7 Sep 2015

Segenggam Daun di Tepi La Seine - Wuwun Wiati [+Giveaway]

Judul: Segenggam Daun di Tepi La Seine
Penulis: Wuwun Wiati
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Juli 2015
Tebal: 304 hlm.
ISBN: 9786020318653

Sinopsis:
Hidup di Paris menjadi tak sama lagi sejak Ajeng menemukan sebentuk cincin di balik segenggam daun. Bahasa, makanan, dan budaya yang berbeda menjadi kesehariannya yang baru. Ajeng mulai menikmati semuanya di samping Yves tercinta.

Tapi, satu per satu masalah datang. Ajeng berkali-kali goyah akan kesiapannya menikah dengan Yves. Belum lagi godaan yang datang dari sosok flamboyan, si ganteng Alain. Sifat Alain yang antiterikat dan spontan terasa lebih sesuai bagi Ajeng. Di antara Menara Eiffel, Moulin Rouge, pantai nudis, sampai swinger club, bisakah Ajeng mengontrol dirinya dan tetap setia?

Pertemuan antara Ajeng dan Yves terjadi ketika Ajeng dan teman-temannya berlibur di Thailand. Pertemuan yang singkat dan agak memalukan di bandara Thailand tersebut ternyata membuat keduanya menjalin hubungan lebih lanjut. Jarak yang membentang antara Ajeng dan Yves, Indonesia-Prancis, tak menghalangi mereka untuk tetap menjalin hubungan jarak jauh. Yves membuktikan keseriusannya terhadap Ajeng ketika pria itu memintanya untuk menjadi kekasihnya sebelum kedatangannya ke Indonesia. Ajeng lega ketika ayah menyambut baik kedatangan Yves ke Indonesia dan bahkan merestui hubungan mereka.

Tibalah giliran Yves untuk mengundang Ajeng tinggal di apartemennya di Paris yang memiliki pemandangan indah sungai La Seine. Ajeng menyanggupinya, walau berarti ia harus mengorbankan banyak hal, termasuk meninggalkan ayah yang kondisinya sedang tak baik.

Ternyata tak mudah bagi Ajeng untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di Paris. Mulai dari kendala bahasa hingga budaya orang Prancis. Tapi gadis itu tak menyerah. Ia bahkan mengambil kursus bahasa Prancis untuk membantunya lebih dekat dengan Yves melalui komunikasi, baik dengan keluarga maupun teman-teman Yves (selama ini Ajeng dan Yves berkomunikasi dalam bahasa Inggris). Maklum, orang Prancis sangat bangga dengan Bahasa Ibu mereka dan enggan menggunakan bahasa lain.

Sayang, saat Yves secara resmi melamar Ajeng, keraguan justru muncul dalam hati gadis itu. Trauma masa lalu akibat kehancuran rumah tangga orang tuanya membuat Ajeng ragu untuk melangkah. Di saat yang sama, muncul orang ketiga yang semakin memperkeruh suasana.

Bagaimana kelanjutan hubungan Ajeng dan Yves? Baca kisah lengkapnya dalam Segenggam Daun di Tepi La Seine  karya Wuwun Wiati.

Novel ini tak hanya mengangkat tema tentang cinta beda budaya, tapi juga tentang kesetiaan dan keluarga. Melalui Ajeng, pembaca Indonesia dapat lebih memahami suka-duka dalam menjalin hubungan percintaan dengan pasangan yang berbeda kewarganegaraan. Banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk melangkah lebih jauh, termasuk hal-hal yang harus dikorbankan oleh kedua belah pihak. Pertimbangan siapa yang ikut ke negara siapa, termasuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di negara baru yang memiliki kebudayaan berbeda, bisa saja menghambat kelangsungan hubungan pasangan beda negara tersebut. Tapi toh love always conquers all. Kalau sudah cinta mah, segala halangan dan rintangan pasti bisa diatasi. Yang penting saling cinta dan setia. #ahsik

Bicara tentang kesetiaan yang merupakan bagian penting dalam novel ini, saya yang biasanya santai setiap membaca novel romance, sempat dibuat deg-degan juga dengan kehadiran pihak ketiga. Saya selalu berpikir, toh pada akhirnya si A dan si B akan bersatu di akhir cerita. Namun penulis sukses membuat saya nggak santai. Bagaimana bila ternyata si A ternyata memang nggak berjodoh dengan si B, dan memilih untuk jadian dengan C? Bukankah kita sebaiknya mengikuti kata hati? Wiiih.

