18 Jan 2013

The Casual Vacancy (Perebutan Kursi Kosong) by J.K. Rowling

Judul: The Casual Vacancy (Perebutan Kursi Kosong)
Penulis: J.K. Rowling
Penerjemah: Esti A. Budihabsari, Andityas Prabantoro, Rini Nurul Badariah
Penerbit: Qanita, 2012 (Cetakan I)
Tebal: 593 hlm.
ISBN: 9786029225686
Rating: 4,5/5

(Buku ini adalah hadiah ulang tahun dari Trio Rempong. Thank you guys.)

Sinopsis:
Ketika Barry Fairbrother meninggal di usianya yang baru awal empat puluhan, penduduk kota Pagford sangat terkejut.

Dari luar, Pagford terlihat seperti kota kecil yang damai khas Inggris, dengan Alun-alun, jalanan berbatu, dan biara kuno. Tetapi, di balik wajah nan indah itu, tersembunyi perang yang berkecamuk.

Si kaya melawan si miskin, remaja melawan orangtua, istri melawan suami, guru melawan murid... Pagford tak seindah yang dilihat dari luar.

Dan kursi kosong yang ditinggalkan Barry di jajaran Dewan Kota menjadi pemicu perang terdahsyat yang pernah terjadi di kota kecil itu. Siapakah yang akan menang dalam pemilihan anggota dewan yang dikotori oleh nafsu, penipuan, dan pengungkapan rahasia-rahasia tak terduga ini?

The Casual Vacancy bersetting di kota fiksi di Inggris, Pagford—kota kecil yang tenang, indah dan teratur. Di kota kecil seperti ini, warga saling mengenal satu sama lain dan gosip cepat sekali menyebar. Kota ini memiliki pemerintahan yang disebut Dewan Kota, yang diketuai oleh Barry Fairbrother. Selama ini terjadi perpecahan dalam tubuh Dewan Kota, disebabkan perbedaan pendapat para anggotanya terkait kawasan pemukiman di pinggiran Pagford, yang disebut Fields. Warga kota Pagford membenci kawasan tersebut, sebab selain kumuh, warga yang menghuninya dianggap sebagai wabah yang dapat membawa pengaruh buruk bagi warga Pagford; banyak penghuni Fields yang menjadi pecandu obat-obat terlarang.

Sebenarnya Fields bukan kawasan pemukiman yang dibagun oleh Pagford, melainkan dibangun oleh kota Yarvil. Tapi karena berada di area kota Pagford, maka Fields dinyatakan sebagai bagaian dari Pagford (mengapa begitu? Baca bukunya deh ya *dijitak*). 

Kembali ke Dewan Kota, ada dua pihak yang bersilang pendapat. Satu pihak ingin melepas Fields dari Pagford agar kawasan itu tak lagi menjadi tanggung jawab Pagford, sementara pihak yang lain bersikeras mempertahankan Fields sambil terus berusaha membuat perubahan yang baik bagi wilayah tersebut (salah satunya dengan membantu merehabilitasi warga Fields yang menjadi pecandu).

Barry Fairbrother adalah pihak yang membela Fields. Dengan meninggalnya Barry, maka terjadi kekosongan jabatan (casual vacancy) di Dewan Kota. Akibatnya, pihak-pihak yang berkepentingan berusaha untuk memperebutkan jabatan Barry, dan masing-masing memiliki agendanya sendiri. Tak seorang pun menduga kematian Barry justru memicu rentetan kejadian mengejutkan, pengungkapan rahasia-rahasia, munculnya kecurigaan dan prasangka, hingga berujung pada peristiwa tragis yang mengguncang warga Pagford.

Baca kisah lengkapnya dalam The Casual Vacancy (judul versi Indonesia: Perebutan Kursi Kosong) karya J.K. Rowling.

Banyaknya tokoh dalam buku ini membuat saya kewalahan di awal-awal proses membaca, karena sering lupa dan tertukar-tukar (oke, ini sih karena ingatan saya yang payah). Tapi setelah terbiasa, rasanya jadi lebih mudah kok mencerna buku ini. Semakin saya membaca, semakin saya tenggelam dalam kisahnya. Sekadar tips buat yang ingin membaca buku ini, pertama, jangan sekalipun berharap (walau cuma sedikit, jangan) bahwa buku ini akan mirip dengan Harry Potter. Tak ada sihir atau peristiwa ajaib dalam buku ini. Jadi akan bijaksana jika tak membanding-bandingkannya dengan serial Harry Potter. Kedua, selain genrenya memang berbeda, target pembacanya pun sangat jelas: untuk dewasa—tak seperti Harry Potter yang bisa dibaca anak-anak sampai orang dewasa. Saya bahkan tak menyangka buku ini akan menampilkan adegan kekerasan, seks, pemerkosaan, bunuh diri, dan penggunaan obat-obat terlarang (saya yakin jika buku ini terbit pada zaman Orde Baru, pasti bakal langsung kena cekal).

