25 Jul 2012

Diary Si Bocah Tengil by Jeff Kinney

Judul Buku: Diary Si Bocah Tengil
Seri: Diary Si Bocah Tengil #1
Penulis: Jeff Kinney
Penerjemah: Ferry Halim
Penerbit: Atria, Februari 2012 (Cetakan XIV)
Tebal: 216 hlm.
ISBN: 9789791411202

Sinopsis Goodreads:
Bosan dengan buku cerita penuh tulisan tanpa gambar? Atau bosan dengan kisah fantasi penuh hal-hal gaib? Atau ingin mencoba sesuatu yang lebih menantang daripada komik tetapi tidak seberat novel? Nah, inilah jawabannya. Baca, deh diary milik Greg Heffley. Selain banyak kejadian lucu, di dalamnya juga bertaburan gambar-gambar kartun jenaka.

Kisah hidup Greg Heffley selama satu tahun ajaran sekolah ini dijamin bisa membuat pipi pegal, perut terkocok, bahkan mata berair. Kekonyolan dan kemalangan Greg akan membuat kalian mengingat kembali kejadian serupa yang mungkin pernah kalian alami.

Di dalamnya ada Sentuhan Keju yang menyeramkan, “Zoo-Wee Mama” yang menyebalkan, seorang anak yang mabuk gula, dan masih banyak lagi. Ingin tahu lebih lanjut? Cepat buka halaman pertama...

Mom membelikan Greg Heffley sebuah diary untuk mencatat “perasaannya” selama menjalani kehidupannya sebagai siswa sekolah menengah pertama. Perlu ditekankan, itu semua gagasan Mom, jadi jangan harap deh, Greg bakal menulis “Dear Diary” ini atau “Dear Diary” itu. Satu-satunya alasan Greg  bersedia melakukan itu semua adalah jika nanti dia menjadi kaya dan terkenal, orang-orang bisa membaca diary-nya (atau menurut Greg: JURNAL-nya) tanpa Greg perlu repot menjawab segala macam pertanyaan bodoh dari wartawan. Haha. Konyol banget kan?

Greg sudah memberi tahu Mom agar mencari buku yang tidak ada tulisan ‘diary’ di sampulnya. Apes bagi Greg, sebab Mom tidak mendengar permintaannya dan malah membeli buku dengan tulisan ‘DIARY’ besar-besar di sampulnya. Wah, bagaimana jika nanti Greg ketemu orang brengsek dan memergokinya membawa-bawa buku bertulisan ‘DIARY’? Bisa-bisa dia dianggap banci, pikir Greg. Bagaimanapun, Greg nggak protes pada Mom tuh. Patuh juga anak itu.

23 Jul 2012

Infinitely Yours by Orizuka

Judul Buku: Infinitely Yours
Penulis: Orizuka
Penerbit: GagasMedia
Tahun Terbit: 2012 (Cetakan VI)
Tebal: 304 Halaman
ISBN: 9797805085
Harga: Rp. 47.000,-
Rating: 4/5

Orang bilang, pertemuan pertama selalu kebetulan. Tapi, bagaimana caramu menjelaskan pertemuan-pertemuan kita selanjutnya? Apakah Tuhan campur tangan di dalamnya?

Kita bukanlah dua garis yang tak sengaja bertabrakan. Sekeras apa pun usaha kita berdua, saling menjauhkan diri—dan menjauhkan hati—pada akhirnya akan bertemu kembali.

Kau tak percaya takdir, aku pun tidak. Karenanya, hanya ada satu cara untuk membuktikannya....

Kau, aku, dan perjalanan ini.

Bagi saya, kalimat yang saya kutip dari sampul belakang novel ke-13 Orizuka, Infinitely Yours, di atas cukup membuat penasaran. Dari rangkaian kalimatnya yang begitu manis, saya menduga kisah novel ini akan sangat romantis. Tapi setelah membaca beberapa halaman awal, saya sadar tebakan saya kurang tepat, tapi tidak sepenuhnya salah juga. Ternyata ceritanya bergenre komedi romantis dan unsur komedinya sukses membuat saya nyengir-nyengir ganteng ketika membaca. :D

Adalah Jingga, gadis ceria yang terlalu hiperaktif, seorang Korean freak—menggemari segala hal yang berhubungan dengan budaya pop Korea dan fasih berbahasa Korea. Menilik penampilannya yang mungil seperti ABG serta gaya berpakaiannya yang ‘ramai’, siapa pun tak akan menyangka bahwa gadis ini sudah berumur dua puluh lima tahun. Ada pun seorang laki-laki bernama Rayan, pemuda workaholic yang pendiam dan kaku, miskin senyum dan sering tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Dua manusia beda gender dan saling bertolak belakang sifat tersebut dipertemukan oleh takdir pada sebuah bandara. Awal pertemuan mereka tak terlalu menyenangkan. Rayan secara tidak langsung merusak PSP (yep, konsol game portabel itu) milik Jingga, yang membuat Jingga jengkel dan menuntut ganti rugi. Rayan yang saat itu tengah terburu-buru mengejar flight memberikan kartu namanya kepada Jingga agar gadis itu bisa menghubunginya nanti.

