17 Jun 2014

Pulang by Leila S. Chudori

Judul: Pulang
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Desember 2012
Tebal: viii + 464 hlm.
ISBN: 9789799105158

(Thanks buat Ega atas novelnya. *hug*)

Sinopsis:
Paris, Mei 1968.
Ketika revolusi mahasiswa berkecamuk di Paris, Dimas Suryo seorang eksil politik Indonesia bertemu Vivienne Deveraux, seorang mahasiswa yang ikut demonstrasi melawan pemerintah Prancis. Pada saat yang sama, Dimas menerima kabar dari Jakarta: Hananto Prawiro, sahabatnya, ditangkap tentara dan dinyatakan tewas. Dimas merasa cemas dan gamang. Bersama puluhan wartawan dan seniman lain, dia tak bisa kembali ke Jakarta karena paspornya dicabut oleh pemerintah Indonesia. Sejak itu mereka mengelana tanpa status yang jelas dari Santiago ke Havana, ke Peking dan akhirnya mendarat di tanah Eropa untuk mendapatkan suaka dan menetap di sana.

Di tengah kesibukan mengelola Restoran Tanah Air di Paris bersama tiga kawannya: Nug, Tjai, dan Risjaf—mereka berempat disebut Empat Pilar Tanah Air—Dimas, terus-menerus dikejar rasa bersalah karena kawan-kawannya di Indonesia satu persatu tumbang, dikejar, ditembak, atau menghilang begitu saja dalam perburuan Peristiwa 30 September. Apalagi dia tak bisa melupakan Surti Anandari—isteri Hananto—yang bersama ketiga anaknya berbulan-bulan diinterogasi tentara.

Jakarta, Mei 1998.
Lintang Utara, puteri Dimas dari perkawinan dengan Vivienne Deveraux, akhirnya berhasil memperoleh visa masuk Indonesia untuk merekam pengalaman keluarga korban tragedi 30 Septeber sebagai tugas akhir kuliahnya. Apa yang terkuak oleh Lintang bukan sekadar masa lalu ayahnya. Bersama Segara alam, putera Hananto, Lintang menjadi saksi mata apa yang kemudian menjadi kerusuhan terbesar dalam sejarah Indonesia: kerusuhan Mei 1998 dan jatuhnya Presiden Indonesia yang sudah berkuasa selama 32 tahun.

Pulang adalah sebuah drama keluarga, persahabatan, cinta, dan pekhianatan berlatar belakang tiga peristiwa bersejarah: Indonesia 30 September 1965, Prancis Mei 1968, dan Indonesia Mei 1998.

Membaca sinosis di atas membuat saya cukup bersemangat ingin melahap novel ini. Hal utama yang menarik minat saya adalah karena novel ini menyebut-nyebut peristiwa berdarah 30 September 1965. Setelah kecewa dengan Blues Merbabu (yang saya baca semata karena berharap buku tersebut akan membahas G30S secara detail, tapi ternyata sama sekali nggak ada hubungannya, kecuali fakta bahwa tokoh utama adalah putra dari salah satu kader PKI), maka saya berharap cukup banyak terhadap novel berjudul Pulang ini. Saya bahkan sudah berangan-angan kalau buku ini akan memiliki alur yang menegangkan seperti, katakanlah, novel Tere Liye yang berjudul Negeri Para Bedebah. Lantas, apakah buku ini sesuai harapan saya?

Sebelum menjawab itu, kita bahas sedikit menganai ceritanya. Buku ini dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama adalah tentang Dimas Suryo. Dimas Suryo adalah jurnalis asal Indonesia yang tak bisa kembali ke tanah air setelah menghadiri konferensi jurnalis di Santiago. Ternyata saat itu di Indonesia sedang terjadi perburuan besar-besar terhadap anggota PKI. Tak hanya orang yang terlibat langsung dengan kegiatan-kegiatan PKI, tapi juga keluarga, sanak saudara, sahabat, bahkan tentangga dekat sang simpatisan PKI menjadi incaran pemerintah. Hal ini semacam balas dendam pemerintah atas apa yang terjadi pada tanggal 30 September 1965. Sebenarnya Dimas sama sekali tak menentukan pilihan, apakah ia pro PKI atau menentangnya. Akan tetapi, posisinya yang abu-abu ternayata dinilai negatif. Pada masa itu, masyarakat harus memilih: PKI atau bukan PKI. Tidak memilih sama saja dengan menggali kuburan sendiri. Hananto Prawiro, sahabat dekat Dimas (yang seharusnya berangkat ke Santiago) akhirnya dikabarkan tewas dieksekusi, sementara Dimas menjadi incaran pemerintah. Itulah mengapa ia tak bisa pulang. Setelah hidup terlunta-lunta di Eropa, Dimas dan ketiga temannya memutuskan untuk menetap di Paris dan mendirikan restoran Indonesia. Dimas juga telah menemukan pasangan hidupnya, seorang wanita Prancis yang jelita dan membangun keluarga di negara itu. Meski demikian, hati Dimas tetaplah di Indonesia. Hasrat ingin pulang tak pernah padam dalam dirinya.

