15 Sep 2015

Love Roulette - Francisca Todi

Judul: Love Roulette
Seri: Mafia Espresso #2
Penulis: Francisca Todi
Tahun Terbit: 2015
Format: Ebook, 150 hlm.
Bisa dibeli di Google Play Store
Review Irresistible (Mafia Espresso #1)

Sinopsis:
Rindu. Long distance relationship antara Den Haag dan Roma tidaklah mudah dijalani. Waktu akhirnya Antonio datang berkunjung, Sophie tak pernah menyangka bahwa bukannya bisa melepas rindu, dia malah harus berebutan cinta dengan wanita berwajah sesempurna mahakarya Michelangelo—wanita Italia yang pernah menjadi kekasih Antonio.

Situasi makin runyam dengan kehadiran Sacha Raux, pengusaha misterius yang berminat menjadi partner bisnis Antonio, tapi juga terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Sophie. Saat hubungannya dengan Antonio kian merenggang, proyek kantor memaksa Sophie meninggalkan kekasihnya dan terbang ke Paris.

Paris boleh jadi kota paling romantis di dunia, namun Sophie takut, dia justru bakal kehilangan cintanya di sana.

Perhatian: Review ini mungkin mengandung spoiler buku pertama (Irresistible).

Ketika selesai membaca buku pertama, ada semacam perasaan nggak rela karena harus berpisah dengan tokoh Sophie dan Antonio. Namun saya cukup beruntung sebab tak perlu menunggu lama untuk membaca kelanjutan kisah mereka. Love Roulette, adalah jawaban bagi para fans Sophie dan Antonio yang penasaran atas kelangsungan kisah asmara mereka.

Nah, melanjutkan cerita buku pertama, Sophie dan Antonio kini telah resmi menjadi sepasang kekasih meskipun mereka harus menjalani hubungan jarak jauh. Sophie di Den Haag dan Antonio di Roma. Di sela-sela kesibukan mengelola perusahaan, Antonio selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi Sophie, termasuk ketika menengok cabang perusahaannya di Belanda. Sementara itu Sophie telah keluar dari kantornya yang lama dan mulai bekerja di tempat yang baru, sebab peraturan perusahaan melarang Sophie menjalin hubungan asmara dengan klien.

Hubungan keduanya mendapat cobaan ketika Antonio berkunjung ke Belanda selama sepuluh hari. Seorang perempuan dari masa lalu Antonio menantang Sophie untuk bertaruh memperebutkan cinta lelaki itu. Sophie yang terbakar emosi tanpa berpikir panjang menyambut tantangan Elena. Sebuah keputusan yang belakangan Sophie sesali, setelah mengetahui fakta bahwa Elena dan Antonio pernah menjalin hubungan asmara selama 3 tahun dan mereka putus bukan karena tak lagi saling cinta. Ditambah kenyataan bahwa Elena lebih mengenal Antonio luar dalam, rasa percaya diri Sophie pun mulai runtuh.

Taruhan konyolku telah menggerogoti hubungan kami. Tadinya kupikir hubungan kami cukup kuat. Kupikir aku cukup kuat. Waktu aku menyetujui tantangan Elena malam itu, aku tidak tahu aku telah menandatangani kontrak dengan sang Iblis sendiri.

Keadaan menjadi semakin rumit dengan hadirnya seorang pria asal Prancis bernama Sacha Raux, pengusaha yang berniat mengadakan hubungan kerja dengan Antonio. Sacha terlihat menaruh perhatian yang cukup besar terhadap Sophie meski gadis itu telah memiliki kekasih. Setelah mengetahui latar belakang pekerjaan Sophie, Sacha semakin bersemangat untuk mendekati Sophie, selain karena perusahaannya memang membutuhkan sistem yang dapat disediakan oleh perusahaan tempat Sophie bekerja. Dengan alasan murni bisnis, Sophie menerima Sacha menjadi kliennya, walaupun Antonio terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap kedekatan mereka berdua. Keadaan diperparah ketika perusahaan Sophie menunjuknya untuk pergi ke Paris terkait proyek kerjasama dengan perusahaan Sacha.

Perlahan-lahan, hubungan Antonio dan Sophie pun semakin merenggang. Dapatkah mereka mempertahankan kepercayaan dan rasa cinta di antara mereka?

