30 Apr 2014

Bangkok: The Journal by Moemoe Rizal

Judul: Bangkok: The Journal
Seri: Setiap Tempat Punya Cerita #3
Penulis: Moemoe Rizal
Penerbit: GagasMedia, 2013
Tebal: 436 hlm.

Sinopsis:
Pembaca tersayang,

Siapkan paspormu dan biarkan cerita bergulir. BANGKOK mengantar sepasang kakak dan adik pada teka-teki yang ditebar sang ibu di kota itu. Betapa perjalanan tidak hanya mempertemukan keduanya dengan hal-hal baru, tetapi juga jejak diri di masa lalu.

Di kota ini, Moemoe Rizal (penulis Jump dan Fly to The Sky) membawa Edvan dan adiknya bertemu dengan takdirnya masing-masing. Lewat kisah yang tersemat di sela-sela candi Budha Wat Mahathat, di antara perahu-perahu kayu yang mengapung di sekujur sungai Chao Phraya, juga di tengah dentuman musik serta cahaya neonyang menyala di Nana Plaza, Bangkok mengajak pembaca memaknai persaudaraan, persahabatan, dan cinta.

เที่ยวให้สนุก, tîeow hâi sà-nùk, selamat jalan,

EDITOR

Bangkok: The Journal karya Moemoe Rizal adalah buku ketiga dari serial Setiap Tempat Punya Cerita (STCP) yang diterbitkan oleh GagasMedia. Saya sendiri baru pertama kali membaca seri ini. Saya memilih Bangkok: The Journal bukan asal comot, tapi dari hasil bertanya ke teman-teman sesama pembaca: “Novel STCP yang paling bagus apa sih?” Beberapa teman merekomendasikan Paris (Prica Primasari), yang lain menyebut Melbourne (Winna Efendi). Namun Bangkok-nya Moemoe Rizal-lah yang paling banyak direkomendasikan. Ternyata tidak salah saya memilih buku ini. Banyak sekali unsur yang membuat novel ini seru untuk dinikmati. :)

Baiklah, saya akan menceritakan sedikit mengenai isi novel ini. Namun saya akan berusaha untuk seminim mungkin memberi informasi, karena novel ini memiliki banyak unsur kejutan yang sebaiknya dirasakan sendiri oleh para pembaca. Adalah Edvan, tokoh utama cerita ini, sekaligus teman seperjalanan kita di Bangkok nanti. Sebagai seorang arsitek muda, karir Edvan sangat sukses. Di awal cerita saja, kita sudah diundang menghadiri sebuah peresmian gedung megah berlantai 88 di Singapura. Siapa lagi arsiteknya kalau bukan Edvan? Namun, kesuksesannya sebagai arsitek tidak dibarengi dengan keharmonisan hubungannya dengan keluarga. Sepuluh tahun yang lalu Edvan pergi dari rumah, meninggalkan ibu dan adik laki-lakinya, demi membuktikan diri bahwa ia bisa sukses meski tanpa campur tangan mereka. Edvan memang berhasil. Namun pada akhirnya, ia pun melupakan keluarganya sama sekali…

…hingga ia mendapat sms dari adiknya, Edvin. Edvin mengabarkan bahwa ibu mereka telah meninggal. Syok dan menyesal, Edvan pun memutuskan pulang ke Indonesia untuk menghadiri pemakaman sang ibu. Di pemakaman, Edvin menolak bertemu dengan kakaknya. Alih-alih, Edvin meminta untuk bertemu dengan Edvan di sebuah restoran. Pertemuan tersebut cukup mengejutkan Edvan, sebab dalam rentang waktu 10 tahun, Edvin sudah berubah sama sekali. Edvan nyaris tidak mengenali adiknya itu. Apakah yang menyebabkan perubahan Edvin? Hmm.

Lanjut. Dalam pertemuan tersebut, Edvan diberi tahu oleh sang adik bahwa ibu mereka meninggalkan warisan untuk Edvan. Akan tetapi, warisan tersebut disembunyikan dengan baik oleh sang ibu dan Edvan harus menemukannya sendiri. Petunjuknya adalah melalui jurnal yang disebar sang ibu di Thailand, tepatnya di Bangkok, kota yang memiliki kesan spesial bagi sang ibu. Edvin menyerahkan jurnal ketujuh kepada Edvan, namun masih ada 6 jurnal lagi yang harus dicari. Warisan baru bisa diperoleh apabila ketujuh jurnal terkumpul dengan lengkap. Adalah hal yang mustahil bagi Edvan untuk menemukan jurnal-jurnal tersebut, karena mereka sudah berusia lebih dari tiga dekade, tepatnya sejak tahun 1980. Namun, Edvan memutuskan untuk tetap memenuhi permintaan terakhir sang ibu, sebagai bentuk penyesalannya yang telah meninggalkan beliau sejak sepuluh tahun yang lalu.

Maka dimulailah petualangan seru mencari jurnal di Bangkok. Dengan ditemani pemandu cantik asal Thailand, Chananporn Watcharatrakul—yang akrab disapa Charm, mereka menyusuri berbagai tempat eksotis di Bangkok, demi mencari jurnal sang ibu. Selama pencarian, banyak kejadian menarik yang dialami Edvan, termasuk memperoleh pelajaran berharga tentang hubungan sebuah keluarga, membuka diri terhadap perbedaan, hingga mengalami yang namanya... jatuh cinta. Mampukah Edvan merebut hati gadis yang sangat membenci tipe pria seperti dirinya (baca: narsis, punya tato, seorang arsitek)?

