3 Mar 2014

Percy Jackson and The Olympians #2: The Sea of Monsters by Rick Riordan

Judul: Percy Jackson and The Olympians: The Sea of Monsters (Lautan Monster)
Seri: Percy Jackson and The Olympians #2
Penulis: Rick Riordan
Penerjemah: Nuraini Mastura
Penerbit: Mizan Fantasi, 2010
Tebal: 368 hlm.

Sinopsis:
Setelah menghabiskan musim panas lalu berjuang mencegah meletusnya peperangan besar antar para dewa dengan mencari petir asali Dewa Zeus, Percy Jackson ternyata belum bisa menikmati ketenangan. Kali ini dia kewalahan menghadapi teman barunya, Tyson, anak tunawisma berbadan besar dengan tingkah seperti anak kecil yang selalu mengekor Percy ke mana pun dia pergi. Lalu tiba-tiba Annabeth datang membawa kabar buruk: Perkemahan Blasteran—satu-satunya tempat perlindungan bagi anak-anak setengah dewa—terancam dikuasai oleh para monster. Seolah-olah belum cukup, pesan mimpi juga datang pada Percy yang menyiratkan sahabatnya Grover tengah dalam bahaya.

Tak tanggung-tanggung, untuk menyelamatkan Perkemahan Blasteran dan menemukan sahabatnya, Grover, Percy harus mengarungi Lautan Monster, tempat mengerikan yang dihindari oleh pelaut waras mana pun. Dan dalam perjalanannya kali ini, ramalan yang disimpan rapat-rapat oleh Chiron dan para dewa dari Percy pun perlahan-lahan mulai terkuak.

Cerita diawali oleh sebuah mimpi buruk yang dialami Percy Jackson. Dalam mimpinya ia melihat Grover, si satir yang juga adalah sahabat baiknya sedang dikejar oleh sesuatu yang ganas dan barbahaya. Saat terbangun, Percy yakin bahwa Grover memang sedang dalam masalah. Ibunya juga tampak menyembunyikan sesuatu. Jelas-jelas hal yang buruk sedang berlangsung di Perkemahan Blasteran.

Tahun lalu Percy mengetahui bahwa dirinya adalah putra Poseidon, Dewa Laut, dan mengalami petualangan seru di Perkemahan Blasteran dan Dunia Bawah, saat mencoba menyelamatkan ibunya dari cengkeraman Hades, sekaligus berusaha mencegah perang antar pada Dewa, gara-gara petir asali Dewa Zeus diembat maling.

Di sekolah yang baru (ya, lagi-lagi Percy pindah sekolah), Percy mendapat teman baru berbadan tinggi besar namun cengengnya minta ampun, sehingga sering menjadi bulan-bulanan anak-anak tukang gencet di sekolah. Masalah muncul saat Matt Sloan, salah satu tukang gencet, memutuskan untuk main lempar bola karet dalam usahanya ‘menghabisi’ Percy. Siapa yang menyangka bawah teman-teman geng Sloan ternyata bukan manusia biasa, melainkan semacam monster kanibal pemakan anak-anak setengah-dewa. Percy hampir saja gosong oleh bola karet yang secara ajaib berubah menjadi bola api kalau bukan gara-gara pertolongan Tyson.

Lolos dari para monster kanibal, Percy, Tyson, dan Annabeth yang muncul di sekolah Percy, berusaha kabur dari polisi dengan penumpangi taksi yang disupiri tiga nenek sihir yang jago banget ngebut. Saat tiba di Perkemahan Blasteran, Percy dkk terkejut oleh kondisi perkemahan yang kacau-balau. Tempat yang selama ini dianggap perlindungan paling paling aman bagi anak-anak blasteran justru sedang diserang. Pohon Thalia telah diracuni sehingga menghilangkan efek sihir pelindung terhadap perkemahan tersebut. Gara-gara peristiwa itu, Chiron, centaurus yang telah 3000 tahun melatih para blasteran dipecat dan digantikan oleh narapidana Dunia Bawah yang bengis dan gemar bikin susah.

Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan perkemahan, yaitu menyembuhkan Pohon Thalia dengan menggunakan Bulu Domba Emas yang berkhasiat menyembuhkan semua jenis penyakit. Percy sangat ingin mendapatkan misi itu, karena Grover disekap di sempat yang sama dengan tempat Bulu Domba Emas itu berada. Sayangnya Percy dilarang untuk keluar dari Perkemahan Blasteran. Justru Clarisse, anak perempuan Ares yang kebetulan sangat membenci Percy yang mendapatkan misi tersebut. Saat sedang merenungi nasibnya, bantuan datang dari Hermes. Namun sudah menjadi tabiat para Dewa, bahwa tak ada yang namanya bantuan gratis. Percy harus melakukan sesuatu bagi Hermes, dan bisa dipastikan, Percy tidak akan menyukainya.

Bagaimana cara Percy menyelamatkan Perkemahan Blasteran dari ambang kehancuran? Dapatkah ia menyelamatkan Grover dari sarang Cylops? Bagaimana perasaan Percy saat mengetahui bahwa ia bukan anak satu-satunya dari Poseidon? Di atas itu semua, Percy juga harus menghadapi fakta bahwa Luke, anak Hermes, sedang bersekutu dengan kekuatan jahat dari jurang Tartarus...

