30 Jan 2014

Simple Thinking About Blood Type by Park Dong Seon

Judul: Simple Thinking About Blood Type
Penulis: Park Dong Seon
Penerjemah: Achie Linda
Penerbit: Haru, 2013
Tebal: 262 hlm.
ISBN: 9786027742253

Sinopsis:

Tahu nggak sih kalau orang bergolongan darah A itu orang-orang yang halus, tapi kaku dan taat pada peraturan? Atau tahukah kamu kalau golongan darah B itu orang-orang yang kreatif dan bebas?

Apa jadinya kalau mereka disatukan? Jangan-jangan, bisa terjadi pertengkaran!

Ternyata, selain perbedaan jenis kelamin, tempat tinggal, agama, dan kondisi ekonomi, golongan darah juga bisa menentukan perbedaan sifat kita, lho.

Meski sifat seseorang tidak bisa hanya dilihat dari golongan darahnya, semoga komik Simple Thinking about Bloodtype ini bisa menghibur, sekaligus sedikit membantu kamu untuk memahami orang lain, ya!

Bagi pembaca yang sering browsing internet, pastinya sudah tidak asing dengan komik tentang golongan darah karena komik-komik seperti ini memang banyak beredar di internet. Biasanya berbentuk komik strip, serta menggambarkan perbedaan setiap golongan darah dengan gaya yang blak-blakan dan penuh humor. Buku ini juga demikian. Ciri khas para ‘tokoh’ komik golongan darah ini adalah bertubuh imut, berkepala besar dan botak, dengan huruf yang mewakili golongan darah tertempel di wajah.

Dalam Simple Thinking About Blood Type, sang komikus berujar bahwa komik ini dibuat berdasarkan observasinya sendiri tentang lingkungan sekitarnya. Secara umum, golongan darah A digambarkan sebagai pribadi yang teratur dan patuh pada aturan aturan, peduli dan perhatian terhadap orang lain, tapi sulit beradaptasi dalam lingkungan sosial yang berubah cepat. Golongan darah B tidak suka mencampuri urusan orang lain, bila menyukai sesuai akan melakukannya berulang-ulang tanpa peduli orang lain, suka mengutarakan pendapat secara bebas dan optimis terhadap masa depan. Golongan darah O adalah pribadi yang memiliki semangat hidup kuat, idealis sekaligus realistis, tetapi juga emosial, dan mudah teralihkan perhatiannya. Sementara Golongan darah AB memiliki kemampuan bernegosiasi yang baik, kritikus, pandai memberikan saran, tetapi juga aneh dan sentimental, tertarik pada kekuasan dan politik. Semua perbedaan tersebut dituangkan dalam bentuk ilustrasi yang lucu dan menghibur.

Marriageable by Riri Sardjono

Marriageable by Riri Sardjono
Penerbit: GagasMedia, 2013 (diterbitkan pertama kali tahun 2006)
Tebal: 368 hlm.
Sinopsis:
Namaku Flory. Usia mendekati tiga puluh dua. Status? Tentu saja single! Karena itu Mamz memutuskan mencarikan Datuk Maringgi abad modern untukku.

"Kenapa, sih, gue jadi nggak normal cuma gara-gara gue belom kawin?!"

"Karena elo punya kantong rahim, Darling,” jawab Dina kalem. “Kantong rahim sama kayak susu Ultra. Mereka punya expired date."

"Yeah," sahutku sinis. "Sementara sperma kayak wine. Masih berlaku untuk jangka waktu yang lama."

Mamz pikir aku belum menikah karena nasibku yang buruk. Dan kalau beliau tidak segera bertindak, maka nasibku akan semakin memburuk. Tapi Mamz lupa bertanya apa alasanku hingga belum tergerak untuk melangkah ke arah sana.

Alasanku simpel. Karena Mamz dan Papz bukan pasangan Huxtable. Mungkin jauh di dalam hatinya, mereka menyesali keputusannya untuk menikah. Atau paling tidak, menyesali pilihannya. Seperti Dina, sahabatku.

"Kenapa sih elo bisa kawin sama laki?!"

Dina tergelak mendengarnya. "Hormon, Darling! Kadang-kadang kerja hormon kayak telegram. Salah ketik waktu ngirim sinyal ke otak. Mestinya horny, dia ngetik cinta!"

See??

"Oh my God!" desah Kika ngeri. "Pernikahan adalah waktu yang terlalu lama untuk cinta!"

Yup!

That’s my reason, Darling!

Another great novel about marriage! Flory, 32 tahun, arsitek, smart, and... single. Berkat status lajang itulah sang ibu akhirnya mengambil keputusan untuk menjodohkan Flory, khawatir ia akan menjadi perawan tua. Padahal, Flory sangat benci dijodohkan. Toh, ia merasa baik-baik saja dengan status lajangnya tersebut. Tapi kemauan sang ibu tampaknya sulit untuk ditolak. Lagipula, Vadin, pria yang menjadi calon suaminya juga nggak jelek-jelek amat. Demi menyenangkan sang ibu, Flory memutuskan untuk menerima perjodohan tersebut. Ia akhirnya mau menikah dengan Vadin.