Dalam Love Roulette, saya merasakan aura cerita yang lebih mendung bila dibandingkan dengan buku pertama yang memiliki elemen komedi dan terkesan ceria. Cerita masih terfokus pada Sophie sebagai tokoh utama, yang kali ini hubungannya dengan Mafioso Azzaro Antonio mendapat cobaan yang lebih berat dari sekadar menjalani long distance relationship. Kehadiran orang ketiga (Elena) dalam sebuah cerita romance sebenarnya cukup klise, namun penulis tetap mampu membuat saya betah mengikuti jalan cerita hingga selesai. Apalagi ditambah orang keempat (Sacha) yang memiliki gerak-gerik mencurigakan, sehingga membuat sekuel ini memiliki elemen misterius yang cukup mirip dengan novel pertama.

Mengenai elemen misterius yang saya sebutkan di atas, bagi yang telah membaca buku pertama pasti akan mendapatkan perasaan déjà vu. Bedanya, bila yang dicurigai oleh Sophie di buku pertama adalah mafia asal Italia (you know who), kali ini yang menjadi alasan Sophie untuk ‘main detektif-detektif-an’ adalah mafia asal Prancis. Hal ini cukup membuat saya penasaran dan berkali-kali menahan diri untuk tidak mengintip endingnya (untunglah novel ini berbentuk e-book, jadi mengintip halaman belakang nggak se-tempting  jika dibandingkan dengan memegang buku cetak).

Setting cerita kali ini adalah Paris. Well, tepatnya separuh Den Haag separuh Paris sih. Ironis bagi Sophie. Bila biasanya kota Paris dianggap sebagai kota yang romantis, namun kerenggangan hubungannya dengan Antonio membuat suasana romantis Paris seolah mengejeknya. Ah, jadi pengen #pupuk Sophie. Lagian sejak awal memang Sophie yang salah sih, seharusnya ia menolak tantangan Elena. Tapi namanya juga lagi emosi ya, saat itu ia tidak berpikir jernih.

Biaca soal karakter, saya masih memfavoritkan Sophie dan Antonio. Tapi di sisi lain, saya juga menyukai tokoh Elena. Penulis berhasil menciptakan tokoh antagonis yang sukses membuat saya naik darah, namun tetap elegan dan anggun di saat yang bersamaan. Sementara tokoh Sacha cukup misterius dan membuat penasaran. Saya ikut deg-degan bersama Sophie. Benarkah ia seperti yang dicurigai gadis itu?

Tokoh lain yang menjadi favorit saya adalah Kathy. Sosok keibuan ini menjadi semacam teman dan juga tempat curhat bagi Sophie ketika berada di Paris. Bersama Kathy, Sophie menemukan sosok ibu yang telah lama dirindukannya. Wanita itu banyak memberi nasihat kepada Sophie.

“Hidup ini penuh risiko. Risiko untuk mencoba dan gagal. Risiko untuk berteman dan bermusuhan. Risiko untuk mencintai dan dikhianati.”

“Tapi bagaimana kalau kita sudah pernah mencoba dan gagal?” ujarku. “Apakah tidak lebih baik menghindari risiko sepenuhnya?”

Senyum Kathy melebar. “Bagaimana kalau kau mencoba lagi dan kali ini berhasil? Sering kali, kerena terlalu sibuk melindungi diri, kita jadi menjalani hidup setengah-setengah. Bekerja, tapi tidak mencurahkan segenap tenaga. Mencintai, tapi tidak memberikan hati sepenuhnya. Lalu kita bertanya-tanya, kenapa hidup kita gagal dan begitu-begitu saja? Aneh, kan?”

“Kau tahu apa yang paling banyak kusesali? Bukan kegagalanku. Bukan hal-hal sepele seperti menumpahkan gelas anggur ke baju di pesta penting, atau salah omong waktu harus memberikan presentasi. Yang kusesali adalah hal-hal yang tidak pernah kulakukan, hal-hal yang tidak pernah kucoba. Aku selalu bertanya-tanya, apa yang akan terjadi kalau aku memiilih untuk melakukannya?

“Pada akhirnya, hanya dua hal yang diperlukan untuk hubungan yang langgeng: komitmen dan kesediaan menerima pasangan kita apa adanya.”

Secara keluruhan saya sangat menikmati membaca seri Mafia Espresso kedua ini. Yang saya sayangkan hanyalah hilangnya unsur humor yang pernah membuat saya tak berhenti tersenyum saat membaca. Namun demikian, novel ini tetap menghibur saya. Novel ini memiliki klimaks yang cukup seru, diakhiri dengan sebuah pengungkapan rahasia yang sukses membuat saya bahagia lahir batin (asik). Rahasia apakah itu? Cari tahu sendiri di novel ini ya. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back to top