10 Mei 2015

The Naked Traveler #1 - Trinity

Judul: The Naked Traveler #1
Penulis: Trinity
Penerbit: C | publishing (PT Bentang Pustaka)
Cetakan: XVI, Oktober 2010
Tebal: 278 hlm
ISBN13: 9789792439366

Sinopsis:
Ada banyak kisah menarik yang dituturkan dengan gaya bahasa yang santai dan ringan oleh Trinity dalam buku ini. Lucu, sedih, mendebarkan, bahkan menyebalkan. Semua itu menjadi bumbu sedap dalam pengalamannya menjadi " Backpacker " yang melanglang buana ke berbagai tempat, baik di dalam maupun diluar negeri.

Membaca buku ini, kita akan memperoleh bermacam informasi tentang kebudayaan berbagai bangsa yang unik, tempat-tempat yang "harus" dikunjungi atau dihindari, serta tips dan trik saat travelling ke sebuah negeri. Pada akhirnya, setelah menutup buku ini, bisa jadi kita semakin mencintai negeri sendiri.

Happy Traveling!

Beberapa tahun lalu, saat pertama kali membaca buku ini, saya dibuat terkejut sekaligus kagum dengan buku ini. Dari pemilihan judulnya saja sudah sukses membuat saya melongo. Naked? Really? Teman sekantor ketika saya bertugas di Lombok dulu, Godwin, adalah penyuka aktifitas luar ruangan. Ia gemar jalan-jalan, naik gunung, dan berbagai aktifitas avonturir lainnya. Dialah yang meminjami saya buku ini, mengompori saya untuk lebih sering jalan-jalan ketimbang mengurung diri kamar saja. Saya memang jarang jalan-jalan, apalagi sendirian—saya lebih suka pergi berwisata dalam rombongan, itu pun kalau sedang mood.

Singkat cerita, saya pun membaca buku ini. Tadinya saya mengira buku ini semacam buku tentang perjalanan wisata biasa dan telah bersiap-siap mengantuk karena menduga isinya bakal membosankan. Tapi setelah mulai membacanya, saya nyaris tak bisa berhenti. Gaya bercerita Trinity yang blak-blakan, spontan, dan penuh humor membuat saya terpesona. Dulu memang jarang ditemui buku nonfiksi yang ditulis oleh penulis perempuan dengan gaya yang begitu jujur dan blak-blakan. Dan, saya langsung jatuh cinta pada buku ini.

The Naked Traveler tadinya hanya berupa catatan harian mengenai kegiatan traveling Trinity secara backpacker baik di dalam maupun luar negeri. Catatan-catatan tersebut ia bagi-bagikan ke teman-temannya dan mereka menyukainya. Kemudian Trinity beralih menuliskan catatan hariannya ke blog di www.naked-traveler.com. Dengan gaya bercerita yang menarik, tak butuh waktu lama bagi blognya untuk menuai banyak kunjungan. Maka tidak heran bila kemudian catatan-catatan di blognya tersebut kemudian dijadikan buku. Thank God, catatannya memang menarik dan berbobot sehingga pantas dibukukan. Nggak kayak sekarang, apa-apa jadi buku.

Isi buku ini terbagi dalam 7 bagian, yaitu Airport, Alat Transportasi, Life Sucks!, Tips, Sok Beranalisa, Adrenaline, dan Ups!. Setiap bagian terdiri dari bab-bab pendek yang berisi cerita sesuai dengan kategorinya. Meski secara umum cerita-cerita dalam buku ini dibalut humor, namun sebenarnya tak semua kisah perjalanan Trinity menyenangkan. Ada juga pengalaman menyebalkan yang harus ia alami. Salah satu pengalaman tak menyenangkan ialah ketika mengunjungi Edinburgh. Maksud hati ingin mengikuti tur di danau yang konon dihuni monster Loch Ness, tapi menurut petugas Tourist Information Office bermuka jutek, hari itu tidak ada tur sama sekali. Padahal di brosur jelas-jelas menyebutkan bahwa hari itu ada jadwal tur. Rupanya petugas kantor informasi tersebut memang bersikap diskriminatif terhadap turis dari Asia. Buktinya, seorang turis kulit putih dilayani dengan muka manis. Grrr!

TNT1 edisi republish (2014)
Dalam cerita-ceritanya, tak jarang Trinity membandingkan kondisi luar negeri dengan negeri sendiri. Dan meski ia kerap menyindir kondisi pariwisata dalam negeri, namun ia mengaku lebih menyukai Indonesia ketimbang luar negeri. Bagaimanapun, negara kita memang dianugerahi pemandangan alam yang luar biasa. Hanya saja, pengelolaannya memang masih perlu banyak perbaikan. Dan, bentuk kritik adalah tanda bahwa ia peduli dengan negaranya, bukan?

Ada cerita yang membuat saya iri berat, yaitu ketika Trinity diberi tiket gratis ke luar negeri oleh yang dikenalnya lewat dunia maya. Orang yang bahkan tak pernah bertemu dengannya di dunia nyata. Ah, saya juga pengen dong dikasih tiket gratis ke luar negeri. Hehe.

Setelah membaca beberapa buku terakhir Trinity, saya harus mengakui bahwa buku-buku awalnya, termasuk TNT1 ini tidak seinformatif yang diharapkan. Memang banyak tips menarik seputar jalan-jalan di buku ini, tapi secara umum unsur curhatnya lebih mendominasi, sementara deskripsi mengenai tempat wisata yang dikunjunginya tak sedetail buku-bukunya yang terbaru, misalnya jika dibandingkan dengan The Naked Traveler 1 Year Round The World Trip.

Meski demikian, secara keseluruhan buku ini tetap menghibur. Sekadar saran, dibutuhkan pikiran terbuka untuk dapat sepenuhnya menikmati buku ini sebab bisa jadi ada beberapa bagian dalam buku ini yang akan membuat pembaca tak nyaman. Misalnya kebiasaan merokok, dugem, atau kebiasaan ‘nimun’ penulis yang sering diceritakan berulang kali.

Membaca buku ini harus siap-siap terjangkit virus traveling, sebab Trinity, dengan gaya berceritanya yang asyik, mampu membuat pembaca merasa tertantang untuk keluar dari zona nyaman dan pergi melihat dunia. Setidaknya begitulah yang saya rasakan.

***
Catatan: Review ini seharusnya untuk baca bareng bulan April 2015, tapi saya baru bisa mempostingnya sekarang. ^^
Baca Bareng April: Buku yang sudah diterbitkan yang sebelumnya dipos online.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back to top