17 Apr 2014

Menanti Cinta by Adam Aksara

Judul: Menanti Cinta
Penulis: Adam Aksara
Penerbit: Mozaik Indie Publisher, 2014
Tebal: viii + 221 hlm.
ISBN: 9786021497234
Sinopsis:
Cinta tak akan pernah membebani, bagi yang dicintai, maupun yang mencintai. Karena cinta adalah sebuah keangungan yang melembutkan hati dan mencerahkan kehidupan bagi yang memilikinya.

Alex berhasil memiliki kekayaan meski terlahir cacat. Ia sadar, seperti cacatnya, ada hal yang tidak akan dimilikinya dalam hidup. Cinta adalah salah satunya.

Namun, cinta menjeratnya dalam diam dan menawarkan sebuah hasrat terpendam. Kini, ia hanya dapat mencintai dan terus mencintai, tak berdaya menolak pesonanya.

Claire terlahir berlumur kemiskinan dan penderitaan. Semua yang diinginkannya hanya sebuah tempat untuk dapat berteduh  dan lepas dari cengkraman orang tuanya. Ia tahu, cinta dan kebahagiaan adalah sebuah kemewahan. Ia tidak berani menginginkan mereka. Ia tidak ditakdirkan untuk bahagia.

Cinta mempertemukan mereka. Menjerat mereka dalam mimpi kebahagiaan yang seolah tak pernah berakhir dalam kehidupan. Bersama Alex, Claire berani mulai bermimpi dan mencoba mempercayai, kebahagiaan pantas untuknya.

Namun...

Alex menyimpan rahasia gelap demi mempertemukan mereka, Claire menyimpan rahasia yang membuat mereka tidak akan pernah bersatu. Takdir mendekatkan dan menjauhkan mereka. Cinta juga yang menghanyutkan dan menenggelamkan mereka dalam penantian, kehampaan dan kesakitan. Semuanya atas nama cinta dan kasih sayang.

Apakah cinta akan dapat mempersatukan mereka kembali?

Pertama-tama saya ingin berterima kasih kepada penerbit Mozaik yang telah ngirim buku ini untuk diresensi. Selalu senang rasanya saat mendapatkan buku gratis. Namun seperti biasa, saya tetap akan memberikan resensi yang jujur apa adanya dari lubuk hati yang terdalam. #apadeh

Novel bergenre romance ini cukup unik bagi saya. Penulis pengawali kisahnya melalui tokoh "aku" yang mendapat tawaran untuk menulis biografi seorang pria bernama Joko Alex Sudono. "Aku" sama sekali tidak menduga bahwa tawaran menulis biografi yang diterimanya tersebut akan menyeretnya dalam sebuah kisah masa lalu yang sarat konflik, drama, dan tentu saja... cinta. Saat kisah mundur ke masa lalu, sudut padang cerita pun berganti dari sudut pandang orang pertama (si "aku"), menjadi sudut pandang orang ketiga. Dua tokoh utama cerita ini, seperti yang sudah disebutkan pada bagian sinopsis di atas, adalah Alex dan Claire.

Alex, laki-laki yang menderita cacat karena polio, namun memiliki kepintaran di atas rata-rata, khususnya di bidang Kimia. Kepintaran dan ketekunannya membuatnya mampu meraih gelar profesor di usaha yang sangat muda. Selain sukses dalam bisnis, Alex juga adalah seorang dosen. Tapi di balik kesuksesannya, Alex masih menyimpan kegundahan. Sebab meski telah sukses, Alex tak memiliki pasangan untuk berbagi kebahagiaan maupun kesedihan.

Claire, adalah gadis miskin berparas cantik yang kisah hidupnya sungguh-amat-sangat-tragis-sekali-pake-banget. Iya, saya tidak melebih-lebihkan, karena memang seperti itulah yang digambarkan penulis. Bayangkan, ibu Claire adalah seorang (mantan) pelacur yang kerjanya setiap hari hanya menenggak minuman keras. Ayah tiri Claire berkali-kali bercoba 'menjamah' Claire. Di tempat kerjanya di sebuah restoran burger, atasan Claire juga suka mencari kesempatan untuk dapat 'menyentuh' Claire. Setiap hari Claire hanya makan  sebuah burger yang dibagi dua: setengah untuk makan siang dan setengahnya lagi untuk makan malam. Kasihan. :'(

Takdir pun mempertemukan Alex dan Claire, setelah melalui begitu banyak peristiwa tragis-dramatis-melankolis. #abaikan

Bagaimana akhir kisah kedua anak manusia ini? Baca selengkapnya dalam Menanti Cinta karya Adam Aksara.