Tak disangka, mereka ternyata bagian dari rombongan yang sama, rombongan tour ke Korea. Jingga yang pembawaannya ceria menganggap kebetulan tersebut suatu hal yang menyenangkan karena ia bisa segera meminta ganti rugi atas PSP-nya yang rusak, namun tidak bagi Rayan. Bukan bermaksud menghindar dari tanggung jawabnya, tapi pemuda itu merasa terganggu dengan kehadiran Jingga yang menurutnya terlalu bising dan hiperaktif, layaknya ABG umur tujuh belas tahun—Rayan awalnya memang tidak tahu berapa usia Jingga sebenarnya. Apalagi para peserta tour dipasang-pasangkan oleh Darma, pemimpin tour, dengan maksud agar setiap peserta harus saling menjaga pasangannya masing-masing selama tour berlangsung. Bisa ditebak, Jingga dipasangkan dengan Rayan yang langsung misuh-misuh.

Ternyata, baik Jingga maupun Rayan punya tujuan masing-masing setelah tiba di Korea nanti. Jingga sangat ingin berjumpa lagi dengan tour guide lokal, seorang pemuda asli Korea yang dikenalnya pada tour tahun lalu; pemuda tampan yang penampilannya mirip aktor drama Korea. Sementara Rayan, ia ingin mencari seseorang untuk membereskan masalah yang belum terselesaikan. Sebenarnya mengikuti tour ini bukan rencana Rayan—bahkan ia sebenarnya sangat membenci Korea dan lebih memilih tidak ke sana kalau bukan demi mencari seseorang tersebut—tapi karena rekannya salah membeli tiket (yang dibeli justru paket tour Korea, karena sang rekan berasumsi bahwa Rayan ke Korea untuk berlibur).

Tiba di Korea, Rayan segera mencari cara memisahkan diri dari rombongan untuk melaksanakan maksudnya. Sialnya, Jingga yang menjadi pasangan tournya mengetahui niat Rayan, dan gadis itu terlalu teguh memegang instruksi pemimpin tour yang mengharuskan pesertanya saling menjaga pasangannya. Jingga yang tak mampu mencegah Rayan kemudian memutuskan untuk ikut ke manapun pemuda sinis itu pergi. Rayan jadi pusing sendiri.

Selanjutnya, banyak hal tak terduga terjadi pada pasangan tour tersebut. Mulai dari tersesat di kota, ditinggal rombongan, hingga harus bermalam bersama di sebuah penginapan murah demi menghemat uang. Berhasilkan Rayan menemukan ‘seseorang’ yang menjadi alasannya terbang ke negara yang sangat dibencinya itu? Lalu bagaimana dengan Jingga yang terpaksa merelakan kebersamaannya dengan cowok Korea yang dirindukannya selama satu tahun?

Temukan jawabannya dalam Infinitely Yours.

***

Infinitely Yours adalah novel Orizuka pertama saya, juga novel bernuansa Korea pertama yang saya baca. Karena ini yang pertama, tentu saya tidak bisa membandingkan novel ini dengan novel-novel Orizuka yang lain. Tapi saya pribadi menyukai gaya menulis Orizuka di novel ini. Banyak adegan kocak yang bisa memancing senyum bahkan tawa. Sebagai pembaca yang tidak begitu banyak tahu tentang Korea (tapi saya cukup tahu tentang SNSD dan SuJu lho, hehe) novel ini menyajikan suasana Korea Selatan yang terasa nyata, walau sang penulis sendiri mengaku bahwa ia belum pernah ke Korea sebelumnya. Salut dengan Orizuka, sebab meskipun tak pernah menginjakkan kaki di Korea, ia melakukan banyak riset lewat internet (terutama Google Map) untuk mendapatkan gambaran detail tempat-tempat yang menjadi setting cerita novel ini. Juga, penulis memasukkan beberapa dialog berbahasa Korea (sering diucapkan oleh tokoh Jingga) yang membuat novel ini jadi makin meyakinkan, tanpa perlu membuat bingung pembaca karena penulis berbaik hati menambahkan keterangan/terjemahan di bagian footer halaman buku.

Tentang kisahnya, menurut saya cerita dalam buku ini bukan hal yang baru. Cerita tentang cewek periang dan cowok jutek cukup sering ditemui dalam novel-novel remaja yang beredar saat ini. Hanya saja, kembali kepada penulisnya, kepada kepiawaian mereka meramu formula yang sudah populer menjadi kisah yang menarik diikuti tanpa membuat bosan pembacanya. Dan Orizuka berhasil melakukannya. Infintely Yours menjadi novel yang ringan namun menyenangkan untuk disimak hingga halaman terakhir. Informasi mengenai beberapa tempat wisata di Korea dalam novel ini menjadi nilai tambah tersendiri. Ah, saya jadi ingin ke Korea, tapi siapa yang mau bayarin ya? T^T

Yang mengganjal di benak saya yaitu ketika mengetahui usia Jingga: apa iya di dunia nyata ada gadis berumur dua puluh lima tahun yang memiliki tingkah polah seperti ABG tujuh belas tahun? Rasanya saya sulit mengenyahkan pikiran tersebut pada awal-awal membaca novel ini. Syukurlah belakangan saya bisa menerimanya, karena ceritanya sendiri sudah menyedot seluruh perhatian saya dari isu usia tersebut.

