2 Apr 2012

The Lost Symbol by Dan Brown

Judul: The Lost Symbol
Penulis: Dan Brown
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno
Penerbit: Bentang Pustaka, 2010
Tebal: 712 hlm.
ISBN: 9789791227865
Rating: 4/5

Sinopsis:
Robert Langdon, sang simbolog genius yang berhasil memecahkan Da Vinci Code, kembali hadir dalam petualangan berbahaya yang penuh teka-teki. Undangan ceramah di Gedung Capitol, Washington, DC, berubah menjadi undangan kematian. Seseorang meletakkan simbol Tangan Misteri yang dibuat dari penggalan tangan Peter Solomon, sahabat dan mentor Langdon, sekaligus tokoh penting Persaudaraan Mason.

Sang penculik Peter meminta Langdon memecahkan kode-kode kelompok rahasia Mason yang melindungi sebuah lokasi di Washington, DC. Lokasi penyimpanan kebijakan tertinggi umat manusia, yang konon akan membuat pemegangnya mampu mengubah dunia.

Menjelajahi terowongan-terowongan bawah tanah Capitol, Perpustakaan Kongres, kuil-kuil Mason, dan Monumen Washington, Langdon harus berpacu dengan waktu sekaligus menghindari kejaran CIA yang menganggapnya sebagai ancaman nasional. Sebelum tengah malam, Langdon harus sudah berhasil memecahkan teka-teki kelompok Mason. Jika tidak, nyawa Peter akan melayang, dan rahasia yang konon akan mengguncang Amerika Serikat dan bahkan dunia bakal tersebar.

The Lost Symbol adalah novel ketiga Dan Brown dengan tokoh utama seorang profesor Harvard bernama Robert Langdon. Setelah sebelumnya beraksi dalam The Da Vinci Code dan Angels and Demons, kali ini, sang ahli simbolog lajang tersebut membawa kita mengikuti petualangan serunya dalam mengungkap rahasia Gedung Capitol, di Washington DC, Amerika Serikat, yang penuh dengan misteri.

Awalnya, Langdon datang ke Washington DC untuk memenuhi undangan ceramah di Gedung Capitol. Tapi setelah tiba di sana, Langdon menyadari ada yang tidak beres. Undangan tersebut ternyata palsu. Dan seseorang telah meletakkan Tangan Misteri di sana, sebuah simbol yang dibuat dari potongan pergelangan tangan manusia, tangan orang yang dikenal Langdon, Peter Solomon, yang adalah sahabat dan mentornya, sekaligus tokoh penting dari Persaudaraan Mason. Peter Solomon telah diculik! Sang penculik meminta Langdon memecahkan kode-kode kelompok rahasia Mason. Kode-kode yang melindungi suatu tempat yang amat sangat dirahasiakan oleh kelompok tersebut. Sebuah rahasia, yang konon akan membuat pemiliknya mampu mengubah dunia!

Tentu saja tugas Langdon tidaklah mudah, karena ia berhadapan dengan penjahat sadis yang tidak segan-segan membunuh demi mendapatkan keinginananya. Keadaan bertambah sulit dengan adanya campur tangan CIA, yang menganggap Langdon sebagai ancaman keamanan nasional. Menyusuri lorong-lorong bahwa tanah Capitol dan tempat-tempat menakjubkan lainnya sembari menghindari kejaran CIA, Langdon berusaha memecahkan kode rahasia Mason. Sebelum tengah malam, Langdon sudah harus berhasil, karena jika dia gagal, Peter Solomon akan dibunuh, dan sebuah rahasia yang konon akan mengguncang Amerika Serikat, bahkan dunia, akan tersebar.

Seperti dua novel terkenal Dan Brown sebelumnya (The Da Vinci Code dan Angels and Demons), novel The Lost Symbol juga bertempo cepat. Rentang waktu di novel setebal 712 halaman ini bahkan tak lebih dari 24 jam. Ada ketegangan di setiap halamannya, membuat siapa pun enggan melepas novel ini sebelum benar-benar selesai membacanya (katanya sih begitu). Tapi saya nggak sampai segitunya kok. Hehe. Butuh waktu sekitar dua minggu bagi saya untuk menyelesaikan membaca novel ini.

Dalam novel thriller-nya ini, Dan Brown kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam bercerita. Beliau kembali memadukan fakta sejarah dan imajinasi fiksi, sehingga menghadirkan novel yang luar biasa. Topik yang diangkat adalah perkumpulan kaum rahasia Mason, yang kental dengan kontroversinya, agenda-agenda rahasianya, serta simbol-simbolnya yang—jika kita jeli—ternyata ada dimana-mana. Bahkan George Washington, Benjamin Franklin, juga berbagai ilmuwan terkenal di masanya, diduga adalah anggota Mason. Maka semakin menariklah novel ini.

Saya yakin, dalam proses penulisan The Lost Symbol, Dan Brown melakukan riset serius. Meski demikian, deskripsinya yang sangat mendetail tentang suatu subjek tidaklah membosankan. Fakta-fakta sejarah yang diungkap olehnya tidak lantas membuat kita seperti sedang membaca buku sejarah. Malah, saya pribadi sangat antusias pada bagian-bagian dimana Dan Brown, lewat tokohnya, Robert Langdon mulai membahas sejarah benda-benda dan artefak kuno, simbol, adat-istiadat, hingga kepercayaan tertentu. Tak jarang saya memberi stabilo pada bagian kalimat atau paragraf yang saya rasa menarik.

Terlepas dari kontroversi dalam novel ini (meski mungkin tidak seheboh The Da Vinci Code), novel Dan Brown selalu memikat hati para membacanya. Dan meski tidak semencekam Angels and Demons, The Lost Symbol tetap merupakan novel penuh misteri dan ketegangan yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Penggemar cerita-cerita thriller wajib membaca The Lost Symbol. Saya menyesal tak segera membaca novel ini (saya membelinya bulan Juli 2010 lalu, dan baru membacanya Februari 2011. Great!).

Dan jangan ciut dulu begitu melihat bukunya yang tebal banget itu. Halamannya yang tebal dikarenakan ukuran fontnya yang ramah di mata. Maksudnya saya, fontnya cukup besar kok. Nggak kecil seperti, ambil contoh, font pada novel The Lord Of The Rings.

4/5 bintang dari saya. Selamat membaca.

***

2 komentar:

  1. izin nyontek ya buat tugas,mksih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan. Tapi jangan lupa cantumkan sumbernya yah. :)

      Hapus

Back to top