24 Jul 2014

An Abundance of Katherines (Tentang Katherine) by John Green

Judul: An Abundance of Katherines (Tentang Katherine)
Penulis: John Green
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2014
Tebal: 320 hlm.
ISBN: 978-602-03-0527-1

Sinopsis:
Katherine V menganggap cowok menjijikkan.
Katherine X hanya ingin berteman.
Katherine XVIII memutuskan Colin lewat email.
Kalau soal pacar, ternyata tipe yang disukai Colin Singleton adalah cewek-cewek bernama Katherine.

Dan kalau soal Katherine, Colin selalu jadi yang Tercampak. Setelah diputuskan Katherine XIX, cowok genius yang hobi mengotak-atik anagram ini mengadakan perjalanan panjang bersama teman baiknya. Colin ingin membuktikan teori matematika karyanya, supaya dapat memprediksi hubungan asmara apa pun, menolong para Tercampak, dan akhirnya mendapatkan cinta sang gadis.

Colin Singleton adalah anak cerdas. Persisnya, anak ajaib. Sejak kecil ia sudah menunjukkan keajaibannya dengan membaca headline koran yang sedang dibaca ayahnya. Padahal saat itu ia baru berumur 2 tahun. Ia bahkan mengikuti acara kuis di tv yang seluruh pesertanya adalah anak-anak genius (dan Colin menyikat mereka semua). Tak hanya otaknya yang ajaib. Kisah percintaannya pun ajaib. Seumur hidup, Colin hanya mengencani cewek-cewek yang bernama Katherine. Tapi tampaknya hubungannya dengan para Kathernine kurang berjalan lancar. Mereka selalu mencampakkan Colin. Puncaknya adalah ketika Katherine yang ke-19 memutuskan hubungannya dengan cowok itu.

Setelah putus dari Katherine XIX, Colin mengalami patah hati parah. Parah yang benar-benar parah, sampai bikin Colin muntah-muntah. Demi mengatasi patah hatinya, Hassan, sahabat karib Colin yang Muslim mengajak Colin pergi melancong. Ke mana saja, yang penting melancong (mumpung sedang liburan musim panas). Colin menyetujui usul Hassan.  Maka setelah mendapat izin dari orang tua masing-masing, Colin dan Hassan pun pergi berkendara dengan mobil Colin yang dijuluki Kereta Jenazah Setan *ngakak*. Pada saat yang sama, Colin mencoba menciptakan rumus matematika yang diharapkan dapat memprediksi hubungan asmaranya di masa depan (walau memang terkesan mustahil. Tapi Colin kan anak ajaib, ia pasti bisa melakukannya).

Di Gutshot, Tennessee, Colin dan Hassan bertemu dengan gadis bernama Lindsey. Ibu Lindsey yang bernama Hollis menawarkan pekerjaan kepada dua pemuda itu. Karena duitnya lumayan, mereka pun setuju, apalagi mereka boleh menginap dan makan gratis di rumah Hollis. Pekerjaan mereka bisa dibilang sederhana, hanya melakukan wawancara dengan orang-orang yang bekerja di pabrik milik keluarga Lindsey yang memproduksi tali tampon (serius). Di Gusthot inilah Colin mengalami banyak peristiwa menarik, termasuk bertemu dengan cowok menyebalkan yang juga bernama Colin, dan kebetulan adalah pacar Lindsey.

Lantas, sukseskah Colin dengan teori matematikanya? Dan yang terpenting dari semuanya, yang membuatnya sampai harus pergi melancong, berhasilkah ia move on dari Katherine XIX? Temukan jawabannya dalam An Abundance of Katherines karya John Green.

Kalau kata saya sih, novel ini sangat John Green sekali alias nerdy/geeky. Mulai dari tokoh utamanya, sampai teori matematikanya. Dan tentu saja, unsur humor dan dialog-dialognya yang cerdas. Secara umum ceritanya sederhana. Tentang cowok genius yang berusaha untuk move on. Meski ceritanya sederhana dan minim konflik, John Green berhasil menjadikan kisah ini menarik berkat karakter-karakter ciptaannya yang unik. Hassan, misalnya. Baru kali ini saya membaca novel Young Adult yang ada tokoh Muslimnya. Tokoh Hassan digambarkan sebagai tokoh yang penuh humor. Ia sanggup membuat aura novel ini menjadi lebih ceria. Kalau tidak ada Hassan, kemungkinan besar ini novel ini akan sangat suram dan bisa bikin pembaca depresi. Iyalah, secara sejak awal cerita si Colin sudah benar-benar dalam kondisi galau ekstrim. Saya saja pernah patah hati berkali-kali nggak pernah tuh pake acara muntah segala. #ehcurcol :)) Tokoh Lindsey juga menarik. Saya sukses dibuat jatuh hati pada kepribadian cewek itu. Sementara Hollis, ibu Lindsey, meski terkadang suka marah-marah dan gemar menyumpah, namun ia adalah tokoh yang menyenangkan. John Green menyimpan twist keren di akhir cerita bagi tokoh ini. Mengetahui apa yang telah dilakukan Hollis selama ini membuat saya akhirnya memasukkannya ke dalam daftar tokoh favorit.

Hal menarik lain yang saya temui sepanjang membaca novel ini, adalah bahwa saya dapat menemukan  sedikit kesamaan antara novel ini dengan The Fault in Our Stars. Dalam The Fault in Our Stars, JG memasukkan unsur matematika dalam hubungan singkat Hazel-Gus. Yang sudah membaca TFIOS, pasti paham. Kata kuncinya adalah “ketakterhinggaan”. Bahwa ketakterhinggaan pun memiliki batas. Ketakteringgaan yang satu bisa lebih besar atau lebih kecil dari ketakterhinggaan yang lain. (Ternyata JG memang menyukai matematika, walau kabarnya nilai matematikanya semasa sekolah bisa dibilang jongkok. Haha.)

Meski alur novel ini sederhana (bila mengabaikan teori matematika dan berbagai kurva yang  bikin saya pusing itu), novel ini memiliki banyak pesan moral dapat diambil bila pembaca jeli. Secara umum saya menyukai novel ini. Hanya saja, saya merasa sedikit terkendala soal terjemahan. Tidak jelek kok, sumpah! Saya sempat mengecek sekilas versi ebook berbahasa Inggris sebagai perbandingan, dan harus saya akui, beberapa dialognya memang lebih ‘nendang’ apabila dibaca dalam bahasa asli.

Review ini untuk:

Baca dan Posting Bareng BBI Juli #1: Remaja/Keluarga

4 komentar:

Back to top