Dengan satu syarat.

Dan hanya dirinya dan Vadin yang tahu, bahwa selama menikah, mereka tak akan pernah melakukan hubungan sex. Di luar dugaan, Vadin menyanggupi syarat tersebut. Agak aneh memang, tapi begitulah adanya. Flory dan Vadin bisa dibilang cocok satu sama lain. Pernikahan tanpa hubungan sex mereka berjalan lancar. Mereka saling bercanda, berdiskusi, berdebat, dan bersenang-senang. Mungkin bagi orang lain, mereka terlihat seperti pasangan suami-isteri yang bahagia, padahal sebenarnya hubungan mereka tak lebih dari sekadar hubungan dua orang sahabat yang kelewat akrab.

Namun suasana mulai berubah sejak Negara Api menyerang Nadya hadir dalam kehidupan pernikahan Flory dan Vadin. Siapa sih, Nadya? Ehem. Bukan siapa-siapa kok, cuma mantannya Vadin! Dengan fisik yang sempurna (wajah cantik dan dada tumpah), mau tidak mau Flory merasa insecure dan menganggap si 'boneka barbie' adalah saingan. Wow, tunggu dulu. Flory merasa... cemburu? Apakah itu berarti ia sebenarnya mencintai Vadin? Sayang sekali, ego Flory terlalu tinggi. Ia yang sejak awal tidak menyetujui perjodohan dirinya dengan Vadin sama sekali tak ingin mengakui bahwa ia memiliki perasaan yang ‘lebih’ terhadap suaminya tersebut. Tapi baginya, Nadya tetaplah penganggu. Ia khawatir Vadin berselingkuh dengan Nadya. Dan perselingkuhan, bagi Flory, tetap tak bisa dimaafkan dalam sebuah pernihkan, dengan atau tanpa cinta.

Benarkah Vadin selingkuh dengan Nadya? Apakah Flory benar-benar cinta terhadap Vadin? Bagaimana akhir kisah kehidupan pernikahan unik antara Flory dan Vadin? Baca selengkapnya dalam Marriageable karya Riri Sardjono.

Tampaknya tema perjodohan/pernikahan tak pernah basi untuk diangkat menjadi sebuah cerita novel, terutama kalau penulisnya mampu mengolahnya menjadi tulisan yang asyik untuk dinikmati oleh pembaca. Dan saya merasa beruntung karena sampai saat ini, hampir semua novel tentang perjodohan maupun pernikahan yang saya baca tak pernah mengecewakan, sebut saja Dimi is Married-nya Retni SB, Divortiare dan Twivortiare–nya Ika Natassa, Mahogany Hills-nya Tia Widiana, dll. Bahkan saat sedang menulis reviu ini, saya sedang membaca Marriage Roller Coaster yang super-fun karya Nurilla Iryani. #pentingbanget

Marriageable adalah salah satu novel tentang perjodohan/pernikahan yang wajib masuk dalam daftar-baca. Novel ini pertama kali terbit tahun 2006 dan sudah mengalami cetak ulang beberapa kali. Edisi yang saya baca ini adalah edisi repackage, dengan cover baru yang manis dan juga mewakili karakter utama buku ini: Flory (atau perempuan secara umum).

"Kenapa, sih, gue jadi nggak normal cuma gara-gara gue belom kawin?!"

"Karena elo punya kantong rahim, Darling,” jawab Dina kalem. “Kantong rahim sama kayak susu Ultra. Mereka punya expired date."


Kekuatan utama novel ini adalah dialog-dialognya yang lucu, cerdas, blak-blakan, dan kadang nyeleneh. Deskripsinya juga singkat dan tanpa basa-basi. Banyak adegan dan dialog dalam buku ini yang mampu memancing tawa saya, terutama dialog-dialog antara Flory dan teman-temannya. Ya, ada empat tokoh sahabat Flory di buku ini yang mencuri perhatian. Kika yang feminis, Dina yang sinis (Dina adalah ‘versi baik’ dari Nadya), Ara yang romantis, dan Gerry, yang meski satu-satunya cowok dalam geng tersebut, namun preferensi seksualnya ternyata tidak berbeda dengan para sahabatnya (LOL). Bila kelimanya sudah berkumpul, maka dijamin suasana akan menjadi meriah, berkat celutukan dan bercandaan yang cerdas dan penuh perdebatan. Wajar saja, karena mereka berlima memiliki kepribadian yang sangat berbeda satu sama lain. Persahabatan merekalah yang mengisi sebagian besar lembaran novel ini.

