22 Jul 2014

The Hunger Games - Suzanne Collins

Judul: The Hunger Games
Seri: The Hunger Games #1
Penulis: Suzanne Collins
Penerjemah: Hetih Rusli
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009
Tebal: 408 hlm.
ISBN: 978-979-2250-75-6

Sinopsis:
Dua puluh empat peserta.
Hanya satu pemenang yang selamat.

Amerika Utara musnah sudah. Kini di bekasnya berdiri negara Panem, dengan Capitol sebagai pusat kota yang dikelilingi dua belas Distrik. Katniss, gadis 16 tahun, tinggal bersama adik perempuan dan ibunya di wilayah termiskin di Distrik 12.

Karena pemberontakan di masa lalu terhadap Capitol, setiap tahun masing-masing Distrik harus mengirim seorang anak perempuan dan anak lelaki untuk bertarung dan ditayangkan secara langsung di acara televisi The Hunger Games. Hanya ada satu pemenang setiap tahun. Tujuannya adalah: membunuh atau dibunuh.

Ketika adik perempuannya terpilih mengikuti The Hunger Games, Katniss mengajukan diri untuk menggantikannya. Dan dimulailah pertarungan yang takkan pernah dilupakan Capitol.


Buku ini pertama kali saya baca tahun 2012. Filmnya pun sudah saya tonton lebih dari sekali. Tapi entah mengapa, di awal bulan ini muncul kembali hasrat untuk membaca ulang buku ini. Dan ya, saya akhirnya membacanya kembali. Meski sudah hafal ceritanya, namun rasanya seperti membaca pertama kali. Saya masih dibuat berdebar oleh suasana arena Hunger Games, saya masih sanggup dibuat berjengit oleh adegan-adengan sadisnya, dan saya masih bisa berkaca-kaca pada adegan Katniss dan Rue. Ini membuktikan bahwa The Hunger Games merupakan buku yang sangat berkesan buat saya.

Alkisah, di masa depan, Amerika Utara sudah tidak ada lagi. Di atasnya kini berdiri negara Panem, dengan Capitol sebagai ibu kota. Tadinya Capitol dikelilingi 13 Distrik, di mana penghuninya adalah masyarakat yang bila dibandingkan penduduk ibu kota, kondisinya cenderung memprihatinkan. Rakyat di luar Capitol perlu berjuang keras untuk bisa hidup. Pemerintahan Capitol yang angkuh sebenarnya sempat mendapat perlawanan dari setiap Distrik, sayangnya Captiol terlalu kuat. Pemberontakan berakhir dengan dihancurkannya Distrik ke-13, dan menyisakan 12 Distrik yang hidupnya kini lebih merana. Ternyata, manghancurkan Distrik 13 dirasa kurang cukup memberikan ganjaran bagi rakyat. Capitol pun mengadakan Hunger Games setiap tahunnya. Hunger Games adalah bentuk hukuman sekaligus peringatan kepada dua belas Distrik atas perlawanan mereka di masa lalu. Mengutip bukunya: "Peraturan Hunger Games sebenarnya sederhana.  Sebagai hukuman atas perlawanan kami, masing-masing Distrik harus menyediakan satu anak lelaki dan satu anak perempuan, yang dinamakan sebagai para peserta, untuk berpartisipasi. Dua puluh empat peserta akan dipenjara di arena luar yang sangat luas, yang berupa padang pasir tandus yang panas menyengat hingga tanah pembuangan yang dingin membeku. Selama beberapa minggu, mereka harus bersing dalam pertarungan sampai mati. Peserta terakhir yang masih hidup adalah pemenangnya."

Terdengar cukup parah? Masih ada lagi. The Hunger Games disiarkan secara langsung di seluruh pelosok Panem layaknya sebuah reality show, dan pemerintah mewajibkan semua orang menontonnya.

Katniss Everdeen, 16 tahun, tinggal bersama ibu dan seorang adik perempuan di Seam, wilayah paling miskin di Distrik 12. Hari-harinya dihabiskan untuk berburu di hutan (meski hal tersebut dilarang oleh Capitol) demi menghidupi keluarganya. Sejak ayahnya meninggal akibat kecelakaan di tambang, Katniss-lah yang menggantikan ayahnya menjadi tulang punggung keluarga. Sementara ibu Katniss dapat dikatakan seperti mayat hidup sejak ditinggal mati sang suami. Pada Hari Pemilihan The Hunger Games ke-74, semua orang berkumpul untuk mendengarkan nama-nama yang akan diundi untuk mengikuti Hunger Games. Dunia Katniss seketika runtuh ketika nama Primrose Everdeen, adik yang amat disayanginya, keluar sebagai peserta. Tanpa ragu, Katniss segera mengajukan diri untuk menggantikan posisi adiknya. Bersama Peeta Mellark, kedua remaja belia tersebut resmi mewakili Distrik 12 untuk bertarung di Hunger Games.

