17 Mar 2015

Croissant: Antologi Kisah Kehidupan - Josephine Winda

Judul: Croissant: Antologi Kisah Kehidupan
Penulis: Josephine Winda
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: I, Oktober 2014
Tebal: 196 hlm
ISBN13: 9786020251394

Sinopsis:
Ditemani santainya kepulan asap teh saat senja
Sepotong croissant renyah mencecap rasa
Berlapis seperti kisah kehidupan yang tak kunjung habis
Diwakili sepuluh cerita dunia
Semoga tak lekas ucapkan bon voyage—selamat tinggal
Hanya maklumi
c’est la vie—itulah hidup.

Croissant: A rich crescent-shaped roll of leavened dough or puff pastry.

Sudah pernah mencoba croissant? Penganan sejenis roti asal Perancis ini terkenal dengan bentuknya yang menyerupai bulan sabit. Tidak heran ia diberi nama croissant, yang dalam bahasa Perancis berarti bulan sabit. Keunikan croissant adalah bagian luarnya garing, sementara bagian dalamnya empuk dan gurih. Awalnya croissant memiliki rasa yang plain (sehingga orang Perancis menyantapnya dengan ditemani teh, kopi, atau susu). Namun seiring waktu, mulai bermunculan croissant dengan aneka ragam rasa dan isi, misalnya keju, cokelat, almond, dan lain-lain. Membayangkannya saja saya sudah ngiler. Rasanya pengen buru-buru ke bakery terdekat untuk mencicipi sepotong croissant bersama kopi panas. Bentar dulu. INI KENAPA JADI NGEBAHAS MAKANAN?

Hehe. Salahkan judul bukunya yang bikin ngiler itu. Croissant yang ini memang tidak bisa dikunyah (secara harafiah), karena ini adalah sebuah buku kumpulan cerpen. Di dalamnya kita akan menemukan sepuluh cerita pendek dengan judul-judul yang catchy, yakni kata-kata atau ungkapan umum dalam bahasa Perancis. Sepertinya penulis menyukai hal-hal yang berbau Perancis, negeri yang terkenal romantis itu. Meskipun judul-judul cerpennya terkesan romantis, namun tema cerita di dalamnya tidak melulu tentang cinta kok. Ada tema tentang balas dendam, feminisme, KDRT, hingga kesempatan kedua. Agar tidak terlalu penasaran, saya akan memberi daftar judul cerpen di dalamnya, berikut secuil tentang kisahnya (tenang saja, cuma secuil kok, diusahakan tidak spoiler):
  1. Déjà Vu. Bercanda boleh-boleh saja. Tapi jangan kelewatan. Mungkin apa yang dimaksudkan sebagai sesuatu yang lucu, justru malah sangat menyakiti orang lain. Hasilnya terkadang bisa sangat fatal.
  2. Bon Appétit. Hobi orang macam-macam. Makan, salah satunya (ini sih hobi saya juga *lirik perut*). Orang yang mengalami patah hati, kalau bukan hilang nafsu makan, ya jadi hobi banget makan. Hasilnya? Badan membengkak. Kalau sudah begitu malah menurunkan ‘nilai jual’ di mata orang lain. Beruntung, si tokoh utama bertemu orang yang menyukai dirinya apa adanya—dirinya yang gemuk. Tapi benarkah demikian?
  3. Vis-à-Vis. Atau dalam bahasa Inggris: face to face. Seru juga kali ya, diberi kesempatan membalas dendam pada orang yang dulu menyakiti kita?
  4. Mademoiselle. Terkadang kita memang perlu lebih perhatian pada orang-orang di sekeliling. Tak ada salahnya menyapa orang lain, memberi sedikit senyuman, atau sekadar mengajak ngobrol meski basa-basi. Kita tidak pernah tahu kesulitan hidup mereka. Bisa jadi, dengan begitu kita bisa mencegah suatu peristiwa buruk yang mungkin terjadi.
  5. Touché. Cinta sering datang dalam bentuk yang tidak terduga. Fisik terkadang bukan segalanya.
  6. Rendezvous. Berkisah tentang lelaki dan perempuan yang diberi kesempatan bertemu kembali, untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang menggantung selama bertahun-tahun, saat masing-masing telah berkeluarga.
  7. Je t'aime. Membaca cerpen ini mengingatkan saya pada lirik lagu N’Sync yang berjudul This I Promise You: “The one you should call, was standing here all along.” Cerpen ini bercerita tentang seorang gadis yang mendapat kesempatan bertemu lelaki yang dulu hanya mampu dicintainya diam-diam. Is he worth it?
  8. C’est la vie. Tak bisa dipungkiri bahwa masalah ketidaksetaraan gender masih sering ditemui, misalnya di tempat kerja. Bagaimana si cara tokoh utama pemperjuangkan dirinya? Baca ceritanya di cerpen ini.
  9. Voilà. Pastikan kita benar-benar mengenal orang yang kita jadikan kekasih. Jika tidak, bisa saja kita malah menghancurkan persahabatan kita, bahkan mungkin rumah tangga orang lain.
  10. Bon Voyage. Punya suami kasar itu memang bencana, apalagi bila sang suami mulai main tangan. Sayangnya, tidak mungkin mengajukan cerai, mengingat sudah ada dua buah hati yang masih kecil-kecil. Harus minta tolong kepada siapa? Hhm. Siapa yang menyangka bahwa pertolongan justru datang dari sosok yang paling tidak terduga?
Nah, setelah mengintip judul-judul cerpen di atas, mungkin muncul pertanyaan: “Mengapa buku ini diberi judul Croissant, padahal tak ada satu pun judul cerpen yang berjudul Croissant?” Saya rasa wajar apabila muncul pertanyaan tersebut, sebab judul dari sebuah buku kumpulan cerpen umumnya diambil dari salah satu judul cerpen di dalamnya. Dan lagi, meskipun judul buku ini dan judul-judul cerpen di dalamnya bernuansa Perancis (bahkan di covernya ada menara Eiffel), namun sayangnya kita tak akan menemukan satu pun cerpen yang bersetting di Paris atau bagian Perancis manapun. Sayang sekali.