Bagian kedua diberi judul Lintang Utara, yaitu anak perempuan Dimas Suryo dan Vivienne Deveraux. Lintang Suryo adalah perpaduan yang sempurna antara Dimas dan Vivienne baik secara fisik maupun karakter. Tak hanya berparas cantik, Lintang juga memiliki kepribadian yang teguh dan cenderung kelas kepala. Sebagai anak blasteran, Lintang hanya familiar dengan Prancis. Sementara bagian dirinya yang berasal Indonesia, ia tak tahu pasti. Indonesia, bagi Lintang hanyalah sebuah negeri yang amat jauh dan tak tergapai. Hingga akhirnya Lintang mengalami suatu peristiwa yang membuatnya jadi bahan gunjingan lantaran dalam dirinya mengalir darah PKI. Sebagai tugas akhir kuliahnya, Lintang memutuskan untuk menyelami bagian dari dirinya: Indonesia, dan peristiwa berdarah puluhan tahun silam. Ia akan membuat film dokumenter mengenai sejarah tersuram dalam sejarah Indonesia: G30S, dengan mewawancarai para narasumber yang masih hidup. Itu berarti ia harus ke Indonesia. Lintang Suryo kemudian mengubah namanya menjadi Lintang Utara agar dapat memasuki negeri antah-berantah bernama Indonesia.

Bagian ketiga adalah Segara Alam, putra bungsu dari Hananto Prawiro dan Surti Anandari. Ayah Alam dieksekusi oleh pemerintah lantaran terlibat dengan PKI. Alam yang hidup di bawah bayang-bayang masa lalu kelam sang ayah serta perlakukan masyarakat yang diskriminatif, justru tumbuh menjadi pria yang memiliki semangat menggebu-gebu. Saat itu ia mendengar kabar bahwa Lintang, putri Dimas Suryo, akan datang ke Indonesia dalam rangka menyesaikan tugas akhir kuliahnya di Universitas Sorbonne. Alam cukup mengenal Dimas karena sahabat dekat ayahnya itu sering mengirimi surat untuk ibunya, bahkan diam-diam sering membantu keuangan keluarga mereka. Untuk itulah Alam menghormati Dimas. Tapi kalau mau jujur, saat ini bukanlah waktu yang tepat, sebab negara sedang mengalami krisis. Raykat mendesak presiden untuk mundur dari jabatannya setelah sekian lama. Puncaknya, ia dan Lintang harus menyaksikan kerusuhan besar yang meluluhlantakkan kota Jakarta, serta berakhirnya dinasti Orde Baru. Di tengah kekacauan tersebut, benih-benih cinta tumbuh di antara Alam dan Lintang.

Saya harus mengakui kalau buku ini memang ditulis dengan bahasa yang menarik. Dari catatan penulis, butuh waktu setidaknya 6 tahun untuk menyelesaikan novel ini, disebabkan riset yang cukup memakan waktu. Maka rasanya cukup adil apabila novel ini diganjar penghargaan Kathulistiwa Literary Award pada tahun 2013. Namun saya pribadi merasa sedikit kurang puas dengan novel ini. Pertama, saya beranggapan bahwa novel ini akan mengulas sedetail-detailnya berbagai peristiwa sejarah yang menjadi latar cerita novel ini, terutama peristiwa 30 September 1965. Memang cukup banyak informasi yang dibeberkan penulis, khususnya mengenai kehidupan para eksil politik di luar negeri. G30S juga diceritakan kembali dari sudut pandang para korban. Para korban di sini bukan merujuk para Jenderal yang dieksekusi secara keji oleh PKI, melainkan keluarga, sahabat, dan kerabat yang terkena imbas kebijakan “Bersih Diri” dan “Bersih Lingkungan” meskipun mereka sesungguhnya tak tahu-menahu mengenai kegiatan PKI. Tapi tetap saja, saya merasa ada yang kurang. Mungkinkah perisitwa 30 September 1965 yang sehungguhnya akan tetap menjadi misteri? Ah, mungkin saya sendirilah yang harus mencari referensi mengenai peristiwa sejarah tersebut.