Jujur saja, sebenarnya saya ingin memberi lebih dari 3 bintang buat novel ini, namun setelah memikirkannya lagi, saya tetap mentok di 3 bintang. Bukan karena novelnya jelek. Seperti yang saya bilang sebelumnya kan, it is a great novel about marriage. Ceritanya seru, gaya menulisnya asyik, penuh humor, serta cerdas. Namun sayang, saya kurang bersimpati terhadap Flory. Hoho. Tenang, saya bukannya membenci Flory. Ia menarik, cerdas, dan memiliki pendirian teguh. Hanya saja, saya merasa Flory terkadang terlalu overthinking dan keras kepala. Masalah-masalah dalam novel ini juga sebagian besar lebih dikarenakan sifat Flory yang keras kepala. Padahal, kalau dipikir-pikir, hidupnya sangat beruntung. Satu, ia punya ibu yang sangat perhatian. Dua, Vadin, sang suami, adalah pria yang penuh pengertian. Tiga, Flory punya sahabat-sahabat yang baik dan selalu hadir saat ia membutuhkan mereka. Padahal, sahabat-sahabat Flory ini juga sebenarnya memiliki permasalahan yang tidak kalah pelik dibanding masalah yang dialami Flory (itu pun kalau bisa disebut masalah). Entahlah, mungkin karena otak saya kurang nyambung dengan pemikiran Flory. Or maybe I am just simply bego.

Dalam novel ini juga terdapat beberapa kata/kalimat yang sering banget diulang-ulang dan membuat saya jadi sedikit bosan. Dan, meski saya sendiri merokok, saya malah merasa terganggu dengan banyaknya adegan merokok dalam buku ini. Serius. Banyak banget adegan merokok di novel ini. Flory merokok. Vadin merokok. Teman-teman Flory merokok (ok, nggak semuanya sih). Dengan banyaknya adegan merokok di buku ini, saya sampai merasa kamar saya jadi penuh asap. (Eh itu mah asap rokok saya sendiri hahahahahaha #kemudiandisambit).

Bagian favorit dari buku ini... aduh banyak banget. Tapi ada satu adegan yang luar biasa epic saat menjelang ending, yaitu ketika Flory *sensor-sensor-sensor* kepada Vadin. Betapa malangnya saya karena membaca adegan tersebut di angkot. Soalnya... adegan itu sukses membuat saya ngakak sampai keluar air mata. Iya. Di angkot. T____T

Overall, this is a great novel! (Yaolo diulang sampe tiga kali. Piring cantik, mana piring cantik!) Kalau ingin mencari bacaan ringan dengan tema yang nggak ringan-ringan banget (hey, pernikahan bukan sesuatu yang ringan, kan?) novel ini adalah pilihan yang pas. Bila Riri Sardjono menerbitkan novel lagi, saya tak ragu untuk membelinya.

*Posting ini untuk Indonesian Romance Reading Challenge 2014

29 Jan 2014

Dongeng Mini: Cerita Binatang by Aleum & Park Seong Il

Dongeng Mini: Cerita Binatang by Aleum & Park Seong Il (Ilustrator)
Penerjemah: Amelia Burhan
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer, 2013
Tebal: 313 hlm.
Sinopsis:
Buku ini terdiri dari 40 kisah binatang Aesop yang diceritakan secara sederhana dan dihiasi ilustrasi yang indah. Dilengkapi dengan nasihat untuk anak-anak. Cocok dibacakan bagi balita atau untuk anak-anak yang mulai belajar membaca.

Buku ini saya pilih untuk tema baca bareng Januari: fabel. Sepengetahuan saya, fabel adalah cerita-cerita tentang binatang, di mana dalam cerita tersebut para binatang digambarkan memiliki sikap dan tingkah laku yang mirip manusia. Mereka bisa bicara, menyanyi, marah-marah, atau tertawa. Cerita-cerita fabel umumnya berupa dongeng pendek yang diceritakan kepada anak-anak sebagai kisah pengantar tidur. Akan tetapi, belakangan istilah fabel ternyata mengalami perluasan makna (?). Menurut wikipedia, Fable is a literary genre. A fable is a succinct fictional story, in prose or verse, that features animals, mythical creatures, plants, inanimate objects or forces of nature which are anthropomorphized (given human qualities such as verbal communication), and that illustrates or leads to an interpretation of a moral lesson (a "moral"), which may at the end be added explicitly in a pithy maxim. Hal ini sempat membingungkan saya. Jadi, daripada bingung, saya memutuskan untuk membaca dongeng tentang binatang sajalah.

Nah, berhubung saya belum memutuskan judul buku yang akan saya baca, maka saya memutuskan untuk jalan-jalan ke toko buku, tepatnya di Gramedia Gorontalo, sambil berharap mendapat inspirasi. Saya pikir, cerita-cerita fabel akan mudah ditemukan di area buku anak. Benar saja, saya menemukan buku Dongeng Mini: Cerita Binatang ini di salah satu rak yang penuh sesak dengan buku cerita bergambar dan buku-buku mewarnai.

Untuk ukuran buku anak berukuran kecil, harga buku ini termasuk mahal buat saya, di atas 80K. Tapi setelah membaca isinya, saya pikir harganya sepadan. Kualitas kertasnya bagus serta isinya full color. Lagi pula, sudah lama saya tidak membaca dongeng tentang binatang. Lumayan, pikir saya, jadi punya bahan untuk mendongeng bagi anak saya kelak (amiiin~). Itu pun kalau masih ingat sama ceritanya (kemudian dikemplang). Haha.