Tokoh Rayan kurang menarik buat saya (bukan karena kami sama-sama cowok ya, haha). Maksud saya, karakter Rayan tidak mencerminkan namanya yang seharusnya (menurut penulis) seperti dewa—nama lengkapnya Narayan Sadewa, by the way. Meski saya belum pernah bertemu dewa betulan, masa iya sih ada dewa yang selalu ragu-ragu? Apalagi dewa yang mudah menyerah padahal sudah sangat dekat pada sesuatu begitu ia ingini? Mungkin Orizuka harus mengganti nama tokoh Rayan, karena sifat Rayan terlalu manusiawi jika disamakan dengan dewa, which is agak berlebihan sebenarnya, menyamakan manusia dengan dewa.

Soal cover, sebenarnya sangat manis. Mamun yang disayangkan adalah kalimat dengan tulisan Hangul (Korea) yang terletak tepat di bawah judul novel ini (semacam tagline) tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, atau setidaknya, bahasa Inggris. Saya penasaran dan ingin mengetahui maknanya. Alangkah baiknya jika pihak penerbit/penulis mau mencantumkan terjemahannya, tanpa perlu membuat repot pembaca sampai harus googling terlebih dahulu atau tanya sana-sini hanya untuk mengetahui makna dari kalimat tersebut.

Terakhir, ada isu yang cukup sensitif tentang novel ini, yaitu plagiat. Banyak pembaca yang bilang bahwa cerita novel ini mirip dengan film komedi romantis Thailand berjudul Hello Stranger. Mengenai hal tersebut, Orizuka sudah mengkonfirmasinya lewat situs pribadinya. Oh ya, soal umur Jingga, Orizuka juga memberikan komentarnya di situ.

Bagi para pecinta Korea, novel ini wajib dibaca dan dikoleksi. Dan bagi para penyuka cerita komedi romantis, novel ini layak dijadikan pilihan sebab ceritanya ringan dan menghibur. 4/5 bintang.

Selamat membaca.

1 Jul 2012

Wow Konyol! by Rons Imawan

Judul Buku: Wow Konyol!
Penulis: Rons "Onyol" Imawan
Penerbit: Penerbit Bentang Belia
Tahun Terbit: 2012 (Mei, Cetakan II)
Tebal: 320 Halaman
ISBN: 9786029397239
Harga: Rp. 49.000,-
Rating: 4/5

Jika kamu bertanya buku apa yang menghibur saya selama mengikuti diklat, maka buku inilah salah satunya. Buku yang telah mengalihkan dunia saya dari modul-modul diklat yang bikin pusing tujuh keliling itu!

Saat mendapati buku ini terpajang dengan manis di salah satu rak Gramedia Ekalokasari, Bogor, saya nggak bisa berhenti nyengir sambil bergumam, “Wah, covernya ngajak beratem banget!” Gimana nggak? Monalisa yang aslinya begitu anggun di-photoshop sedemikian rupa sehingga jadi kayak rocker galau begitu! *ngakak guling-guling* Kalau Mbah Leonardo Da Vinci masih hidup, dia pasti bakalan kiss the wall with forehead (jedut-jedutin kepala ke tembok) gara-gara karya masterpiece-nya diutak-atik begitu. Piss ah, Mbah Leonardo, rest in peace yah, di alam sana.

Cukup soal cover, sekarang kita bahas isinya. Mungkin kalian (apalagi yang punya twitter) sudah akrab dengan akun @WOWKonyol yang timeline-nya selalu dipenuli twit-twit “bangkai” yang bisa mengocok perut. Nah, buku ini sebagian besar isinya diambil dari akun twitternya tersebut. Saya bilang ‘sebagian besar’, karena terdapat beberapa twit konyol yang bukan milik si Onyol, sang penulis, melainkan milik teman-temannya yang sengaja di-mention ke dia untuk dimasukkan ke dalam buku ini. Twit mereka nggak kalah kocak, lho.

Rupanya cinta, gombal, jomblo (entah mengapa di buku ini ditulis ‘jomlo’), galau, dan 4L4Y adalah amunisi utama buku ini. Hal-hal tersebut disajikan dengan penuh kekonyolan oleh si penulis, baik dalam bentuk percakapan pendek maupun kalimat-kalimat wejangan yang busuknya minta ampun. Nggak hanya itu, Onyol juga terkadang memasukkan twit-twit yang menyindir pemerintah dan politik di negara ini. Kita diajak untuk berpikir kritis sambil tertawa bersama. Salut deh, buat si Onyol.

