31 Mei 2012

The Good Earth (Bumi Yang Subur) by Pearl S. Buck

Judul Buku: The Good Earth (Bumi Yang Subur)
Trilogi: House Of Earth #1
Penulis: Pearl S. Buck
Penerjemah: Irina M. Susetyo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2008 (Oktober, Cetakan V)
Tebal: 512 Halaman
ISBN: 9789792241051
Harga: Rp. 53.000,-
Rating: 3/5

Momen yang pas bagi saya karena Baca Bareng Fiksi/Nonfiksi GRI kali ini adalah buku berlatar Asia. Saya jadi punya alasan untuk segera membaca The Good Earth setelah sekian lama ditinggalkan berdebu di lemari karena sering kedistract sama buku-buku lain. :)

The Good Earth atau Tanah yang Subur berkisah tentang Wang Lung, petani miskin yang menggantungkan hidupnya dari tanah pertanian yang digarapnya. Cerita berawal pada hari pernikahan Wang Lung. Hari itu ia berangkat ke kota, mendatangi rumah tuan tanah kaya untuk menjemput seorang budak perempuan yang tak lain adalah calon istrinya.

Wang Lung hanya bisa menikahi budak lantaran ia berasal dari keluarga miskin. O-Lan, budak perempuan keluarga Hwang yang kini telah menjadi istri Wang Lung memiliki paras yang jauh dari menarik, kulitnya hitam, serta kakinya besar-besar sebab tak pernah diikat. Namum O-Lan adalah istri yang patuh, tekun bekerja, tak banyak bicara, dan tak pernah menuntut apa-apa dari suaminya. Hati Wang Lung senang, karena ia hanyalah petani miskin yang tak sanggup membelikan barang-barang mewah seperti perhiasan, baju-baju bagus atau sepatu mahal buat istrinya. O-Lan sering membantu suaminya di sawah jika ia sudah membereskan semua pekerjaan di rumah seperti memasak dan membersihkan rumah mereka. Bersama-sama mereka membajak dan mencangkuli sawah, kemudian menanami tanah mereka dengan berbagai macam benih. Begitulah Wang Lung menjalani kehidupannya sehari-hari.

Petani itu mengelola tanahnya dengan tekun serta rajin menyisihkan uang dari penjualan hasil panennya sehingga di kemudian hari ia mampu membeli sebidang tanah milik keluarga Hwang tempat istrinya mengabdi dulu. Bencana kekeringan dan kelaparan melanda daerah tempat tinggal Wang Lung. Agar tidak mati kelaparan, Wang Lung dan keluarganya yang terdiri dari istrinya, ayahnya yang sudah tua, serta tiga anaknya pergi mengungsi ke Selatan, meninggalkan tanah yang sudah tak menghasilkan apa-apa lagi pada saat itu. Di kota di Selatan mereka menjalani hidup di bawah garis kemiskinan dan terpaksa tinggal jalanan, seperti yang juga dilakukan oleh pengungsi lainnya.

Setelah sekian waktu menjalani hidup susah di kota, Wang Lung mendapatkan keberuntungan yang tak diduga-duga. Ia akhirnya dapat kembali ke kampungnya, lagi pula ia sudah rindu pada tanahnya.

Cerita kemudian berlanjut hingga akhirnya Wang Lung sanggup membeli lebih banyak tanah berkat kerja kerasnya, dan juga berkat bantuan sang istri. Wang Lung pun mampu menikmati hidup berkecukupan, bahkan, bisa dibilang ia sudah jadi orang kaya. Namun menjadi kaya tak lantas membuat hidupnya tenang. Masalah datang silih berganti. Mulai dari serangan hama belalang yang menyerbu tanah pertaniannya, banjir besar, gangguan dari pamannya, masalah dari anak-anaknya, juga ketidakmampuannya membendung hawa nafsunya sehingga ia berbuat serong dengan perempuan lain.

Baca selengkapnya kisah keluarga Wang dalam The Good Earth.

Sudah lama saya mendengar kepopuleran buku ini dan kabarnya buku ini adalah salah satu buku favorit Oprah Winfrey. Saya cukup beruntung membeli buku ini sewaktu ada diskon besar-besaran di Gramedia Makassar setahun yang lalu (kebetulan waktu itu lagi dinas di sana).

Buku ini cukup kaya dalam menggambarkan kehidupan masyarakat Cina pada awal abad ke-20. Kita bisa mengetahui beberapa tradisi dan adat-istiadat Cina pada masa itu, misalnya tentang anak perempuan yang harus diikat kakinya agar dipandang cantik dan agar mudah mendapatkan suami walau sebenarnya tradisi mengikat kaki tersebut sangat menyiksa, juga tentang betapa pentingnya anak lelaki dalam sebuah keluarga. Pada masa itu tak hanya kaisar saja yang boleh memiliki gundik. Rakyat yang punya cukup uang atau dengan kata lain, kaya, dianggap wajar untuk memiliki gundik. Anak perempuan dianggap tak terlalu penting, bahkan menyusahkan, sehingga keluarga-keluarga miskin lebih suka menjual anak perempuannya pada keluarga-keluarga kaya untuk dijadikan pelayan atau budak.