Setting adalah aspek yang paling menarik di novel ini menurut saya. Penulis benar-benar paham mengenai kota Paris dan kebudayaan Prancis. Hal ini tak lepas dari pengalaman penulis sendiri yang memang sudah menetap lama di sana. Banyak tempat-tempat baru di Prancis yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Pembaca tentu familiar dengan Eiffel, La Seine, Moulin Rouge, atau Louvre. Tapi bagaimana dengan Pantai Naturis, Klub Libertin atau Swinger Club? Saya lumayan kaget saat membaca bagian tersebut. #kipasmanakipas #akumasihpolos #plaks. Untungnya, tempat-tempat tersebut tak hanya tempelan semata dan memang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari cerita. Penulis juga menggambarkannya dengan bahasa yang cukup sopan kok.

Ada banyak fakta menarik tentang Prancis yang disampaikan penulis lewat novelnya ini yang mau tak mau membuat saya jadi membandingkannya dengan Indonesia. Berikut beberapa di antaranya:
  1. Di sana tarif pajaknya cukup tinggi, namun benar-benar dikelola dengan baik oleh negara, misalnya untuk mendirikan fasilitas-fasilitas umum. Malah, melalui pendapatan perpajakan, negara mampu menyediakan penginapan gratis bagi para tunawisma.
  2. KTP penduduk Prancis tak mencantumkan agama. Jilbab dilarang. Eit, sabar dulu... Larangan semacam ini berlaku untuk semua agama kok. Orang Kristen misalnya, nggak boleh memakai aksesoris berlambang salib. Namun bukan berarti Prancis anti-agama. Beragama boleh, tapi bukan untuk dipertontonkan. Mengenakan jilbab atau aksesoris salib di tempat ibadah tidak dilarang kok. Sekolah-sekolah swasta juga membolehkan.
  3. Sistem PACS (Pacte Civil de Solidarité), yaitu sebuah sistem perikatan antara pasangan baik lawan jenis maupun sesama jenis, namun berbeda dengan pernikahan. Ogah nikah tapi pengen tinggal seatap? PACS solusinya #plaks. Aturannya nggak ribet dan membubarkannya pun lebih sederhana karena tidak melibatkan pengadilan. Semacam kumpul kebo yang dilegalkan (?).
  4. Orang Prancis tergila-gila dengan ketepatan waktu. Kereta datang terlambat satu menit saja mereka bisa uring-uringan.
  5. Mereka sangat menjunjung tinggi Bahasa Ibu dan enggan menggunakan bahasa Inggris. Info bagus nih bagi pembaca yang ingin mengunjungi Prancis. Paling nggak kursus dulu deh sebelum main-main kesana.
  6. Orang Prancis sangat ketat soal makanan, baik waktu makan maupun apa yang dimakan. Makanan pembuka dan penutupnya harus tepat. Lapar sebelum waktunya? Ya ditahan. Ng... saya kok jadi kasihan ya? :p

Dan banyak lagi fakta menarik tentang Prancis dalam novel ini yang bakalan panjang kalau saya sebutkan semuanya.

Secara keseluruhan, saya cukup menikmati membaca novel ini. Saya menyukai tokoh Yves yang penyabar, juga keluarganya yang ramai. Kisah antara Ajeng dan ibunya pun lumayan mengharukan, walau tak sampai membuat mata saya berkaca-kaca sih.

Segenggam Daun di Tepi La Seine adalah novel romance yang tak sekadar menjadikan Paris sebagai latarnya. Lewat Ajeng, penulis tak hanya mengajak membaca untuk mengenal lebih dekat mengenai kota Paris dan kebudayaan Prancis, tapi juga membuat pembaca seolah dapat merasakan sendiri bagaimana rasanya mengalami culture shock saat memulai kehidupan baru di negara asing. Sangat menarik.

Novel ini saya rekomendasikan bagi pembaca novel romance yang ingin mengetahui seluk-beluk kehidupan cinta pasangan beda negara, dan tentunya bagi pembaca yang ingin mengenal Paris lebih dekat. Nggak hanya sisi romantisnya Paris yang menarik, sisi liar juga tak kalah menarik loh (ups!). Dan jangan lupa, kursus bahasa Prancis sangat disarankan kalau pembaca ada yang berniat ke sana. Bukan apa-apa sih, biar nggak repot kayak Ajeng aja. ;)

Thanks banget buat mbak Wuwun atas novelnya. Ditunggu karya-karya berikutnya ya!


***

GIVEAWAY TIME!