Sebelum terjun ke arena Hunger Games para peserta harus diperkenalkan terlebih dahulu kepada semua orang di Panem. Para peserta harus melewati proses makeover yang membuat penampilan mereka jadi lebih menarik, hingga wawancara untuk merebut hati para sponsor (sekadar info, hadiah yang diberikan oleh pihak sponsor saat Hunger Games berlangsung sangat membantu para peserta untuk bertahan hidup. Hadiah bisa berupa makanan, obat-obatan, sampai alat pertahanan diri). Ya, para peserta harus melalui semua proses merepotkan tersebut sebelum dibuang ke arena pertarungan maut.

Bagaimana nasib Katniss selanjutnya? Meski selama ini ia terbiasa berburu dan cukup banyak membunuh binatang buruan, mampukah ia membunuh manusia? Terlebih lagi, mampukah ia membunuh Peeta, anak laki-laki yang pernah menyelamatkan hidupnya bertahun-tahun silam? Dan benarkah Katniss akan tunduk di bawah Capitol dan membiarkan dirinya menjadi manusia keji demi kesejahteraan yang dijanjikan bagi keluarganya dan Distrik-nya bila ia keluar sebagai pemenang?

Baca kisah selengkapnya dalam The Hunger Games karya Suzanne Collins.

Seperti yang sudah saya sebutlkan di awal. Saya membaca buku ini untuk yang kedua kali, dan sensasinya masih sama seperti ketika pertama kali saya membaca buku ini. Penulis benar-benar membangun dunia distopia Panem dengan baik sehingga terasa sangat ralistis. Pemerintahan yang punya kekuasaan penuh untuk mengendalikan masyarakatnya terdengar cukup mengerikan, tapi juga terdengar cukup masuk akal. Mungkin inilah tujuan dibuatnya novel-novel disopia, agar pembaca mendapatkan gambaran keadaan yang bakal terjadi apabila pemerintah memiliki kekuasaan yang terlampau besar.

Alur cerita buku ini cukup terjaga dengan baik. Dimulai dengan perkenalan para tokohnya, kondisi negaranya, hingga kengerian yang harus dihadapi anak-anak yang setiap tahunnya harus mengikuti pemilihan untuk saling bantai dalam permainan mematikan yang dirancang oleh pemerintah. Kepiawaian penulis membuat saya benar-benar merasakan apa yang dirasakan oleh Katniss. Saya jadi ikut membenci Capitol. Oh ya, sebagian besar buku ini berkisah tentang perjuangan Katniss di arena, maka jangan heran apabila dalam buku ini terdapat banyak sekali adegan berdarah, tepatnya adegan saling bunuh antarpeserta Hunger Games. Beberapa adegan sanggup membuat saya bergidik ngeri. Buku ini jelas bukan bacaan anak-anak.

Namun, terlepas dari kesadisan dalam buku ini, The Hunger Games merupakan bacaan yang sangat menarik. Saya jatuh cinta pada kisahnya, terutama pada tokoh Katniss. Membayangkan gadis miskin ini dengan berani menggantikan adiknya, melihatnya berusaha bertahan hidup di alam liar, serta mengamati perlakuannya yang tulus terhadap salah satu perserta yang mirip dengan adiknya, membuat saya benar-benar sangat menyukai tokoh ini (juga, saya membayangkan Jennifer Lawrence sebagai Katniss. Jangan salahkan saya, Jennifer Lawrence memang memerankan Katniss dengan sempurna dalam versi film). Oh ya, layaknya novel YA, tentu saja penulis tidak lupa menyisipkan unsur romance di buku ini, dengan porsi yang menurut saya sangat pas, tidak berlebihan.

Akhir kata, The Hunger Games adalah bacaan wajib bagi penyuka cerita tegang dan dunia distopia. Terjemahan novel ini sangat baik, meski saya masih bisa menemukan beberapa typo. Bila disuruh memberi bintang, maka saya tidak ragu memberi novel ini 5 dari 5 bintang.

3 komentar:

  1. aku suka banget hunger games, dan menurutku buku pertama adalah yg paling seru dari trilogi ini. penggambaran game nya itu bener2 gila, ikutan stress dan tegang bersama katniss. dan suka bangeeet sama peeta XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh salah. Harusnya: *salam 3 jari* :'))

      Hapus

Back to top