21 Mei 2012

Liaison Officer Forever by Melanie Subono

Penulis: Melanie Subono
Penerbit: Kaifa
Tahun Terbit: 2011
Tebal: 133 halaman
ISBN: 9786028994743
Harga: Rp. 50.000,-
Rating: 3/5

Liaison Officer Forever adalah sequel dari buku pertama Melanie Subono berjudul OUCH! Tak jauh berbeda dengan buku pertama, buku kedua ini masih berkisah tentang suka-duka (alias curhat) penulis tentang pekerjaannya sebagai Liaison Officer atau biasa disingkat LO, serta (masih) ditulis dengan gaya yang mengundang tawa.

Sekadar info bagi yang belum tahu atau yang belum membaca OUCH!: di setiap event (khusus dalam buku ini, konser musik artis mancanegara), LO-lah yang bertanggung jawab terhadap segala kebutuhan artis yang akan tampil dalam konser tersebut. Dimulai dari menjemput artis di bandara, mengantarnya ke hotel, serta memenuhi semua permintaan artis yang sebelumnya sudah dicatat dalam ‘kitab suci’ bernama Rider. Pokoknya tanggung jawab LO adalah sebisa mungkin membuat si artis merasa nyaman selama berada di Indonesia sampai dia pulang lagi ke negaranya. Singkat kata, LO adalah babu sekaligus babysitter sang artis. Seru? Iya. Menyenangkan? Tidak selalu.

Buku ini dibuka dengan bab berjudul SEDIKIT TENTANG BUKU OUCH! DULU, yang berisi beberapa tanggapan pembaca tentang buku tersebut. Ada yang bilang buku itu lucu, ada yang meragukan kebenaran ceritanya, juga ada yang menginspirasi pembaca untuk menjalani profesi LO seperti Melanie. Di bab berikutnya Melanie membahas lebih lanjut mengenai Rider, yang berisi daftar panjang permintaan artis. Ada yang wajar, ada pula yang tidak masuk akal, namun sepanjang masih bisa dipenuhi, pihak LO akan berusaha menyanggupinya.

Beberapa permintaan ‘unik’ sang artis dibahas di bab yang lain. Seunik apa? Nih, saya kutip langsung dari bukunya (hlm 13-14):
• Andrea Corrs (The Corrs)
PERMINTAAN: Semua bantal kamarnya jangan menggunakan bulu angsa, padahal itu justru jenis yang umumnya dipakai oleh hotel berbintang di mana pun.
ALASANNYA: Ternyata dia alergi.
HASILNYA: Kita kabulkanlah yaaaaaa, karena gue juga gak mau ngeliat artis gue cakep-cakep, tapi mendadak bengek karena alergi pas mau manggung.
• Forever The Sickest Kids
PERMINTAAN: Menu (makanan) spesifik pada Rider mereka.
ALASANNYA: Ternyata, sebagaian besar dari mereka adalah vegetarian murni, sehingga tidak misa memakan daging sama sekali.
HASILNYA: Dikabulkan.
KALAU DITANYA: Apakah itu gado-gado? (baca: geido geido), kita jawab saja: It’s Indonesian Salad, you know…
• Mariah Carey (Lageee) <-- (tambahan dari saya sendiri: 'lagi', karena Mariah Carey-lah yang menjadi bintang utama di buku OUCH!, artis dengan permintaan aneh-aneh)
PERMINTAAN: Disiapkan segerombolan orang di tempat-tempat yang akan dilewatinya, berdiri sambil membawa spanduk yang ada nama dia, untuk mengelu-elukan dia.
ALASANNYA: Penyakit Psikologis Mariahis Kronis. (asli, Melanie ngarang abis, tapi saya cuma bisa ngakak)
HASILNYA: Ya kaleee, mau dilawan????
Tidak hanya artisnya yang punya kelakuan aneh. Manajer artisnya pun ada yang kelakuannya bikin jengkel. Saat membaca bagian tersebut, saya jadi ikut-ikutan jengkel.

Membaca buku ini membuka mata kita tentang bagaimana rempongnya jadi seorang LO yang harus mengurusi semua kebutuhan sang artis. Namun, terlepas dari kelakuan para artis yang terkadang aneh-aneh, kemampuan bermusik mereka memang luar biasa, mereka memang penghibur sejati. Buat kamu yang suka tantangan dan mungkin berminat jadi LO, Melanie membagai cukup banyak pengalaman lewat bukunya ini, harus kamu baca deh. Isinya tidak melulu menceritakan ‘keburukan’ sang artis kok. Kamu akan menemukan beberapa istilah teknis yang wajib diketahui oleh para LO, dimana Melanie memberi penjelasannya pada bab sendiri.

Yang menjadi nilai minus dari buku ini adalah typo yang banyak. Tak sekadar banyak, tapi banyaaaak banget. Layoutnya juga berantakan. Seperti komentar banyak orang, buku ini kayak draft, masih perlu dipoles sana-sini. Apa mungkin buku ini dikerjakan secara terburu-buru? Penggunaan background warna pada halaman-halaman buku ini juga terkadang bikin mata saya sakit. Terakhir, untuk ukuran buku yang hanya setebal 130 halaman, harganya kelewat mahal! Rp 50.000,- untuk buku tipis begini? Haduh… *mendesah sambil elus-elus dompet*

Meski banyak kekurangan, buku ini membuat saya terhibur, terutama oleh cara Melanie bercerita. Dan ternyata, artis-artis yang kita elu-elukan itu cuma manusia biasa. Kelakuan mereka ya kayak kita-kita juga, kadang malah lebih parah. Fakta ini agak mengecilkan jarak antara kita dengan mereka. :)

3/5 bintang.

Sekarang giliran saya yang curhat:
1. Hiks, gara-gara sibuk ujian, banyak buku yang telat direview.
2. Buku ini saya baca di sela-sela menikmati New Moon. Tapi karena tipisnya, buku ini malah kelar duluan. :P

4 komentar:

  1. aku juga suka buku ini, jadi tahu kalau kerja di balik layar itu ternyata nggak enak dan yang terpenting jadi tahu rahasia artis dunia :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Nggak bisa brenti senyum waktu baca buku ini. Apalagi pas bagian artis yang klepto mesin pembuat kopi. Wakakakak.

      Hapus
  2. baru tau ada istilah pekerjaan liaison apa tuh? *komen lwt hape, ga bs lirik atas* :)

    Coba klo ada word checking khusus bahasa endonesa, pasti ga bakal bnyk typo. Mo nulis blog aja kita kudu baca ulang utk meminimize typo, lha ini dicetak, dijual lagi. 50 rebu? Mahaaallll... ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Liaison Officer. :D
      Aku juga bingung bacanya gimana. Leyesyen? Apa lesehan? Hehe. Bener banget, kelewat mahal. Kalo temen ada yang punya, mending pinjem aja. :P

      Hapus

Back to top