Ada satu bab yang bukan berisi twit-twit pendek, tapi semacam artikel yang judulnya Pesek Itu Indah. Lewat tulisan itu, Onyol memberikan pendapat dan argumennya terkait hidung pesek. Bahwa pemilik hidung pesek nggak perlu merasa minder dan harus mensyukuri kepesekannya, karena bagaimanapun, itu adalah pemberian Tuhan. Dijamin, kalian (dan saya) yang punya hidung pesek bakal merasa tersanjung, deh… atau nggak juga. Yah, baca sendiri ya, dan simpulkan sendiri. Haha. *peresensi yang minta dihajar pembacanya*

Nggak semua isi buku ini bikin ketawa. Bukan dalam arti nggak lucu, ya. Misalnya pada bagian Wejangan Magrib. Di situ Onyol membagi twit-twit seru yang selain mengajak pembaca Muslim untuk selalu ingat sholat, juga kalimat-kalimat yang mengajak kita untuk mengingat Tuhan, tanpa kesan menggurui sama sekali. Mungkin pembaca non-Muslim bisa men-skip bagian ini. Tapi saya pribadi (non-Muslim) memilih untuk membacanya. Dan, wow, nggak nyangka twit-twit si Onyol bisa begitu mengena. Beberapa kalimatnya begitu universal, jadi bisa berlaku juga untuk pembaca non-Muslim.

Nah, bab terakhir buku ini justru melenyapkan semua senyum dan tawa saya. Mengapa? Jeng jeng jeng!!! (halah…) Bab terakhir berisi CERMIS alias Cerita Misteri! Sialnya, saya membaca bagian ini pada malam hari. Dan cermis-nya sendiri benar-benar bikin buku kuduk saya merinding. Asem banget dah! Saya sarankan pada bagian ini kamu jangan membacanya seorang diri, apalagi pada malam hari. Kalaupun kamu sedang bersama seseorang, pastikan dulu bahwa orang itu benar-benar “orang”, karena bisa jadi dia bukan… Ah, malah merinding sendiri.

Secara keseluruhan buku ini sanggup membuat saya tertawa, bahkan sampai ngakak. Terdapat ilustrasi konyol dalam bentuk komik di buku ini, sayangnya porsinya sedikit. Ada sih jokes yang terkesan garing karena sudah sering kita baca/dengar, namun itu nggak mengurangi rasa suka saya pada buku ini.

7 Jun 2012

My Sister's Keeper (Penyelamat Kakakku) by Jodi Picoult

Judul: My Sister's Keeper (Penyelamat Kakakku)
Penulis: Jodi Picoult
Penerjemah: Hetih Rusli
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007
Tebal: 528 hlm.
ISBN: 9789792233995
Rating: 3/5

Sinopsis:
Beberapa jam setelah Anna lahir, ia sudah menyumbangkan sel darah tali pusat untuk kakaknya, Kate. Setelah itu Anna menjalani puluhan operasi, transfusi darah, dan suntikan agar Kate bisa melawan leukemia yang sudah dideritanya sejak kanak-kanak. Memang, untuk tujuan menyelamatkan hidup Kate-lah, Anna dilahirkan. Dan saat ini, ibunya meminta Anna menyumbangkan ginjalnya untuk Kate yang nyaris sekarat.

Menginjak usia remaja, Anna kini mulai berani mempertanyakan tujuan hidupnya.... Sampai kapan dia harus terus menjadi penyuplai kebutuhan kakaknya? Hingga akhirnya dia mengambil keputusan untuk menggugat orangtuanya agar memperoleh hak atas tubuhnya sendiri. Keputusan yang membuat keluarganya terpecah dan mungkin berakibat fatal untuk kakak yang teramat disayanginya....

Jika kau menggunakan cara yang salah secara moral untuk menyelamatkan hidup anakmu, apakah itu menjadikanmu ibu yang buruk?

Anna Fitzgerald, 13 tahun, menggugat orang tuanya atas hak medis terhadap tubuhnya sendiri. Selama bertahun-tahun Anna menjadi pendonor tunggal bagi Kate, kakaknya perempuannya yang menderita sejenis leukemia langka sejak masih kanak-kanak.

Kate pertama kali didiagnosis menderita leukemia APL pada umur dua tahun. Untuk menjaga Kate tetap hidup, dibutuhkan pendonor (darah dan sumsum tulang belakang) yang memiliki kesamaan genetik sempurna dengan Kate. Sayangnya baik orang tua maupun kakak laki-laki Kate tidak bisa menjadi pendonor sebab tidak memiliki tingkat kecocokan yang tinggi. Berkat kemajuan ilmu kedokteran, maka ‘dibuatlah’ Anna, anak ketiga yang bakal menjadi pendonor sempurna bagi Kate. Seberapa jam setelah lahir, Anna sudah mendonorkan tali pusarnya untuk Kate. Setelah itu Anna menjadi pendonor tetap bagi kate, menjalani puluhan suntikan untuk pengambilan sumsum tulang belakang, dan juga menjalani berkali-kali transfusi darah.

Kini, darah dan sumsum tulang belakang Anna saja tidak cukup, sebab berbagai pengobatan yang dijalani Kate akhirnya membuat ginjalnya tak lagi berfungsi dengan baik. Seperti yang sudah-sudah, kali ini Anna diminta untuk menyerahkan ginjalnya. Di luar dugaan, gadis itu menolak. Anna yang sudah beranjak remaja mulai mempertanyakan eksistensinya di dunia. Sampai kapan ia harus hidup seperti ini? Sampai kapan ia harus menjadi penyelamat kakaknya? Jika Kate tidak pernah sakit, apakah ia takkan pernah ada di dunia ini? Dan kalau kate meninggal, apakah itu berarti ia sudah tidak dibutuhkan lagi?

