30 Apr 2012

Hujan dan Teduh by Wulan Dewatra

Judul Buku: Hujan dan Teduh
Penulis: Wulan Dewatra
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2011
Tebal: 256 Halaman
ISBN: 9797804984
Rating: 2/5

Jujur saja, saya beli novel ini, pertama karena suka banget sama covernya. Kedua, novel ini ternyata pemenang kompetisi menulis novel roman yang diadakan oleh Gagas Media. Penasaran dong, pastinya. Kayak gimana sih, ceritanya? Baca, baca, baca, dan... saat selesai, sebuah pertanyaan terus-menerus bergema di kepala saya: "Heh, yang kayak gini jadi juara pertama?" Kening saya berkerut jelek sekali.

Novel ini berkisah tentang Bintang, seorang perempuan yang menyukai perempuan. Namanya Kaila, cewek cantik berponi pagar. Kala itu mereka masih duduk di bangku SMA, dan, bagaimana pun, hubungan sesama jenis adalah hal yang tidak membanggakan bagi masyarakat kita. Karenanya mereka berusaha menyembunyikan hubungan mereka. Untuk menambah 'penyamaran', baik Bintang maupun Kaila berpacaran dengan cowok. Namun serapat-rapatnya mereka menyembunyikan hubungan cinta terlarang mereka, akhirnya ketahuan juga oleh Reno, pacar lelaki Kaila. Reno yang tidak suka pada Bintang kemudian menyebarkan foto mesra Bintang dan Kaila di situs jejaring sosial, yang membuat Kaila depresi dan memutuskan untuk bunuh diri.

Pada masa kuliah, Bintang bertemu dengan Noval, dalam suatu peristiwa yang tak menyenangkan. Seiring berjalannya waktu, hubungan Bintang dan Noval menjadi lebih baik, dan mereka berpacaran. Noval adalah lelaki yang baik, pada awalnya. Tapi lama-kelamaan Noval mulai menunjukkan perubahan. Dia menjadi terlalu posesif, egois, gampang marah, serta ringan tangan. Bintang mencoba bersabar menghadapi Noval, karena cewek itu sudah terlanjur sayang padanya. Terlebih lagi, Noval sepertinya kesusahan mengatasi temperamennya, selalu memohon-mohon maaf pada Bintang setiap kali ia mulai marah dan bersikap kasar pada Bintang. Sesabar-sabarnya Bintang, akhirnya ia tak tahan juga dengan perlakuan kasar Noval dan sikapnya yang plin-plan. Saat itulah sosok Dewa hadir. Sosok yang sangat perhatian pada Bintang.

Bisa menebak endingnya? Hohoho. Jangan terlalu cepat menyimpulkan. Endingnya menurut saya tidak terduga lho, walau tak mampu membuat saya senang. Maaf.

Alur cerita dalam novel ini maju-mundur. Bagian yang menceritakan masa lalu Bintang saat SMA dicetak dengan hufuf miring (italic). Saya sebenarnya menyukai cerita yang tak melulu alur maju saja, tapi entah mengapa saya malah merasa terganggu dengan alur cerita dalam novel yang ditulis oleh Wulan Dewatra ini. Konfliknya menurut saya agak dipaksakan. Yang membuat novel ini berbeda dari cerita remaja kebanyakan, adalah keberanian penulis mengangkat hubungan sesama jenis dalam buku pertamanya ini. Untuk hal tersebut saya betul-betul mengacungkan jempol.

Baiklah. Saya akan menuliskan beberapa hal yang membuat kening saya berkerut:
  1. Tadinya, saya pikir konflik utama di novel ini adalah tentang hubungan Bintang dan Kaila. Saya pikir, tema lesbianlah yang akan dikupas oleh sang penulis, tentang pergolakan batin Bintang yang mempertanyakan orientasi seksualnya dan sebagainya (apalagi ketika itu Bintang masih SMA kan?). Ternyata saya salah. Kisah Bintang-Kaila hanya sekadar 'tempelan'.
  2. Begitu mudahkah bagi seseorang untuk mengubah orientasi seksualnya? Kok rasanya begitu gampang Bintang jatuh cinta pada laki-laki?
  3. Saya menyerah. Saya tak paham makna dari judul novel ini. Hujan dan Teduh itu maksudnya apa? Menggambarkan hubungan Bintang dan Kaila? Er... tapi kisah mereka bukan konflik utama, kan? Otak saya memang lemot, Sodara-Sodara. Ada yang bisa menjelaskannya pada saya?
  4. Karakter Bintang sangat datar. Untuk orang yang pernah suka perempuan, sikap Bintang terlalu lempeng ketika ia mengalami perlakuan kasar dari lelaki. Masa iya dia nggak berpikir untuk mencari pasangan yang lebih lembut, misalnya mencari 'cewek' lain saja?
  5. Karakter Noval terlalu... apa ya namanya... nggak jelas? Dikit-dikit marah, dikit-dikit minta maaf. Plin-plan. Makanya, saat dia muncul lagi di *sensor-takutnya-spoiler* saya sangat meragukan keramahannya. Tak ada yang bisa menjanjikan bahwa sifat Noval sudah berubah.

Well, saya memang bukan seorang profesional dalam menilai suatu bacaan (tentu, karena penilaian saya lebih banyak unsur subjektifnya. Hehe.). Saya sih, tak meragukan kredibilitas para juri Gagas Media yang memilih novel ini sebagai juara. Saya hanyalah orang awam yang berusaha menikmati bacaan saya. Dan, ketika saya tak mampu menikmati suatu bacaan, maka saya tak mau berpura-pura bilang suka. Mungkin saya yang belum mampu menemukan 'permata' dalam novel ini.

Maaf, sekali lagi maaf, saya cuma memberikan 2/5 bintang.

4 komentar:

  1. wahh ternyata ad blog jugaa :D:D
    klo blognya cm bahas buku ayo gabung di BBI :))
    nice blog, btw ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ada, baru bikin. Tadinya punya blog pribadi, yang isinya campur aduk. Nah, yang ini dikhususkan buat ngebahas buku. Thanks ya, Stef, sudah berkunjung. Tahu nggak, saya bikin blog buku ini gara-gara terinspirasi dari blog The Bookie Looker lho. :D

      Btw gimana cara gabung di BBI?

      Hapus
    2. sama2 :DD wahh, jdi terharu nihh ak smpe menginspirasi :')

      cara gabungnya gmpg, daftarin blog kmu di sini: http://www.goodreads.com/topic/show/532534-daftar-blog-buku-indonesia
      :) semangat mereview ;)

      Hapus
    3. Lapor. Saya sudah resmi bergabung di BBI. Terima kasih atas bantuannya. :)

      Semangat mereview juga. :)

      Hapus

Back to top