29 Jul 2015

Anne of Green Gables - Lucy M. Montgomery

Judul: Anne of Green Gables
Seri: Anne of Green Gables #1
Penulis: Lucy M. Montgomery
Penerjemah: Maria M. Lubis
Penerbit: Qanita
Cetakan: III, Maret 2009
Tebal: 516 hlm
ISBN13: 9789793269863

Sinopsis Goodreads:
Peringatan: Jangan pernah memanggil Anne dengan sebutan WORTEL!

Anne, gadis yatim piatu berusia 11 tahun, datang ke Desa Avonlea karena sebuah kekeliruan. Dua bersaudara Marilla dan Matthew Cuthbert ingin mengadopsi anak untuk membantu membantu mengurus rumah mereka yang dikenal sebagai Green Gables. Mereka meminta sebuah panti asuhan untuk mengirim seorang anak laki-laki. Namun, yang datang ternyata gadis kecil berambut merah, Anne.

Mulanya kehadiran Anne tak disukai banyak orang. Apalagi ada desas-desus tentang asal-usulnya yang tak jelas. Namun, sikapnya yang ceria, tutur katanya yang blak-blakan, perilakunya yang polos dan kadang konyol meluluhkan hati Marilla dan Matthew. Anne juga segera jatuh cinta pada Desa Avonlea dan Green Gables

Anne adalah gadis yang penuh imajinasi, tiada hari yang dilewatinya tanpa pengalaman seru. Menjelajahi tempat-tempat yang ia beri nama-nama unik: Kanopi Kekasih, Danau Air Riak Berkilau, Permadani Violet, Hutan Berhantu, dan Ratu Salju. Berpetualang dengan sahabat-sahabatnya, Diana, Jane dan Ruby. Berseteru dengan Pye bersaudara dan Gilbert, musuh bebuyutannya. Kisah Anne yang seru, lucu, juga haru ini akan membawa anda memasuki dunia yang diwarnai imajinasi dan tekad untuk berbahagia di tengah kesulitan apapun.

Marilla dan Matthew Cuthbert adalah kakak-beradik yang hidup melajang dan tinggal bersama di Green Gables, sebuah rumah pertanian di Desa Avonlea, Kanada. Di usia yang sudah tidak muda lagi, mereka berdua memutuskan untuk mengadopsi anak laki-laki dari panti asuhan yang diharapkan dapat membantu keseharian mereka di Green Gables, terutama membantu Matthew mengolah lahan pertanian. Namun karena suatu kesalahpahaman, mereka malah mendapatkan Anne Shirley, gadis perempuan sebelas tahun berambut merah yang cerewet minta ampun. Marilla tadinya ingin meluruskan kesalahpahaman yang terjadi dan hendak mengembalikan Anne ke panti asuhan. Tapi Matthew, yang sejak awal menjemput Anne di stasiun kereta dan mendengar Anne mengoceh terus tanpa henti tentang segala hal sepanjang perjalanan pulang menuju Green Gables, merasa kasihan pada Anne dan dalam hatinya telah tumbuh rasa sayang terhadap gadis kecil tersebut, bersikeras agar Anne tidak dikembalikan ke panti asuhan. Jadilah Anne tetap tinggal di Green Gables.

Sesuai judulnya, novel ini bercerita tentang keseharian Anne di Green Gables, saat usianya 11 tahun hingga tumbuh menjadi gadis dewasa di usianya yang ke-16. Tingkah laku Anne sangat menarik dan ajaib. Ia memiliki imajinasi yang tinggi (malah terkadang kelewat tinggi. LOL). Kata-kata yang ia gunakan saat bercakap-cakap pun tergolong “canggih” sehingga membuat orang dewasa di sekitarnya mengerutkan kening. Haha.

Di buku ini kita akan menyaksikan bagaimana Anne tumbuh, mulai dari sosok gadis kecil yang sering melakukan kesalahan-kesalahan konyol (tanpa sengaja memasukkan minyak angin ke dalam adonan kue, membuat sahabat baiknya mabuk gara-gara mengira minuman anggur adalah jus, jatuh dari atap dan menderita patah kaki demi melaksanakan tantangan konyol dari teman sekolahnya, hingga nyaris tengelam saat berpura-pura mati di sebuah perahu) bermetamorfosis menjadi gadis dewasa yang lebih bijaksana. Tingkah laku Anne terkadang—sering, deng—membuat Marilla sakit kepala. Maklumlah, Marilla belum pernah punya anak perempuan sebelumnya. Sekalinya dapat, malah yang ajaib seperti Anne, hehe. Wanita tersebut sering menanggapi dengan singkat dan ketus saat Anne mengoceh panjang lebar tentang segala hal. Ia kerap harus bersabar saat mengajari Anne tentang tata krama, atau saat menyuruh Anne melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah, sebab Anne sering salah fokus dan tenggelam dalam imajinasinya. Sebaliknya, Matthew yang pendiam dan tidak banyak berkomentar malah lebih sering memanjakan Anne.

