18 Mei 2012

Twilight by Stephenie Meyer

Judul Buku: Twilight
Seri: Twilight Saga #1
Penulis: Stephenie Meyer
Penerjemah: Lily Devita Sari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2009 (Februari, Cetakan X)
Tebal: 520 halaman
ISBN: 9792236023
Harga: Rp. 60.000,-
Rating: 4/5


What, baru baca? Hihi, iyah! Sudah, nanti saya cerita mengapa saya baru membaca Twilight. Atau yang lebih penting, KOK MAU-MAUNYA SIH, BACA TWILIGHT? Sabar… Kita bahas ceritanya dulu. Singkat saja, karena saya yakin sebagian besar pembaca sudah tahu kisahnya. Oh ya, mungkin agak mengandung spoiler juga. Tak apa, kan? :)

Isabella Swan, 17 tahun, memulai hidup baru di Forks. Sebelumnya ia tinggal di Phoenix bersama ibunya. Kini, di Forks, tinggal bersama ayahnya yang bekerja sebagai kepala polisi Forks. Bella awalnya tidak menyukai kota kelahirannya itu; kota yang muram, selalu mendung, dan sering hujan. Namun keadaan mulai berubah sejak ia bertemu dengan anak-anak keluarga Cullen di sekolah. Remaja-remaja yang tampan dan cantik, terutama yang paling bungsu, Edward Cullen.

Warga Forks sepertinya menjaga jarak dengan keluarga Cullen. Mungkin karena mereka pendatang, punya tampang kelewat memesona, dan luar biasa kaya. Bagi Bella, ketampanan Edward-lah yang membuatnya tak bisa mengalihkan pikirannya dari pemuda itu. Sayangnya Edward justru bersikap kurang bersahabat. Ia terkesan menghindari Bella, bahkan menunjukkan tampang jijik (membuang muka, menutup hidung, dsb) padahal Bella yakin ia tak berbuat kesalahan apapun, bahkan Bella sampai mengendus rambutnya sendiri untuk memastikan dirinya tidak bau.*saya senyum-senyum geje pada bagian ini*

Peristiwa kecelakaan di parkiran sekolah nyaris merenggut nyawa Bella kalau saja saat itu Edward tidak menyelamatkannya. Bella hampir tak mempercayai penglihatannya sendiri: bagaimana mungkin Edward yang tadinya berada di jauh di seberangnya sedetik kemudian berada di sampingnya, melindunginya dan hantaman mobil, dan alih-alih remuk, justru yang mobil yang menabrak merekalah yang penyok-penyok?  Saat Bella mengkonfirmasi hal tersebut, Edward mati-matian menyangkalnya, sementara Bella yakin dirinya tidak berhalusinasi.

Bella dibuat penasaran oleh Edward Cullen. Apakah manusia super benar-benar ada? Seolah paras Edward yang tampan—berkulit seputih porselen dengan warna mata yang sering berubah-ubah— itu tidak cukup saja! Kecurigaan Bella makin bertambah sejak ia diceritakan ‘kisah-kisah seram’ oleh seorang teman masa kecilnya, Jacob, saat berkunjung ke La Push. Bella pun melakukan sedikit ‘riset’ yang membawanya pada satu kesimpulan: Edward Cullen dan keluarganya adalah vampir.

Kenyataan tersebut tak membuat Bella gentar. Ia terlanjur suka, bahkan cinta pada Edward Cullen. Kenyataannya, Edward pun memiliki perasaan yang sama pada Bella. Alasan ia menghindari Bella selama ini karena aroma Bella yang begitu menggoda. Sebagai vampir, Edward berusaha sekuat tenaga menahan diri agar tak sampai membunuh gadis yang disukainya itu.
Ada tiga hal yang kuyakini kebenarannya. Pertama, Edward adalah vampir. Kedua, ada sebagaian dari dirinya—dan aku tak tahu seberapa kuat bagian itu—yang haus akan darku. Dan ketiga, aku jatuh cinta padanya, tanpa syarat, selamanya.
---o---

Welcome to the first of the insanely-popular-series: TWILIGHT!!! *jerit-jerit histeris* (Diteriakin: "Sudah lewat kaleee masanya!"). Hal yang menahan saya nggak membaca buku ini di awal-awal kemunculannya Indonesia karena genre-nya romance, genre yang kurang saya minati saat itu.

Jadi, apa yang membuat saya berubah pikiran? Adalah situs 9gag.com, sebuah situs yang saya kunjungi di sela-sela jam kantor, situs yang mampu membuat wajah sumpek-gara-gara-kerjaan saya berganti menjadi senyum manis nan unyu (halah). Intinya, film Twilight (dan seri-seri selanjutnya) amat dibenci oleh sebagian besar member di situs tersebut, terbukti dengan banyaknya parodi dan photoshop yang menjelek-jelekkan film Twilight. Yang ada saya justru jadi penasaran dan berpikir, "Sejelek apa sih, Twilight?" Maksud saya, jika ingin ikut-ikutan menertawakan kejelekan Twilight, setidaknya saya harus nonton filmnya atau baca bukunya dulu, kan? Nggak adil dong, ikut-ikutan tertawa tapi nggak pernah baca atau nonton filmnya sama sekali, hehehe. (Ketahuan deh, niat jelek saya. Pingin baca bukunya biar bisa ikut-ikutan ngehina. Hadeh….)