Buku ini berisi 40 dongeng pendek tentang bintang (dan beberapa non-binantang) yang sangat cocok dibacakan bagi balita, juga bagi anak-anak yang baru mulai belajar membaca. Beberapa kisah dalam buku ini mungkin tidak asing bagi pembaca dewasa. Misalnya cerita tentang Kelinci dan Kura-kura, cerita tukang kayu yang jujur, atau tentang anak gembala yang suka berbohong. (Eh bentar, katanya cerita binatang, terus kenapa ada cerita tentang tukang kayu dan anak gembala segala?). Ya begitulah, pemirsah. Meski judulnya Dongeng Mini: Cerita Binatang, kenyataannya beberapa cerita yang disisipkan dalam buku ini memiliki tokoh non-binantang. Tapi mari tidak mempermasalahkan hal tersebut. Yang penting adalah pesan moralnya. Yap, pada akhir setiap dongeng terdapat pesan moral yang ditulis dengan singkat mudah dipahami oleh anak-anak. Misalnya, di akhir cerita tentang Kelinci dan Kura-kura, di mana Si Kura-Kura menang saat adu lari dengan Kelinci, anak-anak diajar untuk tidak memandang remeh orang lain, juga diharapkan dapat meniru sifat Kura-Kura yang tekun berusaha. Pada kisah tentang tukang kayu yang jujur, bahwa lebih baik bersikap jujur dan jangan serakah, karena setiap perbuatan jujur akan mendapat ganjaran yang baik. Oke, mungkin di dunia orang dewasa hal tersebut tidak berlaku mutlak, tapi bagaimanapun sebagai orang tua kita wajib menanamkan nilai-nilai yang baik bagi anak-anak kita bukan? (Kesambet apa saya ini...?)

Tak hanya berisi dongeng sederhana serta pesan moral yang baik, buku kecil ini juga memiliki ilustrasi indah yang memanjakan mata. Saya sangat yakin anak-anak akan menyukai gambar warna-warni di buku ini (soalnya saya juga suka, hehehe).



Dengan kisah yang beragam, pesan moral yang mudah dipahami, serta ilustrasi yang indah, buku ini dapat dijadikan pilihan bagi orang tua yang ingin membacakan dongeng bagi putera-puteri kecilnya.

Baca dan Posting Bareng BBI Januari:
"Fabel"

7 Jan 2014

Get Lost by Dini Novita Sari

Judul: Get Lost
Penulis: Dini Novita Sari
Penerbit: Bhuana Sastra, 2013
Tebal: 198 hlm.
ISBN: 9786022494393
Sinopsis:
I need to get lost...
and get lost needs no itinerary...

Lana Sagitaria senang melakukan perjalanan sebagai selingan untuk mengatasi kejenuhannya menghadapi rutinitas sebagai karyawati. Alasan klasik, tetapi begitulah yang dia percaya selama ini. Hingga suatu ketika, dia memutuskan untuk berjalan mengikuti kata hatinya, tanpa itinerary, membiarkan dirinya hanyut dalam arus perjalanan. Siapa sangka, perjalanan ini justru membawanya pada jawaban penting atas pertanyaan yang selama ini terpendam jauh di lubuk hatinya. Jelajah kakinya ke beberapa kota dan negara, juga pertemuannya dengan orang-orang asing, membuatnya berkaca pada kenangan berbagai peristiwa penting dalam hidupnya, termasuk hilangnya seseorang yang sangat berarti bagi dirinya. Akankah kenangan itu tetap tinggal, ataukah sudah saatnya untuk dilepaskan?

Pertama kali membaca judulnya, reaksi saya adalah, "Aduh, kasar sekali..." Kayak orang yang sedang kesal kemudian ngomong, "Get lost!" Hehe, tenang saja wahai para pembaca. Novel ini bukan tentang orang yang lagi marah-marah kok. Get Lost di sini maksudnya adalah "tersesat", sesuai dengan isi bukunya: seorang gadis penyuka traveling yang membiarkan dirinya tersesat dan membiarkan langkah kakinya dituntun oleh takdir. Melalui traveling, ia juga berharap menemukan jawaban atas apa yang dicarinya selama ini.

Lana, seorang karyawati yang memutuskan melakukan traveling sebagi bentuk refreshing agar tidak jenuh dengan lingkungan pekerjaan. Bila sebelumnya ia selalu menentukan itinerary (detail rencana perjalanan) sebelum melakukan traveling, kali ini ia mencoba hal baru: melakukan traveling tanpa itinerary sama sekali! Kejadian seru apa saja yang menanti Lana dalam ketersesatannya?

Pada kunjungannya di Pulau Dewata, Lana bertemu beberapa orang yang awalnya asing, namun melalui merekalah Lana memperoleh semacam petunjuk atas pertanyaan-pertanyaan yang mengusik benaknya. Mulai dari seorang dari seorang pria yang memiliki kisah hidup yang mirip dengannya; perjalanan ke Ubud bersama lima teman yang baru dikenalnya dan membuatnya semakin memahami dirinya sendiri; hingga pertemuan dengan seorang pria yang wajahnya mirip dengan... Dharma, seorang pria yang membuatnya jatuh cinta pada traveling. Seorang pria yang kemudian mengilang dari hidupnya tanpa jejak sama sekali. Apakah lelaki Ubud itu memang Dharma, ataukah hanya sekadar mirip?

