30 Sep 2013

Lady of Skye (Romansa di Pulau Skye) by Patricia Cabot

Judul Buku: Lady of Skye (Romansa di Pulau Skye)
Penulis: Patricia Cabot
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2010
Tebal: 504 halaman
ISBN-13:  9789792264494
Rating: 5/5


Novel historical romance kedua yang saya baca. Lady of Skye berkisah tentang Dr. Reilly Stanton yang datang ke Lyming, sebuah desa di pulau Skye, untuk bekerja sebagai dokter di sana untuk menjawab iklan dari Lord Glendenning. Reilly rela jauh-jauh dari London dan meninggalkan kehidupannya yang nyaman untuk membuktikan kepada mantan tunangannya bahwa ia bisa menjadi dokter yang baik, dan bukannya seorang pemabuk tidak berguna. Reilly berharap apa yang dilakukannya mampu meluluhkan hati sang mantan sehingga mau menerimanya kembali.

Begitu tiba di Lyming, Reilly langsung memperoleh kesempatan untuk membuktikan keahliannya, yaitu mencoba menyelamatkan nyawa tukang perahu mabuk yang tercebur ke laut yang sangat dingin. Akan tetapi usaha Reilly sia-sia, dan dengan berat hati ia memvonis bahwa tukang perahu tersebut telah meninggal. Namun kedatangan Miss Brenna, wanita yang selama ini dianggap dokter desa Lyming mengejutkan Reilly. Bagaimana tidak, hanya dengan pukulan super-keras dari Miss Brenna, tubuh tukang perahu yang tadinya telah dianggap mati oleh Reilly ternyata bisa bangun lagi, setelah terbatuk-batuk cukup parah. Dalam hati Reilly menjuluki Miss Brenna sebagai “Wanita Amazon” karena sikapnya yang bar-bar.

Sebenarnya, tujuan Lord Glendenning (tuan tanah setempat) memasang iklan adalah agar siapapun dokter yang  menjawab iklannya akan menempati pondok tempat Miss Brenna tinggal, sehingga mau tidak mau Miss Brenna harus keluar dari pondok dan pindah ke kastil sang Lord. Ya, Lord Glendenning menyukai Miss Brenna, dan itu satu-satunya cara agar Brenna mau tinggal bersama dengannya. Di sisi lain, Reilly awalnya mengalami kesulitan sebab penduduk setempat lebih mempercayai Miss Brenna sebagai dokter. Reilly harus berusaha untuk memperoleh kepercayaan masyarakat. Untungnya, hal tersebut tak terlalu berat bagi Reilly, oleh karena pembawaannya yang ceria, mudah bergaul, dan tidak menganggap Miss Brenna sebagai saingan, tapi justru sebagai rekan kerja.

Bisa ditebak ke mana arah jalan cerita. Dr. Reilly Stanton diam-diam mulai menyukai “Wanita Amazon” tersebut. Meski sikap Brenna cenderung kasar dan suka mengenakan celana panjang layaknya laki-laki, Miss Brenna sebenarnya cantik dan berhati lembut. Hal tersebut terlihat dari bagaimana wanita itu dengan tulus dan penuh perhatian menangani setiap pasien yang datang kepadanya. Perlahan-lahan Reilly mampu menghapus ingatan tentang mantan tunangannya. Akan tetapi, Miss Brenna sendiri penuh dengan misteri. Reilly dilema, sebab sebagai seorang Marquis, ia tak boleh sembarangan memilih pasangan hidup. Lagi pula, Lord Glendenning pasti akan membunuhnya bila tahu dirinya menyukai Brenna.

Sebenarnya misteri apa yang menyelimuti Miss Brenna? Mengapa wanita itu kerap terlihat mondar-mandir di pemakaman saat malam tiba? Mampukah Dr. Reilly Stanton dan Miss Brenna menangani wabah kolera yang mulai menghantui Lyming—wabah yang pernah membunuh hampir sepertiga populasi desa itu? Bagaimana akhir kisah cinta terlarang mereka?

Lagi-lagi saya harus mengakui bahwa novel historical romance memang bukan sekadar cerita romance semata. Setidaknya untuk novel ini. Novel yang ditulis oleh Patricia Cabot a.k.a Meg Cabot ini benar-benar membuat saya kagum. Begitu banyak hal positif dari novel ini yang membuat saya larut di dalamnya. Ceritanya menarik, karena mengangkat profesi dokter dan wabah kolera yang konon benar-benar terjadi di pada masa itu. Dibutuhkan riset yang baik untuk mengangkat tema wabah kolera dan profesi seorang dokter pada tahun 1800-an ke dalam kisah romance. Dialog dan adegan dalam novel ini penuh dengan humor yang mampu mengundang tawa—benar-benar ciri khas Meg Cabot.

Tiga tokoh penting dalam novel ini juga menarik. Reilly digambarkan sebagai sosok bangsawan yang tak ingin profesi dokternya hanya sebagai gelar semata, tapi juga ingin agar gelarnya itu benar-benar dapat bermanfaat bagi orang lain. Kepribadiannya pun hangat dan ceria. Ia juga digambarkan sebagai sosok yang penyayang. Hal ini terlihat pada adegan di mana ia selalu memikirkan dua sahabatnya di London. Saya sebagai membaca pun ikut penasaran tentang dua tokoh sahabat hanya selalu hadir dalam benak Reilly tersebut. Untungnya, kedua orang itu akhirnya muncul juga. Yeah! Tokoh Brenna cukup unik. Ia adalah wanita yang keras kepala dan pantang menyerah. Meski awalnya tidak menyukai kehadiran Reilly yang dianggapnya sebagai ancaman, tapi akhirnya ia menyerah juga sebab ada kasus di mana ia membutuhkan Reilly sebagai rekan kerja sesama dokter. Interaksi antara Brenna-Reilly dan Brenna-Lord Glendenning kerap mengundang tawa. Bahkan, ada adegan di mana Brenna menonjok Lord Glendenning yang playboy itu. Benar-benar lucu dan di luar dugaan! Sementara Lord Glendenning sendiri sebenarnya tidak sepenuhnya antagonis. Di luar sikapnya yang playboy dan suka menggoda gadis-gadis di Lyming, Glendenning sebenarnya sangat perhatian terhadap warga desa. Pada akhirnya, sifatnya yang penyayang benar-benar muncul saat wanita yang sebenarnya ia cintai terbaring tak berdaya oleh wabah kolera. Siapakah wanita itu? Temukan sendiri jawabannya di novel ini ya. :)

Bila ada yang membuat saya kurang puas terdahap novel ini, hal tersebut adalah ending-nya. Novel ini memang berakhir bahagia (seperti yang diharapkan dari novel romance pada umumnya). Hanya saja, saya merasa bahwa novel ini ditutup dengan tergesa-gesa, sehingga tidak menyisakan ruang bagi pembaca untuk lebih menikmati akhir novel ini. Meskipun demikian, adegan penutup yang singkat tadi dibumbui dengan twist manis yang menghangatkan hati. Itulah sebabnya saya tetap memberikan 5 bintang untuk Lady of Skye karya Patricia “Meg” Cabot ini.

2 komentar:

  1. Aku suka banget novel ini!! Aku emang pada dasarnya suka hisrom yang hero-nya ga sekedar orang kelebihan duit dan ga punya kerjaan sih, jadi aku suka banget sama Reilly yg bener2 mau make keahliannya sebagai dokter. Romance-nya hot, tapi dapet lah chemistry-nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagi saya, Lady of Skye adalah hisrom kedua yang saya baca. Untunglah saya ternyata memang nggak salah pilih. :)

      Hapus

Back to top