4 Mar 2015

Glam Girls - Nina Ardianti

Judul: Glam Girls
Seri: Glam Girls #1
Penulis: Nina Ardianti
Penerbit: GagasMedia
Cetakan: I, 2008
Tebal: 339 hlm
ISBN13: 9789797802837

Sinopsis:
GLAM GIRLS. YOU WILL LOVE US—WE PROMISE.

Jadi pintar itu gampang—belajar aja yang rajin. Jadi cantik lebih gampang lagi. Dengan semua servis ala Nip/Tuck yang ada sekarang, apa aja mungkin. Kekayaan? Well, hanya karena lahir di keluarga kaya raya sampai tujuh turunan, bukan berarti kamu lantas punya potensi sebagai pusat perhatian. You can buy Gucci, but you can’t buy style.

Kami nggak pernah pelit kok ngasih tahu rahasianya jadi terkenal. Kamu nggak boleh dijengkal, apalagi jadi orang yang gampang ditebak. Kalau ada yang bersikap buruk ke kamu, jangan takut. Kamu juga punya hak penuh buat balik nge-bitchy-in dia. Kamu juga harus berani tampil beda. Sesekali, nggak ada salahnya tampil kontroversial. Yang nggak masuk akal biasanya susah dilupakan.

Ribet? Emang! Siapa juga sih yang bilang jadi populer itu gampang?

Adrianna ingin sekali melanjutkan pendidikannya di SMA Harapan Bangsa, bersama dua sahabat karibnya. Namun orang tuanya yang otoriter lebih menginginkan Ad bersekolah di Voltaire International School (VIS) Jakarta. Menurut Ad, SMA Harapan Bangsa sama bagusnya dengan VIS. Tapi Ad kalah berdebat. Maka keputusannya sudah jelas, Ad harus bersekolah di VIS. Sesuai namanya, VIS adalah SMA yang memiliki kurikulum pendidikan dengan standar internasional. Murid-murid yang bersekolah di sana, kalau nggak KAYA BANGET, ya PINTER BANGET. Orang tua Ad, dibilang kayak banget sebenarnya tidak juga. Jadi kemungkinan kedualah, yang membuat Ad bisa masuk ke sekolah tersebut. Ya, Ad memang dikaruniai otak cemerlang. Secara umum, murid-murid di VIS terdiri dari anak-anak orang kaya, anak-anak pejabat, anak-anak duta besar, dan anak-anak beasiswa (golongan yang terakhir ini sering dipandang sebelah mata di VIS).

Hari pertama di VIS, perhatian tertuju pada tiga cewek sesama murid baru yang sangat glamor. Mereka adalah Rashi and the clique. Rashi adalah si queen bee, sementara para ‘pengawal’nya adalah Maybella dan Marion. Mereka bukan geng cewek biasa. Rashi dikenal sebagai anak konglomerat supertajir yang kekayaannya konon tidak akan habis hingga tujuh turunan. Selain itu, Rashi juga punya fashion blog yang cukup tenar, sering di-endorse oleh desainer-desainer ternama. Kabarnya Rashi sedang berencana untuk membuat lini fashion sendiri. Anggota kedua, Maybella, adalah model yang pernah menjadi spoke person Maybeline di Amerika. Keputusan Maybella untuk ikut orang tua pindah ke Indonesia sempat disesalkannya, sebab ia telah menyia-nyiakan karirnya sebagai model internasional. Meski demikian, aktivitasnya sebagai model tetap berlanjut di Indonesia. Sementara Marion, adalah produk asli Perancis. Tidak ada yang benar-benar spesial darinya kecuali fakta bahwa orang tuanya kenal dekat dengan orang tua Rashi. Itulah yang membuat Marion bisa bergabung di clique.

Sekali lihat saja, Ad sudah malas dengan geng cewek-cewek itu. Menurutnya, cewek model Rashi, Maybella, dan Marion adalah tipikal cewek-cewek tajir yang hobinya hura-hura dan suka menghabiskan duit orang tua demi barang-barang branded. Kalau bisa sih, Ad tak ingin berurusan dengan mereka. Sampai suatu saat, Rashi dan Marion terlibat pertengkaran sengit berhubungan dengan mantan pacar Rashi, yang berakhir dengan ditendangnya Marion dari clique. Dalam pelajaran Indonesian Studies, Ad, Rashi, dan Maybella ditunjuk menjadi satu kelompok. Ad berpikir ini adalah bencana. Rashi yang jutek dan bossy benar-benar sulit diajak bekerja sama. Sementara Maybella, adalah tipikal gadis cantik yang otaknya biasa-biasa saja. Selain memiliki prestasi sebagai model, May juga dikenal dengan prestasinya yang sering ikut remedial. T.T *poor Ad*