4 Jan 2014

Will Grayson, Will Grayson by John Green & David Levithan

Judul: Will Grayson, Will Grayson
Penulis: John Green & David Levithan
Penerbit: Penguin Books Ltd, 2012
Tebal: 308 hlm.
ISBN: 9780141346113

Sinopsis:
One cold night, in a most unlikely corner of Chicago, teenager Will Grayson crosses paths with... "Will Grayson"! Two teens with the same name who run in two very different circles suddenly find their lives going in new and unexpected directions. Culminating in epic turns-of-heart on both of their parts, they team up to produce the most fabulous musical ever to grace the high-school stage.

Told in alternating voices from two award-winning, popular names in young-adult fiction—John Green (author of "The Fault in Our Stars") and David Levithan (author of "Boy Meets Boy")—this unique collaborative novel features a double helping of the heart and humour that has won both authors legions of fans. John Green has a huge online presence through his 1.1 million Twitter followers and YouTube channel Vlogbrothers, which has been viewed over 200 million times and has 660,000 subscribers, making it one of the most successful online channels in history. This is a Penguin logo edition.

Saya belum pernah membaca satu pun karya John Green dan David Levithan, tapi saya telah mendengar kepopuleran mereka, terutama John Green yang menghebohkan jagad perbukuan dengan bukunya yang berjudul The Fault in Our Stars. Jadi, saya pikir tak ada salahnya membaca duet mereka di buku ini. Apalagi sejak awal saya sudah tertarik dengan premisnya: Pertemuan secara tak terduga antara dua pemuda bernama sama yaitu "Will Grayson", di mana pertemuan tersebut membawa dampak yang besar pada kehidupan keduanya. Terdengar cukup menarik, bukan?

3 Jan 2014

Goodbye 2013, Hello 2014.


"Nggak terasa ya, sudah tahun baru lagi!" adalah jenis kalimat yang saya ucapkan ke teman setiap awal tahun. Kayak tahun lalu, saya juga ngomong seperti itu ke siapa pun teman yang mau mendengarkan, "Nggak terasa ya, sudah 2013!" Begitu pun tahun sebelumnya, dan tahun sebelumnya lagi. Dan entah mengapa saya merasa akhir-akhir ini hari cepat sekali berlalu. Mungkin benar kata orang, semakin bertambah umur, hari-hari pun terasa semakin cepat.

Kalau melihat ke belakang, rasanya hampir tak banyak hal berarti yang saya lakukan. Prestasi juga nyaris tidak ada sama sekali. *senyum miris* Dan entah berapa banyak orang yang tanpa saya sadari telah saya sakiti gara-gara mulut saya yang kadang kelewat tajam. Saya minta maaf. Bila sedang emosi atau berdebat, saya nggak bisa mengontrol perkataan saya. Meski sesudah itu saya biasanya menyesal dan minta maaf, tapi tetap saja, ini kebiasaan jelek. Well, sekali lagi, saya minta maaf.

Dan saya bersyukur kepada Tuhan, karena dengan kepribadian saya yang ajaib ini, masih ada beberapa orang yang mau menjadi sahabat saya. Trims, guys. *pelukin satu-satu*

Nah, di postingan  ini, saya ingin mereviu sedikit beberapa peristiwa penting yang terjadi tahun 2013, dan beberapa harapan di tahun 2014, terutama yang berkaitan dengan membaca dan ngeblog.

MY HIGLIGHTS OF 2013
  • Bergabung dengan group chatting whatsapp BBI Nasional dan BBI Joglosemar. Ini penting! :D
  • Berhasil membaca 81 buku, dari target awal membaca 60 buku. Lumayan.
  • Menghabiskan begitu banyak uang untuk beli buku, namun hanya berakhir di tumpukan. Hiks. Kecepatan membaca tidak sebanding dengan kecepatan menimbun.
  • Mengadakan beberapa giveaway. Ini sebenarnya bisa dibilang gagal, karena target awal adalah mengadakan giveaway minimal sebulan sekali.
  • GAGAL memenuhi target reading challenge yang diadakan oleh para member BBI. T_T
  • Tapi menang di RC-nya Ren. Wakakakak. Ups, bukunya belum direviu.
  • Berhasil membaca lebih dari lima buku berbahasa Inggris. #bangga
  • GAGAL memenuhi beberapa janji penting. #eh
  • GAGAL diet.
  • Dan terakhir, menerima SK mutasi. Akhirnya, setelah 5 tahun dan 7 bulan di Lombok, saya bakal pindah juga.