***

*tarik napas*

Susah juga meresensi buku ini tanpa memberi spoiler

Yang jelas sih, membaca novel ini membuat dada saya sesak. Bagaimana tidak? Untuk sebuah novel tipis yang hanya memiliki jumlah halaman sebanyak 221 halaman ini, penulis menyisipkan buanyak sekali konflik. Tragis-tragis pula. Ibarat peribahasa, tokoh-tokoh dalam buku ini, terutama Claire, sering banget mengalami yang namanya "sudah jatuh tertimpa tangga, diserempet bajaj, tambah pula dilindes truk." Iya, saya lebay tapi isi novel ini jauh lebih lebay kok. Beneran.

Mau tahu apa saja ke-lebay-an novel ini? Saya sebutkan beberapa ya. Awas, mengandung spoiler.
1. Alex menjadi profesor pada usia 20 tahun. Gilak ini pinter banget. Orang lain ya, sarjana aja belum kelar tuh di usia segitu. *iri sama Alex*
2. Ibunda Claire menyuruh-nyuruh Cliare menjadi pelacur.
3. Ibunda Claire mencuri uang kuliah Claire.
4. Ibunda Claire mencoba menjual keperawanan Claire.
5. Ibunda Claire menjual adik tiri Claire (btw Claire sayang banget sama adik tirinya ini)
6. Ayah tiri Claire mencoba memperkosa Claire berkali-kali. Reaksi Ibunda Claire gimana? Oh tenang. Beliau tahu hal itu kok. Dan wanita itu merestui perbuatan suaminya. Hore! :D
7. Uhm. Claire terus ya dari tadi. Oke, balik ke Alex. Saking tajirnya, Alex membeli restoran burger tempat Claire bekerja agar Claire gak jadi langganan percobaan perkosaan di restoran itu. Duh Om Alex, bagi duitnya sini. Lima juta aja. Buat beli Mama pulsa sama bebasin Papa di kantor polisi.
8. Terakhir deh, terakhir (walau sebetulnya masih banyak). Kali ini Claire lagi. Jadi, ternyata nasib Claire yang "sudah jatuh tertimpa tangga, diserempet bajaj, tambah pula dilindes truk" itu sudah dimulai jauuuuuh sebelum Claire bisa belajar berjalan dan bicara. Ibunda Claire yang maha penyayang itu sudah mengabaikan Claire sejak ia masih bayi. Alkisah, Claire yang masih bayi sering diabaikan sampai-sampai dikerumuni lalat. Iyak, betul. DILALERIN. *dan para malaikat di surga pun menangis* Sungguh, saya nggak bohong. Baca sendiri deh novelnya biar percaya.

Karena banyaknya peristiwa yang terlalu dramatis dalam novel ini, maka tidak heran apabila beberapa resensi menyebutkan bahwa novel ini 'sinetron banget.' Apakah itu buruk? Hoho, belum tentu. Buktinya sinetron sangat digemari, bukan? Maka bagi yang menyukai sinetron, kemungkinan besar juga akan sangat menyukai novel ini. Semoga. :D

Oke, sedari tadi resensinya nggak enak melulu. Padahal ada pula yang saya sukai dari novel ini. Pertama, gaya bertuturnya cukup mengalir. Novel ini sebenarnya lebih banyak berisi narasi ketimbang dialog, sehingga lebih menonjolkan sisi "telling" daripada "showing." *gaya banget ya ngomong enggres* Anehnya, proses membaca saya malah berjalan mulus tanpa kendala sama sekali. Penggunaan bahasa yang sederhana menjadi poin plus dari novel ini.

Ide cerita keseluruhan novel ini sebenarnya menarik. Apalagi latar belakang masing-masing tokoh diceritakan dengan cukup mendetail. Alur cerita yang tidak biasa juga menambah daya tarik novel ini. Sayang sekali eksekusi novel ini masih kurang mantap. Harusnya, novel ini membutuhkan sentuhan editor agar hasilnya bisa lebih baik lagi.

Sebagai masukan bagi penerbit, jilid novel ini masih kurang kuat karena beberapa halaman terlepas selama proses membaca. Covernya sendiri sebenarnya cukup manis. Sayangnya, cover novel ini ternyata sangat mirip dengan cover novel dari penerbit lain. Mengenai hal tersebut bisa dilihat di www.sekotakceritaseusaibaca.wordpress.com/2013/08/02/ive-found-you. Ada apa dengan para desainer cover? Beda-beda dikit mungkin tidak masalah ya, tapi ini jelas-jelas sangat mirip. Yah, saya berharap semoga ke depannya hal seperti tidak terjadi lagi.

Bagi pembaca yang ingin merasakan keseruan membaca novel dramatis ini, kalian bisa memperoleh novel ini melalui website mozaikindie.com :)

***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Back to top