***

Nggak tanggung-tanggung, saya memberi 5 bintang untuk The Sea of Monsters. Inilah buku bintang 5 pertama saya di tahun 2014. Banyak aspek dalam buku ini yang membuatnya pantas mendapatkan 5 bintang. Ceritanya lebih seru dibanding buku pertama, juga semakin kelam. Namun, di saat yang bersamaan para pembaca masih bisa dibuat tertawa oleh tingkah konyol Percy, Grover, Tyson, dll. Terutama Grover. Yaoloooh. Yang bersangkuatan dijadiin pengantin oleh si Cyclops buta, lengkap dengan gaun pengantin dan suara yang dibuat falseto. *anjrot jadi pengen guling-guling inget bagian itu* Ditambah lagi twist bertubi-tubi yang disajikan oleh penulis membuat saya semakin kagum terhadap buku ini. Saya jelas akan selalu menyukai cara bertutur Rick Riordan. Dengan ini saya menyatakan bahwa saya adalah penggemar berat Om Riordan. #telat

Karakter-karakter baru dalam buku ini tampil secara memukau. Tyson, misalnya. Awalnya saya tidak terlalu menyukai karakter ini. Namun seiring perkembangan cerita, Tyson mendapat porsi yang istimewa tak hanya dalam diri Percy, tapi juga dalam diri pembaca, setidaknya saya. Tokoh Hermes yang pada buku pertama hanya disebutkan namanya saja, kini muncul dengan segala keistimewaannya. Oke, sebernarnya Riordan menggambarkan beliau sebagai tukang pos sih. Tapi, hei, ini bukan tukang pos biasa. Ini Hermes, tukang pos para Dewa Olympus. (Sebenarnya saya tercabik antara kagum dan kepingin ngakak, apalagi tingkah kedua ular milik Hermes benar-benar kocak minta ampun). Melalui Hermes-lah saya memperoleh gambaran tentang hubungan pada Dewa anak-anak mereka, dari sudut pandang Dewa. Hal ini cukup membuat saya tenang, setelah di buku pertama saya misuh-misuh tentang pada Dewa yang terkesan mengabaikan anak-anak mereka. Melihat Hermes yang amat menyanyangi Luke, bagaimanapun buruknnya perangai anak laki-lakinya itu, mau tak mau saya merasa bersimpati terhadap pada Dewa. Setidaknya herhadap Hermes.

"Keluarga-keluarga kaum yang hidup abadi selamanya akan kacau. Kadang-kadang, hal terbaik yang bisa kita lakukan hanyalah mengingatkan satu sama lain bahwa kita satu keluarga, dalam susah maupun senang..."

So sweet ya? :’)

Tokoh lain yang tak kalah istimewa adalah Clarisse. Memang sih Clarisse masih menyebalkan seperti di buku pertama. Namun berbagai peristiwa dalam buku ini menunjukkan bahwa Clarisse memang putri Dewa Perang yang sehungguhnya. Ia begitu berani saat bertempur melawan para monster. Ia juga berbakat dalam memimpin. Namun, meski telah sempat ‘berdamai’ dengan Percy, toh pada akhirnya dia berjanji akan menghajar Percy suatu saat nanti. Syukurlah, kelihatannya Percy tidak keberatan dan malah tersenyum menanggapinya.

Interaksi Percy dan Annabeth sangat menarik diikuti. Percy yang konyol dan cenderung bertindak tanpa pikir panjang, diimbangi oleh kejeniusan dan sikap kepala dingin Annabeth. Ada peristiwa lucu (banyak malahan) antara Percy dan Annabeth yang membuat saya ngakak. Salah satunya ketika memanjati tebing berbahaya yang menuju ke sarang Cyclops:

Sekali, aku kehilangan peganganku dan aku bergelantungan dengan bertahan pada satu tangan di pinggir tebing setinggi lima belas meter di atas ombak ganas. Tapi aku menemukan pegangan lain dan meneruskan panjatan. Semenit kemudian, Annabeth menginjak sepetak lumut licin dan kakinya tergelincir. Untungnya, dia menemukan pijakan lain untuk diinjak. Sayangnya, pijakan lain itu adalah mukaku.

Cuma bisa nyengir lebar membaca bagian itu. :D

Ah, sepertinya saya harus mengakhiri reviu ini sebelum malah jadi spoiler bagi yang belum membaca. Intinya, buku ini luar biasa. Sekuel yang jauh lebih menarik dari buku pertama. Bila dibandingkan dengan Harry Potter yang buku keduanya tidak seseru buku pertama, The Sea of Monster jelas lebih unggul. Namun bukan berarti saya merendahkan Harry Potter loh. Sampai kapanpun, saya adalah fans setia Harry Potter. :) Bagi para pencinta buku fantasi, sayang banget kalau melewatkan seri Percy Jackson ini. Saya sangat merekomendasikannya bagi semua pencinta fantasi. Buku pertama sukses menarik perhatian saya. Buku kedua membuat jatuh cinta. Entah apa jadinya setelah membaca buku ketiga. Yang jelas saya tak sabar untuk membaca kelanjutan kisahnya. :D

2 komentar:

  1. Dari dulu saya kepengin baca novel satu ini tapi belum kesampean :(

    BalasHapus

Back to top