Dari cerpen-cerpen tersebut di atas, ada beberapa yang menjadi favorit saya: Vis-à-Vis, Touché, Je t'aime, C’est la vie, dan Bon Voyage. Saya suka ceritanya secara keseluruhan mulai dari awal hingga penutupnya. Sedangkan cerpen-cerpen yang tidak menjadi favorit, disebabkan kisahnya yang terasa kurang matang, atau ada ‘bumbu’ yang kurang. Rendezvous, misalnya, terasa seperti prolog sebuah novel. Kisahnya sebetulnya menarik, sayangnya berakhir begitu saja tanpa meninggalkan kesan berarti. Saya merasa cerpen tersebut berpotensi menjadi sebuah cerita besar yang bisa dikembangkan dalam bentuk novel. Déjà Vu, memiliki pesan moral yang sangat baik, sayang sekali jalan ceritanya yang absurd membuat kening saya berkerut.

Yang saya sukai dari buku ini, adalah kemampuan penulis dalam merangkai kalimat yang ringan namun tetap terasa indah. Penggunaan EYD dalam kumpulan cerpen ini juga sangat baik.

Coba simak kutipan dalam cerpen Vis-à-Vis berikut:
“Belum pernah kulihat sorot mata lelaki yang sedemikian terluka dan kecewa. Ekspresi wajahnya begitu beragam. Berawal dari penuh harap, bertanya-tanya, lalu memudar dalam pedih. Hatiku sedikit terenyuh melihat Cakra. Sesungguhnya ada banyak keindahan dalam kesedihan seorang lelaki yang bersungguh-sungguh mencintai. Dan tidak semua perempuan beruntung untuk dicintai dengan cara demikian.”
Juga pemilihan kata dalam cerpen berjudul Je t'aime:
“Pikiran Delia mengembara. Ia ingat masa kecil yang dihabiskannya di daerah Tebet. Lorong-lorong waktu muncul kembali. Ingatan Delia melompat-lompat melewati beberapa lapis kenangan.”
Croissant (sumber)
Secara keseluruhan, saya cukup menikmati buku ini. Memang terdapat beberapa cerpen yang plotnya terkesan biasa saja, namun ada juga yang sangat menarik sebab dieksekusi dengan baik. Pilihan kata yang ringan namun berkesan, serta penggunaan Bahasa Indonesia yang baik menjadi nilai plus dari Croissant karya Josephine Winda ini. Silakan cicipi sendiri. ;)

4 komentar:

  1. oh kirain membahas Croissant makanan ( sdh terlanjur membayangkan enaknya ) :(
    Serius idi ceritanya ga ada Perancis-Perancisnya sedikitpun, padahal judul bukunya makanan Perancis, judul-judul cerpennya bebau Perancis, jadi....?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi... ya, begitulah. Cover, judul cover, dan judul-judul cerpen yang berbau Perancis tidak tercermin dalam cerpen-cerpen di dalam, misalnya saja untuk keperluan setting cerita. Meski demkian, judul-judul cerpennya yang berbahasa Perancis itu maknanya pas banget kok dengan ceritanya. :)

      Hapus
  2. untuk deja vu, yang dialami Icka benar-benar perlu dijelaskan lagi. mendingan nggak usah dicantumin sekalian ya ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, Deja vu sebenarnya masih bisa dipoles lebih baik lagi.

      Hapus

Back to top