Ingin memiliki satu buah novel Segenggam Daun di Tepi La Seine dan merchandise unyu asli dari Prancis? Yuk ikutan giveaway ini. Caranya sebagai berikut:
1. Peserta berdomisili di Indonesia dan terjangkau oleh ekspedisi.
2. (Opsional) Follow blog ini via GFC (Google Friend Connect).
3. Like page Facebook Kandang Baca (https://www.facebook.com/kandangbaca)
4. Follow akun twitter saya: @vaan_11
5. Follow akun twitter penulis: @wuwun_wiati
6. Share giveaway ini via twitter dengan hashtag #GiveawayLaSeine. Jangan lupa mention saya ya. Share-nya cukup sekali saja.
7. Tinggalkan komentar dengan format di bawah:
Nama:
Akun twitter:
Alamat email:
(Mau komentar soal review buku ini juga boleh ^^)
Caranya cukup mudah, kan? Giveaway ini berlangsung dari tanggal 7-12 September 2015. Pemenang akan ditentukan secara random, dan hadiah (novel + merchandise) akan dikirim oleh editor ke alamat pemenang.

Selamat mengikuti giveaway. Semoga beruntung!

***

Jangan lupa untuk mengikuti giveaway Segenggam Daun di Tepi La Seine di blog-blog berikut:

(Klik gambar untuk memperbesar.)

32 komentar:

  1. Aku aku akuuu ikut!
    Nama: Vindy Putri
    Twitter: @vindy2804
    Email: vindy.putri.2804@gmail.com

    yeay! semoga beruntung. Jadi inget lagunya film "Monster in Paris". Judul lagunya La Seine. :3

    BalasHapus
  2. Nama: Eni Lestari
    Akun twitter: @dust_pain
    Alamat email: shinra2588@yahoo.com

    baca reviewnya jadi pengin ke Paris nih >_<

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Nama : pramestya
    twitter : @p_ambangsari
    email : pramestya23@gmail.Com

    udah berapa review ya yang udah aku baca, rasanya tambah gregetan pengen cepat punya bukunya.
    Bicara tentang setia, aku juga bakal setia ikut GA sampai menang wekawekaweka :D

    BalasHapus
  5. Nama: Nurina Widiani
    Twitter: @KendengPanali
    email: nurinawidiani84@gmail.com

    Baru tau sisi Prancis yg lain dari review novel ini dan jadi penasaran. Suka novel yg settingnya kuat sih.. ^^

    BalasHapus
  6. Nama : Putri Diniansyah
    Email : mputdiniansyah@gmail.com
    Twitter : @PrincesArgentum

    Paris , Budaya, Cinta
    ah semua menjadi satu kesatuan yang tak terlepas
    Apakah Ajeng menjadi kan itu sebagai sebuah keberuntungan atau penyesalan?
    Penasaran dengan kelanjutannya
    Semoga bisa dapet kesempatam baca dari GA ini.

    BalasHapus
  7. nama: Visca Apriliyanti
    twitter: Visca_Apr
    e-mail: apriliyantivisca@yahoo.com

    BalasHapus
  8. Neneng Lestari
    @ntarienovrizal
    n_tarie90@yahoo.com

    BalasHapus
  9. Nama: Wening Purbawati
    Akun twitter: @dabelyuphi
    Alamat email: dabelyu_phi@yahoo.com

    dari dulu kalo punya kesempatan keliling dunia, first destination itu paris. tapi agak shock juga sih kalo berhijab itu dilarang. kalo turis gimana ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. duh, ini mau klik join this site kok gak bisa ya?? ><

      Hapus
    2. Hijab yang kelihatan mata saja, memang dilarang karena menutupi identitas. Jilbab tidak dilarang, paling hanya di sekolah publik, seperti semua atribut keagamaan lain seperti star david yahudi. Tetapi hijab pada turis tidak dilarang. Turis bukan penduduk Prancis kan.

      Hapus
  10. Nama: Ramadhanul Fitri Mardas
    Akun twitter: @ramadhan_rae
    Alamat email: ramadhanul21@gmail.com

    Jujur, aku jarang banget -mungkin cuma sekali- baca cerita yang settingannya di Prancis. Palingan juga seringnya di London. Jadi pas baca sipnosisnya, tertarik banget sama kisah ini ><
    penasaran sama kebudayaan di Prancis kaya gimana. Bedakah atau sama kaya di London? Hihihi :D

    BalasHapus
  11. Nama : Wulida
    Twitter: Jm_nim
    email : wulida.nadhila@yahoo.com

    BalasHapus
  12. Indriani
    @ryanie31
    my_ownmail@yahoo.com

    karena menjejak di Paris adalah salah satu impian besar saya, maka buku ini dapat membantu agar enggak nyasar ke tempat yang 'tidak-tidak' :P

    BalasHapus
  13. Nama: Aulia
    Twitter: @nunaalia
    Email: auliyati.online@gmail.com

    baca reviewnya makin penasaran dengan novelnya, bakalan nambah pengetahuan tentang belahan dunia lain terutama paris!

