8 Mei 2015

Sabtu Bersama Bapak - Adhitya Mulya

Judul: Sabtu Bersama Bapak
Penulis: Adhitya Mulya
Penerbit: GagasMedia
Cetakan: IV, 2014
Tebal: 278 hlm
ISBN13: 9789797807214

Sinopsis:
“Hai, Satya! Hai, Cakra!” Sang Bapak melambaikan tangan.
“Ini Bapak.
Iya, benar kok, ini Bapak.
Bapak cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra.

Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian.
Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian.
Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian.
Ingin tetap dapat mengajarkan kalian.
Bapak sudah siapkan.

Ketika punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban.
I don’t let death take these, away from us.
I don’t give death, a chance.

Bapak ada di sini. Di samping kalian.
Bapak sayang kalian.”
...

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.

Sayang sekali, padahal usia Gunawan Garnida masih terbilang muda. Kedua anak laki-lakinya, Satya dan Cakra, masih kecil-kecil. Namun dokter memvonis bahwa usianya hanya tinggal setahun sebab penyakit yang dideritanya tak bisa disembuhkan. Tak ingin kedua anaknya tumbuh tanpa sosok ayah, Gunawan memutuskan untuk membuat rekaman-rekaman video bagi Satya dan Cakra. Beliau berpesan kepada sang Ibu agar mereka memutar video-video itu setiap Sabtu, kelak saat dirinya telah berpulang. Kegiatan menonton video rekaman Bapak setiap Sabtu pun menjadi aktivitas yang ditunggu-tunggu oleh Satya dan Cakra. Isi video tersebut bermacam-macam, berupa pesan, nasihat, dan penyemangat bagi mereka dalam menjalani hidup.

Bertahun-tahun kemudian, Satya dan Cakra telah tumbuh dewasa. Satya telah berkeluarga, sementara Cakra masih jomblo. Sang Ibu, sukses mengelola beberapa rumah makan yang modal awalnya berasal dari warisan Bapak. Sebelum meninggal Bapak memang telah menyiapkan segalanya bagi istri dan anak-anaknya.

Namun bukan berarti kehidupan ketiga anggota keluarga Garnida selalu berjalan mulus. Rumah tangga Satya tampaknya mulai goyah. Cakra belum ada tanda-tanda akan segera memiliki pendamping hidup. Sementara Ibu berkutat dengan problem yang ia sembunyikan dari kedua putranya. Di saat-saat seperti ini, kehadiran Bapak sangat dibutuhkan, walau hanya melalui rekaman video. Bagaimana akhir kisah ketiga anggota keluarga Garnida?

Sepintas, sinopsis cerita di atas sepertinya terkesan suram. Tapi percayalah, isi buku ini tak sesuram itu, meski terkadang ada bagian cerita yang mampu membuat mata saya berkaca-kaca. Dalam buku setebal 278 halaman ini, Adhitya Mulya menghadirkan cerita yang kaya dengan pesan moral, dikemas dengan gaya bercerita yang lincah dan menghibur.

Cerita Sabtu Bersama Bapak terpusat pada Satya, Cakra, dan Ibu. Untuk kisah Satya dan Ibu, penulis menyajikan suasana yang agak kelam. Namun untuk kisah Cakra, pembaca akan menemukan banyak unsur komedi yang mampu mengundang tawa, di mana Cakra yang jomblo sering menjadi korban bully-an orang-orang di sekitarnya.

“Pagi, Pak Cakra.”
“Pagi, Wati”
“Udah sarapan, Pak?”
“Udah, Wati.”
“Udah punya pacar, Pak?”
“Diam kamu, Wati.”

“Pagi, Pak.”
“Pagi, Firman.”
“Pak mau ngingetin dua hal aja, Bapak ada induksi untuk pukul 9 nanti di ruang meeting.”
“Oh, iya. Thanks. Satu lagi apa?”
“Mau ngingetin aja, Bapak masih jomblo.”
“Enyah, kamu.”

Tak jarang saya berhenti membaca buku ini hanya untuk tertawa ngakak. Yah, selain menertawakan Cakra, saya juga menertawakan diri sendiri (if you know what I mean). Hehe.

Membaca Sabtu Bersama Bapak adalah pengalaman yang sangat menyenangkan. Saya langsung merekomendasikan buku ini ke teman-teman sekantor, segera setelah selesai membacanya. Setelah digilir tiga orang teman, akhirnya buku ini kembali lagi ke tangan saya, sehingga saya baru bisa menulis reviewnya sekarang (saya memang kurang pede menulis review bila bukunya tidak sedang berada di tangan saya #alasan).

Secara keseluruhan, buku ini adalah paket lengkap. Ada drama, komedi, dan yang paling penting, banyak pesan moral khususnya bagi para jomblo, calon pengantin, atau calon orang tua. Kisahnya sendiri sangat menarik dan tidak membosankan. Yang menjadi favorit saya adalah twist cerita Cakra. Saya sampai harus meletakkan buku ini dan ber-“awwww”-ria karena twist-nya so sweet pake banget. Bukan berarti tak tertebak, tapi tetap saja mampu membuat saya meleleh bahagia.

Terima kasih banyak buat Kang Adhitya Mulya untuk karyanya yang sangat berkesan. Entah kapan saya bisa membaca lagi buku sebagus ini.

3 komentar:

Back to top