21 Jul 2014

Guilty Pleasure by Christian Simamora

Judul: Guilty Pleasure
Penulis: Christian Simamora
Penerbit: GagasMedia, 2014
Tebal: 410 hlm.
ISBN: 978-979-7807-13-9

Sinopsis:
BERHENTILAH MENCARI LAKI-LAKI UNTUK MEMBUATMU BAHAGIA.
MULAILAH MENJADI PEREMPUAN BAHAGIA YANG DICARI LAKI-LAKI.

Dear pembaca,

Sebelumnya, aku minta maaf karena terpaksa mengakui kalau cerita ini dimulai dengan adegan paling klise di sepanjang sejarah fiksi: tabrakan. Pembelaan dari diriku hanyalah, saat menuliskannya di bagian awal cerita, entah kenapa aku yakin sekali ini cara paling pas untuk mempertemukan Julien dan Devika, mengingat keduanya berasal dari dua dunia yang sama sekali berbeda.

Guilty Pleasure adalah sebuah cerita cinta, yang tentu saja terasa sangat sederhana kalau dibandingkan dengan rumitnya hubungan percintaan di dunia nyata. Novel ini bercerita tentang keraguan; bisakah kamu memercayakan masa depan di tangan orang yang belum bisa berdamai dengan masa lalunya?

Bolehkah aku bertanya sekarang, apakah bacaan yang seperti ini yang sedang kamu cari? Kalau benar begitu, aku bersyukur sekali bisa mempersembahkan cerita ini untukmu. Selamat membaca dan, seperti biasa...

selamat jatuh cinta.


CHRISTIAN SIMAMORA

Seperti yang disebutkan di sinopsis, kisah dimulai dengan adegan tabrakan antara Devika (artis FTV yang terkenal dengan peran-peran antagonisnya) dan Julien Ang (pengusaha sukses). Dev sedang sibuk dengan kopinya ketika tanpa sengaja menabrakkan mobilnya ke mobil mahal milik Julien. Julien pun meminta ganti rugi—ia sama sekali tak terpengaruh oleh adegan menangis yang ditampilkan oleh Dev. Bisa dibilang, awal pertemuan mereka tidak mengenakkan. Namun ketika mereka bertemu lagi di bengkel tempat mobil Julien diperbaiki, keduanya merasa nyaman, bahkan terlibat obrolan seru. Kesan buruk saat pertemuan pertama pun terhapus sudah. Kemudian, mereka berpisah dan tak lagi saling menghubungi satu sama lain.

Empat bulan kemudian, Dev secara tak terduga bertemu lagi dengan Julien di acara syukuran label baru milik seorang desainer ternama, Pamela Ang. Di saat yang sama Dev juga bertemu dengan mantan kekasihnya yang bernama Heze. Masih sakit hati dengan Heze yang memutuskan hubungan mereka secara sepihak, Dev berlari meninggalkan ruangan. Saat itulah Julien mencari Dev dan mencoba memberi penghiburan kepada cewek itu. Dan sejak saat itu, keduanya saling menyadari bahwa ada sesuatu yang spesial di antara mereka.

Isi novel ini memang benar-benar sesuai labelnya: novel dewasa. Seiring perkembangan cerita, pembaca akan disuguhi oleh berbagai adegan kipas antara Dev dan Julien, dengan melibatkan selai stroberi dan es krim. Penasaran nggak, seperti apa adegannya? :D Untuk pembaca yang masih di bawah umur, sebaiknya jangan membaca buku ini ya. Atau, baca saja tapi jangan sampai ketahuan Papa-Mama, oke? #reviewersesat

Konflik di novel ini tidak terlalu rumit. Julien pernah mengalami kepedihan di masa lalu. Miranda, calon isterinya, mengalami kecelakaan sebelum mereka melangsungkan pernikahan. Kecelakaan itu mengakibatkan Miranda mengalami koma selama empat tahun, sebelum akhirnya meninggal. Julien belum benar-benar bisa melupakan Miranda, meski saat ini ia tengah menjalin hubungan dengan Dev. Setelah beberapa kali Julien mengunjungi Dev, Dev sadar kalau ternyata ia belum pernah sekalipun mengunjungi kediaman Julien. Setiap kali ia meminta untuk berkunjung ke tempat Julien, ada saja alasan Julien untuk menolak. Ada apa gerangan? Well, semua terjawab ketika Dev diam-diam mendatangi rumah pria itu saat pria itu sedang sakit. Dev bermaksud memberi kejutan manis. Namun apa yang Dev saksikan kemudian benar-benar membuat cewek itu sakit hati.