    BalasHapus
  14. Nama: April Silalahi
    twitter: @aprlboanarges
    Email: hilda.silalahi92@gmail.com

    Membaca sesuatu berbau Paris sangat menyenangkan buatku. Semoga beruntung bisa membaca kisah ini xD

    BalasHapus
  15. Jiah @jiahjava jiahaljafara32@gmail.com

    waaa ada penampakan sisi liar Prancis jg??? Paling suka dg novel yg settingnya gak cuma nempel, ikut ngrasa di sana jdnya

    BalasHapus
  16. Nama : Septy Anggita
    akun twitter: @sseptyanggita
    Email : septysmpnss@gmail.com

    Percintaan dengan beda kewarganegaraan.. hmm.. saya juga ingin sebenarnya berhubungan kelak dengan orang beda kewarganegaraan, bukan karna gak suka cowo indo. tapi sepertinya asik dan beda aja jika dengan beda kewarganegaraan. semoga saya menang GA ini dan bisa membaca bagaimana sih fiksi tentang hubungan beda kewarganegaraan dan mengetahui baik buruknya percintaan dengan beda kewarganegaraan. membaca dari sinopsisnya saja pasti novel kaka ini akan sukses... aminnnn

    BalasHapus
  17. Rini Cipta Rahayu
    @rinicipta
    rinspiration95@gmail.com

    Novel ini istimewa sih menurutku. Dibalik segala pro kontra pernikahan beda kewarganegaraan, gak bisa dipungkiri emang perlu lebih banyak pertimbangan dan persiapan terkait beda kebudayaan dan tradisi.
    Perancis juga nggak melulu soal Menara Eiffel dengan segala keromantisannya. Penyegaran dan sekaligus referensi nambah ilmu dengan cara yang seru :)

    BalasHapus
  18. Nama: Diki Siswanto
    Akun twitter: @diki_twips
    Email: dikisiswanto98@gmail.com

    Udah berkali kali baca review-nya makin penasaran sama kisah selengkapnya.
    Mudah2an keberuntungan untuk mendapat novel ini bisa terwujud. Aamiin

    BalasHapus
  19. Nama : Nova Indah Putri Lubis
    Twitter : @n0v4ip
    Email : n0v4ip@gmail.com

    Makin kesini makin penasaran dengan jalan ceritanya. penasaran siapa sih yang bakalan dipilih Ajeng?? sungguh mati aku jadi penasaran... *sambil goyang kayang* :D

    BalasHapus
  20. Nama : Dewi Padmi Pratiwi
    Twitter : @dewipadmip
    Email : dewipadmip@gmail.com

    Cintaaa segitigaaaa aaaaaa!!! paling greget sama yang namanya cinta segitiga :" antara pengen lanjut baca atau berhenti biar gak ikutan sakit hati (kalo ternyata Ajeng gak sama tokoh cowo favoritku) :" aaaand Paris! Salah satu kota yang WAJIB saya kunjungi. Baca reviewnya jadi pengen cepet-cepet lulus kuliah, buka bisnis, nabung terus ke Paris hehehe. Semoga di giveaway kali ini bisa menangin buku cantik nan elegan ini hihihiw

    BalasHapus
  21. Nama: Dian Maya
    Email: dianmayasariazis@gmail.com
    Twitter: @dianbookshelf
    Share: https://twitter.com/dianbookshelf/status/640735487846539264

    Paris lagi?
    Rasa-rasanya kota Paris adalah kota dengan frekuensi terbanyak dijadikan setting sebuah novel ya. Saya penasaran bagaimana Wuwun Wiati menggambarkan Paris di Tepi La Seine. :)

    BalasHapus
  22. Nama: Amelia Aura
    Akun twitter: @meliarawr
    Alamat email: ameliaura66@gmail.com

    Aku sangat tertarik membaca novel ini karena ingin mengeksplor lebih dalam tentang Paris melalui penuturan penulis yang memang tinggal di kota elegan itu, jadi nggak diragukan lagi, kan? Apalagi abis baca fakta-fakta yang ditulis di review, makin penasaraaaan

    BalasHapus
  23. Nama: Aya Murning
    Twitter: @murniaya
    Email: ayamurning@gmail.com

