28 Feb 2013

To Kill a Mockingbird: Novel tentang Kasih Sayang dan Prasangka by Harper Lee

Judul: To Kill a Mockingbird: Novel tentang Kasih Sayang dan Prasangka
Penulis: Harper Lee
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penerbit: Qanita (Mizan Group), 2009
Tebal: 540 hlm.
ISBN: 9793269400
Rating: 5/5

Sinopsis Goodreads:
Kehidupan Scout dan Jem Finch berubah total saat ayah mereka menjadi pembela seorang pemuda kulit hitam. Saat Atticus Finch membela seseorang yang diangap sampah masyarakat, kecaman pun datang dari seluruh penjuru kota. Di tengah terpaan masalah yang menimpa keluarganya, si kecil Scout belajar bahwa kehidupan tidak melulu hitam dan putih. Bahwa prasangka seringkali membutakan manusia. Dan bahwa keadilan tidak selalu bisa ditegakkan.

"Ayahmu benar. Mockingbird menyanyikan musik untuk kita nikmati, hanya itulah yang mereka lakukan. Mereka tidak memakan tanaman kebun orang, tidak bersarang di gudang jagung, mereka tidak melakukan apapun kecuali menyanyi dengan tulus untuk kita. Karena itulah, membunuh mockingbird itu dosa."  

To Kill a Mockingbird  berkisah tentang sebuah keluarga yang tinggal di Maycomb County, Alabama, tahun 1930-an. Keluarga kecil ini terdiri dari dua bersaudara, Jem dan Scout, bersama ayah mereka, Atticus Finch, yang berprofesi sebagai pengacara, serta pembantu mereka yang berkulit hitam, Calpurnia. Pada masa itu, diskriminasi sosial terhadap kaum kulit hitam sangat terasa sekali. Orang kulit hitam dianggap tidak penting. Rata-rata mereka bekerja sebagai pembantu rumah tangga, supir, pesuruh kerja kasar, dan sebagainya. Novel ini dikisahkan dari sudut pandang Scout, gadis kecil berusia delapan tahun yang tomboi dan polos. Baginya, dunia hanya terdiri dari dua warna: hitam dan putih. Namun tak lama lagi ia akan segera paham bahwa dunia tidak selalu hitam-putih.

Kehidupan Jem dan Scout bisa dibilang menyenangkan. Scout yang sejak lahir tak pernah pernah mengenal ibunya (ibunya meninggal sebelum ia lahir) merasa cukup puas diasuh Atticus, sang ayah. Ia dan kakaknya bahkan patuh pada Calpurnia, sosok yang bisa dibilang bertindak seperti ibu bagi mereka, walau Calpurnia sendiri sebenarnya sudah berkeluarga dan punya anak-anak sendiri. Saat libur musim panas, Dill, sahabat mereka, selalu datang mengunjungi mereka. Kedatangan Dill selalu dinanti-nantikan oleh Scout, kemudian mereka bertiga akan bermain bersama, iseng mengusik tetangga mereka, Boo Radley, lalu bermain sandiwara, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Saat liburan berakhir dan Scout harus bersekolah, ia mendapati dirinya tidak menyukai gurunya, yang sejak awal tidak senang dengan Scout yang sudah bisa membaca di hari pertama sekolah. Terkadang, gadis tomboi ini berkelahi dengan anak yang mengganggunya. Begitulah kehidupan Scout. Ia dan kakaknya, walau tidak selalu sependapat, namun mereka saling menyayangi. Mereka pun sangat menyayangi ayahnya, dan mereka juga sayang pada Calpurnia, meski pembantu kulit hitam itu tak segan-segan memarahi mereka ketika mereka bersikap nakal.

Kehidupan keluarga Finch mulai berubah saat Atticus menjadi pembela Tom Robinson, seorang pria kulit hitam, atas kasus pemerkosaan terhadap perempuan kulit putih yang bernama Mayella Ewell. Warga Maycomb menentang Atticus. Mereka menanggap Atticus ‘pencinta nigger’, karena mau membela Tom, warga kulit hitam yang menurut mereka tidak pantas dibela. Menurut mereka, Tom sama dengan kulit hitam pada umumnya; yang kasar, tidak berpendidikan, dan sampah. Di sekolah, anak-anak mengejek Scout dan kakaknya karena memiliki ayah pencinta nigger. Ketika mengeluhkan hal itu kepada Atticus, ayah mereka membesarkan hati anak-anaknya dan berkata bahwa dirinya yakin tengah melakukan hal yang benar. Ia yakin Tom Robinson tidak bersalah, dan semua orang, baik berkulit putih maupun hitam, wajib mendapat perlakuan yang adil, apalagi saat berada di pengadilan. Ia meminta anak-anaknya untuk tidak marah ketika diejek, karena ia sedang melakukan sesuatu yang benar.