3 Jun 2012

Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela by Tetsuko Kuroyanagi


Penulis: Tetsuko Kuroyanagi
Penerjemah: Widya Kirana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2007 (Juni, Cetakan XIII)
Tebal: 272 Halaman
ISBN: 9789792236552
Harga: Rp. 50.000,-
Rating: 5/5

Ia lari ke tempat Mama menunggu sambil berteriak, “Aku ingin jadi penjual karcis!”

Mama tidak kaget. Dia hanya berkata, “Kukira kau ingin jadi mata-mata.”


Padahal Totto-chan baru kelas satu sekolah dasar, namun ia sudah dikeluarkan. Ibu Guru bilang pada Mama bahwa ia adalah anak nakal. Benarkah Totto-chan anak yang nakal? Sebenarnya tidak begitu. Totto-chan hanyalah anak yang punya rasa ingin tahu yang besar. Dan itulah sebabnya ia suka berdiri di dekat jendela selama pelajaran berlangsung, menanti pemusik jalanan lewat, kemudian memanggil mereka dan meminta mereka bernyanyi karena Totto-chan sangat suka mendengarkan musik. Kadang gadis cilik itu terlihat bercakap-cakap seorang diri di jendela. Karena penasaran, Ibu Guru mendatangi Totto-chan untuk melihat kepada siapa gadis cilik itu bicara. Sungguh mengherankan, sebab yang diajak bicara olehnya adalah sepasang burung walet yang sedang membuat sarang di bawah atap! Totto-chan juga suka membuka dan menutup mejanya berulang-ulang, memasukkan dan mengeluarkan alat-alat tulisnya dari meja terus-menerus sampai Ibu Guru merasa jengkel. Dan masih banyak hal lain yang dilakukan oleh Totto-chan yang membuat Ibu Guru kehabisan akal, karena beliau tak biasa menghadapi anak kecil yang kelewat aktif seperti Totto-chan. Akhirnya gadis kecil itu pun dikeluarkan dari sekolah, dan Mama hanya bisa memaklumi keputusan tersebut.

Mama pun mendaftarkan Totto-chan ke Tomoe Gakuen. Karena tak ingin melukai perasaan Totto-chan, maka Mama tidak bilang padanya bahwa ia dikeluarkan. Mama hanya bilang bahwa ia akan pindah sekolah. Kelak saat Totto-chan dewasa, Mama akan memberi tahu alasan yang sebenarnya.

Totto-chan senang sekali begitu melihat sekolah barunya. Sekolah itu unik, karena kelasnya terdiri dari gerbong-gerbong kereta yang sudah tidak dipakai lagi dan halamannya dipenuhi bunga-bunga yang indah. Pintu gerbang sekolahnya adalah dua batang kayu yang ditumbuhi daun dan ranting! Tadinya Mama sempat khawatir kalau-kalau sekolah itu tidak akan menerima Totto-chan yang dicap “nakal” di sekolah lamanya. Tapi ternyata Kepala Sekolah adalah orang yang ramah dan ia memahami anak-anak seperti Totto-chan. Totto-chan dipanggil ke ruang Kepala Sekolah, sementara Mama disuruh pulang saja. Totto-chan diminta oleh Kepala Sekolah untuk bercerita apa saja yang ia mau. Mendengar hal itu, Totto-chan merasa heran sekaligus senang, sebab ia belum pernah disuruh bercerita tentang apa saja yang ia mau, terlebih lagi ada orang yang mau mendengarkannya, selama empat jam penuh! Begitulah, Totto-chan akhirnya diterima di sekolah itu.

Sistem pendidikan di Tomoe Gakuen sangat berbeda dengan sekolah konvensional lainnya. Di sana, murid-murid boleh mengubah urutan pelajaran sesuai dengan minat mereka. Ada yang memulai dengan belajar fisika, ada yang memilih menggambar, ada yang ingin belajar bahasa dulu, pokoknya bebas. Tak jarang pula kepala sekolah mengajak jalan-jalan para murid sambil menjelaskan apa saja yang mereka lihat saat jalan-jalan. Tanpa disadari oleh para murid, mereka telah belajar banyak hal, dengan cara yang sangat menyenangkan. Belum pernah Totto-chan merasa segirang ini saat bersekolah. Ia merasa kerasan di Tomoe Gakuen. Selain karena cara belajarnya menyenangkan, ia juga punya banyak teman dan Kepala Sekolah yang sayang pada semua murid. Totto-chan yang tadinya dianggap nakal ternyata adalah anak yang baik. Hal ini terlihat dari betapa ia sangat menyayangi teman-temannya, yang beberapa di mereka memiliki cacat fisik.

Hal menarik apa saja yang dialami Totto-can selama bersekolah di Tomoe Gakuen? Baca selengkapnya dalam Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela.

