12 Nov 2014

Prada and Prejudice by Mandy Hubbard

Judul: Prada and Prejudice
Penulis: Mandy Hubbard
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Penerbit: Atria, 2010
Tebal: 306 hlm.
ISBN: 9789791411950

Buku ini adalah buntelan dari Oky. "Trims, Oky~!" :)

Sinopsis:

Sepasang sepatu bagus akan membawamu ke tempat yang tak pernah kaupikirkan sebelumnya!

Callie percaya bahwa sepasang sepatu Prada akan menjadi kuncinya untuk menaklukkan London. Hanya dengan sepatu itu, keadaan akan berbalik. Dia akan menjadi populer dan teman-temannya akan mengaguminya. Dan siapa bilang mengubah keadaan tidak semudah membalikkan telapak tangan? Callie sudah membuktikannya. Gara-gara tersandung saat memakai sepatu barunya, dia terlempar ke tahun 1815!

Untunglah ada Emily, yang menerimanya dengan penuh keramahan. Tetapi, dia juga harus menghadapi Alex, sang Duke muda yang tampan namun pongah dan menyebalkan. Di tengah kekalutannya di dunia yang sama sekali asing baginya, Callie harus menyelamatkan Emily dari perjodohan paksa, juga melawan Alex yang sepertinya sangat membencinya.

Mampukah Callie melakukan tugasnya? Akankah dia berhasil kembali ke abad ini? Pakai sepatumu yang paling bagus dan ikutlah bertualang bersama Callie ke tempat yang tidak pernah kaupikirkan sebelumnya!

Studi tur ke London harusnya menjadi pengalaman menyenangkan bagi Callie Montgomery. Tapi ternyata keadaan tidak berjalan sesuai yang ia harapkan. Sebagai gadis kikuk dan tidak populer, Callie merasa kesepian karena tak ada satu pun teman yang mau mengajaknya bersenang-senang di London sebelum kegiatan studi tur dimulai. Akibatnya, ia hanya nongkrong sendirian di kafe hotel, seharian! Sahabat satu-satunya Callie pindah sekolah. Dan bila dulu ia dan sahabatnya selalu mengejek anak-anak A-List, kini ia malah berharap menjadi salah satu dari mereka. Hanya satu yang Callie butuhkan: sepasang sepatu merk terkenal yang asli, bukan tiruan.

Maka dari itulah ia memutuskan memasuki toko Prada, dan langsung jatuh cinta pada sepasang sepatu yang dipajang di sana. Dengan menggunakan kartu kredit milik Mom, Callie membeli sepatu ber-high heels tersebut. Saat keluar dari toko, Callie terpeleset dan jatuh menghantam trotoar. Ia seketika tak sadarkan diri. Saat membuka matanya, Callie sudah berada di tengah hutan. Butuh waktu lama bagi Callie untuk menerima kenyataan bahwa ia sudah tidak lagi berada di London pada abad 21. Ia telah terlempar ke tahun 1815!

Di tahun 1815, Callie bertemu dengan Emily yang baik hati, Victoria yang menyebalkan dan sangat menjunjung tinggi etiket, serta Alex yang begitu membenci dirinya. Oh, dan rupanya orang-orang telah salah mengira Callie sebagai Rebecca, sahabat Emily dari Amerika yang seharusnya datang berkunjung sebulan lagi. Merasa lebih aman jika ia tetap berpura-pura sebagai Rebecca, Callie tinggal di rumah keluarga Emily yang luar biasa besar, sambil memikirkan cara untuk kembali ke abad 21. Berhasilkan Callie kembali ke masanya?

Sewaktu mulai membaca buku ini, ekspektasi saya tidak begitu tinggi. Saya hanya tahu bahwa buku ini berkisah tentang gadis remaja yang terlempar ke masa lalu setelah mengenakan sepatu Prada. Saya sebelumnya pernah membaca cerita sejenis tentang wanita yang terlempar ke masa lalu, mengalami petualangan seru, kemudian jatuh cinta pada sosok lelaki di masa tersebut. Saya pikir formula ceritanya sama saja. Tapi setelah saya membaca buku ini, saya mendapati bahwa saya ternyata sangat menyukai ceritanya dan cukup terhibur dengan unsur humor yang cukup kental di dalamnya.

Menilik judulnya, buku ini (mungkin) adalah semacam parodi atau cerita versi anak remaja dari novel klasik terkenal yang berjudul Pride and Prejudice karya Jane Austen. Sayangnya saya belum membaca novel tersebut sehingga tak bisa membandingkannya dengan Prada and Prejudice. Yang jelas, saya enjoy membaca buku ini. Saya menyukai perkembangan tokoh Callie. Meski awalnya ia hanyalah gadis yang suka mengeluh, namun seiring dengan perkembangan cerita, gadis tersebut tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih percaya diri. Selain Callie, saya juga menyukai tokoh Emily yang polos dan baik hati. Usaha Callie untuk mencegah perjodohan Emily dengan laki-laki tua yang tidak dicintai Emily sangat seru dan kerap mengundang senyum.

Mengenai setting London tahun 1815, saya rasa penulis menggambarkannya dengan cukup baik. Saya suka komentar Callie tentang kehidupan masyarakat London masa itu yang sangat menjunjung tinggi kasta serta harta kekayaan, mirip dengan kondisi di SMA Callie—hanya siswa yang kaya, cantik, dan populer-lah yang mampu merebut perhatian. Saya juga dibuat menahan senyum atas keluhan Callie tentang kewajiban perempuan London di masa itu yang diwajibkan mengenakan korset supaya terlihat lebih sempurna. Banyaklah, komentar-komentar Callie tentang segala hal yang sukses membuat saya tertawa. Soal romance, novel ini juga punya kok walau porsinya tidak sebanyak yang saya harapkan, sebab novel ini lebih fokus tentang rencana Callie untuk menyelamatkan masa depan Emily. Meski demikian, romance di novel ini cukup manis.

Secara keseluruhan, saya menikmati buku ini. Terjemahannya sangat nyaman dibaca. Yang paling saya sukai adalah perkembangan karakter Callie. London tahun 1815 telah sukses mengubah gadis cupu tersebut menjadi gadis yang penuh percaya diri. Dan untuk menjadi percaya diri, kamu tidak harus punya sepatu Prada kok. :)

Hm. Setelah membaca novel ini, saya jadi kepingin membaca Pride and Prejudice-nya Jane Austen.

Rating:

8 komentar:

  1. wah ternyata suka banget, aku dulu bacanya juga pinjem Oky :))
    sama, banyak banget turunan cerita Pride and Prejudice sehingga ku pengin banget baca buku tersebut. sebagus apa sih sampai-sampai banyak orang membuat cerita versi barunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah. Ternyata buku ini secara fisik sudah dibaca 3 member Joglo ya.. :')
      Iya nih, pengen baca versi aslinya. Kalau beneran Mr. Darcy karakternya mirip Alex, aku bakalan suka Pride and Prejudice. #heh

      Hapus
    2. Hayuuuk baca Pride and Prejudice. Bukunya cantik! :3

      Hapus
    3. Siap, Lin! Hehe. Dulu pernah beli terbitan Qanita. Belum sempat dibaca dan entah sekarang di mana rimbanya. .-.

      Hapus
  2. Lah satu member joglonya siapa lagi ya? Aku malah baru inget buku ini pernah dipinjem mba sulis wkwk

    Hm, soal prejudicenya emang parodinya pride & prejudice sih, tapi ga banyak.. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya kita bertiga, Ky. Kamu, Sulis, dan aku. :p

      Hapus

Back to top