Saat hari pengadilan tiba, Jem dan Scout diam-diam menyusup ke pengadilan untuk menyaksikan langsung usaha ayah mereka membela Tom. Pada tahap ini, Scout akhirnya sadar, bahwa dunia memang tidak selalu hitam-putih. Anak kecil itu akhirnya paham, bahwa prasangka buruk yang sudah tertanam cukup lama pada setiap orang, mampu membutakan manusia sehingga nyaris tidak mampu melihat apa yang benar dan apa yang tidak.

REVIEW:

Sudah hampir setahun buku ini menganggur di rak tanpa pernah saya sentuh. Seingat saya, saat pertama kali membaca terjemahan versi Qanita ini, saya kurang nyaman dengan gaya terjemahannya sehingga setelah membaca beberapa halaman, saya menyerah dan tidak melanjutkan membacanya. Akhirnya buku ini saya pilih untuk event Baca Bareng BBI 2013 untuk bulan Februari, yaitu buku-buku yang diadaptasi ke layar lebar dan masuk nominasi atau menang Oscar, untuk merayakan awards season selama Januari-Februari. Well, ternyata terjemahan buku ini tidak jelek-jelek amat. Saya akhirnya menikmati kisah tentang ketimpangan sosial yang diceritakan lewat sudut pandang seorang anak perempuan ini.

Harper Lee adalah penulis yang hebat. Tema yang diangkat dalam novel ini sebenarnya cukup berat. Namun, lewat tokoh Scout, para pembaca diajak untuk memahami setiap masalah dari sudut pandang anak kecil, sudut pandang yang murni, yang tidak memiliki prasangka, sehingga kita lebih dapat memandang setiap konflik dalam novel ini dengan pandangan netral.

Tokoh-tokoh novel ini pun amat berkesan. Atticus, yang entah mengapa memperbolehkan anak-anaknya memanggilnya dengan ‘Atticus’, bukannya ‘ayah’ atau ‘papa’, adalah sosok yang patut diteladani. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya begitu bermakna dan penuh wejangan. Pria ini, meski selalu terlihat tenang, namun sanggup bersikap tegas kepada anak-anaknya bila dirasa perlu. Ada saat di mana anak-anaknya merasa ayah mereka biasa-biasa saja, tidak memiliki sesuatu yang bisa mereka banggakan kepada teman-teman mereka, namun Harper Lee, dalam suatu adegan menegangkan dalam buku ini, mampu menunjukkan kepada para pembaca (juga kepada Jem dan Scout), bahwa ayah mereka sebenarnya memiliki keahlian yang bisa ia pamerkan dengan sombong bila ia mau. Namun, Atticus adalah sosok yang terlalu rendah hati untuk menyombongkan keahliannya. Hal ini membuat saya semakin menyayangi sosok Atticus. Tak hanya itu, ia memperlakukan Calpurnia sebagai bagian dari keluarga, tidak seperti orang kulit putih pada umumnya yang memandang rendah kaum kulit hitam. Bahkan ia rela ditentang bahkan diancam demi melakukan apa yang menurutnya benar, dalam hal ini, membela Tom Robinson dari tuduhan pemerkosaan yang tidak dilakukannya.


Cara Harper Lee menggambarkan hubungan Jem dan Scout juga menarik. Ada satu persitiwa ketika Jem mengamuk kepada Mrs. Dubose, wanita tua yang sering mencela kedua anak itu. Atticus menghukum Jem dengan cara membacakan cerita bagi Mrs. Dubose (bentuk hukuman tersebut atas permintaan Mrs. Dubose sendiri). Meskipun itu adalah hukuman untuk Jem, namun Scout dengan setia menemani Jem menjalani hukumannya selama sebulan.