    Hmm, katanya ini bagus buat pembaca romance yang mau lebih mengetahui seluk-beluk cinta beda negara (atau mungkin lebih tepatnya 'cinta bikin pindah negara' ya). Baydewey, akika mau bang nikah sama yang beda negara, tapi nggak harus Prancis sih (ini ngomong seenak udelnya aja haha). Bolehlah ini dijajal. :p
    Soal tempat-tempat yang bikin kipas-kipas itu, apa berarti Mbak Wuwun pernah/sering ke sana ya? Ihihihiw...
    Oh ya, bang opan nggak nyantumin quote apa gitu yang berkesan? Biasanya itu jadi nilai tambah buat menarik peminat loh. Hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pernah ke tempat yang bikin kipas-kipas itu kah? Ada di Behind the scene novel ini hihihi

      Hapus
  24. Nama: Thia Amelia
    Akun twitter: @ Thia1498
    Alamat email: thiameliasn@gmail.com
    Link: https://twitter.com/Thia1498/status/642126556450545664?s=01

    Ini kisah yang aku suka, dimana hubungan kedua orang yang saling mencintai harus goyang dengan adanya orang ketiga. Ahhh wish me luck :D

    BalasHapus
  25. Nama : Naning Pratiwi
    Akun twitter : chelseas_lovers
    Alamat email : chelsea_lovers83@yahoo.com

    tertarik pengen ke Paris nya. Hohohohoho.. :D Eh.. Bukunya ding.. Hehehehe :D :D

    BalasHapus
  26. Hary Gimulya
    @angels_rutherfo
    harygimulya@gmail.com

    Membaca review Segenggam Daun di Tepi La Seine ini, benar-benar membuatku surprise.
    Terasa begitu detail penggambaran kota Paris yang menjadi setting utama cerita.
    Ini menjadi nilai tambah yang membuat calon pembaca jadi makin penasaran.
    Umumnya kan orang-orang hanya tahu Menara Eiffel saja. Merupakan hal baru mengetahui tentang Moulin Rouge, Pantai Nudis, serta Swinger Club.
    Semoga sih penggambaran tempat-tempat itu detail, jadi bisa menambah pengetahuan.^^
    Harapanku sih cerita ini ga bakal terjebak dalam cinta segitiga yang membingungkan.
    Suka geregetan kalau sudah begitu.
    Biarkan Ajeng tetap dengan Yves dan hidup happy ending setelah perjuangan mereka selama ini.

    BalasHapus
  27. Nama: Shiela Hartiningtyas
    Akun twitter: @ruth_shiela
    Alamat email: yskasim@gmail.com

    Akhirnya kesampean juga tiba di blog ini dan mengikuti giveaway Segenggam Daun di Tepi La Seine.:)
    Menurutku (dan mungkin sebagian besar teman-teman yang lain), pasti setuju bahwa desain covernya indah dan artistik.
    Sangat menggambarkan judul buku dan juga isi dari bukunya.
    Beberapa blog yang mereview buku ini juga mengatakan bahwa penulisnya (Mbak Wuwun) sangat fasih dalam menggambarkan seluk beluk Paris.
    Ini merupakan nilai tambah yang luar biasa dalam memberikan suasana yang berbeda bagi novelnya (jadi makin mirip novel2 eropa daripada novel Indonesia.hehehe)
    Tinggal lama di Paris bisa dimanfaatkan dengan baik oleh Mbak Wuwun untuk memperkaya bukunya ini (two tumbs Mbak).
    Aku jadi merasa bahwa Mbak Wuwun menceritakan kisah hidupnya sendiri lewat Segenggam Daun di Tepi La Seine (jangan-jangan Ajeng = Mbak Wuwun???)

    Sinopsisnya sukses membuat penasaran, apalagi membaca review para peserta blog tour.
    Jadi semakin ingin ke Paris nih (tapi kursus bahasa Perancisnya itu lho.Tidaaaakkkkkk.....>_<)
    Yang bikin kesel, kenapa juga Ajeng mendadak menjadi gundah gulana setelah sekian lama menjalin hubungan dengan Yves?
    Mbok ya kalau mau gundah, harusnya dari awal. Padahal Ajeng juga sudah mau bersusah payah meninggalkan Indonesia menuju Paris.
    Apalagi pake ada acara orang ketiga pula.>_< (semoga Ajeng bisa tetap setia dengan Yves)
    Berdasarkan penilaianku membaca review para peserta blog tour, buku ini sangat reccomended untuk dibaca dan dikoleksi.
    Apalagi bagi para pencinta kota Paris yang dianggap banyak orang sebagai kota paling romantis di dunia.
    Semoga lewat blog tour ini, aku bisa berkesempatan mendapatkan 1 buah buku kece ini. Amin.
    Terima kasih juga buat blog kandangbaca atas reviewnya yang keren dan sukses bikin makin penasaran.:)

    BalasHapus

Back to top