Guilty Pleasure sedikit banyak mengingatkan kita pada buku Christian Simamora sebelumnya yang berjudul All You Can Eat yang juga mengangkat isu age gap. Namun bila di AYCE masalah itu menjadi konflik utama, di Guilty Pleasure isu tersebut tidak terlalu dipermasalahkan. Usia Julien yang sudah empat puluh tak membuat pria itu lantas terlihat tua. Memang sih rambutnya ubanan (digambarkan oleh penulis sebagai rambut "garam dan merica"), namun jauh dari kesan uzur (malah hawt bingits, kurang lebih kayak Richard Gere di film Pretty Woman), membuat kedua pasangan tersebut terlihat cukup normal.

Agar pembaca tidak bosan dengan dengan kisah Dev dan Julien, penulis menghadirkan tokoh-tokoh selingan yang cukup menghibur, misalnya Ren (manajer Dev) dan geng gay-nya. Bisa dibilang, hampir separuh novel ini menceritakan teman-teman Dev, aktivitas mereka di klab gay lengkap dengan berbagai istilah unik yang sering mereka gunakan (vah-jay-jay, misalnya). Tampaknya riset yang dilakukan penulis tidak main-main, hehe.

Gaya menulis Chirstian Simamora yang ceplas-ceplos, witty, dan gemar menggunakan bahasa campur aduk (Inggris dan Indonesia) masih bisa ditemui di novel ini. Beberapa pembaca mungkin kurang cocok dengan gaya menulisnya, namun saya termasuk di antara pembaca yang menyukai gayanya tersebut. Malah, gaya bahasanya yang khas inilah yang membuat saya betah membaca karya-karyanya. Saking asyiknya menikmati novel ini, ketebalannya yang mencapai 410 halaman pun terasa kurang bagi saya. (Next time bikin novelnya lebih tebel lagi ya, Bang!)

Hal yang sedikit mengganggu bagi saya adalah adanya beberapa pengulangan dalam novel ini. Pertama, deskripsi rambut “garam dan merica” terlalu sering diulang, padahal pembaca sudah tahu tanpa perlu sering-sering diingatkan. Kedua, deskripsi fisik Dev dan Julien yang seksi, hot, menarik, tampan, cantik, dan sejenisnya, juga teramat sering diulang. Jadinya kayak makan Dunkin’ Donuts: kemanisan. Dan konflik dalam novel ini bisa dikatakan terlalu simpel (jika dibandingkan dengan novel karya Bang Chris yang lain), sehingga bagi saya novel ini terasa sedikit datar. Meski demikian, di tangan penulis yang lain belum tentu konflik yang sama dapat diolah menjadi semenarik yang dilakukan Christian Simamora. :D

Secara keseluruhan, novel ini mengobati kerinduan saya terhadap novel romance lokal dengan gaya bercerita yang penuh humor. Saya sangat merekomendasikan novel ini bagi semua pembaca yang menyukai novel romance dan tidak merasa keberatan dengan adegan-adegan kipas. Ditambah lagi, cover-nya yang kece badai membuat novel ini nggak malu-maluin dipajang di rak buku. :)

Rating:

4 komentar:

  1. ih ak ngarepnya lebih hot lagi biar nyaingin 50 shades of Grey =))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Setuju! Er... tapi apa nggak bakalan kena sensor tuh, Lis? Maklum, novel lokal. Takutnya malah dituduh buku mesum. :|

      Hapus
  2. Aaaah udah keluar aja reviewnya. Punya masih blm aku baca kang. Jadi nggak berani baca review mu dulu. Takut ada cipratan spoiler *dih malah suudzon

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe. Nggak papa, Ky. Baca aja dulu bukunya terus kita diskusikan lagi di kesempatan berikutnya. #mendadakresmi

      Hapus

Back to top