Tokoh Scout benar-benar membuat saya jatuh hati. Setelah melewati proses yang jarang dialami oleh anak seusianya, ia akhirnya paham tentang dunia orang dewasa dengan segala keruwetannya. Meski ia anak yang tomboi dan terkadang keras kepala, ia mampu menunjukkan bahwa ia bisa bersikap sebagai ‘wanita terhormat’ seperti yang dinginkan bibinya. Ia bahkan mampu memahami keputusan Mr. Tate dan Atticus pada akhir cerita—sebuah keputusan berat yang seharusnya sulit dipahami oleh anak kecil berusia delapan tahun.

Tidak salah bila novel ini masuk dalam daftar "1001 Books You Must Read Before You Die". Karena, mengutip The Guardian, “(Buku ini adalah) Bacaan klasik yang mempunyai segala faktor untuk menjadi buku terbaik. Sangat menyentuh dan kocak, namun tetap serius menghadirkan sebuah pesan tentang perjuangan bagi keadilan tanpa adanya sebuah prasangka…”


Movie Adaptation:
To Kill a Mockingbird telah difilmkan pada tahun 1962 dengan judul yang sama, dan disutradarai oleh Robert Mulligan. Diperankan oleh Mary Badham sebagai Scout dan Gregory Peck sebagai Atticus Finch. Film ini mendapatkan mendapat banyak sekali penghargaan. Untuk Academy Awards (Piala Oscar), film ini masuk 9 nominasi dan memenangkan 3 di antaranya, yaitu:
  1. Academy Award for Best Actor — Gregory Peck
  2. Academy Award for Best Art Direction - Set Decoration, Black-and-White — (Henry Bumstead, Alexander Golitzen, and Oliver Emert)
  3. Academy Award for Best Adapted Screenplay - Horton Foote
Nominasi yang lain adalah: Best Picture (Producer, Alan J. Pakula), Best Director (Robert Mulligan), Best Cinematography, Black-and-White (Russell Harlan), Best Actress in a Supporting Role (Mary Badham), and Best Music, Score — Substantially Original (Elmer Bernstein)
(sumber: wikipedia)

sumber

Sebagai penutup review ini, saya akan mengutip kalimat Atticus yang menjadi salah satu favorit saya: “Keberanian adalah saat kau tahu akan kalah sebelum memulai, tetapi kau tetap memulai dan kau merampungkannya, apa pun yang terjadi.” (hlm 219)


Tentang Pengarang:
sumber
To Kill a Mockingbird adalah satu-satunya novel yang ditulis Harper Lee. Berkat kisah indah yang memenangi Pulitzer Award 1961 tersebut, dia dianugerahi Presidential Medal of Freedom 2077, The Highest Civilian Honor USA.

Harper Lee lahir di Monroville, Alabama, pada 28 April 1926. Pernah bersekolah di Huntington College, Montgomery, dia kemudian meneruskan kuliah hukum di University of Alabama. Di kampus itulah dia mengasah bakat menulisnya dengan bergabung menjadi editor majalah humor Ramma-Jamma.

(sumber: cover belakang To Kill A Mockingbird terbitan Qanita)

Postingan ini untuk reading challenge/reading event berikut:

27 komentar:

  1. sukaaaaaa banget sama buku ini, jadi pengen punya suami kayak Atticus #eh :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga dapet suami kayak Atticus. Amiiin. :)

      Hapus
  2. Bukuku yg ini saking sering dipinjam orang sampai jilidannya rusak :D
    Yg versi Gold-nya keren ya bukunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cover versi gold bagus juga. Lebih simpel.

      Hapus
  3. Balasan
    1. Dan sekarang jadi favoritku juga. Hehe.

      Hapus
  4. Balasan
    1. Kalau aku baca endingnya berkali-kali, biar makin yakin maksud dari percakapan antara Mr. Tate dan Atticus. Besok2 baca lagi deh, biar sama kayak dikau, Yon. Haha.

      Hapus
  5. aku juga suka banget sama scout..
    buku ini bikin banyak orang mendambakan papa seperti Atticus Finch kayaknya hahaha...one of my favorite books ever

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah2an kelak saya bisa bersikap seperti Atticus. Tidak mudah memang.