Tokoh yang saya sukai di buku ini adalah O-Lan, sang istri. Wanita ini sangat tegar dan kuat. Dalam buku ini dikisahkan bahwa perempuan itu mengurus sendiri kelahiran anak-anaknya tanpa dibantu oleh tabib sama sekali. Sesudah melahirkan, ia langsung turun lagi ke sawah untuk membantu sang suami mengolah tanah. Tak hanya kekuatan fisiknya, ketegarannya pun pantut dikagumi. Hal tersebut terlihat pada suatu peristiwa ketika keluarga Wang Lung diserang oleh tetangga-tetangga mereka yang mengira Wang Lung menimbun bahan makanan dan mencoba merampok keluarganya. Pada masa-masa sulit, O-Lanlah yang selalu paling tegar dibanding suaminya sendiri. Perempuan itu tidak banyak bicara namun tangannya begitu cekatan. Ia sebetulnya boleh berbangga hati saat suaminya sudah menjadi orang kaya, namun karena sudah menjadi sifatnya, O-Lan tetap rendah hati, tak pernah meminta apa-apa pada suami, dan masih melakukan pekerjaannya dengan tekun tanpa banyak omong.

Kenikmatan membaca saya agak terganggu sebab terjemahannya sepertinya masih menggunakaan kalimat-kalimat lama. Misalnya, kalimat "dalam pada itu" terus-terusan muncul di buku ini. Ada baiknya jika buku ini hendak dicetak ulang, terjemahannya harap diperbaiki lagi, meski pada dasarnya terjemahan buku ini sudah baik. Beberapa typo masih ditemukan di buku ini, di antaranya:
*Ijul mode on*
(hlm. 148) bsia = bisa
(hlm. 339) samapi = sampai
(hlm. 347) danWang = dan Wang (spasi)
(hlm. 383) hari.Di = hari. Di (spasi)
(hlm. 414) berangkat tua = beranjak tua
(hlm. 434) ruangan-ruanganitu = ruangan-ruangan itu (spasi)
(hlm. 460) disuakinya = disukainya
(hlm. 485) sesunggguhnya = sesungguhnya
*Ijul mode off*

Segitu saja typo-nya. Mungkin ada yang terlewat, karena saya nggak seteliti Ijul, Sang Polisi Typo. :P

By the way, The Good Earth adalah buku pertama dari trilogi House Of Earth, dan semuanya sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh PT Gramedia Pustaka Utama:

7 komentar:

  1. memang hebat wanita-wanita di Cina walaupun kadang suka didiskriminasi oleh oleh keadaan (adat, budaya) di sana

    BalasHapus
  2. Setuju, Mbak. :)
    Saya sangat menyukai tokoh O-Lan ini, sampai-sampai saya marah ketika Wang Lung melirik wanita lain yang menurutnya lebih cantik dari O-Lan.

    BalasHapus
  3. *huh... komenku lewat mobile ngga keluar yaa?*

    Duluuuu... aku pernah membaca buku tulisan Pearl S buck ini, beli di kaki lima entah judulnya apa, lupa. Ngantuki, dengan tokoh cewek Cina juga. BTW, S Buck ini orang mana ya? Kok tokohnya banyak Asia gitu ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Copas dari wikipedia ^^:
      Pearl Sydenstricker Buck (June 26, 1892 – March 6, 1973) also known by her Chinese name Sai Zhenzhju (Chinese: 賽珍珠; pinyin: Sài Zhēnzhū), was an American writer who spent most of her time until 1934 in China.

      Hapus
  4. serius waktu ngebacain revienya tapi langsung ngakak waktu baca kalimat *Ijul mode on* :)

    pengen sekali-sekali baca Pearl S. Buck karena sepertinya bukunya sarat makna... tapi selalu terlupakan karena ada buku lain yang sepertinya lebih menggiurkan... :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha. Ijul memang top! ^^

      Iyah, ini aja baca The Good Earth gegara pingin ikutan baca bareng GRI. Kalo ga, entah bakalan dibiarkan berdebu sampai kapan. Tapi ga nyesel kok. Setidaknya sudah pernah baca salah satu karya terbaik Pear S. Buck. :)

      Hapus
  5. bukunya jual ke saya ya? saya lg butuh banget..please reply ke arthaland@gmail.com

    BalasHapus

Back to top