28 Jun 2013

Shocking Korea: Sisi Lain Korea yang Mengejutkan by Junanto Herdiawan

Judul: Shocking Korea: Sisi Lain Korea yang Mengejutkan
Penulis: Junanto Herdiawan
Penerbit: B first, Maret 2013
Tebal: x + 166 hlm.
ISBN: 9786028864749
Rating: 3,5/5

Sinopsis:
Demam Korea benar-benar mewabah. Tapi jangan salah, di Korea, Anda tidak hanya bisa menjumpai kimchi yang membangkitkan selera, tetapi juga lokasi syuting drama Korea yang menguras air mata, bahkan salon kecantikan yang bisa menyulap para perempuan seperti barbie Asia.

Korea mampu mengajak Anda untuk terkaget-kaget tanpa henti. Cuma Korea yang bisa membuat Anda merasakan:

• Makan ayam yang hitam hingga ke tulang
• Ditangkap patroli gara-gara belajar lewat dari jam 10 malam
• Blusukan ala Gangnam Style
• Ikut tur yang mengancam nyawa
• Bertemu dengan putri duyung di Jeju

Penasaran kan? Selamat datang di dunia penuh kejutan ala Korea.

Judul bukunya provokatif ya? Saya pikir isinya akan benar-benar bikin syok. Ternyata tidak juga. Tadinya tulisan-tulisan dalam buku ini hanya berupa catatan-catatan harian penulis saat mengunjungi Korea untuk urusan pekerjaan. Hal-hal yang dianggapnya menarik atau unik, selain ditulis pada catatan harian, juga di-posting di blog publik seperti Kompasiana. Bagi yang awam tentang hal-hal yang berbau Korea Selatan (seperti saya), cerita-cerita dalam buku ini saya pikir cukup bermanfaat. Siapa tahu saya dikasih rezeki sehingga dapat mengunjungi negara itu suatu saat nanti. Hehe.

Buku ini dibagi menjadi empat bagian sesuai dengan tema yang ingin disampaikan penulis, di mana setiap tema terdiri dari beberapa cerita. Bagian pertama, Yummy... Yummy..., membahas kuliner Korea. Penulis membagi hal-hal yang ditemuinya terkait kuliner di Korea. Salah satu jenis makanan yang dibahas adalah Kimchi, menu wajib bagi masyarakat Korea. Bagi yang belum tahu apa itu Kimchi, Kimchi terbuat dari sawi putih yang difermentasi, kemudian diberi bubuk cabe merah. Deskripsinya sih begitu doang, saya tidak mengerti enaknya di bagian mana. Belum pernah nyoba soalnya, hehe. Yang jelas Kimchi ini wajib banget ada di meja makan. Orang Korea tidak bisa makan kalo tidak ada Kimchi. Bahkan, Kimchi memegang peranan penting dalam perekonomian Korea Selatan. Krisis Kimchi bisa berdampak pada krisi ekonomi loh. Selain Kimchi, penulis juga membahas tentang  Banchan, lalu jajanan kaki lima di Korea, budaya minum kopi di kalangan orang muda Korea, juga tentang ayam hitam, atau di Indonesia khususnya pulau Jawa disebut ayam cemani, lantaran warnanya hitam sebadan-badan. Di Indonesia sih, ayam kayak gini biasanya dipake buat sesajen. Tapi ternyata di Korea justru dijadikan hidangan yang sangat lezat. Ayam hitam juga bagus untuk kesehatan loh. Jadi pengen nyobain. :P

Bagian kedua, Koreasiana, membahas kehidupan di Korea secara umum. Mulai dari gaya hidup, pendidikan, etika makan, hingga alat transportasi cepat yang pernah dicoba penulis. Salah satu bagian yang menarik adalah tentang pendidikan di Korea. Ternyata standar pendidikan di Korea tinggi banget. Sebagian besar waktu para pelajar Korea dihabiskan dengan belajar. Sampai-sampai ada aturan pemerintah yang membatasi jam belajar siswa Korea karena tingkat depresi pelajar sudah mencapai tahap yang memprihatikan. Bila kedapatan siswa yang masih belajar di atas jam 10 malam, akan disuruh berhenti! Ini berbanding terbalik dengan kita di Indonesia ya? Disuruh berhenti belajar? Ayoook! Hahaha. Pada bagian ini pula kita dapat mengetahui seberapa pesat kemajuan Korea. Untuk urusan bekerja keras, masyarakat Korea memang juara.

Bagian ketiga, Jalan-Jalan. Dari judulnya, sudah pasti bahwa penulis ingin berbagi hal-hal unik yang berhubungan dengan daerah wisata Korea. Saya suka cerita yang berjudul Tur Yang Mengancam Nyawa, penulis berbagi kisah tentang pengalamannya mengunjungi daerah perbatasan Korea Utara dan Korea selatan, di mana pada bagian wilayah perbatasan yang aman, dijadikan objek wisata oleh pemerintah Korsel. Pada bagian ini juga diceritakan tentang sejarah singkat perselisihan antara Korut dan Korsel, yang berujung pada diharuskannya pemuda-pemuda Korsel untuk menjalani wajib militer. Cerita yang diberi judul Indonesian Wave di Busan, membuat saya sebagai warga negara Indonesia merasa malu sendiri. Bagaimana tidak? Bila di sini kalangan abege terbius oleh budaya K-Pop, di Korea sana justru ada penduduk aslinya yang dengan penuh semangat memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat setempat, dikarenakan rasa cinta beliau terhadap budaya Indonesia. Ironis ya?

Bagian terakhir adalah Korean Wave. Bicara soal Korean Wave, suka nggak suka, kita harus mengakui bahwa budaya K-Pop sudah menginvasi banyak negara, salah satunya ya, Indonesia. Nah, bila penulis berkata bahwa ia tak begitu berminat pada drama dan musik Korea, namun ia dengan senang hati mengaku menyukai dunia literasi Korea. Penulis suka loh sama K-Novel. Pada awal booming Korean Wave, musik, film, dan drama Korea pasti bisa ditemui di mana-mana. Tapi novel? Jarang. Baru akhir-akhir ini saja K-Novel mulai marak dipajang di toko-toko buku di Indonesia.

Bila kamu adalah seorang Korean-lover yang hardcore, kemungkinan nggak banyak hal baru yang dapat kamu temukan dalam buku ini. Tapi bagi kamu yang nubie soal Korea (termasuk saya), dan sekadar ingin tahu tentang kebudayaannya (baik tradisional maupun modern), buku ini boleh dijadikan pilihan. Menariknya, buku ini ditulis berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi penulis, sehingga terasa lebih personal (rasanya mirip dengan membaca The Naked Traveler. Iya lah, penerbitnya sama ini). Gaya bahasanya juga enak diikuti. Menurut saya pribadi sih, buku ini terlalu tipis, sehingga bisa dihabiskan dalam dua kali sesi keramat bersama toilet duduk (ha ha ha), namun tidak mengurangi kenikmatan membaca buku ini. Lumayan buat nambah-nambah pengetahuan. Boleh lah dapat 3,5 bintang.

***

2 komentar:

  1. kepingin ke Kroya juga, eh ke Korea maksudnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha, kroya mah deket aja mas. amiin. mudah2an bisa jalan2 ke sana. eh btw, hasil dari baca-baca dari kaskus, korea memang enak buat dijadikan tujuan wisata, tapi kalau menetap, mending enggak deh.

      Hapus

Back to top