Lantas, dengan kisah yang kelam seperti ini, pesan apa yang Rowling ingin disampaikan lewat The Casual Vacancy?

Setelah bertahun-tahun Rowling membius pembacanya lewat dongeng tentang kebaikan melawan kejahatan dalam seri Harry Potter, kini ia menyajikan dunia yang realistis kepada para pembaca; bahwa kehidupan tidak selalu hitam-putih dan apa yang terlihat tak selalu sesuai dengan kenyataan. Tidak ada tokoh protagonis maupun antagonis di buku ini, karena seperti dalam dunia nyata, tak ada orang yang sepenuhnya baik, juga tak ada yang sepenuhnya jahat. Dalam buku ini, setiap tokoh memiliki alasan dan motivasinya sendiri dalam bertindak. Semua diserahkan kepada pembaca untuk memihak siapa (atau tidak memihak siapa-siapa).

Memang, salah satu aspek yang menarik untuk disimak dalam buku ini adalah para tokohnya. Sebagai pembaca, barangkali kita akan merasa tokoh-tokoh dalam buku ini ada yang mirip dengan kita, setidaknya mirip seseorang yang kita kenal. Saya pribadi merasa salah satu tokoh dalam buku ini (sifatnya) mirip sekali dengan saya. Siapa dia? Rahasia dong… Hehe.

Jika disuruh memilih siapa tokoh favorit saya, maka saya akan memilih Barry Fairbrother. Meskipun kisah ini dimulai pada saat kematiannya, kita dapat mengenalnya lewat kenangan dari beberapa tokoh di buku ini; bahwa ia orang yang menyenangkan dan humoris. Saya sendiri kagum pada usahanya membentuk tim dayung putri di sekolah Pagford dan membawa mereka memenangkan perlombaan—sungguh mengharukan. Bukan berarti tokoh Barry tanpa cela. Karena kesibukannya memikirkan orang lain, ia justru (menurut istrinya) mengabaikan keluarganya sendiri. Ah, tante Rowling memang tak ingin membiarkan ada tokoh yang tak bercela di buku terbarunya ini.

Saya rasa yang ingin disampaikan oleh JK Rowling adalah: sebagai manusia, kita berhak menentukan pilihan; seperti apa kita ingin terlihat di depan orang lain. Namun, alangkah baiknya jika kita memilih menjadi pribadi dengan kebaikan hati yang benar-benar tulus, tanpa ada niat atau maksud terselubung. Setidaknya itulah pesan moral yang bisa saya ambil. Oh ya, dan kita sebaiknya tidak melihat orang dari luarnya saja. Ya, ya, meski sudah sering mendengar wejangan seperti ini, akui saja, kita sering lalai kan? (Uhm, setidaknya saya iya). Dalam cerita ini, ada tokoh yang awalnya sering ditindas namun pada akhirnya ia berhasil melakukan hal yang luar biasa sehingga membuat orang-orang di sekitarnya tercengang. :’)

Akhirnya, walaupun saya amat menyukai buku ini, saya ‘hanya’ memberinya 4.5 dari 5 bintang. Padahal jarang sekali saya memberi rating tanggung. Lalu mengapa tidak 5 bintang sekalian? Salah satu tokoh favorit saya mengalami nasib yang teramat tragis. J.K. Rowling tak memberi kesempatan baginya untuk memperoleh akhir yang bahagia dan saya merasa tidak rela (yah, begitulah dunia nyata, kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, bukan?). Terlepas dari itu, buku ini ditulis (dan diterjemahkan) dengan baik. Memang sih, ada beberapa terjemahan dialog yang terasa janggal, tapi ini hal minor menurut saya. Rasanya tak sabar menanti buku-buku tante Rowling selanjutnya (fantasy juga boleh kok, Tanteee. *ngarep* :D).

Catatan tambahan: menurut wikipedia, novel ini termasuk dalam genre tragicomedy. Baru kali ini saya mendengar genre itu.

***

4 komentar:

  1. wah jdi kepengen cepet2 baca abis baca reviewnya xDD kayaknya sih bagus yah.. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. buku ini menarik karena multi-character. J.K. Rowling hebat banget bisa menciptakan karakter-karakter yang begitu kompleks. saluuut. :)

      Hapus
  2. sama nih... tokoh kesayangan nasibnya tragis :( Padahal udah berharap dia bakal dapat dukungan kayak dulu. Eh, yg menang election malah si "itu"...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah. Harapan berbeda dengan kenyataan. Sakitnya tuh di sini... *pegang dada*

      Hapus

Back to top