---o---

Jika baca bareng GRI yang saya review sebelumnya adalah fiksi berlatar Asia, maka review kali ini adalah nonfiksi berlatar Asia, dan bacaan yang saya pilih adalah Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela. Ya, Totto-chan adalah sebuah buku nonfiksi. :)

Buku ini adalah kisah nyata sang penulis sendiri, Tetsuko Kuroyanagi yang semasa kecil dipanggil dengan nama Totto-chan. Sekolah Tomoe Gakuen, Kepala Sekolah Sosaku Kobayashi, dan semua peristiwa yang diceritakan dalam buku ini adalah nyata (yeah, termasuk kisah konyol saat Totto-chan jatuh ke lubang kakus! Hehehe). Lewat buku ini, penulis ingin membagi pengalaman masa kecilnya saat menjalani sistem pendidikan yang berbeda dari sekolah-sekolah lain, yang dirancang sendiri oleh Kepala Sekolah. Meski saat itu tak sedikit orang tua yang tak menyukai sistem pendidikan di Tomoe Gakuen, tapi Tetsuko Kuroyanagi bisa membuktikan pada seluruh warga Jepang bahwa sistem tersebut berhasil menjadikannya pribadi yang jauh lebih baik. Mungkin, seandainya saat itu Mama tidak menyekolahkannya di Tomoe Gakuen, Totto-chan kecil akan tumbuh sebagai anak yang terus dianggap nakal dan menjadi pribadi yang rendah diri. Di Jepang, buku ini dibaca sebagai buku wajib pendidikan.

Salah satu kisah favorit saya di buku ini adalah ketika Totto-chan pergi mewakili sekolahnya untuk bergabung bersama murid dari sekolah-sekolah lain untuk mengunjungi rumah sakit tempat para prajurit korban perang dirawat (saat itu Perang Pasifik sudah pecah). Di sebuah bangsal, murid-murid diminta bernyanyi bersama untuk menghibur para serdadu yang terluka. Saat anak-anak mulai bernyanyi, Totto-chan hanya bisa diam karena ia tidak kenal lagu itu, sebab lagu itu tak pernah diajarkan di Tomoe Gakuen. Para prajurit bertepuk tangan gembira begitu anak-anak selesai menyanyi. Ketika Guru Pendamping menyuruh anak-anak menyanyikan lagu berikutnya, Totto-chan lagi-lagi hanya bisa diam. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menghibur para prajurit yang terluka. Ia pun memutuskan untuk bernyanyi sendiri lagu yang ia tahu, lagu yang paling terkenal di Tomoe Gakuen, yaitu lagu yang biasa mereka nyanyikan sebelum makan!
“Yuk kunyah baik-baik,
Semua makananmu…”


Anak-anak menertawakan Totto-chan, tapi gadis kecil itu tidak peduli. Ia terus bernyanyi.

“Yuk kunyah baik-baik,
Nasi, ikan, sayur!”
Selesai menyanyikan lagu pendek itu, Totto-chan membungkuk memberi hormat. Saat mengangkat kepalanya, ia heran melihat seorang serdadu meneteskan air mata. Totto-chan mengira ia telah melakukan sesuatu yang buruk, tapi kemudian serdadu itu menepuk lembut kepalanya dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Totto-chan tidak mengerti, tapi ia lega karena ia tahu ia tidak melakukan hal buruk.

Sungguh menyenangkan membaca buku ini. Buku yang indah, konyol, menyentuh, tapi juga inspiratif.

5/5 bintang untuk Totto-chan yang polos, untuk Kepala Sekolah yang baik hati, untuk Tomoe Gakuen yang menyenangkan!

31 Mei 2012

The Good Earth (Bumi Yang Subur) by Pearl S. Buck

Judul Buku: The Good Earth (Bumi Yang Subur)
Trilogi: House Of Earth #1
Penulis: Pearl S. Buck
Penerjemah: Irina M. Susetyo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2008 (Oktober, Cetakan V)
Tebal: 512 Halaman
ISBN: 9789792241051
Harga: Rp. 53.000,-
Rating: 3/5

Momen yang pas bagi saya karena Baca Bareng Fiksi/Nonfiksi GRI kali ini adalah buku berlatar Asia. Saya jadi punya alasan untuk segera membaca The Good Earth setelah sekian lama ditinggalkan berdebu di lemari karena sering kedistract sama buku-buku lain. :)

The Good Earth atau Tanah yang Subur berkisah tentang Wang Lung, petani miskin yang menggantungkan hidupnya dari tanah pertanian yang digarapnya. Cerita berawal pada hari pernikahan Wang Lung. Hari itu ia berangkat ke kota, mendatangi rumah tuan tanah kaya untuk menjemput seorang budak perempuan yang tak lain adalah calon istrinya.

Wang Lung hanya bisa menikahi budak lantaran ia berasal dari keluarga miskin. O-Lan, budak perempuan keluarga Hwang yang kini telah menjadi istri Wang Lung memiliki paras yang jauh dari menarik, kulitnya hitam, serta kakinya besar-besar sebab tak pernah diikat. Namum O-Lan adalah istri yang patuh, tekun bekerja, tak banyak bicara, dan tak pernah menuntut apa-apa dari suaminya. Hati Wang Lung senang, karena ia hanyalah petani miskin yang tak sanggup membelikan barang-barang mewah seperti perhiasan, baju-baju bagus atau sepatu mahal buat istrinya. O-Lan sering membantu suaminya di sawah jika ia sudah membereskan semua pekerjaan di rumah seperti memasak dan membersihkan rumah mereka. Bersama-sama mereka membajak dan mencangkuli sawah, kemudian menanami tanah mereka dengan berbagai macam benih. Begitulah Wang Lung menjalani kehidupannya sehari-hari.