LOOKING AHEAD AT 2014
  • Segera mereviu buku yang telah dibaca.
  • Membaca buku-buku yang dibeli hingga akhir 2013 (alias menghabiskan timbunan).
  • Membaca lebih banyak buku berbahasa Inggris, dan (kalau bisa) menulis reviu dalam bahasa Inggris. #Amin
  • Mengurangi belanja buku. 4 buku sebulan cukup.
  • Berusaha lebih sering blogwalking dan meninggalkan jejak (komen).
  • Membalas semua komen di blog ini. (Maaf ya, saya sering lupa membalas komen).
  • Liburan. Ini wajib. Karena sepanjang tahun 2013 saya tidak pernah liburan. Syukur-syukur ke luar negeri. #AMIN
  • Target turun berat badan: 10 kg.

Itu dulu harapan saya di 2014. Semoga tahun ini saya menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Dan doakan semoga saya cepat beradaptasi di tempat kerja yang baru. :)

2 Jan 2014

TRAVE(LOVE)ING by Roy Saputra, Mia Haryono, Grahita Primasari, Dendi Riandi

TRAVE(LOVE)ING by Roy Saputra, Mia Haryono, Grahita Primasari, Dendi Riandi
Penerbit: Gradien Mediatama
Tahun Terbit: 2012
Tebal: 256 hlm.
Sinopsis:
Traveling + Broken/Move On = Trave(Love)ing

Empat sahabat terdampar di tempat yang berbeda untuk satu alasan yang sama: Mengobati patah hati. Dendi, berjuang mengejar seseorang sampai ke Bangkok demi sepotong hati yang baru. Selama di Bali, Grahita berusaha mengikis kenangan akan seseorang yang ia beri nama Mr. Kopi. Dalam balutan abaya yang elegan, Mia berkontemplasi sepanjang gurun di Dubai. Sementara, Roy malah terjebak masa lalu saat ingin menonton kesebelasan pujaannya, Liverpool, beraksi di Kuala Lumpur.

Satu per satu mereka bertutur dengan jujur tentang perjalanan cintanya yang dibungkus keseruan traveling. Cerita keempat anak manusia ini terkait saat bertemu tak sengaja, atau bercakap lewat berbagai media. Temukan akhir kisahnya, sambil menikmati pemandangan khas Ubud, hebohnya naik tuk-tuk, syahdunya kuil di Batu Cave, serta megahnya Burj Khalifa!

Buku ini berisi gabungan cerita, secara selang-seling, dari empat penulis yang memutuskan untuk traveling dalam rangka menata hati untuk bisa... move on. Pikiran pertama saya adalah, "Ah, move on mah alasan doang, bilang aja kepingin jalan-jalan.” Ya habisnya emang nggak ada ya, cara yang lebih murah untuk move on? Kalau memang demikian, maka sungguh mahal sekali biaya untuk move on ya? Sayangnya saya bukan orang berduit, sehingga setiap mengalami patah hati tidak langsung secara impulsif memutuskan untuk ke Jerman, misalnya (soalnya saya kepingin banget ke sana, hehe).

Kembali ke bukunya. Dendi, Grahita, Mia, dan Roy, awalnya menjadi dekat setelah sering berbalas-balasan pantun berhasa Inggris di twitter dengan tagar #ryme. Keempatnya juga punya cerita untuk dibagi kepada pembaca. Sebuah cerita tentang perjalanan dalam rangka menyembuhkan hati yang luka (eaaah). Jadi mari kita anggap bahwa yang mereka ceritakan dalam buku ini adalah kisah nyata, alias based on true story.

Dimulai dengan Dendi, yang bertemu dengan seseorang saat sedang berusaha melupakan seseorang (kalimatnya ribet banget nih). Ceritanya, ia sedang berada di Singapura lalu secara tak terduga bertemu dengan seorang perempuan Indonesia, yang kemudian menjelaskan kepadanya makna puisi yang terukir di patung Merlion yang menjadi lambang negara Singapura. Dendi tak menyangka bahwa pertemuan singkat dengan perempuan tersebut membawa kesan yang dalam baginya, dan membuatnya mengambil keputusan nekad, yaitu mengejar cewek itu hingga ke Thailand. Er... I made this sounds creepy, padahal harusnya romantis lho. *garuk ketek*

Grahita, melakukan traveling ke Bali dengan niat untuk bersenang-senang. Tapi ternyata itu keputusan terbego yang pernah ia lakukan. Soalnya selama di Bali ia galau-segalau-galaunya. Ia terus-menerus teringat kepada sang mantan yang dia juluki Mr. Kopi. Bagian begonya di mana? Jeng-jeng-jeng! Mr. Kopi adalah orang Bali. -_- *tepok jidat* *jidatnya Grahita*

Mia melakukan perjalanan terjauh di antara keempat temanya: Dubai! Wohoo! Gila ya, Dubai, Saudara-Saudara! Tapi tenang... jangan sirik dulu. Dese ke sana dalam rangka urusan kantor kok. Segalanya dibiayai kantor (eh, ini bukannya malah makin bikin sirik ya?). Nah, mumpung lagi di Dubai, kenapa juga harus mikirin mantan, ya kan? Tapi samalah si Mia ini dengan Grahita. Sama-sama justru mikirin mantan. *again, tepok jidat*