Baca kisah serunya dalam Bangkok: The Journal, sebuah karya spektakuler dari Moemoe Rizal.

***

Gaya penulisan novel ini sangat cocok dengan selera saya. Jujur, blak-blakan, dan punya unsur humor. Cara bertuturnya membuat betah, sehingga novel ini bisa saya selesaikan dalam waktu dua hari saja. Hebatnya, ketika membaca jurnal-jurnal yang ditulis oleh ibunda Edvan, saya dibuat percaya bahwa jurnal tersebut memang ditulis oleh seorang wanita muda berhati lembut yang tengah jatuh cinta. Brilian! Penulis juga sesekali menyelipkan bahasa Thailand yang terdengar lucu di telinga itu. Lumayan, sekalian belajar. Oh, satu lagi: catatan kaki. Catatan kaki di sini kocak-kocak. Terkadang malah nggak penting sih, tapi cukup ampuh untuk memancing tawa.

Alur cerita novel ini pas, tidak lambat tapi juga tidak terlalu cepat. Dari segi konflik, persoalan utama di sini saya pikir adalah tentang hubungan sebuah keluarga—tentang bagaimana pentingnya sebuah keluarga untuk saling melindungi dan saling menerima kekurangan satu sama lain. Meski demikian, kisah cinta yang diselipkan oleh penulis dalam buku ini tak kalah manis. Manisnya juga pas, tidak berlebihan. Mungkin karena ditulis oleh penulis laki-laki, juga dari sudut pandang tokoh laki-laki, sehingga rasanya berbeda dari novel-novel romance lainnya.

Karakter-karakter dalam buku ini lovable. Mulai dari Edvan yang narsis tapi punya unsur humor, Edvin yang lembut namun berhati kuat, Charm yang memesona, Max (adik Charm) yang polos dan juga lucu, hingga orang-orang yang ditemui Edvan dalam perjalananya mencari jurnal. Bahkan, dua anak kecil kakak-beradik yang Edvan temui secara tak sengaja dalam pencariannya, mampu merebut hati pembaca. Rasanya tak ada karakter yang sia-sia dalam novel ini.

Oke. Bicara soal Thailand, rasanya kurang pas bila tidak mengangkat isu transgender, alias ladyboy, alias bencong. Yap, siapa sih yang tidak tahu tentang ladyboy asal Thailand? Mereka umumnya berwajah cantik, tanpa jakun, serta berbodi aduhai. Seringnya malah jauh lebih “cewek” dibanding cewek asli sono. Jauh deh, bila dibandingkan dengan bencong Indonesia: badan kekar, jakun tebal, suara nge-bass. Hehe.

Back to topik. Isu transgender yang diangkat oleh penulis dalam novel ini bukanlah sekadar tempelan, melainkan menjadi salah satu topik utama. Malah, salah satu alasan Edvan meninggalkan keluarganya adalah karena… *sensor aja deh ya* <-- reviewer yang minta digampar. Yang menarik dari novel ini adalah penulis mencoba mengajak pembaca memandang isu ini dari sudut pandang para pelakunya sendiri. Lumayan mencerahkan lho. Penulis dengan sangat smooth memberikan pandangannya bahwa transgender bukanlah sesuatu yang harus dihakimi. Ia sama sekali tak memaksa para pembaca untuk setuju dengan operasi kelamin dan sejenisnya, namun ia mengajak kita untuk mencoba menerima keberadaan mereka. Toh, suka tidak suka, mereka akan selalu ada. Bagaimana kita memperlakukan mereka juga berdampak terhadap bagaimana cara mereka bertindak. Alih-alih menghakimi, apa salahnya bila kita memperlakukan mereka sebagaimana kita memperlakukan manusia lain? But, still, penulis menyerahkan keputusan akhir kepada pembaca. Good job, Moemoe Rizal!

“Kau tak perlu menerima kehadiran mereka,” lanjut wanita itu lagi. “Tapi biarkan mereka hadir karena kita tak bisa menghakimi apa yang mereka lakukan. Buatku, waria seperti anakku yang sering menghormati aku, jauh lebih baik dibanding laki-laki jantan yang berdosa terhadap ibunya sendiri. Harusnya manusia dinilai dari apa yang dia lakukan pada orang lain, bukan pada dirinya sendiri semata.”

Secara keseluruhan, novel ini tak hanya sekadar bacaan ringan yang menghibur, tapi juga mencerahkan. Selama proses membaca novel ini, saya dibuat ngakak, berkaca-kaca, mengeryit, dan terkadang menganggukkan kepala. This is one of the best book I read this year. Kapan-kapan baca ulang ah. *inget timbunan lho, Pan*

8 komentar:

  1. buku favorit dari Moemoe Rizal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku jadi pengen baca buku2nya yang lain. :)

      Hapus
  2. dua kata aja: pengen baca :)

    BalasHapus
  3. wah, ini kudu masuk want to read!

    BalasHapus
  4. Buku yg bikin gw tambah cinta sama Bangkok, kangen bgt k Bangkok lagi, ud 2x ksn ntah knp selalu kangen ksn lg

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wih, keren. Ane belum pernah ke sana. Kira-kira apa aja dari Bangkok yang ngangenin bro?

      Hapus

Back to top