Terlepas dari hal-hal konyol yang sering dilakukan Anne tanpa sengaja, ia sebenarnya adalah gadis yang penuh kasih sayang dan menyukai keindahan. Tapi jangan sekali-kali menghina fisiknya terutama rambut merahnya, kalau tidak ingin bernasib sial seperti Gilbert Blythe yang sukses kena timpuk oleh Anne. Ya, Anne kecil memang temperamental. Ia bahkan dengan berani ngamuk-ngamuk ke Mrs. Rachel Lynde yang rempong dan bermulut pedas. Oh ya, tentu saja Marilla tak ingin Anne tumbuh menjadi gadis yang tidak menghormati orang tua, oleh karena itu ia menyuruh Anne meminta maaf kepada Mrs. Lynde meskipun awalnya Anne tak sudi. Pada akhirnya Anne memang menuruti Marilla, dan kita akan disuguhkan adegan permintaan maaf super-lebay ala Anne yang sukses membuat saya ngakak guling-guling. :))

Kalau ditanya siapa tokoh favorit saya di buku ini, maka saya akan menyebut nama ketiga penghuni Green Gables, yaitu Anne (yang mati-matian ingin dipanggil Cordelia sebab menurutnya nama itu terdengar keren, namun oleh Marilla permintaan tersebut dianggap angin lalu dan tetap memanggil Anne dengan nama aslinya), Marilla, dan Matthew. Ketiga karakter tersebut memiliki keunikannya masing-masing. Anne, tentu saja, dengan kelakuannya yang ajaib. Marilla, walau di luar terlihat keras dan jarang tersenyum, namun sebenarnya menyanyangi Anne sebesar Matthew menyayangi gadis kecil tersebut. Marilla sangat bangga dengan berbagai prestasi yang ditoreh Anne di sekolahnya (oh, Anne adalah salah dua dari murid terpandai di kelasnya. Satunya lagi si Gilbert yang pernah ditimpuk Anne). Tapi karena kesulitan mengekspresikan perasaannya, Marilla lebih sering memberi komentar-komentar yang terkesan cuek atas hal-hal baik yang dilakukan Anne. Ya ampun, Tante. *pukpuk Marilla*

Tokoh favorit saya selanjutnya adalah Matthew. Pria pekerja keras ini sangat pendiam dan penggugup saat berinteraksi dengan wanita, kecuali dengan Marilla dan Mrs. Lynde yang memang bertetangga dekat meskipun Mrs. Lynde suka mengkritik dan gemar bergosip. Namun berbeda dengan Marilla yang jarang menunjukkan kasih sayangnya kepada Anne, Matthew justru lebih terbuka terhadap Anne dan tak ragu memberikan pujian bila gadis itu berbuat baik. Kehadiran Anne di Green Gables telah membuat pria tua tersebut menjadi lebih bahagia.

Anne of Green Gables adalah novel klasik yang sarat dengan pesan moral. Kita akan belajar dari kesalahan-kesalahan Anne. Melalui tokoh-tokoh di sekitar Anne, kita akan memperoleh banyak pelajaran berharga tentang kehidupan dan bagaimana bersosialisasi dengan sesama. Terlepas dari setting waktunya yang tempo doeloe sekali, banyak hal yang masih sangat relevan dengan kehidupan di masa sekarang. Dan bicara soal setting, penulis menggambarkan Green Gables dengan sangat detail dan indah. Saya bisa membayangkan diri saya berada di Green Gables dan menikmati keindahan alam di sekitarnya. Sekadar saran bila ingin membaca novel ini, tolong siapkan beberapa lembar tisu. Sebab, meski novel ini memiliki banyak adegan mengocok perut, ada bagian cerita yang sukses membuat saya meneteskan air mata. Saking sedihnya, saya sempat kesal terhadap penulis yang begitu tega kepada… Oke sebaiknya saya berhenti sebelum membocorkan keseluruhan cerita novel ini. Pokoknya sediiih banget.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip kalimat favorit Anne untuk mewakili perasaan saya terhadap novel ini: menggetarkan hati.

PS: *SPOILER ALLERT* Meski ini bukan novel romance, namun ada unsur enemies become lovers di novel ini. So sweet bingits deh. ^^

Read Big Challenge 2015

5 komentar:

Back to top