawabannya adalah: ya, ia menyuap. Menyuap polisi, menyuap pejabat, semuanya.  Lalu, mengapa Balram yang kini telah sukses justru menceritakan kisah hidupnya secara blak-blakan kepada perdana menteri China yang hendak berkunjung ke India? Di akhir dalam novel ini, kita akan menemukan alasan sebenarnya. :)

Lewat buku The White Tiger, penulis tampaknya ingin menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi sosial masyarakat India. Meski terkenal dengan tingkat kemajuan ekonomi yang cukup pesat, ternyata banyak kisah suram di baliknya. Gedung-gedung megah yang dibangun di pusat kota, seolah meng-cover wajah asli India yang sebenarnya. Membaca buku ini, saya sering membanding-bandingkan kondisi India dengan Indonesia, terutama tentang praktek korupsi dan suap-menyuap yang belakangan ini semakin banyak terungkap dan marak diberitakan di berbagai media. Bagaimanapun, bila kondisi negara India benar-benar seperti yang diungkapkan dalam The White Tiger, maka saya merasa Indonesia jauh lebih baik dibandingkan di India. Di Indonesia, mana ada guru sekolah yang menjual seragam bantuan dari pemerintah untuk para murid demi dirinya sendiri? Atau... jangan-jangan ada tapi tidak terekspos media? Ya Tuhan, mudah-mudahan nggak ada ya kejadian begitu di negara ini.

Sedikit curhat, bagian cerita yang membuat saya geram sampai saya harus menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, adalah ketika Balram dipaksa untuk mengakui kasus tabrak lari yang tidak dilakukannya, melainkan oleh istri Mr. Ashok. Saking marahnya, saya sampai gemetaran saat memegang buku ini. Terjemahan yang baik dalam buku ini telah berhasil menyentuh emosi saya sebagai pembaca. Saya rasa tidak mudah menerjemahkan buku ini sambil tetap menjaga ‘rasa’ asli buku ini.

Sebagai penutup, yang dapat saya simpulkan tentang novel pemenang Man Booker Prize 2008 ini adalah tentang keinginan seorang warga negara untuk merdeka. Merdeka dari kebodohan, dari kesenjangan sosial, dari kemiskinan; merdeka dari para lintah darat, merdeka dari para koruptor, dan mungkin, merdeka dari negaranya sendiri. Untuk dapat meraih kemerdekaan, orang rela melakukan apa saja. Dan terkadang, cara setiap orang untuk merebut kemerdekaan bisa sangat ekstrim. Seperti Balram, misalnya, yang membunuh sang majikan tanpa sedikitpun rasa bersalah. “Saya akan berkata bahwa itu harga yang pantas untuk mengetahui bagaimana rasanya tidak menjadi pembantu, sekalipun hanya untuk satu hari, satu jam, atau bahkan satu menit.” (hlm 352)


*Postingan ini untuk baca bareng BBI bulan Oktober, kategori Finalis dan Pemenang Man Booker Prize.

***

4 komentar:

  1. wah makanya banyak yang sebel - sebel suka sama buku ini ya. XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Aku bilang sih sayang banget kalo nggak menyelesaikan membaca buku ini. Kecuali sejak awal sudah memutuskan untuk gak pengen baca sama sekali.

      Hapus
  2. aku suka banget buku ini, lebih suka lagi dapet cuman 5k :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. TT____TT Aku beli 66rb. *nangis darah*

      Hapus

Back to top