8 Apr 2016

Yesterday in Bandung - Rinrin Indrianie, dkk

Judul: Yesterday in Bandung
Penulis: Rinrin Indrianie, Ariestanabirah, Delisa Novarina, Puji P. Rahayu, NR Ristianti
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: I, Januari 2016
Tebal: 264 hlm.

Sinopsis:
Yesterday, all my troubles seemed so far away (Yesterday, The Beatles)

Seperti lima nada membentuk satu harmoni lagu, mereka memiliki masalah dan masa lalu yang bersinggungan.
Shaki, gadis Palembang dengan masalah korupsi sang ayah.
Zain, pemuda desa yang gila harta dan terjebak pergaulan hitam.
Tania, gadis riang yang masa lalunya kelam.
Dandi, Pemuda tampan yang lari dari bayang-bayang masa lalu.
Aline, pemilik kos yang menyimpan banyak misteri.

Hidup di tempat tinggal yang sama membuat mereka menyadari bahwa semua punya cerita di hari kemarin, untuk dibagi di hari ini.

Editor's Note
Salah satu dari tiga pemenang outline terpilih pada Workshop Novel Februari 2015

Bandung. Ah, saya punya kenangan indah tentang kota ini. Dua kali saya berkunjung, dua kali pula ia meninggalkan bekas yang tak akan pernah lenyap dari sudut pikiran saya. Kali pertama menginjakkan kaki di kota ini, saya bertemu dengan seseorang yang membuat kuncup di hati saya bermekaran. Begitu berartinya orang tersebut, sehingga pada saat semuanya berjalan tak sesuai harapan, kuncup yang sudah mekar tadi pun menjadi kering dan jatuh berguguran. Ada saat-saat di mana raut wajah saya berubah mendung ketika mendengar kata ‘Bandung.’ Namun, saat saya diberi tahu bahwa saya mendapat kesempatan untuk kedua kalinya menapakkan kaki di kota ini, perasaan yang timbul justru sebaliknya. Rindu. Ya, sebuah kata yang cukup tak masuk akal mengingat saya hanya ke kota ini satu kali, dan itu pun hanya dalam rentang waktu yang singkat. Lantas saya bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah rasa rindu tersebut melibatkan seseorang yang pernah menyentuh batin saya tempo hari?

Saya menemukan jawabannya tepat pada saat pesawat yang saya tumpangi menyentuh landasan bandar udara Husein Sastranegara. Ternyata yang saya rindukan memang kota ini. Bukan pada dia semata. Dengan hati buncah oleh rasa rindu yang telah tersampaikan pada kota Bandung, saya mengirimkan pesan singkat kepadanya, “Ketemuan yuk? Ngopi-ngopi kita. Aku lagi Bandung sekarang.” Pesan yang hanya ia baca namun tak pernah ia balas. Akan tetapi, hal itu tak membuat saya bermuram durja. Mungkin memang sudah seharusnya seperti ini. Toh, saya tak merasa kehilangan apa pun. Sebab saya sudah di sini. Di sebuah kota yang meski tak pernah menjadi kampung halaman, namun menjadi tempat yang dirindukan untuk pulang.

Lalu apa hubungan cerita di atas dengan kisah dalam novel ini? Well, nggak ada sih. Hehehe. Kecuali fakta bahwa judul buku dan setting ceritanya adalah kota yang begitu berkesan bagi saya, saya memang sedang kepingin bercerita saja. *ditujes*

image source here, edited by me.

Yesterday in Bandung berkisah tentang 5 tokoh yang tinggal bersama dalam sebuah indekos di salah satu sudut kota Bandung: Shaki, Tania, Zain, Dandi, dan sang pemilik kos, Aline. Bagi yang pernah mengalami rasanya tinggal di sebuah kos-kosan, saya yakin bakal merasa familier dengan suasana cerita dalam buku ini. Bercanda bersama, makan bareng, main gitar dan nyanyi-nyanyi bareng, atau sekadar mengobrol sampai larut malam. Suasana di kosan Aline kurang lebih seperti itu. Namun, apa yang tampak di permukaan belum tentu sama dengan yang tersimpan dalam hati. Di balik wajah ceria yang ditampilkan, ada hal kelam yang disembunyikan.

Shaki, gadis kaya dari Palembang yang pendiam dan suka memasak bagi teman-teman sekos dengannya. Hanya tinggal menunggu waktu sebelum semua orang tahu bahwa ayahnya adalah pejabat korup dan suka main perempuan. Ia sendiri butuh asupan obat-obatan bagi penyakit kejiwaan yang diam-diam ia derita. Ada sosok yang hadir dalam hidupnya, yang memberinya banyak perhatian, namun sayangnya sosok tersebut ternyata menyukai orang lain.

Tania, gadis periang yang easy going. Selalu ribut dengan Zain, salah satu penghuni kos-kosan Aline. Ia memiliki trauma masa lalu yang berkaitan dengan mantan pacarnya. Apa yang ia alami membuatnya tak lagi percaya pada cinta. Begitu teguhnya ia menutup diri, sampai-sampai ia tak menyadari bahwa ada sosok yang memberinya perhatian lebih dari sekadar perhatian seorang sahabat.

