29 Apr 2014

Galila by Jessica Huwae

Judul: Galila
Penulis: Jessica Huwae
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Maret 2014
Tebal: 336 hlm.
ISBN: 9786020302102

Sinopsis:
"Galila."
"Hanya Galila?"
"Tanpa nama belakang."

Berusaha mengubur masa lalu dengan meniti karier hingga menjadi diva negeri ini, Galila justru dipaksa menghadapi kenangan itu lagi tepat ketika hidupnya mulai bahagia: Prestasi gemilang, nama tersohor, dan Eddie, pria yang ia cintai, akan menikahinya.

Ia pun kembali ke pulau asalnya jauh di timur Indonesia. Menyelami lagi jejak masa silam yang membentuk dirinya sekarang. Menengok kampung halaman yang sempat luluh lantak akibat kerusuhan antar agama. Bertanya pada diri sendiri, apakah perempuan tanpa nama belakang dan masa lalu seperti dirinya masih memiliki masa depan?


Galila adalah sebuah cerita, tapi ia juga seorang wanita — dan keduanya tak lepas dari rasa. Pada akhirnya, Galila adalah sebuah perenungan: sejauh apa pun kaki melangkah, kita takkan pernah bisa meninggalkan titik di mana kita mengawali langkah itu.
— Maggie Tiojakin; Penulis/Pendiri www.fiksilotus.com

Dengan pemilihan diksi dan analogi yang cermat, Jessica seakan mengingatkan bahwa pada hakikatnya cinta adalah soal dua pribadi yang bertaut. Sampai batas mana kita mau berjuang demi cinta yang kita yakini membuat kita bahagia?
— Rully Larasati; Jurnalis, Femina

Galila. Sebuah judul novel yang unik, seunik covernya. Novel ini saya pilih sebagai bacaan untuk tema baca bareng BBI bulan April dengan tema “Perempuan.” Saya ternyata tidak salah memilih bacaan sebab novel ini sangat memikat.

Galila adalah nama seorang diva terkenal yang berasal dari wilayah timur Indonesia, persisnya Saparua, kota kecil yang berjarak dua jam dari kota Ambon. Namanya melejit setelah memenangkan kontes Indonesia Mencari Diva. Bakat menyanyinya telah memukau sebagian besar pencinta musik di tanah air. Bukan perkara mudah bagi Galila untuk mencapai posisi gemilang tersebut. Perjuangan dan impiannya yang tak kunjung padamlah yang membuatnya berhasil mencapai cita-citanya: menjadi penyanyi sukses di Ibu Kota. Meski terkenal, pembawaannya tetap santun dan rendah hati, sehingga membuatnya begitu dicintai para penggemar. Banyak laki-laki yang mencoba merebut hatinya, namun Galila selalu menjaga jarak. Sombong? Tidak juga. Rupanya, ada rahasia yang disembunyikan Galila sehingga ia terkesan membentengi diri dari para pria.

Tapi toh pertahanan diri Galila akhirnya tertembus juga. Namanya Edward Silitonga, seorang pengusaha tampan bedarah Batak. Insiden kecil yang terjadi usai penampilan Galila di acara yang diadakan oleh perusahan Eddie telah menumbuhkan perasaan khusus di antara mereka berdua. Pelan-pelan, ia mulai membuka hatinya bagi pria tersebut. Akan tetapi, segalanya tidak berjalan sesuai harapan. Latar belakang budaya di antara mereka berdualah yang menjadi batu sandungan. Hana Silitonga, ibunda Eddie, sangat menentang hubungan keduanya. Sebagai wanita yang menjunjung tinggi tradisi, Hana hanya ingin Eddie menikahi wanita yang berasal dari suku yang sama. Bagi Hana, Galila yang sama sekali tidak memiliki nama belakang, juga dengan latar belakang yang tidak jelas tidaklah pantas bagi Eddie.

Eddie bersikeras mempertahankan hubungannya dengan Galila. Demikian juga dengan Galila, setelah merasakan kasih yang tulus dari Eddie, ia bersikukuh mempertahankan hubungannya dengan laki-laki itu. Sayangnya, Hana akhirnya mengetahui masa lalu Galila yang kelam. Hal itu dijadikan senjata bagi Hana untuk menyerang Galila.

Cinta Galila dan Eddie pun diuji. Mampukah Eddie menerima fakta bahwa wanita yang ia cintai ternyata tak seperti yang ia kira? Bagaimana dengan Galila sendiri? Dapatkah ia bertahan saat karirnya terancam hancur akibat skandal masa lalunya yang terekspos oleh media? Di atas semua itu, ia terancam akan kehilangan orang yang telah membuatnya merasakan kasih sayang yang sesungguhnya.

Baca kisah selengkapnya dalam Galila, sebuah karya terbaru dari Jessica Huwae.

***

Sepanjang membaca novel ini, saya dibuat kagum oleh cara Jessica Huwae memainkan kata-kata. Diksi atau memilihan kata yang digunakan oleh sang pengarang membuat saya betah menikmati setiap paragraf dalam novel ini, meski dalam novel ini berisi banyak narasi dan deskripsi. Bahkan, hampir di setiap halaman saya dapat menemukan kalimat-kalimat menarik yang bisa dijadikan quote. Kepiawaian penulis tak hanya dalam diksi, namun juga bagaimana ia mengolah alur cerita dalam novel ini. Alur yang digunakan dalam novel ini adalah gabungan antara alur maju dan alur mundur. Pembaca sering diajak untuk menelusuri perjalanan masa lalu para tokohnya, khususnya Galila. Penggabungan alurnya sendiri terasa halus sehingga tidak membingungkan pembaca.

