19 Mar 2015

Morning Brew - Nina Addison

Judul: Morning Brew
Penulis: Nina Addison
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, September 2011
Tebal: 224 hlm
ISBN13: 9789792275674

Sinopsis:
Seandainya kita bisa tahu dia memang ditakdirkan untuk kita. Seandainya ada jaminan cinta yang kita punya tidak akan membuat kita pecah berkeping-keping. Seandainya soal jodoh ada di tangan kita. Sayangnya, dalam hidup tak ada yang pasti.

Soal cinta apalagi.

Karenanya ketika Boy, pacar tujuh tahunnya Reney, tiba-tiba bilang putus, Reney seperti dibuang ke lubang tanpa dasar dan tidak yakin bisa keluar lagi dari kegelapan di dalamnya.

Tapi apa iya?

Yuk, mampir ke dunia Morning Brew. Reney, Danny, dan Ivana dengan senang hati siap menemani dengan cerita dan segelas kopi hangat plus semangkuk soup of the day yang akan bikin kamu ketagihan!

Ini cerita tentang patah hati.

Malam itu, Boy, pria yang dipacari Reney selama hampir delapan tahun, mengajaknya makan malam. Boy mengatakan bahwa ia mendapat beasiswa ke luar negeri. London, persisnya. Reney turut bergembira mendengar kabar tersebut. Dengan suasana makan malam yang sangat mendukung, Reney pikir Boy akan segera melamarnya malam itu juga. Ternyata ia salah besar. Boy justru memutuskan hubungan mereka.

Reney yang patah hati mengurung diri di kamar selama berhari-hari. Ia bertanya-tanya pada diri sendiri, apa yang salah dari dirinya sehingga Boy tega mengakhiri hubungan yang telah dibina cukup lama itu? Sungguh, delapan tahun bukanlah sebuah rentang waktu yang singkat. Tapi memang tak ada yang pasti di dunia ini. Kebersamaan yang terjalin lama tak lantas membuat sebuah hubungan berpacaran bisa naik level ke jenjang pernikahan.

Untunglah Reney tidak sendirian menghadapi patah hatinya. Ada Ivana dan Danny, yang dengan penuh semangat membantunya untuk bangkit, memberinya keberanian untuk memulai lagi dari awal, bersama orang lain. Tentu bukan perkara mudah bagi Reney. Ia kagok setelah begitu lama terbiasa bersama-sama dengan Boy. Dan kini, siapapun lelaki yang mendekati dirinya, tanpa sadar selalu ia banding-bandingkan dengan Boy.

Adalah Morning Brew, yang menjadi saksi bisu atas usaha Reney untuk bangkit kembali. Morning Brew adalah sebuah kafe yang letaknya stategis di tengah kota, selalu ramai oleh pengunjung yang umumnya didonimasi oleh para eksekutif muda. Ivana, Reney, dan Danny bahkan telah mengelompokkan para pengunjung yang datang: berdasarkan gaya busana mereka, pekerjaan mereka, atau bersama siapa mereka datang. Di Morning Brew inilah Reney beberapa kali bertemu dengan ‘calon’ pengganti Boy. Lantas, lelaki manakah yang akhirnya berhasil membuat Reney move on? Baca kisah lengkapnya dalam Morning Brew, sebuah novel debut dari Nina Addison.

Kesan saat pertama kali melihat novel metropop ini adalah, “Hmm... interesting cover.” Dari judul novel yang berbahasa Inggris serta nama penulis yang kebarat-baratan, mungkin orang-orang akan mengira kalau ini novel terjemahan. Tapi tidak, saudara-saudara sekalian, ini novel metropop. Lalu bagaimana kesan setelah membaca novel ini? “Well, I love the author’s writing style.” Begitu mengalir, disertai dengan pemilihan kata yang baik. Hanya perlu sedikit bersabar saja, sebab paruh pertama novel ini alurnya cenderung lambat. Tapi setelah beberapa bab, ceritanya mulai menarik.

Unsur persahabatan dalam novel ini adalah yang paling saya sukai. Sangat penting memang, memiliki sahabat-sahabat yang baik, yang mampu memberi dukungan dan suntikan semangat tidak hanya di saat-saat terbaik kita, tapi juga di masa ketika kita terpuruk, misalnya patah hati. Ivana dan Danny adalah contoh sahabat yang ingin saya miliki. Ah, ralat kalimat barusan. Ivana dan Danny adalah contoh sahabat yang, thank God, saya miliki di dunia nyata. Sosok Ivana yang logis saat dibutuhkan dan Danny yang selalu mampu memperbaiki mood adalah contoh orang-orang yang sebaiknya dimiliki oleh siapapun. Sebaliknya, kita juga harus mampu bersikap yang sama ketika dibutuhkan. Bagaimanapun, pasti ada saat-saat di mana sahabat kitalah yang membutuhkan dukungan.

Plot novel ini juga tidak kalah menarik kok. Setting kafe Morning Brew yang mengambil banyak porsi di buku ini dikembangkan penulis dengan baik untuk keperluan cerita. Saya menyukai perkembangan tokoh Reney, terutama ketika ia harus berurusan kembali dengan Boy yang kembali ke Indonesia karena mengaku tak dapat melupakan Reney. Banyak sudut pandang menarik yang coba disampaikan oleh penulis mengenai hubungan pasangan kekasih tanpa terkesan menggurui. All I can say to mbak penulis is, you did a good job, Mbak.

Banyak sekali kutipan-kutipan menarik dalam buku ini. Berikut beberapa quote yang menjadi favorit saya:
“Ada orang-orang yang dihadirkan Tuhan dalam hidup kita bukan untuk jadi pasangan hidup. Kadang mereka datang untuk mengajarkan arti cinta, Ren. Kamu masih muda. Akan ada sejuta orang baru yang masuk dalam hidupmu. Dan dari sejuta orang itu, akan ada satu yang benar-benar menjadi separuh napasmu.” (hlm 206-207)
“Ibarat tulisan, Ren, semua kalimat yang lo tulis harus ada titiknya untuk bisa lo lanjutkan ke kalimat berikutnya. Buat gue patah hati juga seperti itu. Selesaikan dengan titik. Ucapkan selamat tinggal dari hati lalu berikan maaf pada dia dan pada diri lo sendiri. Pada akhirnya, rasa ikhlas itu akan datang dengan sendirinya seiring waktu.” (hlm 214).
Bagaimana? Siap move on bersama Morning Brew?

NB: Yang suka memasak, ada bonus intermezzo berupa resep dan info menarik tentang makanan lho. ;)

5 komentar:

Back to top