Dan terakhir, Roy. Begitu mendengar tim sepakbola favoritnya akan mengadakan pertandingan persahabatan di Malaysia, doi dengan semangat 45 memutuskan untuk capcus ke sana. Sebelas-duabelas dengan Grahita dan Mia, Roy juga tak bisa lepas dari bayang-bayang sang mantan. *tepok jidat lagi*

See? Alesan banget kan? Jalan-jalan. Untuk. Move on. Saya percaya kok. Beneran. *muka serius*

Karena ditulis oleh empat orang, maka kita akan menemui empet gaya tulisan yang berbeda. Keempatnya menulis dengan baik menurut saya, mereka juga kerap menyelipkan humor yang mampu mengundang senyum. Namun di antara keempatnya, saya menulis Mia Haryono-lah yang mencuri perhatian saya. Tulisannya sangat mengalir. Dari segi cerita memang biasa saja, karena lebih menekankan kepada deskripsi tempat yang dikunjungi, sementara bagian pergulatan batin untuk move on bagi saya terasa sengaja ditambahkan, biar terkesan dramatis. Meski demikian, saya sangat berharap Mia menerbitkan novel dengan mempertahankan gaya menulisnya yang asyik tersebut. Sementara dari segi cerita, kisah Dendi yang mengejar sang cewek adalah yang paling seru. Makanya saya merasa sedikit terganggu ketika kisah Dendi harus distop sementara untuk diselingi oleh cerita tiga penulis lain.

Sejujurnya, saya berusaha untuk menyukai buku ini, tapi apa daya mood sudah keburu ilang setelah mendapati bahwa mereka melakukan traveling karena memang kepingin jalan-jalan (kecuali Mia yang ke Dubai demi urusan kerjaan). Move on dalam kisah ini terasa sebagai tempelan, biar ada unsur dramanya. Tanpa embel-embel move on, buku ini tak berbeda dengan buku-buku traveling lainnya (misalnya The Journeys dan The Naked Traveler). Satu hal yang membuat buku ini lebih menarik adalah adanya sisipan pantun (atau rhyme) dalam bahasa Inggris. Hampir semua pantun yang disisipkan di sini saya suka. Singkat, padat, tepat sasaran. Selebihnya, menurut saya buku ini biasa saja meski tetap layak baca.

Buku TRAVE(LOVE)ING 2 sudah terbit. Kabarnya lebih banyak lagi tempat wisata yang dikunjungi. Apakah masih dalam rangka move on? Saya belum tahu. Namun saya tak mau melewatkan kesempatan membaca buku tersebut. Mudah-mudahan lebih menarik.


*Posting bareng BBI Desember kategori LIBURAN.

1 Jan 2014

Sherlock Begins: A Study in Scarlet by Sir Arthur Conan Doyle

Sherlock Begins: A Study in Scarlet (Mengungkap Kasus Tak Terlacak) by Sir Arthur Conan Doyle
Penerjemah: Zia Anshor
Penerbit: Bukune
Tahun Terbit: 2012
Tebal: 212 hlm.
Sinopsis:
Inilah petualangan pertama Sherlock Holmes dan Dokter Watson. Berawal dari sebuah apartemen kecil di Baker Street, mereka kedatangan seorang klien untuk mengungkap kasus pembunuhan misterius. Telah ditemukan sosok mayat yang meninggal tak wajar, tanpa ada barang bukti pembunuhan.

Sherlock Holmes dengan sigap mencoba mengurai semuanya. Melacak jejak pelaku, bukti-bukti yang ada di sekitar kejadian, juga motif pembunuhan. Bagaimana cara sang detektif ulung ini melakukan pekerjaannya? Juga apa reaksi Dokter Watson saat mengikuti Sherlock di kasus pertama ini?

Sherlock Holmes Begins: A Study in Scarlet menceritakan segala mula petualangan duet dari Sherlock Holmes dan Dokter Watson. Pengenalan kedua karakter tersebut dibeberkan dengan detail, juga tentang alur dan motif kejadian pembunuhan yang sedang ditangani mereka. Tak ada yang mustahil untuk diungkap oleh seorang Sherlock Holmes.

Sebenarnya sudah pernah baca terjemahan buku ini versi GPU bertahun-tahun yang lalu. Tapi yah, sudah agak lupa sama ceritanya. Berhubung tema baca bareng bulan ini salah satunya adalah buku detektif, saya memutuskan untuk membaca ulang A Study in Scarlet, kali ini versi Bukune. Di awal proses membaca, saya sempat merasa bahwa terjemahan Bukune ini agak kaku, terutama penggunaan kata ‘saya’ oleh Dr. Watson. Menurut saya sih, cocoknya pakai ‘aku’ biar terasa lebih akrab. Tapi ini jelas pendapat pribadi. Toh pada akhirnya saya mampu menikmati membaca buku ini.