      Hapus
  6. *Toss Kalimat Atticus yang itu juga menjadi kutipan favorit saya di buku ini ^^ Ahhh saya jadi rindu membaca ulang buku ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. *toss* Ayo dibaca ulang bukunya. :)

      Hapus
  7. Terima kasih komentar soal terjemahannya yah. Ini novel pertama yang kuterjemahkan (sebelumnya menerjemahkan nonfiksi). Mudah-mudahan kualitas terjemahanku sudah meningkat dan kalau vaan membaca buku terjemahanku setelah ini, sudah lebih sreg sama gayanya :-p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah meluangkan waktu meninggalkan komen di blog ini, Mbak Femmy. Saya sangat menikmati kok terjemahan buku ini. Cuma di bagian awal saja yang kurang sreg. Selanjutnya lancar jayaa. :D

      Hapus
  8. yang paling menyedihkan itu si Robbinson mati pada akhirnya :((

    Dan yang menarik dia nyimpen karakter "aneh" untuk keluar di akhir~ bener-bener gak nyangka si monster itu yang nolong Jem >_<

    aku suka memang temanya, untuk tulisan klasik, Harper Lee udah nuntuk hak-hak wanita dan mempertanyakan prejudice "red neck" di Midwest.

    Katanya sih adegan (film) di pengadilan Robinson itu menarik buat orang2 yang suka begituan, tapi klo menurutku sih ada yang lebih bagus.

    Scout itu anak yang menarik, temenku tanya, "kok bisa anak kecil pikirannya kayak gini, dewasa banget." Nah, dia baca versi Indo, sedangkan aku baca versi aslinya, dan itu biasa kok menurutku, aku rasa memang ada yang salah dengan terjemahan Indo-nya, aku gak tahu karena belum baca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, sudah nonton filmnya ya? sampe sekarang aku belum nemu filmnya.

      btw, menurutku karakter scout cukup wajar kok. apalagi dia anak yang cerdas. tapi saya pikir tidak ada salahnya kapan-kapan mencoba membaca versi berbahasa inggris.

      trims atas komennya. :)

      Hapus
  9. Novel terjemahan yang sangat mengagumkan. Saat saya membaca novel ini, saya menemukan bahwa mata saya mulai bermasalah, kemudian saya memeriksakan mata saya ke dokter spesialis mata, dokter mengatakan bahwa mata saya baik-baik saja. Dokter juga memberikan saya sebuah kacamata. Setelah sampai di rumah, saya sangat tertarik ingin membaca novel yang bagus ini, terutama saat melihat guines world record disampulnya, setelah membaca beberapa halaman, tiba-tiba saya merasakan penyesalan yang sangat mendalam. Saya jadi ingat, dahulu saya sering bolos dalam pelajaran membaca. Dan sekarang sudah terlambat untuk menyadarinya. Jika saja dahulu saya tidak bolos, tentu saya bisa membaca dan mengerti setiap kalimat dari novel ini dengan baik. Jika saja saya 20 tahun lebih muda, tentu saya bisa bersekolah lagi. Sehingga saya bisa menikmati buku ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. lol. mengapa harus periksa mata? jangan-jangan nangis ya waktu membaca buku ini?

      Hapus
  10. Udah baca buku ini kira-kira 5 tahun yang lalu, tapi entah kenapa ya aku nggak suka. Ceritanya sama sekali nggak nempel di ingatan aku, apa karena kualitas terjemahannya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmm. mungkin juga. tapi untunglah aku lumayan menikmati buku ini.

      Hapus
    2. apa buku ini masih beredar ya?

      Hapus
  11. Mas koreksi dikit ya ibunya scout meninggal ketika umurnya 2 tahun, dia gak terlalu merasa kehilangan katanya beda sama jem..
    Saya setuju tentang gaya terjemahannya,tapi tetap berusaha akhirnya menikmati juga. Mau baca yg bersi inggrisnya biar makin paham
    Saya kurang mengerti endingnya,yg dimaksud scout kill the mockingbird itu boo atau mr ewell ? Trus knp merk itu mockingbird ? Mr tate pasti taulah kan yg sebenarnya knp mr ewel mati ? Tolong dong jelasin hehe bahan diskusi

    BalasHapus
  12. Mas koreksi dikit ya ibunya scout meninggal ketika umurnya 2 tahun, dia gak terlalu merasa kehilangan katanya beda sama jem..
    Saya setuju tentang gaya terjemahannya,tapi tetap berusaha akhirnya menikmati juga. Mau baca yg bersi inggrisnya biar makin paham
    Saya kurang mengerti endingnya,yg dimaksud scout kill the mockingbird itu boo atau mr ewell ? Trus knp merk itu mockingbird ? Mr tate pasti taulah kan yg sebenarnya knp mr ewel mati ? Tolong dong jelasin hehe bahan diskusi

    BalasHapus

Back to top