Petani itu mengelola tanahnya dengan tekun serta rajin menyisihkan uang dari penjualan hasil panennya sehingga di kemudian hari ia mampu membeli sebidang tanah milik keluarga Hwang tempat istrinya mengabdi dulu. Bencana kekeringan dan kelaparan melanda daerah tempat tinggal Wang Lung. Agar tidak mati kelaparan, Wang Lung dan keluarganya yang terdiri dari istrinya, ayahnya yang sudah tua, serta tiga anaknya pergi mengungsi ke Selatan, meninggalkan tanah yang sudah tak menghasilkan apa-apa lagi pada saat itu. Di kota di Selatan mereka menjalani hidup di bawah garis kemiskinan dan terpaksa tinggal jalanan, seperti yang juga dilakukan oleh pengungsi lainnya.

Setelah sekian waktu menjalani hidup susah di kota, Wang Lung mendapatkan keberuntungan yang tak diduga-duga. Ia akhirnya dapat kembali ke kampungnya, lagi pula ia sudah rindu pada tanahnya.

Cerita kemudian berlanjut hingga akhirnya Wang Lung sanggup membeli lebih banyak tanah berkat kerja kerasnya, dan juga berkat bantuan sang istri. Wang Lung pun mampu menikmati hidup berkecukupan, bahkan, bisa dibilang ia sudah jadi orang kaya. Namun menjadi kaya tak lantas membuat hidupnya tenang. Masalah datang silih berganti. Mulai dari serangan hama belalang yang menyerbu tanah pertaniannya, banjir besar, gangguan dari pamannya, masalah dari anak-anaknya, juga ketidakmampuannya membendung hawa nafsunya sehingga ia berbuat serong dengan perempuan lain.

Baca selengkapnya kisah keluarga Wang dalam The Good Earth.

Sudah lama saya mendengar kepopuleran buku ini dan kabarnya buku ini adalah salah satu buku favorit Oprah Winfrey. Saya cukup beruntung membeli buku ini sewaktu ada diskon besar-besaran di Gramedia Makassar setahun yang lalu (kebetulan waktu itu lagi dinas di sana).

Buku ini cukup kaya dalam menggambarkan kehidupan masyarakat Cina pada awal abad ke-20. Kita bisa mengetahui beberapa tradisi dan adat-istiadat Cina pada masa itu, misalnya tentang anak perempuan yang harus diikat kakinya agar dipandang cantik dan agar mudah mendapatkan suami walau sebenarnya tradisi mengikat kaki tersebut sangat menyiksa, juga tentang betapa pentingnya anak lelaki dalam sebuah keluarga. Pada masa itu tak hanya kaisar saja yang boleh memiliki gundik. Rakyat yang punya cukup uang atau dengan kata lain, kaya, dianggap wajar untuk memiliki gundik. Anak perempuan dianggap tak terlalu penting, bahkan menyusahkan, sehingga keluarga-keluarga miskin lebih suka menjual anak perempuannya pada keluarga-keluarga kaya untuk dijadikan pelayan atau budak.

Tokoh yang saya sukai di buku ini adalah O-Lan, sang istri. Wanita ini sangat tegar dan kuat. Dalam buku ini dikisahkan bahwa perempuan itu mengurus sendiri kelahiran anak-anaknya tanpa dibantu oleh tabib sama sekali. Sesudah melahirkan, ia langsung turun lagi ke sawah untuk membantu sang suami mengolah tanah. Tak hanya kekuatan fisiknya, ketegarannya pun pantut dikagumi. Hal tersebut terlihat pada suatu peristiwa ketika keluarga Wang Lung diserang oleh tetangga-tetangga mereka yang mengira Wang Lung menimbun bahan makanan dan mencoba merampok keluarganya. Pada masa-masa sulit, O-Lanlah yang selalu paling tegar dibanding suaminya sendiri. Perempuan itu tidak banyak bicara namun tangannya begitu cekatan. Ia sebetulnya boleh berbangga hati saat suaminya sudah menjadi orang kaya, namun karena sudah menjadi sifatnya, O-Lan tetap rendah hati, tak pernah meminta apa-apa pada suami, dan masih melakukan pekerjaannya dengan tekun tanpa banyak omong.

Kenikmatan membaca saya agak terganggu sebab terjemahannya sepertinya masih menggunakaan kalimat-kalimat lama. Misalnya, kalimat "dalam pada itu" terus-terusan muncul di buku ini. Ada baiknya jika buku ini hendak dicetak ulang, terjemahannya harap diperbaiki lagi, meski pada dasarnya terjemahan buku ini sudah baik. Beberapa typo masih ditemukan di buku ini, di antaranya:
*Ijul mode on*
(hlm. 148) bsia = bisa
(hlm. 339) samapi = sampai
(hlm. 347) danWang = dan Wang (spasi)
(hlm. 383) hari.Di = hari. Di (spasi)
(hlm. 414) berangkat tua = beranjak tua
(hlm. 434) ruangan-ruanganitu = ruangan-ruangan itu (spasi)
(hlm. 460) disuakinya = disukainya
(hlm. 485) sesunggguhnya = sesungguhnya
*Ijul mode off*

Segitu saja typo-nya. Mungkin ada yang terlewat, karena saya nggak seteliti Ijul, Sang Polisi Typo. :P