Konflik yang dibangun dalam novel ini menarik untuk disimak. Penulis mengangkat persoalan benturan budaya sebagai isu utama novel ini. Sebagai pembaca, saya menikmati betul bagaimana penulis menggambarkan dua budaya dalam novel ini. Kita bisa memperoleh gambaran umum tentang kebudayaan Batak dan Ambon. Lewat tokoh Hana, pembaca dapat memahami bahwa memang penting untuk menjaga tradisi yang sudah diwariskan secara turun-temurun. Alih-alih tidak suka dengan dengan Hana, saya justru dapat memahaminya pemikirannya. Selain teguh dengan prinsipnya, sebenarnya Hana hanya ingin yang terbaik bagi anak-anaknya. Namun yang tidak Hana pahami adalah, tak semua hal dalam hidup ini dapat dipaksakan atau dipertahankan, terutama bila sudah menyangkut urusan hati.

Ide cerita dalam novel ini memang bukan suatu hal yang baru. Cinta yang terhalang oleh latar belakang budaya? Rasanya kita cukup sering membaca kisah-kisah seperti ini. Namun, membaca novel ini tetap memberikan kesan yang berbeda, berkat menuturan yang apik serta ritme cerita yang tidak membosankan. Kejutan yang disiapkan oleh penulis bagi pembaca, dalam hal ini tentang masa lalu Galila, benar-benar membuat saya terpana.

Hal menarik lain yang diangkat penulis, yaitu tentang kerusuhan hebat yang terjadi di Ambon beberapa tahun silam. Kisah sedih itu mungkin masih membekas di benak kita. Atau, mungkin ada pembaca yang mendenga kisahnya langsung dari para saksi mata? Dalam novel ini, lewat tokoh Galila, pembaca diajak untuk mengenang kembali peristiwa tersebut. Bukan bermaksud mengorek luka lama, tapi untuk menjadi refleksi. Bahwa kita dapat belajar dari kesalahan masa lalu dan berharap kelak tak akan ada lagi peristiwa sedih yang sama. Harus saya akui, saya sempat menitikkan air mata pada bagian ini.

Novel ini nyaris “sempurna” apabila tidak terdapat typo. Masih terdapat typo dalam novel ini meski jumlahnya tidak banyak. Ada juga penggunaan tanda sambung “-“ yang seharusnya tidak perlu karena kata tersebut tidak terpotong dan masih dalam satu deretan kalimat yang sama (contoh: un-tuknya, hlm. 62). Kemudian, saya ingin mengomentari dua tokoh dalam novel ini, yaitu Davina (saingan Galila sesama penyanyi) dan Yudah. Saya pikir seharusnya karakter Davina bisa dibuat lebih kuat tanpa harus terkesan klise seperti tokoh antagonis dalam sinetron. Karakternya saya rasa bisa digali lebih dalam lagi, sehingga tidak sekadar numpang lewat. Sementara Yudah, saya pikir akan berperan besar dalam cerita, tapi ternyata hanya sekadar numpang lewat. Terkahir... uhm, saya merasa adegan ‘insiden kecil’ antara Galila dan Eddie terasa klise. Mungkin penulis perlu mencari adegan yang lebih kreatif? Haha, maafkan saya yang terkesan sok tahu ini.

Secara keseluruhan saya cukup puas membaca novel Galila. Sungguh bacaan yang menarik dan sayang bila dilewatkan. Kekuatan diksi dalam novel ini saya pikir bisa dijadikan contoh bagi mereka yang tengah mengembangkan kemampuan menulis. Ini kali pertama saya membaca karya Jessica Huwae, dan saya jadi tertarik untuk membaca dua bukunya yang lain, yaitu soulmate.com dan Skenario Remang-Remang.

***

Berikut saya kutip beberapa kalimat dari novel Galila sebagai gambaran tentang penggunaan diksi dari sang penulis.

Galila juga suka duduk-duduk di atas bangkai pohon yang terdampar di tepi pantai. Membiarkan ombak kecil bergelung-gelung menyapu kakinya. Menatap kejauhan, menghitung menit-menit matahari berpulang dan memanggil petang. Semilir angin yang hangat menepuk-nepuk halus pipinya. Kadang dia dan teman-temannya mengumpulkan kerang-kerang kecil untuk dibawa pulang, atau melemparkannya kembali ke laut sambil mengucapkan doa dan harapan dalam hati. (Hlm. 24-25)

Setiap orang seharusnya pernah membuat kesalahan masa muda, setidaknya sekali dalam hidupnya. Kalau nggak, mereka nggak akan pernah merasakan bahwa mereka pernah hidup. (Hlm. 54-55)

Mereka bertemu lagi, begitu dekat namun juga teramat jauh. Sungguh lucu bagaimana hidup bisa membawa pemisahan dalam waktu singkat. Bagaimana atribut yang melekat di permukaan kadang menciptakan jarak dan bukannya esensi. Manusia memang memuka apa yang dilihat mata, lupa bahwa apa-apa yang terlihat mata kelak bisa getas, rapuh, dan aus. (Hlm. 315)

*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Back to top