Sementara dari unsur drama, kisah roman yang disajikan dalam novel ini terasa kurang menggugah emosi. Cinta pada pandangan pertama antara Vivienne Deveraux dan Dimas, kisah Dimas yang diam-diam masih menyimpan perasaan terhadap wanita di tanah air yang kini menjadi istri sahabatnya, semuanya terasa biasa. Bahkan, kisah antara Lintang dan Alam pun terasa agak dipaksakan. Andai buku ini tidak menampilkan latar sejarah Prancis tahun 1968 dan sejarah Indonesia tahun 1963 dan 1998, mungkin novel ini akan kurang menarik, kecuali diksi penulis yang memang saya akui cukup memesona, serta segudang referensi literasi yang mampu memancing rasa ingin tahu. Untuk ukuran fiksi sejarah, novel ini cukup lumayan. Sementara unsur dramanya menurut saya seharusnya bisa dipoles lebih menarik lagi.

Hal yang sedikit menggangu kenikmatan membaca, adalah alur campurannya yang terkadang agak membingungkan, serta penggabungan sudut pandang cerita antara orang pertama dan orang ketiga yang menuntut konsentrasi yang tinggi dari pembaca, mengingat cukup banyak tokoh yang bercerita dalam buku ini. Biacara soal banyaknya tokoh, terkadang saya harus membalik halaman-halaman sebelumnya karena lupa tokoh A ini siapa, anak siapa, hubungannya dengan tokoh B apa, seperti itulah. Otak saya memang lemot pemirsah. Dan bila ditanya mengenai karakter favorit, tadinya saya mengidolai Lintang yang memiliki kepribadian yang kuat. Sayangnya, menjelang akhir cerita karakter Lintang jadi labil, sangat berbeda dibandingkan awal-awal kemunculannya. Karakter yang cukup menghibur justru adalah Andini (adik Rama), anak perempuan Mas Aji (adik kandung Dimas Suryo—uhm saya sudah bilang belum, kalau tokoh-tokoh dalam buku ini amat banyak?). Sayang sekali porsi Dini ditampilkan sedikit saja. #TeamAndini

Bisa dibilang novel berlatar sejarah Indonesia sangat sedikit, kalah jumlah bila dibandingkan dengan novel-novel mainstream yang beredar di pasaran saat ini. Dan Pulang adalah salah satu novel sejarah yang cukup baik di antara ratusan judul novel pop lokal yang menyesaki rak-rak toko buku. Jika disuruh memberikan bintang, maka saya akan memberi novel ini 3 bintang untuk usaha luar biasa serta keberanian penulis mengangkat peristiwa terkelam dalam sejarah bangsa Indonesia ke dalam novel yang dikemas dalam bahasa yang mudah dicerna. Eniwei, saya suka endingya. :’)

“Rumah adalah tempat di mana aku merasa bisa pulang.” (Dimas Suryo)
Pulang, Leila S. Chudori

*

2 komentar:

  1. Aku juga sudah baca novel ini, lebih suka cerita Dimas daripada Lintang. Tadinya mengira cerita sejarah yang ada romannya ternyata cerita roman berlatar sejarah. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, Mbak. Ternyata fokusnya roman, padahal cover novelnya sangar begitu. Hehe. Tadinya aku khawatir karena di goodreads banyak yang memberi bintang 5, setidaknya 4, untuk novel ini. Tapi gimana ya, saya suka sih novel ini, tapi akhirnya mentok di bintang 3. Mbak Nana sendiri ngasih berapa bintang? (Malah ngebahas bintang :D)

      Hapus

Back to top