By the way, The Good Earth adalah buku pertama dari trilogi House Of Earth, dan semuanya sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh PT Gramedia Pustaka Utama:

28 Mei 2012

Eclipse (Gerhana) by Stephenie Meyer

Judul Buku: Eclipse (Gerhana)
Seri: Twilight Saga #3
Penulis: Stephenie Meyer
Penerjemah: Monica Dwi Chresnayani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2010 (Februari, Cetakan XIV)
Tebal: 688 Halaman
ISBN: 9789792240528
Harga: Rp. 73.500,-
Rating: 3/5

Victoria yang patah hati sejak sekasihnya dihancurkan oleh keluarga Cullen masih menyimpan dendam pada Isabella Swan. Vampir berambut merah itu mulai membentuk pasukan vampir baru yang kuat, lapar, dan berbahaya, untuk mengincar Bella yang selama ini dalam lindungan keluarga Cullen. Demi menyelamatkan Bella, keluarga Cullen akhirnya bekerja sama dengan para werewolf dari La Push untuk bersiap menghadapi serangan. Dengan demikian, inilah kali pertama vampir dan werewolf melakukan genjatan senjata dan mulai bekerja sama setelah beratus-ratus tahun bermusuhan.

Sementara itu, hati Bella masih bimbang karena ia harus memilih antara cintanya kepada Edward atau persahabatannya dengan Jacob. Apalagi Jacob memutuskan tak akan menyerah begitu saja. Lelaki itu begitu menginginkan Bella, dan ia ingin membuktikan pada Bella bahwa gadis itu sebenarnya mencintainya lebih dari sekadar sahabat.

Di tengah pertarungan sengit antara keluarga Cullen+kawanan werewolf melawan pasukan vampir ciptaan Victoria, Bella harus menetapkan pilihannya: Edward atau Jacob?

---o---

Seri Twilight ke-3 ini lumayan membuat saya jengkel setengah mati. Jika dua buku sebelumnya sangat saya sukai, maka tidak dengan buku ini (cukup sebatas ‘suka’ saja, nggak pake ‘banget’). Sikap Bella yang plin-plan membuat saya ingin melemparinya dengan kulit durian. Bagaimana tidak? Ia ingin memiliki Edward, tapi di sisi lain ia juga tak mau jauh-jauh dari Jacob. Serakah banget kan? Dan novel setebal ini sebagian besar membahas kebimbangan Bella tersebut. Gawd, membosankan! Mungkin inilah yang membuat saya butuh waktu lebih dari seminggu untuk membaca buku ini.

Untungnya ada beberapa bagian menarik yang menyelamatkan buku ini—yang mencegah saya melemparnya ke kolong tempat tidur (yeah, nggak sampai segitunya sih, hehe).

Bagian-bagian yang (menurut saya) menarik itu adalah:

1. Kisah masa lalu Jesper Cullen. Ada alasan mengapa Jesper ditunjuk keluarga Cullen untuk mengajari mereka cara bertarung. Di masa lalu, Jesper adalah prajurit yang handal. Sayangnya ia dijadikan vampir oleh sosok vampir perempuan yang saat itu sedang membentuk pasukan, persis dengan kondisi saat ini di mana Victoria juga sedang membuat pasukan.

2. Kisah masa lalu Rosalie Cullen. Rosalie yang cantik jelita itu ternyata memiliki masa lalu yang suram. Dan ternyata ia tidak membenci Bella seperti yang disangka Bella selama ini. Rosalie justru iri pada kehidupan Bella sebagai manusia. Ia berharap Bella mempertimbangkan kembali keinginannya untuk menjadi vampir, karena seburuk apapun, sesakit apapun hidup yang dijalani Bella, menurut Rosalie hidup sebagai manusia adalah sesuatu yang indah, sesuatu yang sangat dirindukan vampir rupawan itu.

3. Sejarah para werewolf. Kisah tersebut dituturkan ayah Jacob pada semacam inisiasi werewolf-werewolf baru yang juga dihadiri Bella. Beliau menceritakan bagaimana leluhur mereka akhirnya bisa memiliki kemampuan berubah wujud (shapeshifter) menjadi serigala. Memang benar kata Jacob di buku pertama dan kedua, bahwa kemunculan werewolf berkaitan erat kaitannya vampir, dan lewat kisah tersebut kita akhirnya tahu sejarahnya. Menurut saya bagian ini benar-benar menarik. Bahkan mungkin bisa dibuat novel sendiri. :)

4. Adegan latihan bertarung keluarga Cullen di hutan. Keren!

5. Adegan pertarungan Edward vs Victoria bersamaan dengan pertarungan Seth vs Riley. Untuk ukuran novel romance, adengan pertarungan ini lumayan oke. Sayang sekali adegan pertarungan keluarga Cullen+para werewolf melawan pasukan Victoria tidak ditampilkan di buku (biggest thanks buat kru film Eclipse yang mewujudkan adegan tersebut di film).

Overall, saya cuma memberi rating 3/5 bintang untuk buku Eplisdeh ini berkat Bella yang sukses membuat saya muak. Sorry banget, Bells.


My reviews for this series:
1. Twilight
2. New Moon
3. Eclipse