Rupanya menjadi satu kelompok dengan Rashi membawa perubahan yang cukup signifikan dalam kehidupan sehari-hari Ad di VIS. Sering berkumpul bersama demi mengerjakan tugas (meski awalnya lebih sering Ad sendiri yang mengerjakan), membuat Ad mulai dianggap bagian dari clique, sebagai pengganti Marion. Ad pun kecipratan popularitas. Sejujurnya, Ad menikmati kebersamaan dengan Rashi dan May. Mereka tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Ad yang dulu tak terlalu memperhatikan penampilan, perlahan mulai menaruh perhatian pada fashion, khususnya pada apa yang akan dikenakannya. Namun gara-gara bergaul dengan Rashi dan May, prestasinya di sekolah mulai kendur. Nilai-nilainya menurun. Selain itu, gangguan lain datang dalam wujud Dico, salah salah playboy VIS. Ad pun harus memilih, apakah ia akan meninggalkan clique demi menjaga prestasinya, atau memilih bertahan bersama Rashi dan May.

Glam Girls adalah salah satu serial lokal favorit saya. Sudah lama saya membaca buku ini, jauh sebelum saya mulai menulis review buku di blog. Setelah sekian lama, saya memutuskan untuk membaca lagi seri ini. Serunya tetap sama, ternyata. Saya pikir setelah membaca ulang buku ini, penilaian saya akan berubah, terutama karena belakangan saya kurang begitu menyukai buku yang terlalu banyak ‘menjual’ barang-barang branded. Tapi ternyata saya salah.

Saya sangat menikmati gaya menulis Nina Ardianti. Ia memerankan dirinya sebagai Ad dengan baik, membuat saya cukup mudah untuk membayangkan diri saya sebagai Ad, siswi yang berasal dari lingkungan luar pertemanan cewek-cewek glamor, di sekolah yang juga glamor. Saya menikmati proses Ad dalam mencari jati diri dan ditempatkan dalam dilema antara mengikuti keinginannya sendiri, atau tetap patuh pada nilai-nilai yang selama ini diajarkan orang tuanya. Tapi soal barang-barang branded, mulai dari baju, aksesoris, hingga make up, saya menyerah. Saya kurang paham hal-hal seperti itu dan sejujurnya tidak terlalu peduli dengan merek. Yang dapat saya tangkap adalah bahwa harganya pasti mahal. Haha.

Konsep sekolah Voltaire International School ini cukup menarik. Penulis mencoba menampilkan VIS mirip dengan sekolah-sekolah di Amerika sana, tapi juga tetap mempertahankan kearifan lokal, misalnya para murid tetap harus mengenakan seragam, kecuali hari Jumat. Ya, Jumat adalah kesempatan bagi para murid untuk tampil habis-habisan, khususnya buat murid cewek. Namun saya kurang puas dengan informasi yang diberikan oleh penulis tentang sekolah ini selain bahwa VIS adalah sekolah bertaraf internasional. Kapan VIS didirikan? Oleh siapa? Apa tujuan didirikan VIS selain untuk menampung anak-anak orang kaya dan anak-anak berwarga negara asing? Selain di Jakarta (Indonesia), VIS ada di mana saja? Saya tidak mendapatkan jawaban soal itu.

Unsur romance tidak terlalu ditonjolkan dalam buku ini. Memang sih diceritakan Ad masuk klub sepakbola putri gara-gara coach Rifky yang memang ganteng, dan Ad sepertinya menaruh hati pada pelatih tersebut. Tapi hanya sampai di situ saja. Unsur persahabatanlah yang lebih ditampilkan dalam novel ini.

Sewaktu membaca Glam Girls, saya sempat membandingkan ceritanya dengan film Mean Girls yang dibintangi Lindsay Lohan. Secara umum cukup mirip, tentang gadis dorky yang masuk ke lingkungan persahabatan cewek-cewek populer, tentang nobody yang menjadi somebody. Tapi itu saja kemiripannya. Glam Girls tetap punya daya tariknya tersendiri. Pembaca yang menyukai cerita-cerita persahabatan dan tidak terlalu mempermasalahkan barang-barang branded, bisa menjadikan buku ini sebagai bacaan ringan. Karakter-karakter di dalamnya sangat menarik, mulai dari Ad, Rashi, hingga May. Karakter yang paling mencuri perhatian adalah Rashi, si jutek. Tentang Rashi, saya akan membahasnya nanti di review sekuel novel ini, yaitu Reputation karya Tessa Intanya. :)


Super Series

2 komentar:

  1. tahun lalu aku juga reread serial ini, paling suka buku kedua tentang Rashi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha. Lagi-lagi sama. Aku juga paling suka cerita tentang Rashi.

      Hapus

Back to top