Zain, pemuda yang suka memetik gitar dan gemar menyanyikan lagu bagi orang yang amat ia sukai. Yang tak diketahui orang-orang, ialah bahwa ia memiliki harapan untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya di desa. Namun sayang, saat keadaan sudah sangat mendesak, Zain memilih untuk terjun ke lembah hitam.

Dandi, seorang pemuda pemdian dan tertutup. Ia satu-satunya yang memilih bekerja sementara teman-tamannya yang lain masih mencoba peruntungan di dunia perkuliahan. Sosoknya yang pendiam dan agak kaku tak terlepas dari kisah percintaan masa lalu yang membuatnya merasa begitu dikecewakan. Di kosan Aline, ia harus kembali memendam rasa kecewa saat gadis yang diam-diam ia cintai justru menyukai orang lain.

Dan terkhir, Aline, wanita cantik sang pemilik kosan. Bekerja di rumah sebagai penerjemah, Aline menjadi saksi atas dinamika interaksi para penghuni kos yang ia kelola. Sosok cantik ini pun menyimpan masalahnya sendiri. Ia mencoba lari dari fakta menakutkan yang sudah mengincarnya sejak cukup lama. Tapi tidak untuk kali ini. Mau tak mau, Aline harus mengangkat kepala, dan bersiap-siap menghadapi apapun yang mengintainya.

Bagaimana kelima tokoh di atas mengatasi pergulatan batin masing-masing? Temukan jawabannya dalam Yesterday in Bandung.

Jujur saja, membaca deretan nama penulis buku ini, saya sempat menduga kalau buku ini tadinya adalah kumpulan cerpen. Tapi ternyata tidak demikian, ini adalah sebuah novel utuh yang dikerjakan oleh lima penulis, di mana masing-masing penulis mewakili lima tokoh dalam novel ini. Saya salut kepada para penulis yang dengan sangat kreatif menggabungkan isi pikiran mereka ke dalam novel utuh bertajuk Yesterday in Bandung ini. Dengan gaya menulis yang berbeda-beda, membuat setiap karakter dalam novel ini menjadi punya ciri khas masing-masing. Perbedaan tersebut melebur menjadi satu kesatuan cerita yang cukup menarik untuk diikuti.

Namun, gaya menulis yang berbeda-beda ini justru bisa menjadi bumerang. Sebagai pembaca, saya kurang mampu menikmati novel ini secara maksimal. Sebab, ada gaya menulis yang cocok dengan selera saya, dan ada pula yang kurang cocok, walau secara umum saya menyukai setiap konflik yang disajikan oleh para penulis. Sedangkan bila disuruh memilih siapa favorit saya di antara para tokoh dalam novel ini, saya memilih tokoh Aline oleh karena kecocokan saya pada gaya menulis yang tersaji melalui tokoh tersebut (sayangnya saya tidak tahu siapa penulis dibalik tokoh favorit saya ini).

Bagi kalian yang kepincut pada novel ini oleh karena judul yang ada kata ‘Bandung’-nya, perlu saya ingatkan untuk jangan terlalu berharap banyak agar tidak kecewa. Sebab meski novel ini bersetting di Bandung, namun kota ini tidak tereksplorasi dengan maksimal, sebab sebagian besar adegan di dalamnya hanya berkutat di dalam kompleks kosan saja.

Terlepas dari bebarapa isu yang saya sebutkan di atas, novel ini sangat layak diapresiasi. Menyatukan banyak ide ke dalam sebuah novel utuh bukanlah perkara mudah, apalagi menjaga agar setiap karakter tetap konsisten, terutama saat ia muncul melalui sudut pandang tokoh yang berbeda. Usaha para penulis dalam meleburkan ide mereka ke dalam sebuah novel ini dapat dikatakan cukup berhasil. Saya sangat merekomendasikan novel ini bagi pembaca yang menyukai kisah penuh drama, serta pembaca menyukai novel yang berisi kutipan-kutipan manis dari berbagai lirik lagu populer. Yes, baby, novel ini punya stok lirik lagu yang buanyak. :)

11 komentar:

  1. Terima kasih, atas reviewnya :D
    Heuhue. Faktor penulisnya banyakan bukan orang Bandung kali ya... *ehhh?
    *itu aku deng*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aww, dikomenin penulisnya... aku jadi blushing. Hehehe.

      Hapus
    2. Ya elah, Bang. Apalah ananda ini dibanding Mbak Orin dan yang lain. Ku hanyalah butiran debu dan remah roti.
      Saya deh yang blushing >,<

      Hapus
  2. Aku juga suka Aline, penasaran siapa aja yang mengisi porsi tokoh utamanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadinya tebak-tebakan buah manggis ya, Lis? Siapa yang nulis tokoh siapa. Kita kan pengen tahu juga. (Bilang aja kepo.) XD

      Hapus
  3. Terima kasih banyak ya Opan, sudah mereview Yesterday in Bandung dan sudah menyukai Aline hehehe

    BalasHapus
  4. Terima kasih ulasannya, Kak~ :).

    BalasHapus
  5. Mbak Aline, mana orangnya?? Saya pengen ngekos di tempat Mbak Aline nih :D

    BalasHapus

Back to top