Sherlock Holmes: Mengungkap Kasus Tak Terlacak (judul asli: A Study in Scarlet), berkisah tentang pertemuan pertama kali antara Dr. John Watson dan Sherlock Holmes. Watson yang tadinya adalah dokter militer telah dibebastugaskan setelah mengalami cidera parah di medan perang. Kembali ke London, John kesulitan mencari tempat tinggal murah. Beruntunglah ia dipertemukan oleh sahabatnya dengan seorang laki-laki nyentrik bernama Sherlock Holmes, yang juga sedang membutuhkan teman untuk berbagi biaya sewa kamar (semacam kos-kosan gitu). Di awal pertemuan mereka, Watson terkejut sebab Holmes dapat mengetahui segala hal tentang dirinya meski mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Itulah kelebihan Sherlock Holmes. Belakangan, Dr. Watson mengetahui bahwa Holmes adalah seorang detektif konsultan. Yang bersangkutan kerap dimintai tolong oleh kepolisian untuk membatu memecahkan kasus-kasus pelik. Watson cukup beruntung, sebab tak lama setelah pertemuan mereka, Sherlock Holmes diminta untuk membantu kepolisian memecahkan kasus pembunuhan misterius. Telah ditemukan seorang pria yang tewas di sebuah rumah kosong. Tidak ada tanda-tanda perampokan serta tak ditemukan bukti tentang bagaimana cara ia meninggal. Selain itu, terdapat tulisan dengan darah di dinding: 'RACHE'. Apakah itu adalah pesan kematian sang korban?

Dengan kecerdasannya yang di atas rata-rata, Sherlock Holmes berusaha memecahkan teka-teki pembunuhan misterius tersebut. Dr. Watson yang punya sejarah di bidang militer merasa tertarik dengan kasus yang ditangani Holmes dan memutuskan untuk mendokumentasikan semuanya di buku catatan miliknya. Tanpa disadari, Sherlock Holmes dan Dr. Watson telah menjadi sahabat karib selama proses penyelidikan kasus tersebut.

Pada akhirnya, Sherlock Holmes memang berhasil menangkap si pembunuh. Hal ini terjadi dengan cara yang tak terduga. Bahkan Dr. Watson sendiri terkejut, meski ia bisa dibilang terlibat dalam penyelidikan hasus ini. Sama dengan Dr. Watson, pembaca juga sangat penasaran dan membutuhkan penjelasan dari Sherlock Holmes sendiri: bagaimana ia dapat mengetahui kedok si penjahat? Penjelasan akan kita peroleh, tapi sebelumnya kita harus membaca bagian kedua buku ini.

Ya, buku ini memang terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah pengenalan para tokoh, pemaparan kasus, proses penyelidikan, hingga tertangkapnya sang pelaku. Sementara bagian kedua buku ini membawa pembaca mundur ke puluhan tahun sebelumnya, ke sebuah peristiwa bersejarah yang melibatkan ajaran Mormon, penyelamatan di padang gurun, kisah cinta terlarang, hingga kematian tragis. Tepatnya, kematian yang menjadi latar belakang pembunuhan yang diselidiki Sherlock Holmes dua puluh tahun kemudian.

Saya sangat menyukai kisah ini, terlepas dari terjemahannya yang sempat mengganggu kenikmatan membaca. Fakta bahwa buku ini terbit pertama kali tahun 1887 membuat saya semakin kagum. Bagaimana tidak, di tahun itu Sir Arthur Conan Doyle telah menulis kisah detektif yang memukau. Metode deduksi Sherlock Holmes yang begitu cerdas mencerminkan kejeniusan sang penulis. Maka tidak heran bila buku ini menjadi salah satu buku detektif klasik terbaik sepanjang masa.

Buku ini diceritakan dari sudut pandang Dr. Watson, di mana hal ini jarang saya temui dalam novel-novel yang terbit belakangan ini, baik novel terjemahan maupun novel lokal. Sejujurnya, saya malah tidak pernah membaca novel yang kisah tokoh utamanya diceritakan dari sudut pandang tokoh pendamping. Pada akhirnya, membaca (ulang) novel ini menjadi semacam penyegaran bagi saya yang selama ini hanya membaca novel dari sudut pandang orang pertama dan ketiga.

Secara keseluruhan, buku ini layak mendapatkan 5 bintang dari saya. Kapan-kapan, saya ingin membaca versi bahasa Inggrisnya deh. Mudah-mudahan nggak pusing. Hehe.

Oh ya, selama membaca buku ini, saya membayangkan Benedict Cumberbatch sebagai Sherlock Holmes dan Martin Freeman sebagai Watson (tentunya dalam balutan busana abad ke-18). Salahkan mini seri BBC Sherlock yang fenomenal itu! Episode pertama season 1-nya berjudul A Study in Pink, mengadaptasi buku A Study in Scarlet, namun kasusnya berbeda. Adegan pembukaannya memang sama persis (tapi dengan setting masa kini), mulai dari latar belakang singkat Watson, pertemuannya dengan Sherlock Holmes, penemuan mayat (kali ini wanita) di rumah kosong lengkap dengan tulisan ‘RACHE’. Tapi secara keseluruhan,  kasusnya berbeda dengan versi novel. Bagi penggemar cerita detektif sangat saya sarankan untuk menonton mini seri tersebut. By the way, tokoh favorit saya bukan Sherlock, melainkan Watson. #penting :D

Gambar dari sini

*Posting bareng BBI Desember kategori DETEKTIF.
Back to top