Di luar dugaan, SAYA MALAH JATUH CINTA SAMA BUKU INI. Ya, silakan tertawakan saya. Saya sudah siapin kemoceng untuk menutup wajah malu saya, tapi saya nggak akan mengubah pendapat saya. Well, ketertarikan saya pada buku ini bukan hanya karena genre romance-nya, tapi juga pada konsep baru tentang vampir yang dikenalkan oleh Shepenie Meyer, sang penulis. Siapa sih, yang nggak ingin kayak Edward, muda selamanya, bebas dari rasa sakit, punya kecepatan dan tenaga luar biasa? Cuma..., kalo ingat jadi vampir harus minum darah ya, agak mikir-mikir juga sih, hehe. Btw, keluarga Cullen adalah vampir baik, artinya, mereka tidak minum darah manusia, tapi minum darah hewan. Anggota keluarga yang lain membuat lelucon tentang hal tersebut, menyebut diri mereka sebagai vampir vegetarian. Ada-ada saja. :D

Novel ini sebetulnya bisa dibuat lebih singkat lagi. Apalagi sebagian besar novel ini cuma berisi pujian-pujian Bella terhadap Edward. Doh, bosen juga lama-lama. Apalagi Bella terkadang kelewat berlebihan dalam menggambarkan ketampanan Edward. Misalnya nih, di halaman 255: Aku tak bisa membayangkan malaikat bisa lebih indah daripada dia. Tak ada yang bisa menandinginya dalam hal apapun. Pengen muntah? Sama.

Karakter Bella kelewat lembek untuk ukuran tokoh utama perempuan dalam buku cerita. Mau tak mau saya membandingkannya dengan Katniss (tokoh utama The Hunger Games) yang jauh lebih kuat. Saya pernah membaca suatu artikel yang menyebutkan bahwa novel ini sifatnya sangat personal bagi Stephenie Meyer. Mungkin karakter Bella mirip dengan beliau? Entahlah.

Sejujurnya, novel ini secara isi/bobot masih kalah dibanding, Harry Potter dan The Hunger Games (sorry, beda genre, tapi cuma dua judul itu yang muncul di kepala saya saat ini). Ketegangan justru baru terasa saat mendekati bab-bab terakhir. Harusnya novel ini cuma dapat 2/5  bintang. Tapi… mungkin ini yang namanya guilty pleasure kali ya, karena saya suka sekali buku ini meski saya tahu ceritanya kurang berbobot. Jadi, akhirnya saya memberinya 4/5 bintang. Silakan rajam saja dirikuuuu.


My reviews for this series:
1. Twilight
2. New Moon
3. Eclipse 

7 komentar:

  1. hahaha... Fyi, duluuuuu pas baca twilight ini, aku juga sempet mabuk kepayang. Buku 2 nya langsung dilalap, padal bentuk ebook, baca di hape, kuecil2. Tp stlh buku ke 3 nya, rasanya sdh pengen merajam si meyer, apa daya, buku ke 4 tetep dibaca karena kadung baca buku 1-3. Hasilnya? Sperti kebanyakan orang, misuh2 juga hahaha... *maapkan, klo malah curcol disini*

    eh, salam kenal yaaaa...
    Lila

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuihh~! Salut banget, bela-belain 'menyiksa' diri baca ebook di hape (soalnya aku pernah nyobain baca ebook di hape. Baru dua menit udah keluar air mata). Ini lagi baca Eplisdeh (buku 3). Uhm. Kalo Lila pengen merajam Stephenie Meyer, aku pengen sobek-sobek bukunya. Tapi ga jadi deh, mahal belinya, hehe. :P

      Salam kenal juga. Makasih sudah berkunjung. :)

      Hapus
  2. yayyy.... *nebar kembang*
    ada juga yang suka... kebanyakan temenku di goodreads pada mual kalo baca twilight saga. kalo aku? LOVEEEEEEEEEEE...!!! hihihi...
    salam kenal Vaan... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga, Rie. *toss*
      Banyak yang nggak suka, tapi sejujurnya Twilight-lah yang pertama kali mempopulerkan genre Paranormal Romance. Setuju nggak?

      Hapus
  3. kyaaaa jadi inget, aku dulu suka banget sama buku ini, gara-gara nggak suka filmnya aku jadi kehilangan greget. kalo udah lupa sama pemain filmnya nyoba baca ulang ah, mencoba kembali menemukan senangnya membaca buku ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener juga ya. Karena para pemerannya sangat terkenal, mau nggak mau saat membaca jadi kebayang muka tokoh-tokohnya kayak di film.

      Hapus
  4. aaaa twilight! awalnya saya juga nggak suka sama buku ini, apalagi filmnya (mungkin karena saya belum sempat membaca dan menontonnya) tapi setelah nonton plus baca buku ini penilaian saya terhadap buku ini berubah seratus delapan puluh derajat, saya jadi suka dan cinta banget sama twilight saga, jadinya twilight addict deh hehe *maap jadi curhat*
    btw salam kenal yaa hehe(:

    BalasHapus

Back to top